Pada suatu sore

Pada suatu sore aku berpikir satu hal.
Ah, bukan. Beberapa hal.
Tentang apa yang sebenarnya ku cari.
Uang kah? Jabatan kah? Cita-cita kah? Ketenaran kah? Atau pujian?

Pada suatu sore di antara kepulan debu dan kepungan asap knalpot metromini dan kopaja yang entah kapan akan diperbaharui,
Langkahku sedikit melambat.
Aku tertegun akan sebuah kalimat yang tiba-tiba hinggap.
Tentang menjadi bermanfaat.

Bahwa “hidup adalah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya.”

Kata tokoh bernama Pak Harfan dalam sebuah novel yang beberapa tahun lalu menuai pujian tapi kemudian menuai kritik juga yang tak kalah derasnya.

Ah, tapi bukankah semua manusia memang maunya mengkritik orang lain?

Kembali pada manusia bermanfaat, lalu sudahkah aku menjadi manusia bermanfaat itu?

Bukankah kita memang tak perlu menjadi orang lain? Atau menjadi orang lain yang hobinya mengomentari orang lain? Atau membenci orang lain sambil sekaligus juga membenci semua hal yang ia ucapkan meski itu benar?

Aku tak perduli pada beberapa hal, sekaligus juga perduli pada beberapa hal lain. Tapi apa itu cukup?

Ada yang meniup gelembung dalam perutku. Oh, salah. Rahimku. Kabarnya dia sudah seberat 370 gram dan sudah bisa membuat perutku gatal.

Hi, nak. Maukah kau nanti tandem paralayang denganku? Atau menyelam di lautan bersamaku?

Dengan cara-cara yang kau sendiri tahu seperti cara meraih mimpimu kelak.

Doaku semoga kau nanti menjadi manusia bermanfaat. Melompat tinggi dan terjun bebas seperti yang biasa aku lihat pada sebuah adegan yang selalu membuat terpaku dan rasanya ingin melempar semua pekerjaan dan kepenatan. Terjun langsung ke lapangan dan meraih mimpi-mimpiku.

Ah, bukan mimpi-mimpi yang itu. Bukan mimpi-mimpi yang ditanya senior dan aku tuliskan pada secarik kertas. Tapi mimpi-mimpi yang selalu muncul setiap aku melihat adegan anak-anak desa berlarian atau terjun salto ke laut.

Iya yang itu. Meski sesudahnya aku juga akan tetap bertanya, sudahkah menjadi bermanfaat?

Dan semua pertanyaan itu tetap tak akan cukup.

~ Jakarta, menjelang tengah malam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *