Hamil trisemester pertama dan transportasi publik

wpid-IMG_20140524_191726.jpgSiapa yang tak takut dengan perubahan? Perubahan pindah dari satu sekolah ke sekolah lanjutan, perubahan fisik pada tubuh, perubahan pindah ke tempat kerja yang baru? Kalaupun tak takut, kemungkinan besar akan selalu ada rasa tegang akan menghadapi sesuatu yang baru, sekecil apapun itu.

And here i am.. Enjoying every little time with the baby in my belly.

I’m not afraid at this time, i just realized that i am change, my body is change, and everything is change!

Saya harus selalu ingat untuk melangkah dan naik-turun tangga dengan sangat hati-hati, dan kalau bisa justru aktivitas naik-turun tangga itu dikurangi, juga harus selalu ingat untuk duduk dengan posisi yang benar pula, harus selalu ingat untuk tidak terlalu cepat bangkit dari posisi berbaring tapi melakukannya dengan perlahan. Saya juga harus selalu ingat untuk tidak langsung berdiri di Kopaja saat ada ibu hamil, lansia, atau difabel yang membutuhkan tempat duduk karena saya sendiri juga sedang hamil. Nah, sebelumnya saya sudah menguraikan mengenai transportasi publik di sini, sekarang saya mau curhat tentang perubahan yang saya alami sekarang, saat hamil, ketika menggunakan transportasi publik di Jakarta pada umumnya.

Sejak Abang pindah kerja dari Halmahera dan kami tak lagi mengalami masa Long Distance Marriage dalam siklus 5 minggu sekali, kami sepakat untuk menginap secara bergantian di rumah ibu saya dan di rumah ummi Abang. Siklusnya yaitu seminggu-seminggu.

Dari pertanyaan atau obrolan sekilas dengan kawan atau siapa saja pada saya, banyak yang tercengang dan takjub akan siklus tersebut. Mana ada pasangan yang menginap seminggu di rumah orangtua, seminggu di rumah mertua?? Komentar pun mengalir deras. Ada yang menganggap bahwa setelah menikah seseorang (jika tidak langsung pindah/mengontrak rumah) maka akan tinggal di rumah orangtua sang perempuan (dan dari sejak kecil hingga sebelum menikah saya termasuk yang meyakini akan hal itu karena melihat bibi-bibi dan saudara lain). Ada lagi yang berkata, “Aduh nggak sanggup kalo aku. Nggak kebayang tiap minggu bawa-bawa barang bawaan. Repot!” Atau ada lagi yang bilang, “Aku nggak pernah nginep di rumah mertua. Ntar nggak bisa tidur, trus nggak bisa bangun siang. Nggak bisa sesuka hati deh!”

Saya hanya tertawa mendengar semua itu. Meski memang saya akui tentu lebih nyaman berada di rumah sendiri. Tapi dengan adanya kondisi setelah menikah dan saya menuruti kata pemimpin keluarga, saya juga tak punya alasan untuk menolak. Masa saya mau beralasan, “Nggak bisa bangun siang”?.

Dan saya akui rutinitas seminggu-seminggu itu memang tidak mudah. Dari kantor tempat saya bekerja, rute ke rumah ummi (suka atau tidak) lebih jauh daripada rute ke rumah ibu saya. Menunggu bus satu jam, berada di dalam bus dua jam, atau bahkan sampai harus mencari alternatif lain dengan naik angkot lanjut metromini, atau naik APTB (Angkutan Perbatasan Terintegrasi Bus TransJakarta) yang ternyata membuat saya melambai-lambai sama kamera alias nyerah karena nggak kuat berdiri sejak naik hingga sampai ke tujuan dan dengan kondisi bus yang padat selama kurun waktu 2 jam. Sampai akhirnya saya menggunakan alternatif terakhir yaitu naik kereta.

wpid-IMG-20140223-WA0019.jpg

Saya suka naik kereta. Apalagi saat mudik ke kampung halaman ayah di Jawa Tengah. Pemandangan yang terlihat di luar jendela kereta berupa hijaunya sawah, sungai, bahkan kepala kereta yang terlihat saat berbelok yang berpadu dengan langit dan awan putih yang membentang di atasnya membuat saya tak mau memilih naik kereta malam (yang notabene hanya bisa melihat suasana gelap dan lampu-lampu) kecuali saat terpaksa. Selama 4 tahun kuliah kemarin pun saya menjadi AnKer alias Anak Kereta setiap harinya. Tapi itu dengan kondisi lokasi kampus yang tak searah dengan arus kerja sehingga kereta pun tak terlalu penuh bahkan cenderung kosong di jam tertentu.

Nah, sekarang? Yup, saya menjadi salah satu yang ikut berdesakan di dalam kereta. Iya, awalnya saya nggak nyangka bisa naik kereta sepenuh itu dengan kondisi menggunakan brace, alat penyangga untuk skoliosis saya. Tapi mau bagaimana lagi?

Stasiun1.jpg
Stasiun pun sudah ramai

 

wpid-2014-02-24-07.31.53.jpgDi awal sebagai newbie-kereta saya membiarkan 3 kereta lewat begitu saja, berlalu dari hadapan saya, karena merasa saya tak akan bisa mendorong orang-orang yang sudah bergelantungan di pintu dan suasana kereta yang sepertinya sudah sangat padat. Saya takjub melihat banyak sekali orang di peron, namun lebih takjub lagi saat pintu kereta terbuka. Celah yang sepertinya tidak muat dan membuat saya mundur, ternyata bisa muat dimasuki seorang ibu yang tubuhnya lebih besar dari saya. Tapi tentu ada kalanya gerbong memang sudah penuh dan tidak muat sama sekali sehingga petugas harus berulang kali mengingatkan agar penumpang tidak memaksakan diri.

Saya memerhatikan beberapa orang yang naik. Gerakan mereka rata-rata sama: dorong sedikit kerumunan orang di dalam kereta, ambil celah untuk kaki berpijak di dekat pintu, dorong lagi sekuatnya, lalu tubuh pun naik seluruhnya. Setelah akhirnya menit demi menit berlalu dan gerbong demi gerbong kereta berlalu saja tanpa saya, barulah sekitar setengah jam kemudian saya akhirnya memutuskan untuk mencoba trik dorong-mendorong yang saya lihat dari orang-orang sebelumnya tadi. Beberapa orang pun ikut mendorong di belakang saya dan akhirnya saya bisa nemplok dengan sukses di dalam kereta, berhadapan langsung dengan pintu. Onde mandeh. Bergerak pun sulit dan saya sudah tak perduli dengan brace yang sepertinya kejedut. Orang di belakang saya pun sepertinya tak begitu perduli tangannya terpentok brace.

Tak jarang saya mendengar mengenai berbagai cerita tak enak di antara para penumpang kereta yang sudah setiap hari menggunakan transportasi publik ini. Hal yang paling sering saya dengar adalah berebutan tempat duduk antar perempuan. Karena itu saya tak pernah berani naik di gerbong perempuan, kabarnya penumpangnya lebih gahar hehe.

Nih, kalau bukan jam sibuk atau saat akhir pekan sih saya girang sekali naik kereta. Bebas macet, lancar jaya, bisa foto-foto pula :p.

wpid-IMG-20140223-WA0016.jpg
Foto oleh Runi

Memasuki usia kehamilan 1.5 bulan, suatu hari saya menginap kembali di rumah ummi. Yang ternyata harus ditempuh dengan 2,5 jam perjalanan. Sementara ke rumah ibu bisa 1-1,5 jam. Yang lebih parah adalah perut tergencet di dalam kereta. Mungkin ada saja yang berkata; “Ya ampun, saya hamil dari awal hingga besar pun masih bisa naik kereta penuh.” Hei, ingat. Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda-beda. Saya bisa saja nyempil-nyempil di antara penumpang, tapi bagaimana dengan perut yang tertekan tas penumpang lain? Apalagi saat itu mual-mual saya semakin menjadi. Makanan atau minuman apapun yang masuk ke dalam perut selalu kembali dimuntahkan sejak pagi hingga menjelang sore sehingga tubuh rasanya lemas sekali. Kerjaan saya di tempat kerja saat itu lebih banyak mondar-mandir ke toilet untuk muntah.

Saya dan Abang pun berdiskusi kembali, juga dengan ummi bahwa untuk sementara saya akan lebih banyak tinggal di rumah ibu dan mengunjungi rumah ummi saat akhir pekan atau saat liburan saja. Syukur, mereka menerima perubahan ini.

Dulu, saya tak menyangka bisa naik kereta padat dengan menggunakan brace. Sekarang, saya ternyata lebih tak bisa naik kereta padat dengan kondisi hamil. Saya tak bisa dan saya tak mau.

wpid-2014-02-24-07.33.01.jpgPergi dan pulang dari kantor ke rumah ibu saya tempuh dengan menaiki ojek dan dilanjutkan dengan menggunakan Kopaja. Berulang kali saya berkata pada tukang ojek untuk melaju perlahan karena saya sedang hamil. Beberapa dari mereka menyanggupi namun memasang wajah heran sambil berkata, “Haah? Udah hamil?”. Hehe mungkin dikiranya saya masih kuliah.

Syukur saat pulang kerja saya bisa naik bus dari terminal sehingga bisa memilih bangku dengan leluasa karena bus yang masih kosong. Namun di pagi hari saat berangkat, saya tak serta merta selalu mendapat tempat duduk. Kopaja yang sering berguncang atau membelok dengan ekstrim membuat saya seringkali memegangi dan mengelus perut karena refleks saja takut dede berguncang. Beberapa penumpang memerhatikan saya yang berdiri tapi tak bertanya apa-apa. Perempuan di depan saya kemudian tertidur dan lelaki di sebelahnya memandang ke arah jendela setelah sebelumnya memerhatikan perut dan wajah saya bergantian.

Meski kabarnya seorang ibu hamil dengan usia kehamilan muda sangat rentan dan tak boleh berdiri lama tapi saya tak mau meminta duduk jika memang kondisi masih memungkinkan dan si penumpang lain tak bertanya apa-apa. Karena sepertinya penampilan saya memang belum mendukung sebagai ibu hamil (meski jelas-jelas memegangi perut). Saya tak mau orang yang tempat duduknya saya minta akan marah-marah atau menolak yang justru malah membuat segalanya menjadi runyam.

wpid-2013-12-29-14.30.05.jpg

Lain waktu saya bertemu dengan bibi tanpa sengaja di Kopaja. Kami sudah lama tak bertemu dan saya menduga ia belum mendengar perihal kehamilan saya. Tempatnya duduk dan tempat saya berdiri terhalang sehingga ia tak melihat saya memegangi perut. Saya hanya menitipkan jaket yang saya pegang padanya karena Kopaja melaju kencang dan saya kesulitan berpegangan. Namun begitu beberapa penumpang turun dan saya bergeser berdiri hingga di depannya, ia membelalak melihat saya yang sedang asik saja mengusap perut (serius ini bukan kode lho! Hahaha).

“Oalaaah, lagi hamil? Aduh, aku nggak tahu. Iiiih, maap ya! Harusnya dari tadi ini.” Katanya yang langsung berdiri tanpa ba-bi-bu lagi dan menyuruh saya duduk di tempatnya semula. Saya hanya tertawa melihatnya.

Peristiwa tak mendapat tempat duduk memang tak setiap saat terjadi. Tapi rupanya saya menyadari perubahan bahwa saya bisa-bisa saja berdiri di Kopaja atau Metromini penuh dengan brace, tapi dengan adanya kehamilan saya mengakui untuk mudah lelah saat terlalu lama berdiri. Kalau dalam situasi begini rasanya senang sekali ya para ibu hamil di Jepang yang diberikan gantungan kunci bergambar ibu hamil secara gratis sehingga mendapatkan prioritas tempat duduk di transportasi publik. Pun begitu, tak ada yang sengaja memanfaatkan gantungan kunci tersebut dengan berpura-pura hamil.

@ Metromini

Saya tak mau men-judge semua penumpang Kopaja/Metromini/kereta tak mau mengalah pada orang lain yang membutuhkan. Seringkali saya mendengar, karena fasilitasnya yang sampai sekarang masih minim, Kopaja atau metromini dipandang sebelah mata, banyak copet, kumuh, dan lain sebagainya. Kenyataannya setiap transportasi publik berpeluang terjadi peristiwa tersebut. Suatu hari di dalam Kopaja yang kondisinya carut-marut saya malah melihat beberapa orang yang bersedia memberikan tempat duduk dan rela berdiri untuk ibu yang membawa anak dan lansia. Sementara di lain kesempatan saat sedang mengantri di shelter Transjakarta, para penumpang dengan pakaian rapi dan dandanan modis di sekitar saya malah mendorong-dorong dan berteriak-teriak sangar menyuruh penumpang di depannya bergerak lebih cepat saat bus TransJakarta tiba di shelter.

Saat ini tanpa terasa usia kehamilan saya sudah 3 bulan. Ada begitu banyak kemacetan dan masalah keruwetan yang masih jauh dari nyaman di kota ini. Padahal Kopaja, Metromini, atau kereta sangat bermanfaat untuk kepentingan masyarakat banyak yang bisa mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan mengurangi macet sehingga menghemat waktu jika dibenahi dan nyaman untuk seluruh pengguna.

Beberapa masalah yang masih muncul yaitu pemasukan supir dan kenek berdasarkan banyak atau tidaknya penumpang, atau istilahnya kejar setoran. Saya sering melihat supir antar bus saling berebut penumpang dan melaju kencang tanpa memerhatikan lalu lintas sekitar. Mereka tancap gas tak terkendali atau mengerem mendadak. Bahkan saat di terminal di mana notabene ada banyak pengguna bus yang lalu lalang, banyak juga yang tetap melaju cepat. Beberapa yang pernah saya lihat adalah kaca spion bus pecah saat disalip bus lain karena terlalu memaksakan diri melaju di celah sempit, atau bahkan kaca jendela di barisan penumpang pecah dihantam bus sebelahnya. Kedua supir pun bertengkar dan hampir adu tonjok. Atau saat bus melaju kencang hingga melindas kaki seorang ibu yang sedang berjalan. Bukannya berhenti atau meminta maaf, sang supir malah terus melaju. Ibu tadi tak terima dan (meski kakinya sakit) tapi berteriak-teriak marah sambil berlari ke arah bus tadi. Begitu bus terhalang oleh bus lain, ibu itu pun naik dan memarahi supir sambil memukulinya dengan sepatu. Berapa kecepatan bus saat melaju ngebut itu? Ah, jangan ditanya. Saya rasa lebih banyak yang tak punya speedometer memadai atau bahkan rusak sama sekali sehingga jika ditanya berapa km/jam laju bus itu maka supir pun tak tahu.

Tidak semua supir memang bersikap kasar dalam menyupir atau tak sopan pada penumpang. Seringkali mereka mengingatkan agar penumpang selalu turun dengan kaki kiri dan memerhatikan motor yang melaju di samping. Beberapa bahkan rela menyupir dengan terpaksa tanpa kenek atau kondektur. Padahal ini cukup menyusahkan penumpang dan supir sendiri. Ketika bus semakin padat dan penumpang kesulitan untuk membayar karena tak bisa maju ke depan, ada saja penumpang yang sukarela menjadi kondektur lalu menarik ongkos dari penumpang lain dan menyerahkannya pada supir. Lain waktu seorang pemulung yang bergelantungan di pintu malah bolak-balik menyerahkan ongkos penumpang di pintu belakang. Tanpa alas kaki, ia berlari ke arah depan untuk memberikan ongkos pada supir. Sang pemulung bisa saja menyimpan uang lebih dulu agar tak bolak-balik. Entah kenapa ia lebih memilih berlari dan langsung menyerahkan pada supir segera setelah ada yang menitipkan ongkos padanya, mungkin ia takut akan mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Beberapa hari lalu saat pulang kerja, saya ikut menyimak pembicaraan supir dengan salah satu penumpang laki-laki yang mungkin seusia ayah saya. Ini bukan nguping lho ya karena saya duduk tepat di belakang mereka. Supirnya juga kencang suaranya hehe. Katanya sang supir memiliki 4 anak, anak ke-3 yang duduk di SMP baru saja memenangkan kejuaraan bela diri antar Kotamadya. Anak ke-4 katanya sibuk dengan les menari dan bahasa inggris.

“Harusnya hari ini saya temani anak ke-3 itu untuk ambil medali dan hadiah. Tapi saya nggak bisa bolos.” Kata sang supir. Bapak yang menjadi lawan bicaranya mengacungkan jempol.

Kadang saya bertanya dan menyesali kenapa selama bertahun-tahun angkutan publik tetap saja karatan. Supir tembak yang tak jelas, pendapatan yang tak tentu sehingga harus berebutan penumpang karena kejar setoran dan sampai melaju tak karuan di jalan raya. Memang tak semua supir seperti itu, tapi dengan masih banyak sekali masalah menyangkut angkutan umum kenapa para pengampu kebijakan seolah tak kuasa menyelesaikan masalah dan mencari jalan keluar? Sementara yang mereka bela hanya terus saja memberikan ruang untuk pengguna kendaraan pribadi. Kendaraan pribadi yang semakin lama semakin meningkat jumlahnya (terutama sepeda motor) sehingga seringkali saya melihat dan merasa bahwa banyak sekali pengendara motor yang merasa menjadi raja di jalanan. Sesekali saya memang berboncengan dengan Abang menaiki sepeda motor, tapi haruskah juga melajukan motor di trotoar dan merebut hak pejalan kaki? Atau melawan arus dan membahayakan diri sendiri dan juga orang lain? Entah apa yang ada di benak mereka. Keinginan “supaya cepat sampai” merasuki benak sehingga menghalalkan segala cara.

Beberapa kali rasanya sampai ingin menangis (dan menangis beneran) begitu tiba di kantor atau saat tiba di rumah. Adu debat dengan pengendara motor dan bahkan diancam untuk ditabrak karena saya tak mau minggir dari trotoar pun pernah terjadi. Jalan kaki atau saat hendak menyebrang jalan menjadi hal yang sangat sulit karena banyak pengendara motor yang tak mau berputar lebih jauh sehingga lebih memilih melawan arus.

Mereka pun membela diri dengan berkata, “Ini Jakarta! Sudah biasa hal seperti itu!” Haruskah terbiasa juga untuk merebut hak orang lain? Sadarkah bahwa ada yang terdzalimi saat melaju melawan arus?

Saya memang belum punya solusi mengatasi kemacetan. Satu-satunya solusi yang saya lakukan saat ini adalah dengan sebisa mungkin menggunakan transportasi publik, meski belum ramah untuk difabel, ibu hamil, dan lansia.

Ah, kapan ya transportasi publik di kota dan negara ini nyaman untuk semua?

“An advanced city is not a place where the poor move about in cars,

rather it’s where even the rich use public transportation.” ~ Enrique Penalosa

di dalam Kopaja AC.jpg

metromini 4.jpg

 

0 thoughts on “Hamil trisemester pertama dan transportasi publik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *