Museum di Tengah Kebun

Keberadaan museum penting untuk masyarakat sebagai sarana belajar dan rekreasi. Sayangnya, museum-museum di Indonesia masih ditampilkan secara biasa, banyak di antaranya yang malah dipandang kuno, membosankan, sehingga kalah bersaing dengan tempat lain sebagai tujuan utama masyarakat saat berada di daerah tertentu. Namun saat ini museum sudah mulai membenahi diri dan menarik minat untuk dikunjungi. Beberapa pengelola museum mulai berbenah, mengadakan kegiatan dan memancing pengunjung untuk datang. Tampilan yang memukau namun tak kehilangan identitas sejarah serta penyampaian materi yang menarik dari pemandu menjadi faktor utama yang harus diperhatikan oleh pengelola museum.

wpid-img_20140420_144335.jpgSaya pernah menjabarkan sedikit mengenai museum-museum yang ada di Jakarta Utara pada tulisan sebelumnya di sini. Ternyata tak hanya daerah Jakarta Utara yang memiliki museum yang seru. Di area yang tergolong di tengah kota seperti Jakarta Selatan juga terdapat sebuah museum yang dibuka untuk umum dan GRATIS. Namanya Museum di Tengah Kebun. Jika museum pada umumnya milik pemerintah, maka Museum Tengah Kebun sesungguhnya adalah rumah pribadi yang sampai sekarang masih ditinggali. Museum ini terletak di Jl. Kemang Timur No. 66, Jakarta Selatan.

Awalnya Abang mengajak kawan-kawan SMA-nya untuk berkunjung ke Museum di Tengah Kebun. Untuk bisa berkunjung ke museum ini, kami harus booking via telepon terlebih dahulu dengan Pak Mirza. Menurutnya dalam satu sesi kunjungan hanya akan ada satu kelompok yang terdiri dari maksimal sepuluh orang. Pak Mirza adalah seorang pemandu sekaligus juga kurator museum yang siap memandu kami berkeliling nantinya. Ia mengingatkan melalui percakapan via telepon bahwa; “Museum ini memang gratis tapi kami mohon dengan sangat kesediaannya untuk tidak telat”. Hal itu selalu terngiang dan mewanti-wanti kami sehingga di hari Minggu 20 April 2014 lalu tepat pukul 12.30 kami bersepuluh sudah siap di depan gerbang Museum Tengah Kebun.

Melewati gerbang utama, kami lalu melewati area rerumputan dan jalur setapak yang diapit pohon palem. Jalan setapak ini katanya terkadang dijuluki “lorong dunia lain” karena menghubungkan dunia luar dengan dunia dalam museum yang sama sekali berbeda kondisi maupun suasananya.

wpid-img_20140420_123453.jpg

Museum Tengah Kebun seluruhnya berisi benda-benda bersejarah milik Pak Sjahrial Djalil yang merupakan pemilik rumah dan sekaligus pemilik museum tersebut.

Di teras rumah yang teduh itu, kami diwajibkan mengisi buku tamu, dan kemudian menitipkan tas untuk disimpan pada lemari kayu bercirikan zaman dahulu yang terletak di bagian samping rumah. Pak Mirza kemudian menjelaskan terlebih dulu mengenai benda-benda yang ada di luar ruangan, yaitu batu bata yang berasal dari zaman Belanda, pintu kayu yang berasal dari penjara wanita di zaman Belanda juga, fosil pohon, topeng, dan lampu.

wpid-img_20140420_125422.jpg

Pak Djalil, yang merupakan paman dari Pak Mirza, membangun rumah itu sekitar tahun 1970-an dan keseluruhan bagian rumah menggunakan material bekas. Sebelum masuk ke dalam rumah, kami diminta untuk mengganti alas kaki dengan sandal yang sudah disediakan. Alasannya? Karena di dalam nanti kemungkinan besar kami akan menginjak karpet bersejarah yang juga dijadikan alas untuk shalat. Jadi harus steril dong sendalnya. Lagipula karpet tersebut berasal dari beberapa negara dan sudah berusia lanjut yang bisa saja sensitif terkena kotoran dari luar. Sayang juga nginjeknya, kan 0_0.

wpid-img_20140420_131607.jpgPak Djalil adalah seseorang yang sering berkelana ke berbagai wilayah, dalam dan luar negeri. Jika total dihitung kabarnya Pak Djalil mengelilingi bumi sebanyak 26 kali, mengunjungi 62 negara, dan 21 provinsi yang ada di Indonesia. Saat mengelilingi bumi itulah, ia membeli berbagai benda-benda  melalui balai lelang. Jumlah koleksi yang ada di Museum Tengah Kebun yaitu sekitar 2.481 buah. Benda-benda tersebut meliputi fosil pohon, lukisan, keramik, peralatan makan, karpet, patung, topeng, lampu, dan benda-benda lain dari berbagai negara di dunia.

Setiap ruangan di dalam rumah dipenuhi dengan berbagai benda yang ditata rapi sesuai fungsinya. Mulai dari ruang tamu, ruang makan, kamar mandi, bahkan area dapur semua dipenuhi dengan benda-benda bersejarah dari mulai arca berukuran besar hingga peralatan makan berukuran mini. Sesekali Pak Mirza menceritakan kisah mistis di balik benda-benda yang ada di ruangan tersebut. Hehe tapi jangan takut ke sini yah. Di sela-sela cerita bersejarah dan mistis itu ia juga seringkali menyelipkan bumbu-bumbu humor sehingga membuat kami tertawa dan tak merasa bosan berkeliling museum.

Rumah Pak Djalil terbilang luaaas sekali tapi saya lupa berapa hektar totalnya. Semakin ke belakang, saya semakin kagum dengan rumah tersebut karena memang mengutamakan area ruang terbuka hijau lebih banyak daripada luas bangunannya. Hal ini tentu saja membuat rumah terasa sangat sejuk dan teduh. Apalagi ditambah dengan adanya kolam renang di bagian belakang. Menurut cerita Pak Djalil sejak dulu memang bercita-cita ingin memiliki rumah yang area ruang terbukanya lebaaaaaar.

wpid-img_20140420_140006.jpg

Tak terasa sekitar satu setengah jam kami berkeliling. Di bagian tengah pendopo pun disediakan minuman dingin untuk kami semua. Sruput-sruput di tengah hijaunya rumput dan angin sepoi-sepoi. Ihiiy…

wpid-pano_20140420_142839.jpg

Jam kunjungan pun segera usai. Dua orang dari rombongan diminta sedikit testimoninya mengenai museum oleh reporter NET TV yang hari itu juga berkunjung untuk meliput.

wpid-img_20140420_143944.jpg

Terima kasih untuk kawan seperjalanan kali ini yaitu kawan SMA Abang. Hihi sampe berasa study tour :p.

image Sumber foto: Eka[/caption]

Habis itu kami mencari tempat makan siang, berhubung saya bukan anak gaul Kemang jadilah saya ngikut aja. Rombongan pun berbelok ke sebuah restoran mie ramen. Terus saya norak gitu karena nggak ngerti apa yang harus dipesan, syukur yang kebingungan bukan saya doang :)). Syukur juga nggak makan di situ tiap hari, bisa bangkrut XD. Saya lupa nama makanan yang dipesan apa tapi tapi tapi makanannya enaaaak! Kuahnya juga nampol!

Habis ini study tour lagi yuuk!

image

image

image Sumber foto: Eka[/caption]

 

 

Catatan:

1. Museum Tengah Kebun terletak di tepi jalan namun tulisannya cukup ngumpet di balik dedaunan sehingga wajib untuk kita menelusuri nomor rumah yang tertera dengan teliti.
2. Pak Mirza cukup aktif meng-update berita mengenai Museum Tengah Kebun di facebook, termasuk juga peraturan museum yang baru-baru ini keluar. Jadi pastikan mengetahui peraturan tersebut lebih dulu sebelum berkunjung ya. Akunnya adalah “Mirza Djalil”.

3. Tidak semua museum membolehkan pengunjung untuk memotret koleksinya. Meski Pak Mirza beberapa kali memotret kami di beberapa bagian ruangan, namun sengaja tidak saya tampilkan seluruh ruangan di sini. Apalagi mengingat bagian-bagian ruang museum ini adalah juga bagian rumah yang masih ditinggali. Jadi silakan berkunjung langsung untuk melihat seluruh koleksi yang dimiliki museum.

5 thoughts on “Museum di Tengah Kebun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *