Turnamen foto perjalanan ronde 36: taman

Jika menyebut kata taman, yang pertama terlintas adalah petakan halaman di belakang rumah sendiri. Bukan taman cantik yang dipenuhi dengan berbagai bunga memang. Menanam kembang sepatu saja saya gagal. Halaman belakang rumah kami lebih banyak dipenuhi dengan rumput liar yang jika musim hujan akan meninggi dengan cepat sehingga membuat kami yang menjemur cucian akan merasa gatal di kaki. Lalu ibu akan memanggil tukang potong rumput mesin untuk memangkasnya. Karena jika tidak, saya yang akan memangkasnya dengan gunting rumput manual. Dalam waktu 1 jam, rumput yang bisa saya pangkas kurang dari setengah meter saja. “Kelamaaan!” Kata Ayah.

Entah halaman belakang kami itu masuk dalam kategori taman pada umumnya atau tidak. Tapi bagi saya, betapapun menyenangkan dan indahnya taman yang saya temui di perjalanan, taman di belakang rumah kami ini tak ada duanya.

Saya dan pasukan sepupu biasanya akan berebutan makan martabak tahu atau tempe goreng buatan nenek di taman belakang dengan tikar seadanya ketika kami bersua. Di lain waktu, paman akan datang dan langsung meraih galah yang sudah dilengkapi ujung runcing untuk menyengget kelapa. Bunyi gedebuk-gedebuk pun muncul di satu-satunya pohon kelapa kami. Menyenangkan sekali minum air kelapa dan makan daging kelapa dari taman sendiri sambil beralaskan rumput saja.

Ayah pernah bertanya pendapat kami tentang perluasan rumah. Dan kami menolak seperti kebanyakan orang yang merubah halaman rumput mereka menjadi garasi kendaraan pribadi atau kamar tambahan. “Nanti tak ada tempat untuk burung dan kupu-kupu.” Jawab saya. Ayah pun sebenarnya hanya sekadar bertanya dan tak serius untuk menghilangkan taman kami itu.

Taman belakang adalah nyanyian rindu saya akan ruang terbuka hijau dan hutan. Terbatasnya waktu dan kesempatan menjelajah justru menyeret saya untuk membuka mata lebar-lebar pada ruang terbuka paling dekat, di depan mata saya sendiri. Maka dalam waktu sejenak, saya melupakan traveling yang belum kesampaian atau event pengamatan burung (birdwatching) yang belum bisa saya ikuti jauh di tengah hutan karena keterbatasan fisik saya. Juga nyanyian rindu saya akan Ruang Terbuka Hijau Jakarta yang sangat sangat sangat jauh dari syarat 30%.

Di taman terdekat ini, saya mengejar ritual untuk mengumpulkan data biodiversitas sendiri dengan mendekati kupu-kupu dan burung yang hinggap tinggi di atas pohon. Sangat mengagumkan karena bahkan saya bisa mengamati burung liar sambil menyeruput teh panas saya dan tak beranjak dari dingklik atau bahkan bisa dengan leluasa ngibrit ke kamar mandi jika kebelet tanpa perlu susah payah.

Taman belakang adalah tempat terbaik bagi saya untuk menulis ditemani belalang yang lompat di kertas. Tempat saya melarikan diri dari bisingnya kemacetan ibukota. Tempat saya belajar untuk menjadi citizen scientist. Tempat saya berlarian dan menjelajah dengan leluasa bersama pasukan sepupu. Juga tempat saya terpaku saat pertama kalinya dalam hidup dan keheningan senja, saya mendengar suara kepak sayap seekor kupu-kupu.

Kami tak kan selamanya tinggal di sana. Ketika tiba saatnya pindah nanti, semoga kami dipertemukan dengan taman rumah yang serupa seperti itu atau bahkan lebih baik. Amin.

“The most obvious place are park within cities, but community gardens and residential yards can also greatly contribute to biodiversity enhancement.” (Zitkovic, Maja. 2008 dalam Managing green spaces for urban biodiversity)

DSC_0044

*Diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde 36: Taman di sini

0 thoughts on “Turnamen foto perjalanan ronde 36: taman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *