Saat harus melepas brace

Brace 1.jpgBrace, selama tiga tahun ini, benar-benar menjadi bagian dari diri saya. Banyak yang berkata bahwa brace menghalangi banyak aktivitas, membatasi pakaian yang dikenakan, membatasi diri dalam bergaul, dan lain sebagainya. Tapi bagi saya batasan itu seringkali lebih banyak datang dari diri kita sendiri.

Brace tetap bersama saya saat melewati masa-masa pemulihan habis tertabrak mobil sehingga harus libur dari kerja selama tiga minggu lamanya. Brace juga menemani saat kemping dengan kawan-kawan komunitas di Ciliwung Bojong. Brace membuat kebaya yang sudah dijahit untuk pernikahan kakak menjadi harus dibongkar dan dijahit ulang agar lebih besar. Brace ikut hening di dalam kebaya saat akad nikah berlangsung 1 tahun lalu. Brace bahkan bersama saya seolah ikut berpikir dan melantunkan kata-kata untuk dituangkan dalam tulisan saat saya menuliskan pengalaman dengan skoliosis sehingga menjadi sebuah buku.

Tanpa harus menapak, brace bahkan ikut menjejak saat saya mendapat kesempatan ke Bandung, Jogja, dan ikut honeymoon ke Aceh. Juni 2013 lalu brace pun ikut menanjak ke air terjun Cibereum di Cibodas. Saat menyeberang ke Gili Trawangan  di Lombok akhir tahun 2012 lalu, aneh rasanya pergi tanpa ada brace di punggung. Karena khawatir tak ada tempat untuk meletakkan brace selagi snorkeling, saya pun meninggalkan brace di penginapan. Dan itulah. Sensasi aneh yang muncul saat tas langsung menempel pada punggung dan bukannya brace.

wpid-2013-05-06-22.33.35.jpg
Brace dan Aceh
Brace dan Lombok
Brace dan Lombok

Seringkali, Daffa sang keponakan bermain di kamar bersama saya. Sewaktu usianya sekitar 7 bulan, ia langsung girang melihat brace di sudut tempat tidur, merangkak ke arahnya, dan langsung memegangnya dengan penasaran. Sekarang ketika sudah bisa berlari ke sana ke mari, Daffa kerap memasukkan boneka beruang saya ke dalam brace, memerlakukannya seperti keranjang ;D.

wpid-IMG_20130728_070430.jpg

“Sudah niat hamil secepatnya?” tanya dokter tulang saat saya kontrol skoliosis setelah menikah.

“Kami sih sekasihnya aja, Dok.” jawab saya.

“Nanti kalaupun baru seminggu ketahuan hamil, langsung copot brace. Lalu rutin kontrol dan tetap renang ya.” begitu saran pak dokter lagi. Karena belum hamil ya saya tenang-tenang saja menggunakan brace.

Lalu tanpa saya sadari, selama satu bulan terakhir kemarin saya berjalan-jalan, presentasi, dan melakukan berbagai kegiatan tidak hanya dengan brace tapi juga bersama janin di rahim. Selama sebulan saya asyik saja tetap pakai brace, asyik saja membaca buku sambil tengkurap saat saya pegal duduk, lalu terasa ada yang aneh di perut sehingga saya merubah posisi kembali.

Haid yang kerapkali maju-mundur membuat saya tak terlalu curiga saat sudah tanggalnya tapi tak kunjung juga “dapat”. Saya juga bukan orang yang rutin membeli test pack. Mahaaal, Bro Rp 25.000 sekali pakai doang! (ya iyalah). Dan memang bersyukur saja dikasi rezeki anaknya kapan jadi nggak ngebet beli test pack. Maka barulah si test pack itu dibeli ketika kemudian saya tahu bahwa sudah “telat” 1 minggu. Dan benar sajaaa, it’s positive! 

wpid-title_IMG_2014_0427_060603_.jpg

Hari itu juga, brace resmi dicopot. Dan entah nantinya sembilan bulan setelah ini masih bisa digunakan dan sesuai dengan tubuh saya lagi atau tidak (semoga berat badan saya bisa naik yah sesuai kebutuhan ibu hamil XD). Maka dengan ini tak ada lagi rutinitas berganti baju saat saya tiba di tempat kerja atau tempat lain yang rutenya ditempuh sampai pakaian saya basah karena keringat. Bergelantungan di kopaja (yang cukup sering) padat dengan brace dan hobi saya yang lebih suka jalan kaki serta menaiki tangga penyeberangan sebagai olahraga ringan seringkali membuat saya tiba di tempat tujuan dengan kepanasan sehingga membuat saya lebih nyaman membawa baju ganti ekstra untuk nantinya didobel dengan brace. Di saat awal penggunaan brace dulu ataupun ketika melakukan proses pencetakan di rumah sakit, saya tak akan menyangka bisa rindu juga dengan brace yang sudah bersama selama tiga tahun ini saat harus melepasnya.

brace2

Tapi yang jelas skoliosis yang biasanya diajak kerja sama dalam berbagai kegiatan, saat ini juga harus diajak kerja sama untuk bersama-sama menyambut banyak perubahan dalam tubuh selama masa kehamilan. Saya juga kembali harus terbiasa untuk olahraga berjalan kaki, menaiki transportasi publik, bekerja, dan melakukan aktivitas lain tanpa brace. Yup, tidak ditemani brace, tapi ditemani calon dede di perut.

A miracle in April, our first anniversary.

wpid-IMG-20140429-WA0000.jpg

0 thoughts on “Saat harus melepas brace

  • May 9, 2014 at 11:15 pm
    Permalink

    I’m really happy 4 u, Yulia. Selamat ya :”) terharu ih bacanya #hugs #cipikacipiki

    Reply
  • May 12, 2014 at 1:49 pm
    Permalink

    wah selamat ya, ada adik kelas juga pakai brace dari SMP hingga kuliah
    alhamdulillah saat hamil sepertinya tidak banyak kendala
    2 anak lahir normal 🙂

    wish you all the best

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *