Harapan

Saya tahu belum saatnya saya membuka blog dan mengisinya kembali melalui keyboard pada hari ini. Ya. meski sebagian besar pekerja sudah masuk, tapi saya masih libur. Dan biasanya saya menolak menuangkannya melalui keyboard. Ini liburan. Tak perlulah nyalakan komputer untuk menulis, cukup blogging di hape saja.

Tapi rasanya kali ini tak puas hanya berteriak dengan pijitan-pijitan layar sentuh ponsel mini. Saya ingin menghentak tombol huruf-huruf di keyboard ini yang bisa saja dimarahi sang pemilik jika ia melihat tombol-tombol laptop miliknya dipijit-pijit tak karuan. Tapi sama seperti keinginan yang menderu dan menggebu untuk menulis meski belum saatnya, untuk pertama kali pula hari ini saya merasakan keinginan yang selama ini saya tolak mentah-mentah.

Hanya dengan memegang tangannya yang bengkak dan demi menahan air mata yang bisa saja tumpah sewaktu-waktu, untuk pertama kalinya dalam hidup saya berharap saya menjadi dokter yang bisa memberikan pengobatan terbaik untuknya.

Dokter, sodara-sodara!

Profesi yang ditawarkan ayah sejak saya kecil tapi saya tolak karena tak suka jarum suntik, tak berani berjalan di lorong rumah sakitnya pada tengah malam, dan akhirnya berujung pada mata pelajaran IPA saya yang memang menyala terang alias merah angka 5 pada kelas 2 SMA. Ayah pun menyerah. Lagipula ia tak memaksa dan hanya sekedar menawarkan saja.

Tapi siang ini, melenggang kembali di bulan ke-empat di lorong rumah sakit dengan kebekuan yang sulit sekali dicairkan, menatap galak pada satpam yang mengusir saya, yang dianggap mengganggu karena masuk kamar sebelum jam besuk (meski saya hanya berdiri saja dan tak berbuat apa-apa), dan menyingkir di saat banyak ibu-ibu tetangga yang merubung tempat tidur dan banyak di antara mereka yang menangis. Saya sungguh tidak tahan dan justru menyingkir keluar ketika jam besuk sudah diperbolehkan. Berharap bisa berbuat sesuatu.

Saya tak tahu harus berbuat apa dan hanya menatap nanar pada ketinggian 8 lantai dari RS Kanker Dharmais. Tak bisa menghentikan air mata yang terus menerus berurai karena saya tak mengerti semua ini.

Satu hal yang saya tahu adalah bahwa saya menolak untuk menangis di hadapannya, tapi sesenggukan di balik tembok dekat kaca.

“Kuat ya!” adalah dua kata yang terus terngiang saat kami terisak berpelukan di hari pengajian H-1 pernikahan saya. Isak saya selalu bertambah setiap mengingat ia dengan sengaja hari itu berangkat subuh-subuh ke RS untuk melakukan sinar terapi ke-20 dengan tujuan pengobatannya bisa selesai lebih cepat dan bisa segera menghadiri pengajian pernikahan saya di siang harinya.

Ia, yang dengan tertatih berjalan, bersikukuh untuk menghadiri pernikahan saya. Dan saya yang sekarang semakin terisak karena menyadari bahwa buku yang terinspirasi dari sosok yang sedang terbaring itu belum juga rampung.

“Kuat ya!” adalah dua kata yang ingin saya berikan untuknya tapi rasanya tak pantas. Karena seharusnya kata-kata itu memang untuk saya. Karena ia sudah kuat melalui semua tahapan ini.

Saya tak perduli orang berkata apa. Satu hal yang saya tahu adalah tentu masih ada mukjizat untuknya. Supaya bisa sembuh dan kembali pulang ke rumah dengan sehat. Berkumpul bersama keluarga, para tetangga, dan bahkan anak-anak kecil di lingkungan rumahnya yang rindu dengan teh manis buatannya.

“Mamah Luki kapan Bu pulang dari rumah sakit? Risa kangen nge-teh bareng.” Begitu ucapan salah satu anak tetangga.

Dan saya tak bisa lagi berkata-kata saat ibu tetangga mengatakan “semua anak kecil di dekat rumahnya rindu minum teh bareng Mamah Luki” itu.

Ah, bahkan kau dirindukan anak-anak kecil di lingkungan rumah.

“Once you choose hope, anything is possible.” ~ Christopher Reeve~

sama bule pikoh

~ Ditulis dengan penuh harap. Bahwa orang baik sepertimu akan selalu mendapatkan seluruh keberkahan.

Missing you so…

Mohon bantu doa, kawan. Agar senja yang selama 4 bulan ini selalu kami lihat dari lantai tinggi di RS bisa kami lihat kembali bersama-sama di rumah, dengan kondisi Mamah Luki yang sehat dan pulih. Amin.

image

0 thoughts on “Harapan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *