Pulang. Pada akhirnya

24 Agustus 2013

“Sudah beres semua?” tanya ibu.

“Lagi nunggu obat sama tanda tangan surat.” jawab Ayah. Bukan ayah saya, sebenarnya, tapi suami Bulik Pikoh yang kerap dipanggil “Ayah” oleh saya dan kakak, mengikuti anak-anaknya.

“Ini pinjam troli dari lobi bawah.” Ayah menyodorkan troli yang di bagian atasnya terdapat besi melengkung. Mirip troli yang ada di hotel atau yang saya lihat di film Harry Potter saat ia berada di peron 9 3/4.

Kami lalu berturut-turut memindahkan semua barang bawaan (bantal, guling, selimut, bed cover, tikar, tas pakaian, obat, kue lebaran, biskuit, minuman mineral, dan buah) ke troli. Ayah keluar lagi untuk meminta tanda tangan petugas jaga rumah sakit.

Tak berapa lama 3 orang petugas datang, bersiap memindahkan Bulik Pikoh dari kasur rumah sakit tempatnya berbaring ke tempat tidur dorong. Dari tempatnya berbaring, Bulik Pikoh hanya memandang kami bergantian. Sesekali nyengir ketika kami terkadang meledeknya yang sudah rindu sekali pada rumah. Ia sudah tahu akan pulang dan sejak itu wajahnya semakin cerah, meski tetap saja terkadang diselingi erangan setiap merasa sakit.

Perlu tiga orang petugas dan perawat rumah sakit serta usaha yang lebih untuk memindahkan Bulik Pikoh dari satu tempat tidur ke tempat tidur satunya. Kami pun menyingkirkan barang-barang yang tak perlu supaya tidak menghalangi, dan mendorong troli keluar kamar.

Sebelum keluar ruangan, meninggalkan semua aroma rumah sakit dan dinginnya sirkulasi udara yang sesekali saya sambangi selama 4 bulan ke belakang, saya menyempatkan diri berpamitan pada pasien di sebelah tempat tidur Bulik Pikoh. Mengucapkan kata semangat dan semoga lekas sembuh untuk sang ibu dengan kata-kata yang entah kenapa jadi susah untuk dikeluarkan.

Suami sang ibu memandang saya bergantian. Secara tiba-tiba tenggorokan saya tercekat menanggapi pulangnya Mamah Luki atas persetujuan rumah sakit dan keluarga kami sendiri. Dokter yang sudah angkat tangan, tindakan medis yang sudah entah apa lagi untuk dilakukan, menginap di rumah sakit selama 4 bulan (bahkan full ramadhan di Dharmais), serta Bulik Pikoh sendiri yang selalu meminta pulang membuat kami akhirnya benar-benar akan pulang.

wpid-2013-08-24-12-49-55

Seiring dengan troli yang didorong keluar, sementara di dalam kamar terdengar suara aba-aba 1,2,3 dari petugas dan perawat yang mengangkat Bulik Pikoh ke tempat tidur dorong, saat itu juga saya tahu hati saya hancur..

Jauh lebih hancur dari waktu pertama kalinya saya patah hati.

image

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *