Hatrick Cibereum

Jumat, 28 Maret 2014

Saya berdiri sambil terkantuk-kantuk. Sesekali kepala oleng ke kiri, kanan, bahkan ke belakang. Ketika akhirnya seolah akan terjatuh, tiba-tiba dengan terkaget saya kembali melek untuk beberapa saat. Namun dalam waktu beberapa menit mengulangi lagi kejadian tersebut. Berdiri sambil tidur rupanya menjadi prestasi tersendiri buat saya.

Saat itu pukul sebelas malam dan kami dalam perjalanan di bus menuju Cibodas. Kami yang dimaksud adalah saya, Abang, Irsyad, Nofal, dan Bang Radit. Dua orang yang disebut di tengah adalah teman kuliah kami, satu yang terakhir saya nggak kenal. Jumlah yang mau ikut ke Cibodas awalnya ada delapan orang namun menyusut menjadi lima orang.

Bus menuju Cibodas yang kami tunggu rupanya tak lagi menyediakan tempat duduk, maka jadilah kami berdiri sambil menahan kantuk. Meski akhir Maret itu adalah long weekend, namun kami bersyukur lalu lintas menuju Cibodas terbilang lancar. Sehingga meskipun berdiri sambil tertidur, setidaknya kami hanya butuh berdiri 2 jam untuk akhirnya tiba tepat tengah malam di Cibodas.

Tujuan utama perjalanan ini sebenarnya adalah kemping di Bumi Perkemahan Mandalawangi. KemCer alias Kemping Ceria, begitu judulnya. Namun sebelumnya, esok yaitu hari sabtu kami akan menanjak menuju air terjun Cibereum terlebih dulu.

Malam itu kami menginap dengan ngampar di warung. Meskipun berada di dalam ruangan, tapi tetap saja diserbu udara dingin karena pintunya ngablak alias terbuka lebar-lebar. Apalagi saat itu pukul satu dini hari. Saya tarik-tarikan sleeping bag sama Abang, Nofal selimutan pakai sarung bali sampai sedemikian meringkuknya hingga tubuhnya tertutup semua. Saya membayangkan kalau yang ia pakai adalah jubah gaib Harry Potter maka sejak tadi ia sudah tak terlihat apa-apa. Sejak tadi Nofal menyesali jaket polar yang tidak dibawa. Irsyad dan Bang Radit sudah diam, entah beku, entah tidur. Semakin pagi udara semakin menggigit-gigit kulit. Ditambah lagi rombongan pemuda bermotor yang baru tiba di warung dan ngoceh-ngoceh sambil berisik. Bah! Mana bisa tidur untuk simpan energi esok hari? Tapi baiklah saya tetap berusaha memejamkan mata. #zzzzzz

Sabtu, 29 Maret 2014

Entah saat itu pukul berapa, yang jelas udara masih sangat dingin dan rasanya masih ingin meringkuk tapi sudah saatnya shalat subuh. Perut saya pun bergejolak tak tentu sampai saya yang biasanya tak memilih kamar mandi dengan penerangan remang-remang menjadi tak punya pilihan sama sekali dan malah jadi ikut menikmati dinginnya suhu Cibodas pagi-pagi buta di dalam toilet.

Usai sarapan dan mengepak kembali sleeping bag, selimut, dan jaket supaya tas rapi kembali kami pun berjalan menuju pintu gerbang Taman Nasional Gede-Pangrango. Ini ketiga kalinya saya ke sini tapi tetap saja ada perasaan yang tak bisa begitu saja disingkirkan setiap melihat puncak Pangrango berlatarkan langit biru cerah nun jauh di sana.

IMG_20140329_170803

Puncaknya yang terlihat megah dari jauh mampu menguatkan semangat saya saat itu yang sedikit was-was karena saya akan menuju Cibereum sambil menggendong ransel yang cukup berat di pundak. Persiapan kemping yang meski sudah mengurangi beberapa barang namun tetap saja bagi skolioser yang mengenakan brace seperti saya, bobot di punggung ini tergolong besar. Dan beberapa minggu sebelum perjalanan saya menimbang dan berpikir keras mengenai apakah nantinya saya akan kemping dengan mengenakan brace atau tidak. Mengingat perjalanan Juni lalu dengan kurang bersahabatnya brace dan ransel sehingga menyebabkan sakit kepala, dan sampai hari ikemping ini belum menemukan ransel yang cocok akhirnya (dengan berat hati) saya memutuskan untuk tidak mengenakan brace saat kemping kali ini. Ihiks… maap ya brace T_T

Baca juga: Tips kemping untuk skolioser

DSC_1112

Begitu baru menanjak di awal perjalanan, dag dig dug di jantung saya berdegup keras. Saya sungguh berharap latihan jalan kaki saya selama ini tidak kurang. Begitu sampai di pos, petugas balai TN merasa heran melihat kami berlima yang hanya akan menuju Cibereum tapi membawa tas besar berisi peralatan kemping. Pendakian sedang ditutup saat itu sehingga tidak boleh ada yang naik menuju puncak. Kami mengerti dan tidak menyalahkan petugas yang curiga pada kami. Karena bagi saya pribadi kalau jalur sedang ditutup ya ditutup. Vegetasi hutan pun butuh pemulihan supaya tak diinjak-injak pendaki. Meski sudah berkata bahwa tas dan seluruh barang bawaan ini dimaksudkan untuk kemping di Bumi Perkemahan namun supaya kami (mungkin) tidak lolos dari pengawasan, petugas pun meminta tas-tas kami ditinggal saja di pos. Hanya Irsyad dan Abang saja yang membawa tas karena peralatan piknik, makanan, dan minuman, ada pada mereka. Mendengar ini saya dan Nofal bersorak girang sambil menitipkan tas dan memutar-mutar pundak yang ringan :)). Aaaah, tahu gitu saya pakai brace saja ya haha.

Baiklah, dengan beban yang luar biasa enteng, mari lakukan hatrick Cibereum!

wpid-IMG_20140331_094249.jpg

Sesungguhnya menurut Irsyad, si pemimpin rombongan, perjalanan ini juga sebagai semacam pemanasan sebelum nantinya ia, Nofal, dan rekan-rekan lainnya menuju Pangrango bulan Mei nanti. Saya menyemangati Nofal yang terkadang berjalan di depan dan terkadang di belakang saya. Ini tanjakan pertama untuknya maka tak heran di sela nafas ngos-ngosan-nya beberapa kali ia bertanya; “Ini belum ada apa-apanya ya kalo ke Pangrango?”

DSC_1188

 

Begitu tiba di jembatan rawa gayonggong, kami sama-sama berkata; “Yaaaaaaaah.” sewaktu melihat puncak Pangrango tak terlihat karena tertutup awan dan kabut. Hatrick Cibereum kali ini disertai peristiwa gagal foto di jembatan rawa gayonggong dengan background puncak. Tapi tak apalah.

Hatrick
Hatrick

 

Nofal dan figuran di belakangnya
Nofal dan figuran di belakangnya

 

“Sedikit lagi Fal,” saya berseru saat kami melewati persimpangan jalan. Deru suara air sudah semakin jelas terdengar. Sepuluh menit kemudian kami tiba di air terjun yang sudah ramai dengan pengunjung lain. Seperti biasa kami menuju tempat yang lebih sepi dan mulai menggelar piknik. Teh lemon yang dibawa mulai diseduh, risol goreng pemberian kawan Irysad kemarin pun dihangatkan kembali. Dua buah dibagi lima juga cukup dah :p. Roti yang dibekalkan ibu dan sudah tak berbentuk karena kegencet di dalam tas pun jadi sasaran kelaparan. Baru sekitar 20 menit duduk tiba-tiba gerimis turun dan semua makanan pun terpaksa kembali dimasukkan ke dalam tas. Juga dengan sampah yang dihasilkan.

wpid-IMG_20140329_091037.jpgMaka kami pun turun dengan komplit mengenakan jaket dan jas hujan. Cuaca sempat cerah dan panas kembali saat menuruni jalur. Di sinilah kami banyak berpapasan dengan para ABG yang menanjak dengan tas dan perlengkapan seadanya. Bukannya mau sinis, tapi masalahnya begitu hujan deras benar-benar turun lagi maka repotlah mereka semua saat tak bawa payung, tak bawa jas hujan, atau bahkan jaket. Belum ditambah lagi dengan kedinginan karena hanya pakai celana pendek. Yah, syukur-syukur sesudahnya tak masuk angin sih.

DSC_1207Di jalur turun inilah kami bertemu dengan Eris, kawan Irsyad yang menyusul sendirian dari Jakarta. Eris kemudian ikut turun kembali dengan kami dan saat hujan semakin deras kami akhirnya berteduh di pos terakhir. Sambil menanti hujan mau tak mau kami memerhatikan orang-orang yang baru akan naik ke air terjun. Dan benar saja. Semakin banyak yang menanjak dengan celana jeans (yang kalau kena air tambah berat), tak bawa payung atau ponco sehingga banyak dari mereka yang menggunakan tas kecilnya sebagai perlindungan kepala dari hujan.

Sekitar satu jam kemudian hujan mulai mengecil maka kami pun menuju pos utama untuk mengambil kembali tas yang dititipkan. Eris, yang tubuhnya lebih kecil dari saya, justru malah membawa keril cukup berat. Haduh..haduh… gara-gara Irsyad ini.

Langit yang masih menurunkan gerimis membuat kami malas bergerak dari pos. Maka meski tas sudah di tangan tapi kami malah duduk-duduk sambil ngobrol ngalor-ngidul dan ketawa haha-hihi. Syukur ya nggak diusir sama petugas balai TN.

Saat hujan benar-benar reda barulah kami bergerak ke Bumi Perkemahan. Efek malas-gerak rupanya masih menghampiri karena Nofal dan Bang Radit sampai cuaca cerah kembali pun tak juga melepas jas hujannya.

wpid-IMG_20140329_120850.jpg

Bumi Perkemahan Mandalawangi terletak tak jauh dari pintu balai TN. Area ini biasa digunakan oleh kelompok siswa/siswi, pramuka, keluarga, ataupun rombongan macam kami yang ingin memindahkan area tidur dari rumah ke tenda. Di tempat ini tenda bisa dipesan sehingga tak perlu repot-repot bawa tenda dari Jakarta. Biaya sewa tenda dome untuk kapasitas 3 orang adalah Rp 70.000. Nofal yang juga tak bawa sleeping bag dan kapok kedinginan seperti semalam akhirnya menyewa sleeping bag dengan biaya Rp 15.000. Kami sudah pesan tenda sebelumnya melalui telepon sehingga tidak takut kehabisan. Yang jadi masalah adalah spot-spot kemah yang diinginkan ternyata sudah di-booking di long weekend ini. Maka jadilah kami memilih spot lain yang tidak terlalu jauh dari toilet dan juga mushola namun tetap nyaman dijadikan lahan untuk berkemah.

Mumpung biaya tenda juga termasuk diriin tendanya, maka kami asyik saja nonton si Abangnya mendirikan tenda :)).

DSC_1209
Nofal dan Eris

DSC_1211

Setelah dua tenda sudah berdiri, barulah para lelaki memasang flysheet supaya area memasak dan bagian depan tenda kami tak kehujanan. Setelah itu dimulailah masak-memasaknya, lapar berat oiiii! Di sinilah Nofal didaulat menjadi juru masak, saya bagian iris-iris sama foto-foto hehe. Kami akan memasak sayur sop, sementara para lelaki kebagian masak nasi. Acara kemping semakin seru karena ledekan dan tawa riuh di sana-sini. Masakan yang hampir matang pun semakin bikin keroncongan!

DSC_1216 DSC_1225

Setelah acara iris-iris, masak-masak, dan makan-makan. Kemping tentu saja dilanjutkan dengan leyeh-leyeh di tenda. Dilanjutkan berganti baju kering, dan tidur. Saking ngantuknya saya dan Nofal bahkan mengabaikan ajakan Eris untuk buka sesi curhat.

“Yaah, nggak ada yang mau curhat nih?” Kata Eris.
“Ho oh..”

……

udah gitu aja jawabnya, lalu kami bablas tidur sampai pagi dengan nyenyaknya di dalam tenda :|. Cuaca pun ternyata mendukung dengan turunnya hujan deras (kayanya) hampir sepanjang malam.

30 Maret 2014

Entah siapa kemudian yang bangun lebih dulu saat subuh tiba. Tapi yang jelas sih yang bangun duluan pastinya muadzin hehe. Adzan subuh datang dari mushola yang letaknya tak jauh dari tenda sehingga malu dong kalo sampai nggak sholat di sana. Apalagi kalo lihat tempat wudhu yang pipanya gede banget sampai airnya melimpah ruah tak henti. Nggak ngucur dari keran, tapi air langsung dari gunung!

Headlamp menjadi benda yang paling dibutuhkan saat itu. Saya meminjam headlamp Eris dan memasangnya (tentu saja) di kepala lalu berjalan tersuruk-suruk ke mushola sambil berpikir ayah akan geleng-geleng kepala melihat saya berani melangkah di antara pepohonan dan tanah lapang yang gelap menuju mushola. Karena meski jaraknya dekat, tapi sesungguhnya saya biasanya nggak berani kalau disuruh angkat jemuran di halaman belakang rumah saat malam sudah tiba haha (that’s one more good thing of camping, Dad).

Tenda kami
Tenda kami

^^^^^^^^^^^

Menurut saya, Bumi Perkemahan Mandalawangi ini termasuk tempat berkemah yang ramah untuk pemula. Tersedia toilet, mushola, dan tempat wudhu dengan air yang cukup banyak. Jadi kalo ada yang takut pipis di hutan bisa pergi ke toilet. Mushola juga tersedia meski tidak bisa menampung jemaah terlalu banyak. Pengunjung pun juga bisa bermain air di sungai yang berada di area perkemahan dan menjelajah sekitar hutan pinus. Beberapa dari pengunjung bahkan saya perhatikan membawa serta anak mereka yang masih tergolong balita untuk berkemah.

DSC_1259DSC_1311

DSC_1306

Berhubung jatah beras masih ada, maka tentu saja saat siang tiba kami masak lagiiiii!

Setelah itu barulah beberes dan sempat muncul wacana untuk melanjutkan piknik pindah lokasi ke Kebun Raya Cibodas. Tapi niat ditangguhkan dan kami pun meluncur turun meninggalkan area kemah. Angkot yang dinaiki dari parkiran sampai jalur pertigaan Cibodas menjadi penuh karena ada kami dan tas yang segambreng sambil asyik saja makan cilok. Kami sama-sama berharap seandainya angkot warna pink itu bisa disewa sampai Bogor. Nikmat bener ya tinggal duduk dan nggak usah pindah-pindah lagi. Sayangnya si supir bisa ditilang kalau mengantar kami sampai Bogor. Dan karena kemarin sudah berdiri, saat menempuh jalur pulang ini muncul kesepakatan untuk tidak naik bus yang sudah penuh tempat duduknya. Pilihan pun jatuh untuk pulang menaiki elf ke Bogor saja lalu lanjut naik kereta ke Jakarta.

wpid-collage_5_2.png

Sejak menaiki elf sekitar pukul sebelas siang, saya sudah terbayang baru akan tiba di rumah sekitar pukul tiga sore mengingat jalan raya kemungkinan besar macet di liburan ini. Ibu yang menelepon pun berkata bahwa pasukan sepupu sudah menanti di rumah uti (nenek) saya. Sehingga niatnya saya akan langsung ke sana begitu pulang dari Cibodas.

Tanpa disangka, dimulailah nestapa kemacetan. Elf yang di dalamnya berdesakan kami yang sibuk haha-hihi ternyata bergerak sangat perlahan. Macet total sehingga pukul dua sore kami bahkan belum sampai jua di Cisarua. Ibu sepertinya sampai lelah mendengar di mana posisi saya karena jawaban yang terus berulang adalah “Cisarua”.

Elf terus saja berjalan lambat dan lebih sering berhenti. Stuck. Jumlah pedagang makanan yang kami panggil untuk mampir ke dekat elf pun meningkat, yaitu:

– Tukang tahu Sumedang
– Tukang cilok
– Mbak warung (kami minta diambilkan es krim ma*num 6 buah)
– Tukang cilok lagi
– Tukang kacang
– Tukang minuman

dan saya lupa lagi. Yang jelas biaya di perjalanan selama macet meningkat pesat karena jajanan. Ya maunya sih menghemat tapi nggak mungkin kan gelar trangia di dalam elf. Selama macet ini pula saya menyesali brace yang tak dibawa karena punggung yang sudah tak karuan akibat kelamaan duduk. Huaaaaa.

Macet siang
Macet siang

Hari pun berganti menjadi malam. Ihiks… Pukul 18.00 barulah jalanan lancar karena jalur naik yang ditutup. Sekitar pukul 19.00 kami baru tiba di stasiun Bogor. Saya dan Abang pun baru tiba di rumah sekitar pukul 20.00. Dan pasukan sepupu sudah siap pulang ke rumahnya T_T.

DSC_1315
Lancar saat malam

Terlepas dari macet 8 jam Cibodas-Bogor (padahal biasanya 8 jam itu waktu tempuh untuk Jakarta-Cilacap =_=), pengalaman kemping ke-2 buat saya ini luar biasa seru! Ditambah teman seperjalanan yang tak hentinya bikin ketawa.

Thanks to you all!

“The most important trip you may take in life is meeting people halfway.” ~ Henry Boye ~

wpid-collage_3_2.png

4 thoughts on “Hatrick Cibereum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *