BANDUNG: Kawah Putih

Terletak di selatan kota Bandung, Kawah Putih selalu menjadi kunjungan wajib bagi wisatawan yang datang ke Ciwidey. Kawah Putih merupakan kawah dari Gunung Patuha. Awalnya daerah ini tak pernah dikunjungi masyarakat karena dikenal misterius dan angker. Namun pada tahun 1837, Dr. Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864) melakukan perjalanan ke daerah ini dan menemukan sebuah kawah memukau yang mengandung belerang.

Ada dua pilihan bagi pengunjung untuk masuk ke area wisata ini setelah melewati pos pertama menuju Kawah Putih; apakah akan naik dengan menggunakan mobil pribadi atau menyewa mobil yang telah disediakan.

Entah apakah saya atau Junghuhn yang lebih terpukau saat menemukan kawah ini. Tapi ketika pertama kali mendapat kesempatan ke Kawah Putih saat karyawisata SMA di tahun (kira-kira) 2004, saya bersama teman-teman  melonjak-lonjak di atas mobil bak terbuka yang disewakan, sambil saling berpegangan erat dan tertawa-tawa kegirangan. Kami berguncang-guncang sampai seakan melompat dari atas mobil bak. Saya suka sensasinya. Mencium aroma wangi rumput basah campur embun serta melewati deret pepohonan dalam jalan yang terus meliuk-liuk. Sayang, saya belum menemukan foto-foto tersebut yang saat itu masih saya ambil dengan kamera analog.

Doa yang tercetus saat pertama kali datang rupanya dijawab saat saya diberi kesempatan kembali ke Kawah Putih bersama keluarga. Family traveling. Ayah mendapat voucher menginap gratis di Bandung.
Ketika kembali di akhir tahun 2006 itu, aroma belerang begitu kuat tercium. Saat itu mendung dan entah karena arah angin atau memang kondisi kawah membuat semakin lama aroma belerang semakin menusuk hidung dan membuat batuk.

Oktober 2010, menuruni anak tangganya, menapaki permukaan batuan kapurnya yang putih, air danau kawahnya yang hijau, kabut yang menyelimuti, serta bukit yang mengepung di sekitarnya. Saya benar-benar tak menyangka bisa menemukan tempat secantik dan seromantis itu di Bandung yang notabene rutenya tak terlalu jauh dari Jakarta.

Tak banyak yang berubah saat itu, kecuali jalannya yang lebih mulus dan mobil yang disewakan bukan lagi sekedar mobil bak terbuka. Kami masih bisa merasakan udara jernih dari mobil tak berjendela, namun ditambah tempat duduk menghadap ke depan dan atap supaya tidak kehujanan.

Kesempatan ketiga tiga tahun lalu itu juga ditambah dengan datang bersama Abang yang (tanpa sengaja) beberapa hari setelah datang ke Kawah Putih tahun 2006 lalu mengutarakan rasa sukanya sama saya.

Aih..aih.. Thanks to Mr. Junghuhn..

4 thoughts on “BANDUNG: Kawah Putih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *