Kopi darat skolioser dan book sharing

Kamis tanggal 12 Maret 2014 saya mendapat sebuah pesan mengenai undangan untuk hadir di acara ultah MSI Jabar yang ke-3. MSI adalah singkatan dari Masyarakat Skoliosis Indonesia, untuk yang ini khusus wilayah Jawa Barat. Untuk wilayah Jawa Barat tersebut, kegiatan mereka berpusat di Kota Bandung.

Undangan yang dimaksud adalah saya diminta hadir untuk melakukan sharing pada acara tersebut mengenai buku “Pantang Padam: catatan skolioser” yang bulan Januari lalu saya terbitkan. Waktu saya baca pesan itu rasanya senang tapi sekaligus juga deg-degan! Kalau saya menyanggupi maka itu berarti saya harus siap untuk berbicara di depan umum. Sebuah hal yang sama sekali bukan tipe saya dan hal yang biasanya saya hindari.

Saya sudah mendengar mengenai acara, yang mereka sebut sebagai #MeetUp itu, sejak sekitar seminggu sebelumnya melalui twitter. Admin @MSIJabar pun mengajak para skolioser Bandung dan sekitarnya untuk hadir, termasuk juga saya. Tapi saat itu tentu hanya sebuah ajakan hadir dan bukan sebagai bagian dari acara.

Dyshell, Rini, Ama, Mbak Yustika, dan deretan nama skolioser lain yang terkadang saling menyapa di twitter. Mbak Yustika adalah penyelaras aksara buku saya tapi kami memang belum pernah bertemu dan hanya saling kontak melalui dunia maya.

Minus empat hari itu pun membuat saya cukup bingung. Apa yang akan saya ceritakan nantinya? Kalaupun datang, dengan siapa saya ke Bandung? Abang sudah terlanjur melakukan perjanjian dengan salah satu teman komunitasnya di acara Car Free Day di senayan maka ia menolak untuk hadir. Satu hari itu saya cukup dibingungkan dengan pilihan antara “Iya” dan “tidak”. Tapi undangan untuk melakukan book-sharing itu terlalu sayang untuk dilewatkan.

Masalahnya, Abang tak mengizinkan saya berangkat sendiri dengan travel. Saya pun menyebar undangan. Mulai dari menghubungi beberapa kawan satu per satu yang mau ikut hadir di acara tersebut. Jika ada temannya, maka kami akan naik travel bersama. Setidaknya tak sendiri.

Sayangnya semua kawan saya sudah terlanjur memiliki acara di hari Minggu meski mereka mengakui ingin sekali menemani saya. Ibu dan kakak pun setengah kasihan pada saya yang harus berangkat sendiri. Saya memaklumi ibu yang masih butuh istirahat mengingat seminggu lalu saya dan ibu, berdua, harus terkapar di IGD rumah sakit dini hari karena keracunan kerang. Kakak pun tak bisa ikut karena Daffa sedang pilek. Saya tetap berusaha mencari kawan untuk berangkat. Pokoknya sampai mentok dan tak bisa berangkat, baru saya menyerah.

Ibu akhirnya menelepon Pakde yang biasa menyupiri mobil kami saat mudik. Syukur, Pakde setuju sehingga diputuskan minggu saya bisa berangkat ke Bandung dengan meminjam mobil ayah.

Saya pun kembali menyebar ajakan. Siapa tahu masih ada yang ingin ikut dan mengajak skolioser Jakarta yang saya perkirakan bisa berangkat untuk sama-sama menuju Bandung. Skolioser yang sempat ingin ikut adalah Mia dan Agi. Sayangnya satu hari menjelang hari Minggu mereka membatalkan keberangkatan karena ada acara lain.

Baiklah, mari ke Bandung bersama Pakde saja.

Minggu, 16 Maret 2014

Kami berangkat pukul 06.30. Seperti biasa ibu sibuk menyiapkan bekal untuk kami yang sulit sekali ditolak.  Mulai dari roti, nasi plus soto ayam, biskuit, dan sebagainya yang rasanya masih ingin ibu jejalkan pada tas makanan. Pakde sampai berkata, “Ke Bandung berdua kaya ke Lampung.” Hahahaha.

Bekal makan
Bekal makan

Maka meluncurlah kami dengan lancar menuju tol Cipularang. Jalan raya lancar seutuhnya. Tak macet seperti yang kami perkirakan, sehingga pukul 08.30 kami sudah tiba di kota Bandung. Saya memerhatikan peta dalam email yang dikirimkan oleh Mbak Yustika. Acara diadakan di Ayam Penyet Ria di Jl. W.R Supratman. Bingung dengan petunjuk jalan yang dipasang tinggi di atas sambil tetap memerhatikan peta, saya pun asal saja meminta Pakde belok kiri, kanan, dan lurus. Kami melewati Gedung Sate dan pusat kota tempat warga Bandung sedang berolahraga pagi sambil (lebih banyak) shopping di kiri dan kanan jalan. Ah, seandainya bisa berhenti sejenak untuk ikut berjalan kaki. Sayangnya, Pakde kekeuh untuk mencari warung Ayam Penyet terlebih dulu.

Kiri-kanan-lurus, salah belok, putar balik, lalu entah bagaimana kami tiba-tiba sudah berada di Jl. W.R Supratman. “Nih, ayam penyet!” seru Pakde. Walaah.. tanpa dicari, sekarang tempat untuk pertemuan nanti sudah ada di depan kami. Mobil pun parkir dan kami turun, meluruskan pinggang dan punggung, sambil lalu memesan minum.

instaweather_20140316_090237

Jam 11.00 masih lamaaa! Tapi Pakde menolak untuk berputar-putar. Alasannya? Apalagi kalau bukan karena takut macet dan terlambat di acara nantinya. Maklum yah, kami orang Jakarta yang sudah bosan sekali dengan macet. Perbedaan lima menit saja bisa membuat kondisi macet secara tiba-tiba berubah menjadi gawat darurat. Apalagi mengingat saya juga ikut bagian dalam acara. Apa jadinya kalau saya datang telat hanya karena alasan berjalan-jalan? Maka meski sebenarnya ada banyak sekali yang ingin saya kunjungi dalam waktu yang singkat; Tobucil, Kineruku, Reading Lights, dan deretan tempat lain yang berkaitan dengan buku, tapi baiklah saya harus sudah puas untuk hanya berjalan kaki singkat di sekitaran Jl. W.R Supratman.

IMG_20140317_205019

Begitu kami kembali ke ayam penyet, seseorang memanggil nama saya. Dyshell! Waah rupanya sudah pada datang. Di dalam ruangan yang memang sudah dipesan itu saya berkenalan dengan skolioser lain. Tapi seperti biasa, dalam waktu 10 menit saya lupa lagi nama mereka. Saya mencolek lagi salah satunya, bertanya ulang mengenai nama. Salah satunya tertawa, “Aku Sintya Putri, Kak Yul. Put Tia kalo di twitter.”

Oalaaah! Saya membelalakkan mata. Hiih bagaimana bisa saya nggak ngeh! “Jangan-jangan yang tadi Rini ya?” tanya saya lagi.

“Hihi iya teh.” jawab Putri sambil tertawa.

Saya pun takjub. Pada ketidakmampuan saya mengingat nama di awal perkenalan. :'(

Skolioser lain kemudian berdatangan. Termasuk juga Mbak Yustika yang kemudian memeluk saya. Iih senang akhirnya bertemu dengan proof reader yang sudah mau direpotkan dengan berbagai deretan kalimat saya yang masih kacau. Skolioser lain pun cukup heboh waktu tahu bahwa kami belum pernah bertemu sebelumnya.

Ini baru namanya kopi darat seru! Teriak saya dalam hati.

2014-03-16 10.31.38

^^^^^^^^^^^^

Acara dimulai dengan perkenalan singkat antar skolioser satu persatu. Duo MC Ama dan Tami membuat suasana menjadi akrab dan renyah (bakat nih kayanya :p). Saya setengah tertawa dan sekaligus gugup saat memegang mik dan memperkenalkan diri. Baru sesingkat ini saja suara saya sudah bergetar, bagaimana nanti? Pikir saya yang langsung dilanjutkan dengan berusaha menenangkan diri sambil mendengarkan skolioser lain.

2014-03-16 11.33.59
Ama dan Tami

Sesi pertama pun dimulai dengan pembicara yaitu Nuri dan Sugi. Mereka berdua adalah mahasiswi dan mahasiswa yang melakukan penelitian dengan topik skripsi yang sama yaitu skoliosis. Nuri adalah mahasiswi Psikologi Unpad dengan topik skripsi seputar hubungan skoliosis dan self esteem atau rasa percaya diri. Nuri juga adalah seorang skolioser. Jadi penelitian skoliosis dari skolioser. Hebat kan? hehe.

Sementara Sugi adalah mahasiswa teknik mesin ITB yang melakukan penelitian dengan mengaitkan skoliosis dengan biomekanik yaitu cara berjalan seorang skolioser. Waah kalo saya mah ngejelasinnya susyaah hehe. Sugi mengaku awalnya pernah meledek seorang temannya yang memiliki skoliosis. Tapi kemudian ia mencari tahu apa itu skoliosis, menjadi tertarik, lalu timbul niat untuk menjadikan skoliosis sebagai topik skripsi agar bisa bermanfaat untuk para skolioser dan masyarakat umumnya. Sugi pun mengaku menyesal pernah meledek temannya yang skolioser itu. Hayooo siapa yang masih suka meledek skolioser? Mending bikin sesuatu yang bermanfaat donks ;).

2014-03-16 12.06.29
Sugi sedang menjelaskan tentang skripsinya

Setelah Sugi dan Nuri selesai bercerita tentang skripsinya, skolioser dibolehkan untuk bertanya. Penanya terbaik mendapatkan hadiah yang disponsori oleh Griya Kabita milik Mbak Yustika. Langsung deh pada semangat tanya hehe.

Berhubung sudah pukul 13.00 maka acara dilanjutkan dengan makan siang bersama dan sholat dzuhur. Usai shalat saya kembali deg-degan haha karena sebentar lagi tiba saatnya saya maju ke depan *garuk-garuk kepala.

Acara pun dimulai kembali. Mbak Yustika sebagai moderator dan saya pun maju ke depan. Sesi kedua dibuka dengan perkenalan dari saya dan pemutaran slide singkat yang saya buat mendadak sambil kebingungan (kayanya ni orang kebanyakan bingung ya 😕 ). Beneran deh, saya awalnya bingung antara harus menjelaskan sambil melihat slide kaya lagi presentasi atau memutar slide saja lalu dilanjutkan dengan talkshow. Pada akhirnya saya memilih yang kedua.

Maaf kalau slide ternyata kurang informatif dan jelas. Sebenarnya hanya ingin menggambarkan mengenai buku Pantang Padam secara singkat saja. Awalnya sempat ingin membuat versi video dengan aplikasi moviemaker supaya lebih lebih atraktif namun waktu dan kemampuan yang kurang (halah alasan) maka jadilah slide yang sedikit (sepertinya) bikin beberapa orang bengong karena nggak ngerti haha. Semoga selanjutnya saya bisa membuat yang lebih bagus ya.

Syukur ada Mbak Yustika yang sudah membuat beberapa contekan dan mampu memancing pembicaraan sehingga membuat saya yang duduk grogi di depan bisa bercerita sambil terus mengorek ingatan tentang buku ini.

Oh iya, mohon maaf ya untuk para skolioser Bandung yang hadir. Beberapa kali saya mengucapkan kata “gue”. Ini tak ada maksud Jakartanisasi atau apapun, beneran kebiasaan. Abdi teh lupa. Ini jadi catatan dan pelajaran saya selanjutnya untuk tetap ingat saya sedang berada di mana. Maklum yah, grogi.

Talkshow berlangsung cukup menyenangkan karena Mbak Yustika yang pandai mengajukan pancingan pertanyaan. Berikut juga adalah beberapa pertanyaan yang kira-kira saya ingat dan semoga menjadi tambahan sharing untuk para skolioser. Kata-katanya tidak sama persis, tapi kira-kira intinya seperti ini ya:

Dyshell : “Saya juga suka menulis, tapi bagaimana supaya membuat tulisan yang runut seperti di buku Pantang Padam?”

Yulia: “Dalam menulis (dan juga dalam membuat sebuah tujuan apapun) biasanya dibutuhkan mind map atau peta pemikiran. Kita buat dulu garis besarnya, tujuannya apa, apa saja yang dibutuhkan, dan sebagainya. Dalam hal buku ini, saya membuat garis besarnya dulu saya mau menulis apa. Chapter 1 isinya apa, tujuannya mau menjelaskan apa, chapter 2 apa, dan seterusnya.”

(Ini bisa butuh postingan tersendiri kalau bahas tentang menulis).

Tami (awalnya saya kira Ama): “Skolioser kan juga suka galau. Gimana cara kak Yulia supaya kita tuh semangat, bisa bangkit, dan nggak sedih gitu sama kondisi sendiri?”

Yulia: Kalau saya waktu itu membaca buku-buku yang penuh semangat dan bisa menyemangati saya. Saya membaca satu buku yang kemudian mengajarkan dan membangkitkan semangat saya dengan sangat besar. Buku itu menceritakan mengenai tuna netra yang adalah seorang pendaki gunung dan pemanjat tebing. Ia tahu bagaimana memanjat tebing, tahu di batu mana harus berpegangan, dan tahu bagaimana mendaki. Ia pun sudah mendaki puncak Everest. Dan ia melakukannya bukan karena ingin dipuji atau dibanggakan tapi karena memang ia merasa senang melakukannya. Jadi gimana caranya kita fokus sama apa yang bisa kita lakukan.

(Note: buku ini adalah mengenai Erik Weihenmayer. Judulnya adalah “Touch the top of the world: farther than the eye can see” . Pencarian panjang mengenai buku ini pun saya masukan ke dalam tulisan).

Yang kedua adalah seperti yang tadi saya juga tulis di slide, “Obat paling mujarab di dunia adalah membaca buku dan menjadi relawan”. Maka saya membentuk sebuah komunitas relawan untuk berbagi. Bersama teman-teman, kami mengumpulkan buku-buku bacaan yang kemudian dikirimkan untuk perpustakaan di berbagai tempat di Indonesia. Dengan kita berbagi kita merasa senang dan lega karena kita Insya Allah bisa menyenangkan dan bermanfaat untuk orang lain.”

(note: yang saya maksud adalah kegiatan bersama komunitas Kelana Kelapa)

Zahra: “Saya punya teman yang juga skolioser. Kami sama-sama skolioser tapi dia tuh lebih merasa tidak mampu. Seringkali berlebihan, lebay. Sehingga saya dan teman-teman yang tadinya mendukung jadi malas. Karena dia apa-apa nggak mau. Apa-apa bilang nggak bisa. Gimana supaya dia tuh jadi mau semangat gitu?”

Yulia: Saya beberapa kali menerima pertanyaan yang sama ya. Dan jujur merasa sedih karena saya sendiri tidak bisa berbuat banyak untuk itu. Yang bisa membuat semangat sebenarnya adalah lingkungan dan diri kita sendiri. Nah, kalau lingkungan sebenarnya sudah mendukung tapi diri sendirinya tidak ada keinginan untuk bangkit maka akan susah.”

Tambahan dari Nuri: “Mungkin dicarikan role model. Jadi dia tahu dan sadar kalau sebenarnya dia tuh juga masih mampu dan bisa percaya diri.”

Mbak Yustika: “Ini di buku kan ada banyak kegiatan. Traveling, birdwatching, fotografi, hiking. Ini gimana Yulia bisa melakukan semuanya dengan skoliosis dan MVP?

Yulia: Saya sih memang belum pernah ya hiking benar-benar sampai puncak dengan beban tas 20 kg misalnya. Yang penting kita tahu batasannya, jujur pada teman seperjalanan kalau memang tidak bisa. Waktu kemping, saya jujur untuk bilang sama teman perempuan kalau saya nantinya akan minta bantuan pasang brace. Ternyata teman saya mau membantu dengan senang hati, ia juga malah membantu membawakan tas saya. Sementara untuk kegiatan lain, yang penting sih latihan dulu. Misalnya jalan kaki rutin. Nggak langsung berkegiatan berat gitu.”

Mbak Yustika: Sering nih, skolioser takut katanya susah dapat jodoh. Itu gimana ya tipsnya menurut Yulia?”

(pas pertanyaan ini langsung pada ketawa semua haha)

Yulia: “Iya katanya banyak yang takut nggak dapat jodoh sama susah dapat kerjaan. Perlu diingat lagi sih. Rezeki dan jodoh itu memang sudah ada yang mengatur. Jadi sebenarnya sih tidak perlu khawatir. Kita fokus saja pada kemampuan dan yakin. Nantinya kalau sudah rezeki, ya dia akan datang sendiri. Saya juga pernah ditolak waktu melamar di sebuah perpustakaan sekolah. Tapi kemudian diterima di tempat lain. Jadi ya jangan khawatir.”

Nah, ada satu pertanyaan yang ternyata saya lupa jawabannya. Jadi saya menjawab, tapi saya tidak menjawabnya secara lengkap karena saat itu sama sekali lupa. Yaitu terkait dengan ini:

Mbak Yustika: “Pernah tidak ada orang yang mengejek Yulia tentang skoliosisnya? Gimana cara mengatasinya?”

Yulia: Alhamdulillah tidak ada yang mengejek mengenai skoliosis saya. Paling pas teman-teman tidak sengaja menyentuh punggung saya dan sadar ada yang berbeda, mereka hanya bertanya. Itu saja sih. Alhamdulillah lingkungan teman-teman dan keluarga saat ini mendukung.”

Naaaah. Pas pulang saya baru ingat. Saya pernah mengalami masa minder yang sangat jatuh. Tidak punya rasa percaya diri karena ejekan. Dan itu terjadi bukan saat skoliosis. Tetapi justru saat sebelum skoliosis muncul. Kondisi fisik saya yang mungkin memang berbeda dengan yang lain membuat saya sering mendapat banyak sekali ejekan dan cemooh. Saya yang baru beralih menjadi murid SMP rupanya harus menghadapi lingkungan baru sekaligus ledekan baru yang luar biasa bertubi-tubi. Tinggi badan dan berat saya sama sekali tidak cocok untuk ukuran SMP. Sehingga ke mana pun saya pergi saya selalu diejek.

Mulai dari diejek satu kelas, ditertawakan hampir satu sekolah saat menjadi petugas upacara, diledek di jalan oleh satpam, anak SMA, kuli bangunan, supir truk, dan siapa saja yang bertemu saya di jalan pergi dan pulang sekolah. Saya saat itu seperti tak punya tempat untuk berlari. Ditambah dengan adanya sekelompok anak di mana salah satunya tidak menyukai saya. Ia sering memberi pengaruh pada teman-teman yang lain untuk menjauhi dan mengejek saya. Kelompok anak-anak itu bahkan berteriak pada saya dengan kata-kata “kuntet”, “pendek”, “ceking” dan cercaan lain yang bagi saya saat itu sangat menyakitkan. Yup, this is about bullying. And i’ve been there done that.

Rasa percaya diri saya pun merosot tajam. Saya selalu mengalami kesulitan berada di lingkungan baru, asing, dan dengan orang-orang baru karena selalu menganggap mereka akan mengejek saya. Saya selalu bergetar saat berdiri dan berbicara di muka umum karena selalu ingat bahwa saya ditertawakan oleh banyak massa. (yup, termasuk suara yang bergetar saat sharing ini)

Maka saat masuk SMA dan mengalami masa-masa tumbuh dengan skoliosis, rasa percaya diri saya semakin merosot. Pertanyaan “kenapa tulang saya berbeda” dan “kenapa lagi-lagi saya” selalu berputar. Mungkin karena pernah mendapat banyak sekali ledekan dan cemooh, saya kemudian dipertemukan dengan teman-teman yang benar-benar nyata. Benar-benar membantu dan mendukung saya. Tidak meninggalkan saya karena alasan-alasan skoliosis dan apalagi mengejek saya.

Bagaimana cara saya bangkit saat minder itu? Saya berusaha untuk keluar dari jurang minder karena saya tidak mau terus seperti itu. Saya sulit untuk menegur orang lebih dulu karena malu tapi (sampai sekarang) masih berusaha belajar untuk sanggup memulai. Saya juga membaca buku-buku mengenai cerita-cerita semangat dan rasa percaya diri (yup, lagi-lagi semangat karena buku).

Jadi kalau ditanya bagaimana saya bisa kemudian belajar supaya tidak minder, maka jawabannya adalah “tanamkan niat dulu dalam hati.” maka kemudian insya Allah akan terbuka jalan, sambil terus berusaha.

Itulah hal yang saya lupa sampaikan pada kawan-kawan saat sharing. Semoga dengan tulisan ini bisa terjawab juga ya.

^^^^^^^^^^^^^

That’s it sharing-nyaaa!

Waktu saya bilang, “Senang sekali bisa berada di Bandung ini. Akhirnya bertemu di dunia nyata.”, semua langsung pada tertawa haha. Tapi beneran, saya bilang biasanya hanya bertemu di dunia maya dengan avatar yang kecil-kecil. Tapi berkat undangan sharing itu saya jadi tahu yang mana Rini, yang mana Mput, yang mana Melani, yang mana Mbak Yustika, yang mana Teh Dyah, dan sebagainya. Sekali lagi saya mohon maaf kalau ada kata-kata yang salah. Terima kasih untuk MSI Jabar atas undangan dan keceriaan sharing-nya.

Kalau saya menolak undangan sharing itu karena memang merasa sulit berbicara di depan umum tentu juga akan lain ceritanya. Jadi sekali lagi ini tentang kemauan dan niat. Seperti yang sudah saya share sebelumnya, “If we don’t risk it all, we may as well not write at all.” ~ Anne Stuart.

IMG_20140317_194959
Skolioser nu geulis
Bersama proofreader!
Bersama proofreader!

IMG_20140318_234237

Syukur Allah juga memudahkan dengan bisanya Pakde mengemudikan mobil sehingga saya bisa datang. Terima kasih kepada Abang yang sudah memberi izin dan kepada Pakde yang sudah mau berlelah-lelah mengantar saya.

Off from Bandung
Off from Bandung

Dan berhubung masih tersisa satu eksemplar buku, maka di acara sharing ini saya memberikan buku tersebut untuk Zahra sebagai salah satu penanya terbaik. Hurray!

wpid-SC20140317-050136.png

12 thoughts on “Kopi darat skolioser dan book sharing

    • March 24, 2014 at 3:32 pm
      Permalink

      Kalo ada twitter bisa langsung follow saja @MSIJabar. Biasanya kalo ada kegiatan dikasih tahu di sana, nanti bisa kenalan sama skolioser yg lain

      Reply
  • March 24, 2014 at 8:46 pm
    Permalink

    Wuah keren nih, seru banget yaa, nuhun ya teh Yulia udah sharing sm MSI JABAR :))
    Tapi mau ralat dikit,yg nanya ke teh Yulia itu Tami bukan Ama wheheh

    Reply
  • May 31, 2014 at 6:27 am
    Permalink

    mau nanya, utk MSI di semarang apakah ada? apakah punya info utk terapi skoliosis di semarang di daerah mana y?
    adik saya skolioser yg kami ketahui sejak 7 tahun lalu krn dia sekolah SMP di asrama.
    sejak SMA sdh pakai brace yg kaku. itupun dia sering tidak betah yang awalnya sehari hanya ditolerir 1 jam dia bs melepasnya 5-6 jam. tapi sampai skg blm pernah terapi sama skali, awal diagnosis 40 derajat. sekarang usianya 20 tahun, apakah msh bisa kalau diterapi? mohon infonya. trimakasih banyak

    Reply
    • May 31, 2014 at 8:11 pm
      Permalink

      Kalau tidak salah utk bagian semarang ada MSI Jawa Tengah, mbak. Tapi saya kurang tahu siapa yang menjadi contact person-nya. Mungkin bisa bertanya dahulu di grup Masyarakat Skoliosis Indonesia di FB.
      Brace yang kaku mungkin sama seperti punya saya. Mengenai terapi atau tidaknya bisa langsung bertanya kepada dokter yang menangani adik mbak, krn setiap kasus skoliosis itu unik.
      Semoga bermanfaat ya. Salam buat adiknya.

      Reply
      • June 3, 2014 at 5:45 am
        Permalink

        oke makasi mbak, salam kenal..

        Reply
  • Pingback:Tim penulisan buku | rumahijaubelokiri

  • Pingback:7 alasan kenapa saya menulis buku – Rumahijaubelokiri

  • Pingback:4 alasan kenapa saya menulis buku – Rumahijaubelokiri

  • Pingback:Tim penulisan buku – Rumahijau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *