Antara sungai dan buku

I wondering why did they have the same dates while there are so many dates in the calender?

Seperti di tanggal 26 Oktober 2013 kemarin, saya perhatikan setidaknya ada tiga sampai empat acara yang (bagi saya) menarik dan sayang untuk dilewatkan. Empat event di hari yang sama tapi di lokasi yang jauh berbeda. Satu di sana, satu di sini, satu di sono. Sehingga kita tentu hanya bisa memilih satu saja untuk bisa menghadirinya (kecuali amuba yang bisa membagi diri menjadi 4).

Empat acara di hari Sabtu itu adalah:

  • Bersih sampah di hutan mangrove Angke bersama Transformasi Hijau. Yup, event wajib bagi saya di waktu tiga tahun lalu hehe. Tapi mengingat ada rencana lain di hari itu, saya tentu harus menimbang lagi.
  • Festival Dongeng di taman melingkar Perpustakaan UI Depok bersama Ayo Dongeng Indonesia.
  • Diskusi sungai di tempat komunitas Ciliwung Condet bersama Bapak Tarsoen Waryono.
  • Satu lagi kalau tidak salah adalah acara di taman Tebet Jakarta Selatan bersama Hidden Park ID.

Dan bagi saya dan Runi ada satu lagi jadwal di hari yang sama, yaitu bertemu dengan Ibu Els yang sudah beberapa kali gagal ketemuan.

Setelah menimbang bahwa tidak mungkin bagi saya dan Abang berangkat setidaknya pukul 06.00 untuk datang ke Angke (cucian numpuk euy!), kami akhirnya memutuskan mengikuti diskusi sungai di Condet saja yang jadwalnya baru akan dimulai pukul 13.00 *nyengir lebar.

Diskusi yang digelar di area basecamp Komunitas Ciliwung Condet hari itu menghadirkan Bapak Tarsoen Waryono, pakar hidrologi dan dosen dari Universitas Indonesia. Berhubung saya ingat betul kata-katanya mengenai banjir dan resapan air yang saya kutip di sini, maka pertemuan dengan Bapak Tarsoen hari itu memiliki arti tersendiri. Ihiiy, akhirnya tatap muka juga.

Meski sempat dihadang gerimis, saya dan Abang akhirnya tiba di Condet. Huaah lama juga tak main-main ke sini. Sampai-sampai Bang Asun bilang lemari buku di sana kangen sama saya hehe. Begitu duduk di area diskusi, saya celingukan melihat ke atas. Waah saung yang kami gunakan ini rupanya saung tempat saya satu tahun lalu melakukan pendataan buku untuk perpustakaan di Ciliwung Condet. Waktu itu masih berwujud saung bambu.

Ada sekitar 10 orang yang hadir saat itu, mereka adalah perwakilan dari Forum DAS (Daerah Aliran Sungai), Komunitas Ciliwung Bogor, Komunitas Ciliwung Bojong Gede, Komunitas Ciliwung Puncak, karyawan, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Obrolan mengenai sungai ini membahas mengenai resapan air, permasalahan yang muncul di sana-sini di berbagai wilayah sungai, (lagi-lagi) banjir Jakarta, kelompok masyarakat yang belum sadar pentingnya menjaga sungai, UU dan Peraturan pemerintah yang berbenturan, dan masih banyak lagi.

Saya yang memang masih awam mengenai sungai dan kajiannya rupanya harus lebih memfokuskan diri dalam setiap perbincangan di dalam diskusi ini. Sehingga sepanjang acara hanya bisa menyimak saja, mau bertanya pun bingung mulai dari mana haha. (baca lebih lanjut mengenai diskusi di blog Ciliwung Institute di sini)

Satu hal yang menjadi perhatian adalah ketika Bapak Tarsoen bercerita mengenai sebuah wawancara, pertanyaan-pertanyaan yang muncul saat itu berasal dari mahasiswa luar Indonesia di dua negara yang berbeda namun berwujud dalam pertanyaan yang sama. Kira-kira pertanyaannya seperti ini: “Mengapa Jakarta sudah berulang kali dan dalam kurun waktu tahunan mengalami banjir, tapi tidak juga bisa mengatasinya?”

Pak Tarsoen menjawab, “Karena airnya bingung. Bingung mau mengalir ke mana. Ke bawah nggak bisa karena di-aspal, ke kiri ada tembok, ke kanan pun juga dibeton. Jadi airnya ya bingung aja ngalirnya.”

image

Berhubung Ibu Els sudah menanti di Pasar Festival, saya berulang kali berniat pamit dari area diskusi tapi nggak berani karena malu pulang duluan. Eh, pas sudah pamit ke Bang Kodir, acara diskusi yang sudah berlangsung kurang lebih 3 jam pun selesai. Hore! Kami pun langsung tancap gas ngebuuuuts ke Kuningan.

Di sana, Runi dan Ibu ELs sudah menanti dan mengobrol. Saya meminta maaf berulang karena datang terlambat. Buku-buku bacaan untuk anak-anak Papua sudah diberikan oleh Runi. Oh iya, perlu diketahui Ibu Els sebelumnya mengirimkan email kepada Kelana Kelapa (setelah sebelumnya berbagi cerita dan dikasih tahu oleh Ashry yang nota bene teman satu kelasnya) mengenai bantuan buku bacaan untuk sebuah taman baca di Papua. Lokasi tepatnya yaitu di Kampung Bade. Teman Ibu Els yang berprofesi sebagai guru berniat mendirikan taman baca dan mengontak teman-temannya mengenai permohonan bantuan buku. Karena tidak ada tempat maka ia meminta izin pihak gereja untuk meminjam sebuah lokasi di sana.

Saat Ibu Els mengontak kami, stok buku bacaan sedang menipis dan kami masih dalam tahap mengumpulkan, maka kami meneruskan email tersebut kepada komunitas Buku Untuk Papua. Alhamdulillah mereka sudah bertemu sehingga bantuan buku bacaan untuk Kampung Bade pun semakin bertambah. Dan akhirnya setelah beberapa kali gagal, saya dan Runi akhirnya bertemu juga dengan Ibu Els. Plong rasanya!

Kami saling berbagi cerita, Ibu Els pun bercerita panjang lebar mengenai kedekatan keluarganya dengan buku sejak kecil. Ayahnya dulu memiliki sebuah toko buku (satu-satunya di wilayah tersebut) dan setiap sepulang sekolah Ibu Els membantu menjaga toko sambil melahap buku bacaan yang ada. Sehingga sejak kecil hingga sekarang menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi di Papua, Ibu Els lekat sekali dengan buku. Saat kami bertanya mengenai perpustakaan daerah di Papua, Ibu Els bercerita kalau kondisinya sangat kurang memadai. Bahkan buku-buku di perpustakaan tempatnya mengajar pun berisi koleksi buku-buku yang sudah sangat lama dan tidak update, sehingga sulit pula bagi mahasiswa bimbingannya untuk mendapatkan informasi terkait buku bacaan.

Kami terus mengobrol ke sana ke mari, sampai mengenai landasan udara di Papua yang WOW hehe. Dan ada satu tips dari Ibu Els bagi yang ingin mendapatkan beasiswa: “Masukan saja semua kegiatan organisasi dan terutama kegiatan sosial yang pernah dilakukan. Bahkan pengalaman donor darah dan kerja bakti. Itu jadi nilai tambah,” katanya sambil tertawa geli.

Setelah satu jam kami berbincang, pertemuan pun berakhir. Minggu depan Ibu Els akan kembali ke Papua, semoga buku-buku bacaan diterima dan bermanfaat untuk anak-anak di Kampung Bade. Semoga sukses juga untuk Ibu Els yang telah menerima beasiswa ke Australia dan kabarnya akan memboyong keluarganya ke sana nanti!

wpid-IMG-20131026-WA0002.jpg

Nice weekend! Semoga minggu ini pun juga begitu dan buku-buku donasi terkumpul lebih banyak lagi. Amin.

Siapa lagi yang mau ikut donasi buku bacaan untuk #KirimBuku? Silakan hubungi saya atau @KelanaKelapa.

4 thoughts on “Antara sungai dan buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *