Buku indie, Riza Marlon, dan bonus

Saya jadi ingat pertemuan pertama saya dengan Om Caca alias Riza Marlon. Kalau tidak salah kira-kira akhir Februari tahun 2011. Itu terjadi di sebuah seminar ekowisata di sebuah universitas. Om Caca yang saat itu baru saja menghasilkan sebuah karya berupa buku fotografi berjudul “Living Treasure of Indonesia” hadir sebagai pembicara di acara seminar tersebut. Saat itu adalah menjelang seminggu brace saya siap dipakai.

Saya yang saat itu dilema luar biasa tentang apakah saya masih bisa memotret kupu-kupu meski dengan brace juga, takjub saat kesempatan itu datang. Karena entah sudah berapa kali acara yang serupa seperti itu tidak bisa saya ikuti karena bentrok dengan kegiatan lain.

Rasa nyeri di punggung karena duduk di bangku mahasiswa selama acara seminar itu sempat tak saya rasakan saat celingak-celinguk dan mendapati Om Caca, fotografer hidupan liar alias wildlife photography yang selama ini saya kagumi karena karyanya itu, sedang berdiri di belakang. Asik mengobrol dengan panitia seminar dan juga teman-temannya.

Saya menepuk jidat waktu melihat isi dompet dan menanggapi harga buku terbaru Riza Marlon tersebut. Kurang Rp 50.000. Bisik saya dalam hati. Duuh!

Saya bertanya pada Agnes tentang ATM di sekitar kampus. Jawabannya ada ATM jauh di depan gedung tapi saat itu sulit dijangkau karena turun hujan lebat. Makin meringislah saya mengingat kesempatan membeli buku bisa hancur berantakan karena uang yang kurang. Saya geleng-geleng kepala, biarlah nanti saja. Pikir saya sambil kembali menyimak sesi pertama seminar tersebut.

“Bilang aja Yul. Ntar sisanya ditransfer.” kata Agnes.

Hah? Saya nggak yakin sama ide itu. Ya masa profesi fotografer yang sudah terkenal macam begitu membolehkan saya membawa pulang buku tanpa melunasi seluruh pembayaran. Sependengaran saya bahkan ada beberapa fotografer yang tak mau berbagi ilmu. Tapi bukannya Om Caca kabarnya ramah? Ya tapi masa ngutang ya… Malu-maluin.. pikir saya lagi.

Selepas acara seminar, hujan masih turun dengan derasnya dan membuat kami malas minggat dari ruangan tersebut. Saya mengikuti Agnes menghampiri Om Caca di stand mejanya di belakang. Sebuah stand kecil tempat bukunya dijual. Dan saya garuk-garuk kepala mengingat kesempatan membeli buku ini tak akan terjadi setiap hari.

“Mau beli?” Di luar dugaan Om Caca bertanya begitu waktu saya melihat-lihat si buku. Saya nyengir lalu Agnes bilang kalau uang saya kurang. Haha ini benar-benar memalukan.

Dan lagi-lagi di luar dugaan Om Caca dan Tante Wita, istrinya yang katanya memegang bagian pemesanan buku, membolehkan saya membawa pulang buku fotografi hasil karyanya meski saat itu uang yang saya bawa kurang (aduh beneran malu deh XD).

Harga buku bertipe coffe-table-book itu adalah Rp 350.000. Om Caca berkata kalau ini proyeknya yang jauh dari mengambil keuntungan. Ia hanya ingin mengenalkan keanekaragaman hayati Indonesia agar orang Indonesia sendiri sadar akan kekayaan ini. Ia pun mengaku menggarap buku ini bertiga saja dengan Tante Wita dan seorang teman lagi sebagai layouternya. “Lebih enak menerbitkan sendiri, jualnya lebih bebas. Harganya juga bisa lebih murah.” Katanya. Saya mengangguk-angguk mendengarnya.

Kami lalu berbincang panjang lebar sambil menunggu hujan reda. “Indonesia yang punya hutan dan kaya biodiversitas tapi orang bule yang lebih banyak foto-foto. Fotografer Indonesianya pada ke mana?” Katanya lagi. Kami beramai-ramai terus saja membicarakan mengenai hobi, mengenai buku, mengenai buku ular yang jadi target bukunya setelah ini, mengenai pengalaman di hutan yang berburu foto orangutan dan harus tinggal berbulan-bulan di sana serta menaiki pohon dengan tinggi 40 meter, dan sebagainya.

Ah, saya suka hari itu. Mendengar dari Om Caca sendiri tentang pengalaman-pengalamannya membuat saya menjadi lebih semangat dan sedikit tak mengkhawatirkan brace. Ditambah lagi saya sempat menjadi model 1 kali jepret saat Om Caca mencoba kamera salah satu panitia acara (bukan saya yang minta, ini disuruh haha). Hasilnya tak terlalu baik, entah karena kamera yang digunakan bukan kamera pribadi Om Caca yang sudah familiar dipegang atau karena saya bukan satwa XD.

DSC_8416
Bersama banner & buku Om Caca. Foto oleh Om Caca

Pengalaman menyenangkan bertemu dengan fotografer handal yang ramah itu kemudian melecut semangat saya untuk tetap berusaha tak merubah hal-hal yang masih bisa dilakukan bersama brace. Termasuk menghasilkan jepretan foto kupu-kupu dan satwa lain di alam.

Bersama Om Caca, Tante Wita, dan Agnes
Bersama Om Caca, Tante Wita, dan Agnes

“Sini ditulis namanya sekalian di buku. Biar seru.” Kata Om Caca meminta buku yang baru saya bayar setengah itu. Saya bawa spidol sendiri kok yang anti air hehe.” Katanya sambil terkekeh.

To : Yulia

Ayo bikin buku juga.

Riza Marlon

begitu ditulisnya.

^^^^^^^^^^^^^

Dan saat mengirimkan buku tentang pengalaman skoliosis dan brace saya sendiri untuk Om Caca. Saya tidak tahu apakah ia ingat peristiwa di atas atau tidak. Tapi ketika ia tiba-tiba menelepon saya dan berkata sendiri kalau buku saya sudah sampai, berucap terima kasih, dan bercerita panjang lebar bahwa buku ularnya sebentar lagi naik cetak, dan tak masalah meski buku yang saya kirimkan bukan buku mengenai alam liar, saya hampir terlonjak di meja sambil terus memegang ponsel di telinga dan berpikir bahwa ini hadiah luar biasa dariNya.

Sama dengan hadiah kesempatan bisa mengirimkan deretan-deretan map coklat berisi buku saya sendiri, memercayakannya pada kurir pengiriman yang beberapa di antaranya meledek saya dengan; “Oalaaah… penulis toh!” sewaktu mereka menyadari dimensi paket yang saya kirim sama semua dan berupa buku semua. Saya hanya menanggapinya dengan nyengir, “Kecil-kecilan kok.”

Esok harinya saat kembali lagi ke tempat pengiriman, kurir yang berbeda lagi malah meledek sambil terus mendesak saya untuk bercerita apa sih isi cerita dari buku saya itu?

“Cinta-cintaan ya?” katanya, yang lalu saya jawab, “Bukaaaaan.”

Lalu di meja pengiriman saya malah merasa menjadi meja ajang berbagi cerita karena sang kurir jadi bertanya panjang lebar mengenai apa itu skoliosis dan bagaimana ini bagaimana itu. Ini bonus ketiga dariNya sehingga saya bahkan bisa sekalian kampanye waspada skoliosis di tempat pengiriman barang.

Bonus selanjutnya? Salah satu orangtua dari skolioser menghubungi saya dan mengucapkan banyak terima kasih atas kiriman buku. Ia lalu bercerita panjang lebar tentang anaknya itu sambil mendoakan saya.

Bonus selanjutnya? Mamah mertua membawa beberapa buku ke forum pengajian dan ke sekolahnya. Temannya Abang ikut promosi di sosial media dan menambah pesanan menjadi 5 eksemplar. Tempo hari saya bahkan mengirimkan 17 eksemplar buku dalam satu hari yang lagi-lagi tentu saja disambut cengiran sang kurir.

Bonus selanjutnya? Komentar, foto, dan twitpic buku dari para pembaca. Dan juga tulisannya Mas Swiss Winnasis tentang buku saya di sini.

Bonus selanjutnya lagi? Ah, saya tak sanggup menghitung nikmat dari Allah SWT ini karena saking banyaknya, bahkan meski ini hari ke-3 saya absen masuk kerja karena demam.

Seperti rencana di awal memang. Tujuan penulisan buku ini bukan mencari keuntungan. Sudah sampai di tangan pembaca, mereka berkomentar tentang buku, dan jadi tahu apa itu skoliosis dan MVP (dua hal yang mungkin selama ini tak pernah didengar bagi non skolioser dan non MVPer), serta menambah semangat bagi para skolioser saja saya sudah senang sekali.

Ada beberapa yang bertanya, “Apakah saya sudah balik modal?”. Lagi-lagi saya belum mau menghitungnya. Kalaupun kurang, biar Allah yang akan mencukupkannya.

wpid-2014-01-25-10.31.59.jpg

4 thoughts on “Buku indie, Riza Marlon, dan bonus

  • January 30, 2014 at 11:39 am
    Permalink

    Hi Yulia,.

    Masih ingat kah sama saya? Selamat yah sudah menghasilkan karya sendiri,. setelah membaca Postingan Swiss saya juga jadi penasaran dan ingin membaca buku kamu itu.

    Reply
      • February 4, 2014 at 7:56 pm
        Permalink

        Hi yulia.. hmm.. maaf ya… pending dulu.. tp ttp pesan satu… jangan sampe habis yah.. kemarin udah buat yang lain.. hehe

        Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *