Babymoon ka Bandung

wpid-img_20140827_230523.jpg
Babymoon kok rame-rame?

Bandung memang kerap memiliki magnet sebagai sebuah kota yang layak dikunjungi meski kota ini (dari yang saya baca katanya) tidak memiliki sumber daya alam. Tak heran jika kota kembang ini terpilih sebagai salah satu kota terbaik dalam the best cities for business 2014 menurut majalah SWA (Agustus 2014). Tak terkecuali juga untuk ke sekian kalinya menarik saya. Maklum, lokasinya memang cukup mudah dijangkau dari Jakarta.

Maka, Bandung pun sudah menjadi incaran saya dan Abang sebagai agenda babymoon kami saat kehamilan saya menginjak usia enam bulan di bulan September. Dan sejak bulan Juli kami pun menyusun itinerary atas perjalanan yang beberapa kali tertunda ini.

Tak disangka, saat kawan-kawan terdekat mengadakan buka puasa bersama saat ramadhan lalu, tempat yang menjadi incaran salah satunya adalah Bandung juga! (Mereka yang dimaksud adalah Rima, Nurul, Shella, Alfan, dan Kelik). Sebenarnya saat itu kami memang merencanakan agenda traveling bersama namun hanya tanggal yang sudah ditetapkan, tujuan masih samar-samar. Antara Bogor, Cipanas, atau Bandung.

Tempat yang menjadi tujuan ini masih harus dipertimbangkan mengingat ada ibu hamil (alias saya) dan juga bayi Shella dan Alfan yang berusia 7 bulan alias Sabeeh di antara kami. Maka pilihan lokasi haruslah yang ramah untuk semuanya.

Saya tak ambil pusing atau merasa terancam dengan rencana bersama Abang antara babymoon berdua bertiga saja atau bertujuh jika memang saya dan kawan-kawan jadi bepergian. Bedanya hanyalah jika pergi bertiga saja tentu saya dan Abang berencana menempuhnya dengan kereta api ke Bandung dan selama di kota tersebut kami memasrahkan diri pada angkutan umum. Saya toh senang saja karena belum kesampaian ke Bandung dengan kereta api. Sementara jika pergi bertujuh bersama kawan-kawan, tentunya salah satu dari kami akan meminjam mobil.

Sambil menunggu kepastian keberangkatan dan fiksasi tujuan dari kawan-kawan, saya tetap menyusun itinerary berdua Abang yang ternyata tidak mudah mengingat kami harus mempertimbangkan rute dan jalur angkot yang searah dan tidak bisa serta merta menetapkan ingin ke sini dan ke situ sesuka hati karena letaknya di posisi yang berlawanan. Juga ditambah dengan harus mempertimbangkan kondisi saya dan kandungan supaya tidak lekas lelah.

Setelah berhari-hari melotot dan menapaki peta Bandung secara saksama di layar komputer dan menetapkan jalur petualangan kami bertiga (saya, Abang, dan dede di perut maksudnya), diskusi kawan-kawan pun juga menemui titik temu yaitu berujung pada kepastian tanggal dan tujuan menjelajah Bandung. Pinjaman mobil yang awalnya mengalami kebuntuan karena mobil Rima rencananya akan dipakai sang Mamah ke Sukabumi tiba-tiba berubah menjadi memungkinkan untuk dipinjam. Saya dan Abang rencananya akan ke Bandung sekitar 6-7 September, sementara kawan-kawan menetapkan tanggal 23-24 Agustus 2014.

Ya sudah babymoon ramai-ramai saja sekalian!

Jadi ke mana saja tujuan kami?

Saya didaulat menyusun arah dan tujuan ke Bandung, sementara Nurul mengurus penginapan. Berhubung itin bersama Abang sudah selesai dibuat maka saya tinggal mengganti beberapa tujuan dan menghilangkan rute angkot. Sayangnya saya malah lupa membagikan susunan itin tersebut melalui email. Maka jadilah sampai tiba hari H keberangkatan, kawan-kawan saya protes karena mereka nggak tahu mau ke mana aja.

Hayaaah! Maapkeun bumil ini ya!

1. Dusun Bambu Family Leisure Park

DSC_1250Terletak di Jl. Kol. Masturi, Lembang, tempat rekreasi ini baru dibuka Februari 2014 lalu. Di dalamnya terdapat penginapan, restoran, kafe, pembelian sovenir dan oleh-oleh, serta taman bermain.

Penginapan di tempat ini (bagi saya) ratenya terlalu tinggi hehe jadinya kami hanya main saja ke sana.

Jika hanya ingin datang saja, pengunjung dikenakan biaya Rp 15.000 per orang. Karena letaknya di Lembang yang notabene dataran tinggi, maka udara di tempat ini pun terbilang sejuk. Dari tempat parkir kita akan menaiki mobil yang sudah disediakan oleh pengelola tempat. Setelah itu bebas menjelajah ke mana.

Tempat yang cukup unik dan sering menjadi lokasi favorit di sini adalah tempat makan yang bentuknya seperti sarang burung dan berlokasi di sisi kiri atau kanan jalan setapak yang terbuat dari jembatan kayu. Tapi untuk bisa menempati lokasi bird nest tersebut harus booking dulu yau. Berhubung kami nggak booking, jadi ya telusuri jalan kayu itu dan foto-foto saja.

Dan semakin siang tempat ini semakiiiiin ramai! Kalau mau ke sini dan ingin dapat spot sepi, usahakan datang pagi-pagi yaa!

2. Lawang Wangi Art and Creative Space

Lawang Wangi Art and Creative Space terletak di Jl. Dago Giri No. 99, Dago Pakar. Tempat ini awalnya merupakan gallery yang didirikan oleh doktor bidang fisika matematis bernama Andonowati pada tahun 2010 (Almanak Seni Rupa Indonesia, 2012). Bagian atas bangunan merupakan restoran, sementara gallery terletak di lantai bawah.

Serupa dengan Dusun Bambu, Lawang Wangi pun juga terkenal dengan spot terbaiknya di lantai atas dengan pemandangan yang oke punya, terutama saat menjelang sunset. Tapi berhubung restoran ini pun seringkali penuh dan katanya kalau kesorean bisa waiting list, maka kami berkunjung ke sana pada siang hari. Yang ternyata malah berakibat kepanasaaan haha. Tempat bagian dalam yang teduh ternyata pun sudah banyak di-booking oleh rombongan lain yang (sepertinya) lagi reuni atau arisan dan katanya datang jauh-jauh dari Jawa Tengah :O.

Minuman yang saya pesan (tapi lupa namanya) ini enak. Pokoknya campuran buah gitu dan ada nama sunset-sunset-nya :p.

wpid-img_20140824_115918.jpg

wpid-img_20140901_222952.jpg

Saran: Jika tidak ingin kepanasan seperti kami hindari datang siang hari. Datang pada sore hari tapi usahakan booking tempat yaa..

wpid-c360_2014-08-24-12-46-08-936-1.jpg3. Bandung culinary night.

wpid-img_20140823_201026.jpgYang ini sebenarnya nggak direncanakan. Gara-gara baca twit Kang Emil waktu lagi nyemil di daerah Cisangkuy tentang culinary night. Bandung culinary night kabarnya digelar setiap malam minggu oleh setiap kecamatan di Bandung. Dan menurut Kelik yang terdekat dan mudah dijangkau terletak di Andir.

Kami mencari-cari dan menelusuri Jl. Andir, tanya sana-tanya sini dan kok pada nggak tahu ya? Begitu akhirnya tiba di Andir, jalanan yang diapit gedung tersebut kosong melompong dengan penerangan jalan seadanya dan beberapa gerobak parkir. Hey, mana kulinernya?

Setelah berputar lebih dari 3 kali, terlihatlah sebuah baliho besar bertuliskan “Andir Culinary Night. 30 Agustus 2014.” Jreeng, sekarang kan tanggal 23 Agustus! Kenapa teh tadi Kang Emil nge-twit culinary nite ada tulisan Andirnya??

Akhirnya dari situ kami menuju tempat kuliner di satu tempat lagi, yaitu Cibadak Culinary Night, yang ternyata ruameeenyaaaa ampun-ampun. Ujung-ujungnya karena sudah lelah dan kekenyangan, kami cuma jalan-jalan di antara kerumunan orang dan beli cemilan yang bisa dibeli tanpa antri. Tapi hampir 90%nya sih ngantriii! Ya iyalah, namanya juga culinary night!

^^^^^^^^^

wpid-img_20140824_055951.jpgPerjalanan babymoon di Bandung ini singkat saja sebenarnya, hanya dua hari (dan kebanyakan kuliner) tapi berhubung sudah lama kami nggak traveling bersama macam begini rasanya bersyukur sekali :’).

Terima kasih kepada Allah SWT yang sudah memungkinkan perjalanan ini terwujud, untuk orangtua Rima yang meminjamkan mobilnya, untuk orangtua kami masing-masing yang mendoakan perjalanan kami, juga terima kasih untuk Fasya yang tulisan-tulisan di blognya menjadi rujukan tempat-tempat wisata dan kuliner di Bandung yang bisa dikunjungi :D.

Dan untuk kawan seperjalanan,

thanks for the babymoon time!

wpid-img1410182627802.jpgwpid-c360_2014-08-23-10-05-09-988.jpg

14 thoughts on “Babymoon ka Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *