Perpustakaan di Jakarta dan sekitarnya yang layak dikunjungi

Akhir pekan menjadi sasaran waktu untuk santai bareng keluarga, nongkrong bareng teman, ataupun mencari inspirasi sendirian.

Kalau bisa memilih tentu saya akan memasukkan kolam renang, kebun raya, taman kota, dan ruang terbuka hijau lain ke dalam daftar utama tempat yang harus dikunjungi di akhir pekan alih-alih mall sebagai tempat yang biasanya menghabiskan uang untuk belanja.

Ditambah satu tempat lagi yang layak dikunjungi di akhir pekan:

Perpustakaan

Jumlah perpustakaan yang memadai di kota ini memang masih sangat sedikit. Tapi tak ada salahnya menuliskan ini supaya (siapa tahu) menggugah lebih banyak pihak agar ikut menciptakan perpustakaan yang memang berfungsi maksimal bagi masyarakat. Berikut adalah perpustakaan ataupun rumah baca yang pernah saya kunjungi:

1. Perpustakaan Universitas Indonesia (UI), Depok

Sewaktu menjelang masa-masa akhir kuliah, gedung perpustakaan UI baru masuk tahap pembangunan. Maka jadilah saya menjelajah ke sana setelah sudah lulus. Perpustakaan UI yang dinamakan Chrystal of knowledge ini terbuka untuk masyarakat umum. Tapi masyarakat umum hanya bisa membaca di tempat saja, tidak bisa  meminjam buku untuk dibawa pulang karena keanggotaan perpustakaan ditujukan khusus untuk civitas akademika UI saja.

Alumni UI dan masyarakat umum dikenakan biaya Rp 5.000 dengan mendaftar terlebih dulu di meja registrasi. Jika ingin ke lantai atas dan berkegiatan di ruang baca saja maka tidak harus menitipkan tas. Tetapi jika ingin masuk ke ruang buku dan ruang skripsi, tas dan jaket wajib dititipkan di loker.

Menuju ke sana dengan transportasi umum:

  • Naik kereta, turun di Stasiun Pondok Cina. Jalan kaki menyusuri jalur sepeda di dekat danau Balairung.
  • Naik angkot rute Depok, turun di Pondok Cina, jalan kaki menuju arah rel kereta. Sampai di situ masuklah ke arah area UI lalu jalan kaki menyusuri jalur sepeda di dekat danau Balairung.

wpid-IMG-20140417-WA0000.jpgJika ingin melihat-lihat desain ruangan di dalam perpustakaan, saran saya sih jalan kaki saja lewat jalur landai dan tak perlu pakai lift. Yaah, hitung-hitung olahraga.

Perpustakaan UI buka Senin-Minggu. Jam buka Senin-Jumat yaitu pukul 08.30-19.00. Sementara, jam buka pada hari Sabtu dan Minggu yaitu 09.00-16.00. Untuk lebih lengkapnya silakan berkunjung ke situs Perpustakaan UI di sini.

Ruang baca yang terletak di lantai 2 dan 3 cukup menyenangkan sebagai tempat membaca, menulis, dan berdiskusi. Sewaktu beberapa bulan lalu menyelesaikan buku indie saya sementara perpustakaan sudah tutup, kegiatan menulis saya lanjutkan di taman melingkar di belakang Perpustakaan UI. Lebih menyenangkan lagi karena area ini berada di bawah naungan pohon dan diiringi biola karena biasanya pada hari Sabtu taman ini akan ramai dengan komunitas yang berlatih biola.

wpid-2012-11-03-13.20.26.jpg

wpid-2012-11-03-16.05.52.jpg

wpid-2012-11-03-16.37.38.jpg

Ajak juga keluarga ke perpustakaan. Ibu pun akhirnya menjejak masuk sampai ke lantai 3 perpustakaan, hal yang sebenarnya sudah sejak lama kami niatkan untuk dilakukan bersama. Meski ketika sudah sampai lantai bawah awalnya ibu terlihat malu dan enggan masuk karena katanya “Nggak ada emak-emak, mahasiswa semua.”, namun akhirnya ibu senang bisa berada di ruang baca perpustakaan.

“Ibu nggak ngerasaain kuliah. Syukur dua anaknya kuliah di sini jadi bisa ngerasain duduk di perpustakaan sini hehe.” katanya sambil senyum senang :’). Ibu memang selalu bercerita kalau ia turut menyaksikan dari jauh pembangunan UI dan kepindahannya dari Rawamangun.

wpid-IMG-20140417-WA0001.jpg
Ibu dan Bude

2. Rimba Baca

wpid-IMG-20140326-WA0003.jpgTerletak di Jl. RSPP Fatmawati No 21B Cilandak, Rimba Baca sebenarnya sudah menjadi incaran saya dan Abang sejak kami mendengar keberadaan tempat baca ini. Sabtu itu sehabis menjenguk famili yang dirawat di RS Fatmawati, kami melajukan motor ke arah Jl. RSPP dengan berpanduan google map. Ternyata dalam google map, sudah ada location tag Rimba Baca. Maka kami berpikir rutenya akan lebih mudah. Eh ternyata, baru saja belok kiri di Jl. RSPP dan saya (syukur) sedang celingukan terlihatlah papan warna bertuliskan “Rimba Baca”. Melenceng jauh dari tag di google map. Setelah peristiwa berputar-putar tempo dulu, dengan ini semakin bertambahlah keengganan saya menggunakan peta di hape :)).

Rimba Baca menawarkan biaya keanggotaan per tahun yaitu Rp 350.000. Berhubung kami tidak menjadi anggota maka jadilah kami membayar Rp 30.000 untuk kunjungan per hari itu. Kalau menurut saya biaya seperti itu mungkin memang lebih cocok untuk kalangan menengah ke atas karena cukup mahal untuk kunjungan per hari. Tapi itu kan menurut saya sebagai pustakawan yang berpikir akan akses perpustakaan dengan minim biaya untuk masyarakat hehe.

Terlepas dari biaya tersebut, Rimba Baca berbentuk rumah tinggal dengan rak buku yang luaaaaas dan sangat menyenangkan. Apalagi lantai 1 berisi buku-buku bacaan untuk anak-anak dengan usia bervariasi. Aduh, bikin ngiler deh pokoknya. Ini seperti cita-cita yang mendambakan bikin perpustakaan sendiri untuk masyarakat secara gratis dengan desain yang okeh! Semoga suatu hari nanti bisa terwujud. Amiin.

wpid-IMG-20140405-WA0001.jpg

wpid-IMG-20140326-WA0006.jpgLantai 2 Rimba Baca berisi buku-buku bacaan dan majalah untuk remaja dan dewasa. Kalau tidak ingat waktu, ingin rasanya menghabiskan kegiatan membaca terus-terusan di sini hehe. Rimba Baca juga kerapkali mengadakan acara untuk anggota seperti misalnya Yoga For Kids dan mendongeng.

Untuk tahu lebih lengkap tentang Rimba Baca bisa cek akun twitternya di sini.

3. Warung Baca Lebak Wangi (Warabal)

Bu Kiswanti dan anak-anak
Bu Kiswanti dan anak-anak

Alamat lengkapnya yaitu Jalan Kamboja No 71. RT 01/01 Kampung Saja Lebakwangi, Desa Pemagarsari, Kabupaten Bogor.

Bagi yang sudah pernah atau sering mendengar mengenai Ibu Kiswanti pasti sudah hafal dengan Warabal. Ibu Kiswanti adalah pengelola warung baca ini yang berlokasi di Parung, Bogor. Awalnya ia prihatin melihat anak-anak sekitar yang tak memiliki akses terhadap bahan bacaan. Ibu Kiswanti pun berjualan jamu dengan mengayuh sepedanya sejauh sekian kilometer sambil membawa buku-buku anak di keranjang sepedanya. Ia bahkan pernah bekerja di sebuah rumah dan tidak meminta bayaran berupa uang tapi berupa buku bacaan. Ya, katanya ia dendam karena dulu tak bisa menyelesaikan sekolah dasarnya karena tak ada biaya. Maka jadilah sekarang ia lampiaskan dalam bentuk menyebarkan buku bacaan untuk masyarakat secara cuma-cuma. Jarak yang Bude (panggilan akrab Bu Kiswanti) tempuh dengan sepeda pun tidak main-main saat itu, yaitu bisa mencapai 13 km.

Seiring dengan waktu dan melihat kegigihan Bude Kiswanti, donasi pun mengalir sehingga ia sedikit demi sedikit bisa membuka rumah baca di rumahnya sendiri berdampingan dengan warung kelontong yang juga miliknya. Buku-buku bacaan semakin bertambah, anak-anak pun semakin senang membaca karena tidak hanya buku yang ada di sana tapi juga berbagai kegiatan seperti menari, membuat kerajinan tangan, mendongeng dan sebagainya. Rumah baca itu pun dinamakan Warabal yang merupakan kepanjangan dari Warung Baca Lebak Wangi.

Warabal
Warabal, 2010

Menuju Warabal dengan transportasi umum:

  • Naik kereta turun di stasiun Depok. Naik angkot 03. Turun di Pasar Parung. Naik angkot 06 turun di PT Kenlee atau Masjid Al Irfan Lebakwangi Pemagarsari.
  • Naik angkot 29 dari Ciputat menuju Parung. Turun di Pasar Parung. Naik angkot 06 turun di PT Kenlee atau Masjid Al Irfan Lebakwangi Pemagarsari.

Setelah sudah masuk gang, bisa jalan kaki saja dan ikuti papan petunjuk Warabal. Memang cukup jauh untuk bisa sampai di sini tapi anggap saja ngebolang hehe. Hayoo, warga Parung jangan-jangan ada yang belum tahu Warabal, ya? Hayuk main ke sini!

Membuat hiasan kepala

Setelah sempat ngontrak di rumah sebelah karena renovasi, Warabal pun semakin mengalami perkembangan. Sejak tahun 2012, Warabal sudah memiliki ruang dan bangunan 2 lantai sendiri. Lantai bawah digunakan untuk aula dan PAUD, sementara lantai 2 untuk rak dan ruang baca. Di sini bacanya semua gratis tis!

wpid-IMG_20130122_132307.jpg
Warabal, 2013

wpid-IMG_20130122_125316.jpg

Baca juga tulisan tentang kunjungan ke Warabal sebelumnya di sini , di sini, dan di sini.

4. Library @ Batavia

Sering ke Kota Tua? Nah, sudah tahu belum kalau di dalam Museum Bank Mandiri juga terdapat sebuah perpustakaan yang dikelola oleh FIM atau Forum Indonesia Membaca. Perpustakaan ini dikenal dengan nama Library @ Batavia. Selain untuk pengunjung masyarakat dewasa, di perpustakaan ini juga terdapat ruang baca anak. Ruang membaca untuk anak berbeda dari ruang baca lainnya, yaitu dihiasi rak berukuran rendah yang berwarna-warni, karpet, dan pajangan hasil menggambar anak-anak.

Library @ Batavia
Library @ Batavia

Menuju Museum Bank Mandiri dengan transportasi umum:

  • Naik kereta turun di stasiun Kota, nyeberang lewat terowongan, lalu sampai deh di Museum Bank Mandiri yang terletak di seberang stasiun.

5. Perpustakaan Umum DKI Jakarta

Gedung perpustakaan umum DKI Jakarta baru saja beberapa bulan selesai direnovasi. Seingat saya waktu jaman kuliah pernah berkunjung ke tempat tersebut dengan nama kantor Arsip Jayakarta. Sekarang gedung tersebut berganti baru dengan desain interior yang lebih dinamis dan modern. Sebuah hal menyenangkan agar perpustakaan tidak lagi dianggap sebagai tempat yang suram dan ketinggalan jaman.

wpid-img_20151113_234313582.jpg

Ruang baca anak sebagai tujuan kami berada di lantai 2. Di lantai tersebut juga terdapat mainan dan space lesehan untuk anak-anak beraktivitas. Mainan-mainan tersebut terdiri dari lego, balok kayu, puzzle, dan mainan lain yang merangsang motorik anak.

wpid-img_20151113_234359626.jpg

Di sebelahnya terdapat ruangan lagi bagi anak 3 tahun ke atas untuk beraktivitas olah tubuh semacam berlari, perosotan mini, bermain sepak bola mini, dan sebagainya.

Sekedar saran dan pesan, mari sama-sama menjaga mainan yang ada ya karena menurut kabar sudah banyak mainan yang rusak hiks..

Bagi ibu yang membawa bayi tidak perlu khawatir karena ruang menyusui ada di lantai 3. Ruangan tersebut cukup luas dan tersedia sofa sehingga nyaman untuk digunakan.

wpid-img_20151113_234305688.jpg

Menuju Perpustakaan Umum DKI Jakarta dengan transportasi umum:
Naik kereta turun di stasiun Cikini. Lanjut naik bajaj dengan ongkos Rp 15.000.

^^^^^^^^^^^

Nah, ada lagi perpustakaan di Jakarta dan sekitarnya yang kamu ketahui dan sudah pernah berkunjung? Coba ceritakan :D.

“I have always imagined that paradise will be a kind of library.” ~ Jorge Louis Borges

0 thoughts on “Perpustakaan di Jakarta dan sekitarnya yang layak dikunjungi

  • April 23, 2014 at 4:24 pm
    Permalink

    Mba Yul, kunjungan ke Rimba Baca 30ribu per/orang apa per kunjungan?
    pingin bawa gerombolan ke sana 😀

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *