Di balik penerbitan indie buku Pantang Padam: Catatan Skolioser

Saat sebuah naskah selesai ditulis, bukan berarti tahap menulis buku telah selesai. Langkah selanjutnya adalah menerbitkannya sehingga bisa sampai di tangan pembaca. Bisa dibilang, buku baru akan lahir setelah ia dibaca dan dinikmati.

Mengirimkan naskah ke penerbit-umum seperti yang sudah biasa kita kenal saat ini masih menjadi pilihan banyak orang. Namun ada lagi satu pilihan jalur penerbitan. Yaitu menerbitkan buku sendiri atau self publishing atau bisa juga disebut dengan jalur indie. Banyak yang mengira menerbitkan buku lewat jalur indie ini lebih mudah karena buku siapa saja dan apa saja bisa terbit tanpa melewati banyak proses seleksi seperti pada penerbit-umum.

Dari sepengetahuan pribadi saya, penerbit-umum menyesuaikan penerbitan dengan jenis buku yang memang menjadi cakupan penerbitannya atau juga buku yang sesuai selera pasar. Sehingga penerbit-umum ini memiliki proses seleksi yang cukup ketat dengan sangat banyaknya naskah yang masuk. Seseorang yang mengirimkan naskah ke penerbit bisa menunggu dalam jangka waktu beberapa bulan hingga 1 tahun sampai akhirnya naskah diterbitkan. Inilah yang (terkadang) menyebabkan seseorang memilih jalur indie karena menganggap naskahnya bisa lebih cepat dan lebih mudah terbit. Benarkah lebih mudah dan lebih cepat?

Bagi saya pribadi self publishing adalah juga sebuah jalur penerbitan dan bukan sekedar alternatif hanya karena naskah ditolak penerbit-umum. Jadi, di awal proses penulisan kita bebas memilih apakah akan mengirimkan naskah ke penerbit-umum atau akan menerbitkannya sendiri. Masing-masing dari dua cara penerbitan ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Karena itu dua-duanya tentu layak untuk dipertimbangkan.

Dengan menerbitkan sendiri, bukan berarti naskah yang sudah ditulis bisa melenggang bebas masuk begitu saja ke percetakan sesuka hati. Bahkan meski naskah yang saya buat adalah kumpulan tulisan di blog, naskah tersebut harus tetap mengalami perombakan dan perbaikan baik dalam susunan kalimat, paragraf, maupun chapter. Jadi bukan sekedar kumpulan tulisan lalu cetak tanpa adanya proses editing.

Kenapa saya memilih penerbitan indie? Alasan saya adalah seperti ini:

1. Naskah berisi kumpulan tulisan mengenai pengalaman skoliosis dan MVP. Selama ini saya berkenalan dengan skolioser di dalam dan luar kota melalui dunia maya. Beberapa dari mereka ada yang sudah pernah membaca blog saya. Sehingga naskah khusus ini setidaknya sudah punya target pembaca yaitu kalangan skolioser dan pemerhati skoliosis.

Sekedar info, penulisan awal blog tidak bertujuan agar nantinya diubah menjadi buku tetapi murni berbagi pengalaman melalui dunia maya mengenai skoliosis dan MVP. Salah satu tujuan penulisan alih media dari blog menjadi buku ini dimaksudkan agar pembaca yang kesulitan mendapatkan akses internet atau sulit membaca di internet dimudahkan dengan adanya karya tercetak.

2. Karena target pembacanya khusus maka buku tidak dimaksudkan untuk dicetak dalam jumlah besar-besaran.
Penerbit-umum biasanya mencetak buku dalam jumlah besar, mungkin ratusan atau 1000 copy yang tersedia di gudang. Sementara saya waktu itu hanya berpikir untuk mencetak sebanyak 30 eksemplar saja. Jumlah ini kemudian meningkat menjadi 50 eksemplar karena ingat sanak famili saya jumlahnya banyak dan ibu saya pasti mau bagi-bagi ke mereka hehe. Sampai akhirnya setelah menghitung perkiraan pemesanan saya menentukan mencetak sebanyak 150 eksemplar.

3. Tujuan penulisan buku adalah munculnya kesadaran atau kewaspadaan dari masyarakat akan skoliosis dan MVP melalui karya tercetak ini. Dari pengalaman dan cerita beberapa kawan pengamat burung dan fotografer wildlife yang memang sudah menerbitkan buku sendiri dan sebelumnya juga sudah menerbitkan buku melalui penerbit-umum, mereka mengaku bahwa menerbitkan buku sendiri berarti bebas untuk menjual buku sendiri di mana saja dan kapan saja. Misalnya membuka stand pameran sekaligus menjual buku sendiri di sebuah acara tanpa harus ribet meminta izin dan melibatkan penerbit. Maka saya pun berpikir pesan mengenai kesadaran skoliosis ini diharapkan bisa lebih cepat didapat karena pembaca akan membeli buku langsung ke skolioser, baik bertemu langsung ataupun via pos. (eh ini masuk akal nggak ya tujuannya haha).

4. Saya bisa menentukan sendiri harganya, sehingga diharapkan tidak terlalu mahal agar bisa menjangkau semua masyarakat tapi juga sesuai dengan nilai dan usaha yang sudah dikeluarkan. Kalau lewat penerbit-umum lebih mahal ya wajar juga karena semua kan diurus oleh mereka.

5. Menerbitkan buku secara indie bukan hal mudah, tapi rasanya saya tertantang untuk melakukannya. Saya harus mencari dan menentukan siapa yang akan menjadi editor, ilustrator, membuat desain cover, dan menjadi proofreader, serta juga harus menentukan jadwal penulisan sendiri supaya sesuai target. Di awal proses pun saya sadar bahwa nantinya harus berjualan buku sendiri, sesuatu hal yang mungkin bukan ranah saya karena tak handal dalam bidang pemasaran. Tapi semua itu layak dicoba hehe.

Setelah tim buku sudah ditentukan (waktu itu belum ada proofreader), saya berkumpul bersama editor dan layouter untuk membicarakan tujuan, visi misi pembuatan buku, perjanjian biaya, dan jadwal selama kira-kira satu tahun ke depan.

Jadwalnya adalah kira-kira seperti ini:

– Penambahan chapter

– Edit
– Revisi
– Edit
– Revisi
– Bikin desain cover
– Layout naskah
– Cetak dummy buku
– Cek keseluruhan bahasa dan paragraf oleh proofreader
– Revisi
– Cetak dan luncurkan
– Distribusi

yang kemudian dibuatlah jadwal seperti ini:

Jadwal penulisan
Jadwal penulisan

Seperti jadwal di atas, saya mengembangkan kembali tulisan dari blog, memecahnya menjadi beberapa chapter, dan menambahkan beberapa bab. Proses penulisan dimulai bulan November 2012. Saat itu saya membuat jadwal di bulan ke sekian chapter 1 harus sudah selesai, berikan ke editor, revisi, tambahkan chapter 2, berikan ke editor, revisi, dan seterusnya sampai chapter 3 selesai. Niatnya bulan Juni 2013 seluruh proses sudah selesai dan buku siap dicetak. Namun nyatanya, proses penulisan molor karena saya sempat cuti menulis selama sekitar 1 bulan saat menjelang dan sesudah pernikahan hehe.

wpid-IMG-20140411-WA0007.jpgSambil melakukan proses revisi, kawan yang bertugas membuat gambar atau ilustrasi pun sudah mulai bekerja. Proses pengiriman gambar dilakukan lewat email dan memerlukan beberapa revisi karena kami tidak mengadakan pertemuan di awal sehingga kerap terjadi miskomunikasi. Sementara gambar sampul buku mulai dibuat saat saya memasuki tenggat chapter terakhir.

Tahap demi tahap proses ini akan saya ceritakan lebih detail di postingan selanjutnya. Singkatnya, setelah revisi, ilustrasi, dan desain cover sudah dibuat saya pun mencetak dummy buku sejumlah dua eksemplar. Satu untuk saya bawa ke mana-mana supaya bisa mudah saya baca saat senggang dan corat-coret saat menemukan kembali ada kata-kata yang salah, dan satu eksemplar lagi saya kirim ke proofreader. Oh ya, kita juga harus menentukan akan mencetak buku dengan ukuran bagaimana, penjilidan yang seperti apa, dan jenis kertas apa.

Sampai sini cukup ngos-ngosan yah haha. But, trust me it was really fun! Nagih nih kayanya.

Proofreader sudah? Nah, lakukan revisi lagi dan saatnya melayout, lalu cetak. Eits, sebentar. Mencari tempat percetakan juga ternyata butuh waktu! Saya tak ingin buku pertama ini melebihi harga Rp 50.000. Maka, meski proses penulisan sudah selesai dan saya niatkan untuk diluncurkan pada bulan Desember, tapi ternyata harus molor lagi sebulan karena belum ketemu percetakan yang cocok. Saya pun muter-muter jalan kaki sekitaran Depok untuk survey harga lalu berputar di Ciputat untuk mencari tempat percetakan yang sesuai budget.

Pusing? Nggak sih, cuma kleyengan hehe. This is the art of indie. Lagipula saya percaya akan ada konspirasi mengenai tempat cetak terbaik yang sudah diskenariokan olehNya hehe.

Sampai akhirnya ketemu tempat percetakan saat lagi survey di daerah Ciputat. Interiornya tak tertata rapi, tak pakai AC seperti yang sudah-sudah saya lihat, rukonya pun sederhana tapi si bapak bisa mengurangi harga jika saya pesan 150 eksemplar. Semakin banyak saya pesan semakin murahlah harganya. Ia pun menjamin harga turun drastis jika saya pesan 1000 eksemplar. Walaah.. tapi ini kan baru permulaan. Lagipula tak sesuai budget dan rencana awal, dong. Setelah menimbang-nimbang harga, saya menentukan cetak buku di tempat tersebut dengan jumlah 150 eksemplar. Saya rasa sih memang sudah diarahkan oleh Sang Pencipta untuk belok ke percetakan itu hehe. Apalagi saat pengambilan buku bapak percetakan memberikan bonus tambahan sejumlah 9 eksemplar buku dan mengurangi harga Rp 25.000.

Sampai sini masih bilang menerbitkan buku secara indie itu gampang dan sederhana? Saya belum cerita proses penjualannya lho :)).

Berhubung ini buku indie, gagal pula punya ISBN karena Perpustakaan Nasional rupanya meluncurkan peraturan bahwa penerbit yang baru mendaftar untuk mendapat ISBN harus punya legalitas akta dari notaris. Haah saya kira saya bisa-bisa saja gitu mendaftarkan penerbit dengan nama Yuliayulijo. Ternyata tak bisa. Maka jadilah saya harus rela (sebagai pustakawan yang setiap harinya mengolah buku) buku saya sendiri tak punya ISBN. Yaah emang nggak berhubungan langsung sama profesi pustakawan sih hehe. Tapi intinya tak ada ISBN maka buku saya tak punya nomor identitas unik sendiri dan juga tak bisa masuk toko buku jika suatu hari nanti ingin nitip jual di toko buku besar. Tapi tak apa, toh niat awalnya saya mengirimkan buku dengan bantuan kurir macam Pos Indonesia, JNE, dan TIKI.

Proses promosi buku? Yah, seperti biasa. Lewat FB, twitter, dan juga blog. Juga beberapa info ke group whatsapp. Hasilnya lumayan, pesanan pun datang. Juga dibantu promosi Abang ke teman-temannya. Ditambah lagi Ummi mertua rajin promosi ke sekolah tempatnya ngajar dan ke pengajiannya. 33 eksemplar buku pun dibeli oleh kawan-kawannya sesama guru dan ibu-ibu pengajian, baik secara lunas maupun nyicil. Iya nyicil! Kalo lewat penerbit dan toko buku nggak mungkin kan beli buku nyicil bayar Rp 10.000 dulu XD.

wpid-2014-01-25-10.31.59.jpg

Saya juga dapat tambahan promosi “Sadar Skoliosis” ke kurir pengiriman. Salah satu kurir heran dengan dimensi paket yang saya kirim sama semua. Ia bertanya apa isinya. Begitu saya jelaskan bahwa isinya buku, ia pun menyeletuk; “Oalah, penulis toh?” yang saya jawab dengan cengar-cengir. Esoknya saya datang lagi dan disambut dengan kurir yang berbeda. Karena mendengar cerita dari kurir sebelumnya, kurir ini pun bertanya mengenai isi cerita buku saya. Maka jadilah saya bercerita mengenai skoliosis di meja pengiriman barang itu. Meski singkat, tapi semoga si abang-abang petugas kurir itu ingat dan jadi “Sadar Skoliosis” hehe.

Mungkin ini juga bisa dibilang bonus tambahan ya? Sadar atau tidak pemesan buku bukan lagi dari kalangan skolioser tapi dari kalangan non skolioser. Sehingga “Sadar Skoliosis” pun disebarluaskan ke semakin banyak kalangan. Mulai dari kawan-kawan yang insya Allah akan menjadi calon orangtua, sudah menjadi orangtua, ataupun yang nantinya bisa memberikan informasi skoliosis untuk adik, kakak, sepupu, keponakan, dan anggota keluarga lain serta tetangganya.

Waduh, tulisannya jadi panjang ya. Padahal ini belum saya jabarkan semua proses mulai dari pemilihan tim, proses mengedit yang luncat-luncat dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain, ditolak pengantar, dan proses pengiriman yang bukunya nyasar sampai-sampai saya nggak enak sama si pemesan buku.

Insya Allah saya sambung lagi di postingan selanjutnya.

Nite!

One thought on “Di balik penerbitan indie buku Pantang Padam: Catatan Skolioser

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *