Sepeda hias pertama Daffa

“Daffa mana betah naik sepeda”. Begitu pernyataan yang muncul waktu tahu ada lomba sepeda hias di peringatan 17an tahun ini setelah dua tahun berturut-turut tidak dilaksanakan karena bertepatan dengan bulan ramadhan. Di lingkungan rumah kami, lomba sepeda hias memang menjadi ajang lomba bersifat tahunan dan cenderung turun menurun. Buktinya lomba ini sudah ada sejak saya usia TK hehe.

Meski Daffa tak pernah bisa bertahan lama naik sepeda tapi tetap donk ia ikutan (habis dipaksa bu RT siih! Hehe nggak deng). Yah yang penting sih kontribusi meramaikan, terlepas dari si anak selama ini lebih senang jungkirin sepeda daripada naik sepeda.
image

Karena tak terlalu suka naik sepeda itulah, kami jadi cenderung pesimis dan menghias sepeda secara apa adanya saja. Ditambah lagi tipe sepedanya adalah sepeda roda tiga untuk batita yang sulit sekali untuk dililitkan hiasan kertas krep itu. Ukuran sepedanya sih kecil tapi malah membuat saya, kakak, dan Ica rumit menghiasnya karena kehabisan ide.

Tahun ini berarti pertama kalinya ada keluarga kami yang mengikuti lomba sepeda hias kembali setelah sekian lama absen seiring dengan saya dan kakak yang semakin besar. Semasa kami kecil dulu, biasanya Bu Umi, adik ibu, yang menghias sepeda kami dengan bermacam bentuk.

Saat kelas 1 SD sepeda saya dirangkainya berbentuk bunga. Sepeda kecil warna biru itu jadi terlihat seperti bunga yang sedang mekar, dengan sadel sepeda tepat di tengah-tengah kelopak bunga. Semalaman suntuk Bu Umi merangkainya. Tentu dengan andil ibu dan ayah juga. Kedua orangtua saya hampir tak tidur untuk melilitkan seluruh kertas berwarna warni tersebut pada setiap jari-jari ban dan setiap senti bagian sepeda. Sementara saya hanya tidur dan tinggal naik sepeda saja hehe. Karena model bunga tepat melingkari sadel itulah saya tak bisa naik ke sepeda seperti biasa sehingga supaya bisa naik saya harus diangkat melewati kelopak bunga dahulu. Bagi saya sepeda mekar itu sudah cukup wuah namun sayangnya ada peserta lain yang lebih luar biasa desainnya sehingga tak ada hadiah yang bisa saya raih. Di akhir lomba, kelopak bunga saya pun malah sedikit meleot. Ah, sayang saat itu tak ada fotonya.

Tapi kemudian di penghujung kelas 6 SD saya malah menyabet juara 1. Saat itu Bu Umi merencanakan tema yang akan saya gunakan adalah perawat yang berkeliling dengan sepeda. Ia membuat kotak obat di bagian belakang sepeda, menambahkan hiasan ini itu lalu saya mengenakan pakaian dokter kecil. Desainnya sederhana saja tapi mungkin juri menilai dari konsep dan kesesuaian tema sehingga saya berhak membawa pulang piala dan hadiah. Hihi Bu Umi yang merangkai tapi saya yang juara.

Mungkin karena merasa nostalgia masa kecil kami itulah, malam itu ibu kekeuh merangkai sepeda Daffa semaksimal mungkin. Di saat saya, kakak, dan Ica sudah tak bisa lagi menempelkan kertas krep, ibu masih memaksa untuk menempelkan kertas-kertas tersebut hingga larut malam. Kami pun sudah pula berkata bahwa tipe sepeda Daffa berbeda dengan sepeda kami dulu. Ini sepeda untuk bayi, bukan sepeda anak TK apalagi SD. Tapi ibu tak perduli dan terus menghias keranjang sepeda Daffa. Ah, baiklah. Saya pun melipir masuk kamar.

Esok paginya Daffa heboh menanggapi sepeda miliknya sudah berubah. Ketertarikannya termasuk pada mulai berusaha mencabut kertas-kertas dan menarik mainan pesawat mini yang ditempelkan pada sepeda. Sebelum hiasan rusak, sepeda pun terpaksa disembunyikan dulu di kamar saya.

Peringatan 17 Agustus itu jatuh pada hari minggu. Acara sepeda hias pun digelar hari itu juga pukul 10.00 setelah upacara. Kakak pun berangkat pagi untuk upacara di kantornya sambil memastikan nantinya tetap bisa mengikuti lomba sepeda hias bersama Daffa.

Pukul 8 lewat kakak menelepon ke rumah kalau ia harus balik dulu ke kantor Salemba, tapi tetap berharap ia bisa hadir di acara lomba sepeda hias. Sekitar pukul 9 pun akhirnya Daffa tertidur, masuk pada jam tidur paginya.

Sekirar satu jam kemudian, saya yang hari itu absen tak ikut upacara langsung bergegas menyudahi ritual mandi saat mendengar ibu menyerukan bahwa pawai sepeda hias sudah dimulai dan anak-anak itu melewati rumah kami! Woaaah cepat sekali! Kakak bahkan belum pulang! Sementara ayah Daffa tidak masuk kantor karena pusing sehingga otomatis juga tak bisa menemaninya mengikuti pawai sepeda hias. Lalu bagaimana Daffa dan sepedanya??

Daffa yang baru bangun langsung terbelalak saat melihat sekali lagi rombongan sepeda hias lewat di depan rumah. Berulang kali ia menunjuk-nunjuk pada sepeda hias miliknya sendiri. Namun kakak masih belum nongol juga di rumah. Hingga akhirnya saya menawarkan diri untuk mendorong sepedanya ke lokasi acara. Saya tahu ibu mungkin sebenarnya diam-diam berharap saya yang menggantikan tapi mengingat kondisi saya yang sedang hamil tentu ia tak berharap banyak dan tak meminta saya untuk bersedia.

Sayang kalau Daffa tak jadi ikut lomba. Nanti kami ikut hadir di tribun lapangan saja, nonton yang lain. Toh sudah telat. Pikir saya saat itu.

“Daffa ikut lomba sama mamah yaa..” huaaa ia langsung melonjak-lonjak kegirangan di dekat sepeda begitu dikatakan seperti itu.

“Ganti baju dulu!” seru ibu saat Daffa tak mau digantikan bajunya. Ia sudah terlanjur memeluk saya dan memaksa untuk berangkat ke lapangan sekarang juga. Eeh… semangat sekali dia! Setelah 10 menit bergulat menggantikan baju pada bocah aktif itu, Daffa akhirnya tertawa senang ketika pada akhirnya ia sudah rapi dan bisa duduk di sepeda. Siap menuju tepi lapangan bola tempat acara pawai start dan finish.

“Eh, topinya beluum!” teriak ibu sambil bergegas masuk kembali ke dalam rumah.

“Kita tunggu topi dulu ya.” ucap saya pada Daffa yang duduk anteng di sepeda.

Daffa menyahut dengan potongan kata-katanya, “pi.. Pi..” sambil memegangi kepalanya. Eh, tumben ia bersedia menunggu untuk topi. Biasanya baru pakai topi 5 detik langsung dilempar karena tak betah.

wpid-2014-08-17-10-00-05

Setelah (sepertinya) mengobrak-abrik lemari, ibu memakaikan topi pada Daffa. Ia melambaikan tangan saat kami berangkat.

Begitu tiba di lapangan, ternyata rombongan sepeda hias untuk kategori balita, TK dan SD kelas 1-2 belum dimulai. Oalaah jadi yang tadi kategori anak yang lebih besar toh.

Saya yang tadinya hanya minggir di tepi lapangan, pada akhirnya mendorong sepeda Daffa mendekati garis start saat ada beberapa balita dengan orangtuanya yang juga baru datang. Berhubung arah start-nya menghadap kami dan susah lewatnya maka kami yang baru datang malah ada di posisi paling depan.

wpid-2014-08-17-10.08.37.jpg

Daffa celingukan menatap sekelilingnya yang ramai. Ia tetap duduk di sepeda tapi tak berceloteh apa-apa. Begitu saya mundur beberapa langkah untuk mengambil foto, Daffa turun dari sepeda, merengek sambil berpegangan pada saya. Hoaah sepertinya ia malu karena ramai orang di lomba pertamanya ini.

Saya membujuknya kembali untuk duduk di sepeda, Daffa bersedia tapi tak rela saya beranjak jauh darinya. Maka ia duduk di sepeda sambil memegangi tangan saya. Hihi nervous nih si Mas Daffa.

wpid-2014-08-17-10-08-49 (1)

Panitia mengumumkan aba-aba bahwa kami akan start lomba sebentar lagi. Untuk kategori ini kami hanya akan melewati rute memutari lapangan bola, tidak jauh melewati perumahan seperti anak yang lebih besar tadi. Ini berarti kami juga tidak akan lewat di depan rumah dan dadah-dadah pada ayah dan ibu.

1…2… 3… Mulai!

Saya mendorong sepeda Daffa di barisan paling depan. Ia duduk dengan tenang di bangkunya mengamati peserta lain yang sepedanya dihias tak kalah seru. Namun begitu tiba di tikungan pertama saya berhenti, menatapnya dan bertanya, “Daffa mau ikut muter lapangan atau tunggu sini aja?” dua kali ditanya dan ia tak menyahut. Sepertinya bingung mau jawab apa. Saya bertanya dulu karena takut di tengah jalan ia mogok naik sepeda dan malah minta gendong. Bisa gawat kalo kaya gitu XD.

Baiklah. Semoga ia tak minta gendong! Bismillah saya mendorong sepeda kembali, kami sudah tak berada di barisan paling depan lagi karena tertinggal. Sisi kanan kami dilewati peserta SD ciliik-cilik dengan sepeda roda duanya. Ah, dulu saya ada di posisi mereka. Time flies so fast :’).

Dari belakang, saya tak bisa melihat raut wajah Daffa saat itu. Tapi saya menduga ia senang hingga rela tak melepas topinya!

Di tikungan, sepatu kiri seorang anak terlepas dan ia baru bisa mengerem sepeda beberapa jarak setelahnya. Saya berhenti mendorong sepeda Daffa untuk mengambilkan sepatu dan menyerahkannya. Si anak tersipu malu sambil berucap terima kasih.

Saya dan Daffa semakin tertinggal di belakang. Ah tak apalah. Toh bukan lomba cepat- cepat. Ketika mendekati garis finish saya melambaikan tangan pada sosok di tepi lapangan.

“Daff, bunda pulang tuh!” seru saya. Kakak saya berdiri di ujung lapangan, masih mengenakan seragam kantor, dan dadah-dadah girang pada kami.

Saya dan Daffa akhirnya tiba di garis finish lalu kami memarkirkan sepeda agar para juri bisa menilai. Setelah itu kupon makanan ditukarkan sementara saya haus luar biasa sambil duduk di bawah pohon. Daffa tak perduli pada sengatan matahari siang itu dan berlari ke tengah lapangan bola mengikuti anak-anak lain. Ia senang sekali pada anak-anak yang berlari dan bermain.

Sambil menunggu panitia mengumumkan hasil lomba, saya duduk di samping kakak dan beberapa orangtua lain di tepi lapangan. Kami tentu tak berani menaruh harapan menang haha yang penting ikutan. Tapi saya senang sekali karena selain merasa girang karena nostalgia masa kecil rasanya saya juga mau bersorak karena Daffa berhasil duduk di sepeda dan mengikuti pawai mulai start hingga finish sambil tetap pula mau mengenakan topi :’).

Salam 17-an dari Mamah, Daffa, dan dede di perut!

wpid-2014-08-17-10-46-19 (1)
Agustus, 2014
wpid-wp-1408367742723 (1)
Agustus, (sekitar tahun) 1992

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *