Mozaik

Awal September 2013

Ada kepingan mozaik yang entah terserak di mana,
Aku sendiri tak tahu tempatnya,
Di tengah kabut yang semakin tebal, aku bahkan tak bisa melihat 1 senti pun.

Ketika mereka bahkan tak yakin akan keajaiban,
Ketika dokter bahkan sudah menyerah,
Aku melihat sebuah cahaya di depan sana,
Di tengah kabut yang mulai menipis,
Sebuah ranting yang berkilauan terkena sinar.

Rupanya ada satu harapan,
Ada doa,
Yang terus bersahut-sahutan,
Baik dari mereka-mereka yang kami kenal, maupun yang tidak kami kenal.

Saat pertama kalinya menjejakkan kaki di RS Dharmais 6 tahun lalu, bertemu dengan anak-anak kuat di sana, perlahan saya sadar kalau tak ada semangat yang melebihi semangat dari dalam diri. Juga tangan-tangan kokoh di sekitar yang turut menguatkan.

Begitu juga dengan dirinya.

image

image
Bangsal anak RS Dharmais

Selasa, 17 September 2013

Saya limbung. Saya bergetar. Tangan saya bahkan kesemutan.
Beberapa pasang mata memandang pada saya yang terus berusaha melangkah.
Saya limbung tapi saya harus maju. Melihatnya, menatapnya. Menemaninya. Untuk terakhir kalinya di dunia.

Beberapa tangan menguatkan saya yang mulai rapuh di teras rumah, dan mengusapkan air mata yang mengalir deras sampai menimbulkan suara.

Saya tak perduli. Tangisan yang semula selalu saya tahan agar tidak runtuh di depannya kini mengalir deras.

Malam senin kemarin. Tatapan Bulik Pikoh yang dalam untuk saya dan berulang kali, rupanya adalah yang terakhir kalinya.

Saat itu ia menatap saya berulang kali, nyengir, lalu menatap saya lagi, sampai akhirnya ia tertidur. Sebelum pulang, keningnya terasa hangat saat saya kecup. Tanpa saya sadari bahwa itu adalah yang terakhir kalinya.

Beberapa hari sesudah ia berpulang, saya berkali-kali tak bisa tidur. Rasa bersalah karena tak bisa mengantar sampai pemakaman di Purwokerto, rasa bersalah karena tak dapat menyelesaikan proses menulis lebih cepat. Rasa bersalah karena ini dan itu.

Untuk pertama kalinya, saya masih berusaha mengucapkan “doa akan tidur” ketika kebanyakan orang di luar sana sedang mengucapkan “doa bangun tidur”.

Rasa bersalah sampai kemudian Teteh menjawab sms saya dengan kalimat;

“Kamu yang paling tahu almarhumah Bulik Pikoh orang yang paling baik dan pengertian.. jadi harus percaya bahwa dia akan mengerti situasi dan kondisimu kenapa sampai ndak ikut mengantar..

Bukan pengantaranmu yang jadi satu-satunya yang paling utama, tapi yang terbaik adalah mendoakannya semoga persinggahan terakhirnya diberi kelapangan, diberi kemudahan dalam perjalannya, semoga semua kebaikannya menjadi penolongnya di sana..

Dan di mana pun kamu berada, doa itu akan sampai..”

Saya tertegun, tersadar kembali bahwa larut dalam kesedihan adalah sebuah hal yang tentu tidak diinginkan Bulik Pikoh dan layak saya lakukan.

Sampai ketika huruf demi huruf ini ditulis, saya terus menyimpannya di draft, butuh waktu untuk menyelesaikannya, butuh waktu untuk mem-publish-nya.

Saat tulisan ini dilanjutkan tanggal 21 Oktober, berarti sebulan lewat 4 hari sudah Bulik Pikoh pergi menghadapNya. Meninggalkan semua usaha kami untuk terus mengingatnya.

Setiap malam terang bulan (purnama seperti beberapa malam lalu), saya bahkan mengingat bahwa ia seringkali mengirimkan sms ataupun menelepon, mengajak saya menyaksikan bulan purnama dari halaman rumahnya.

Mbak, bulannya bagus.” begitu katanya.

Ia juga akan menelepon atau mengirimkan sms saat ada liputan sampah, mangrove, dan berbagai berita lingkungan lain yang ia pikir wajib saya tonton. Ia tahu saya suka dan tak mau saya melewatkannya.

Mbak, ada mangrove di tv A.”

Editan terakhir buku saat ini sedang dilakukan. Saya hanya berdoa waktu terbaik dan proses melahirkannya yang semoga dilancarkan dan penuh berkah.

Selamat jalan Bulik Pikoh. Tak ada lagi sakit dan susah. Kau sudah begitu bersabar menghadapi ujian sakit yang insya Allah membawamu pada kebahagiaan abadi di surga. Amin.

Tak butuh banyak waktu tentu saja, untuk sampai pada kesimpulan bahwa: sejak seorang anak berusia 4 tahun yang memintamu untuk menggendongnya, dan tak mengerti bahwa ada bayi di perutmu, itulah saat semuanya dimulai.

Bahwa dirimu dan semua kenangan kita adalah satu dari sekian mozaik penting dalam hidupku.

0 thoughts on “Mozaik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *