Pindah RS: masuk bulan ke-5

Saya melongo waktu pertama kali menyadari ada gerakan dalam perut saya. Apa benar ini si janin yang bergerak? Frekuensi gerakannya masih sangat jarang sekali dan tidak terlalu kencang, tapi sungguh terasa!

Begitu tiba di rumah saya kembali membuka buku yang sejak awal kehamilan menemani saya sebagai bahan bacaan. Benar saja. Di situ tertulis memasuki bulan ke empat maka gerakan janin akan mulai terasa, meski masih sangat lemah. Saya manggut-manggut dan tambah senang menyadari bahwa kami mungkin sudah mulai bisa colek-colekan!

Sekitar satu minggu kemudian, dede semakin aktif gerakannya. Terasa kencang dan semakin sering. Ini terjadi berulang kali setiap saya habis minum. Walaah… apa dia senang bener ya berenang di dalam sana, seolah melimpah ruah volume air di perut setiap saya habis minum. Ini jadi pancingan saya untuk lebih banyak minum, supaya sekaligus merasakan sensasi gerakan sang bayi sambil juga mencukupi kebutuhan air untuk kami berdua.

Semenjak itu, semakin hari dede semakin sering colek-colek. Terkadang tanpa dipegang, saya malah bisa melihat sendiri perut saya bergerak sedikit saat ia (mungkin) menggeliat atau menendang. Subhanallah ya ;’)

Tak hanya dede yang ramai, Abang pun ikutan heboh setiap memegangi perut dan dede bergerak. Terkadang saat dipegang ia tak mau bergerak, tapi begitu Abang menarik tanggannya dede malah jumpalitan. Halah, malu sama Abanya :p. Tapi begitu dibilang kalo Aba pengin ngerasain gerakannya, dede kembali bergerak, malah perut saya di satu sisi terlihat lebih menonjol. Entah itu tangan atau kakinya.

Kamis, 14 Agustus 2014 saya izin tidak masuk kerja untuk kontrol kandungan ke RS. Kami sudah menetapkan (sementara) bahwa bulan kelima ini cek kesehatan kandungan dipindah dari RS Duren Tiga ke RS Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita mengingat riwayat MVP jantung saya seperti pada cerita sebelumnya. Yaitu indikasi dokter kandungan di RS sebelumnya yang bilang bahwa saya lebih baik melahirkan di RS yang terdapat dokter jantungnya.

Mengingat selama ini rekam medis MVP saya ada di RS Harapan Kita, ya sudah lah pilihan pun jatuh pada RSAB Harapan Kita. Maka hari kamis itu pun saya dan Abang menuju Slipi dengan petunjuk satu nama dokter dari kawan kakak saya. Etapi karena Abang belum boleh nggak masuk kerja, jadilah harus ke Salemba dulu untuk absen. Daaan ternyata rute dari Salemba ke Slipi dahsyat, men!

Sepanjang jalan saya celingukan dan bilang dalam hati, “Ini di mana seeh?!”. Sementara waktu berangkat kami tentu saja berbarengan dengan para pekerja lain yang seolah kebelet pipis itu; melaju zig zag, naik ke trotoar, dan ramai-ramai nyorakin pengendara mobil saat di sebuah tikungan (yang saya nggak tahu ada di mana itu) lampu merah seolah tak berfungsi sehingga masing-masing ngotot mau tetap maju! Haduh, chaos dah pokoknya!

Saya juga boncengan motor, tapi nggak gitu juga kale -_-.

Begitu lihat tulisan “Kali Cideng”, rasanya terharu ihiks… Itu kali pekat banget deh warnanya, semua bau got kayanya tumpah di sana, tapi kalo ingat Kali Cideng ada di dekat Tanah Abang, yang tidak lama lagi adalah Slipi, maka karena itulah saya bersuka cita!

Tapi ternyata nggak juga sampai dalam sekejap, sodara-sodara! Masih jauh Slipi-nya hiks… Singkat cerita, begitu sampai di parkiran RSAB saya mabok dan kayanya lebih baik besok-besok berangkat lewat rute biasa aja di Gatot Subroto yang tinggal lurus ke Slipi T_T.

Kami pun menuju bagian pendaftaran. Biaya administrasi untuk poli kebidanan Anyelir adalah sebesar Rp 140.000. Saya sebenarnya sudah ada kartu BPJS, tapi kami belum urus surat rujukan. (sudah tahu kan ya urutannya? Kalau mau ke RS pakai BPJS harus minta surat rujukan dulu dari puskesmas/klinik daerah setempat sesuai BPJSnya). Kalau misalnya sudah ada rujukan dari puskesmas terkait BPJS ini, maka bisa mendaftar di poli Flamboyan. Biaya administrasinya kalau tidak salah Rp 50.000. Dengan catatan pasien tidak bisa memilih dokter kandungan ya, dokter di poli tersebut bersifat tim dan ditunjuk rumah sakit.

Berhubung kami nggak ada surat rujukan, ya kartu BPJS terpaksa disimpan dulu dan kami cek kandungan di poli Anyelir yang notabene versi swastanya. Fiuuh.. harus urus-urus nih segera. Soalnya kartu BPJS kami masih daerah Ciputat, sementara maunya bikin Kartu Keluarga yang daerah Pasar Minggu. Nah, Abang pindah domisili dulu kan jadinya.

Anyway, pokoknya setelah dapat nomor antrian, saya timbang badan (yang bergerak sekarang ke angka 37 ahoyyy!! Iyah, saya selangsing ituuuu). Lalu dicatat riwayat sakit ini dan itu, dan sebagainya, dan menunggulah kami di depan ruang tunggu dokter. Waktu itu pukul 9 kurang dan jadwal dokter datang adalah pukul 9. Eh, ternyata dokternya harus mengoperasi dulu, jadilah dia baru nongol jam 11-an.

Berhubung saya dapat nomor antrian 2 dan yang nomor 1 kayanya lagi kelilingan alias nggak ada, jadilah saya yang masuk duluan. Ini pertama kalinya ke dokter obgyn cowok sih tapi ya sudahlah ya. Lalu dilakukan USG tapi komputernya masih cembung plus tipe tabung yang jadul gitu, dan saya ragu itu alat USG bisa print hasilnya nggak yah hehe. Tapi saya belum berani tanya jadi diam saja sambil berusaha curi-curi pandang ke layar. Layarnya nggak madep ke sayaa. Tapi kayanya Abang yang liat juga nggak jelas orang mukanya kebingungan. Pokoknya hanya si dokter yang ngerti gambar USG di layar dan yang kita ngeh cuma suara detak jantungnya si dede.

Trus tiba-tiba dia bilang, “Kemungkinan laki-laki ini ya..” Wuaaaah…. Trus saya nengok-nengok ke layar, dan bener-bener nggak bisa bedain mana gambarnya.

Akhirnya saya beraniin tanya suster tentang print hasil USG (abis nggak afdhol kayanya kalo nggak liat hasilnya hehe). Jawab suster yaitu bahwa nanti kami juga akan pindah ke ruang USG soalnya alat yang itu nggak bagus.

Oooh…

Tapi karena beda ruangan ya kita keluar lagi dan nunggu lagi di depan ruang USG. Si dokter malah sempat nguret dulu sebelum saya masuk.

Nah, di ruang alat USG yang lebih canggih ini saya di USG ulang dan mendengar lagi suara detak jantung dede. Dokter pun menerangkan bagian-bagian tubuh yang ditunjuknya meski saya dan Abang liatnya juga nyureng-nyureng nggak ngeh. Kalo yang tadi alatnya jadul, kayanya alat yang ini terlalu canggih.

Dokter pun memberi tahu kalau ia akan membuat surat atau korespondensi untuk dokter jantung terkait apakah saya bisa melahirkan normal dan melalui proses mengejan dengan kondisi MVP saya ini atau tidak.

Sayangnya begitu kami nyeberang ke RS Jantung Harapan Kita, dokter saya tidak ada jadwal hari kamis. Jadi PR bulan depan adalah bertemu dokter jantung dulu lalu ke dokter kandungan. Lalu bulan depannya lagi cek ke dokter ortho terkait skoliosis saya untuk melahirkan normal..

Semoga saja semua PR tersebut berjalan lancar. Jika memang memungkinkan dan diizinkan (selain juga tetap harus optimis) semoga bisa melahirkan normal dan lancar. Aamiin.

image

13 thoughts on “Pindah RS: masuk bulan ke-5

  • August 19, 2014 at 7:03 am
    Permalink

    Wahh ~ jadi ingat waktu istri hamil anak pertama … lahirnya cewek sih … semoga semua lancar ya , main main ke http://llensasatumata.com | salam kenal 🙂

    *komen pertama salah linknya kedobelan ‘L’ maaf :p

    Reply
  • August 23, 2014 at 12:16 pm
    Permalink

    Waaah keingetan teman kampus ku, lagi hamil 5 bulan juga. Semoga sehat selalu kak! 🙂

    Reply
  • August 24, 2014 at 5:27 am
    Permalink

    Yulia, waaahhh selamat sekali lagi, ga tahu kalo lagi hamil juga. Semoga dede bayi dan ibunya sehat terus sampe lahiran yaaaa, ameeen. Iiihhh jadi iri duech beratnya cuman 37 hihihii kalo aku mah dikalikan 2 waktu hamil kemaren, itupun naik berat badan saat hamil hanya 6,5 kg sajah hehehheh

    Reply
  • August 29, 2014 at 11:00 am
    Permalink

    wah nyesel juga dulu nggak USG di ruang itu, habis biayanya ‘lumayan’ sih…tapi hasilnya jelas banget 3D nya.

    Reply
    • August 29, 2014 at 10:27 pm
      Permalink

      Di HarKit maksudnya? Hehe iya lumayan. Baru pertama jd kmrn nggak ngerti. Besok2 pengin coba yg poli flamboyan juga.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *