Cek kehamilan lagi (edisi mencoba BPJS)

19 November 2014

Semua berkas untuk membuat kartu keluarga yang baru sudah lengkap seminggu lalu. KTP saya juga sudah berganti dengan yang terbaru. Maka saya dan Abang pun sudah bisa mencetak kartu BPJS dan niatnya hari ini kami akan mulai menggunakannya untuk kontrol kehamilan saya. Sekalian bertanya dan meminta surat rujukan untuk keperluan di RS Harapan Kita.

Seperti yang sudah diketahui, untuk bisa menggunakan kartu BPJS di RS, kita harus melalui tahapan fasilitas kesehatan tingkat 1 dulu, lalu ke tingkat daerah. Intinya adalah jika masih bisa ditangani di tingkat 1 maka tidak perlu merujuk ke RS. Dan sebaliknya, jika ada komplikasi atau kebutuhan yang tidak bisa ditangani di tingkat 1 maka harus merujuk ke RS yang memang sudah bekerja sama dengan fasilitas BPJS.

Berhubung waktu cerita sebelumnya saya sempat tidak direkomendasikan untuk melahirkan di RS yang tidak ada dokter jantungnya karena riwayat MVP, maka kami berpikir untuk meminta surat rujukan agar bisa menggunakan fasilitas BPJS di RS Harapan Kita yang juga bekerja sama dengan BPJS. Maka hari ini saya dan Abang pun menuju puskesmas tingkat kelurahan.

Kami datang pukul 7 pagi dan saat itu puskesmas sudah berisi beberapa warga yang sudah duduk di ruang tunggu meskipun petugas belum datang. Loket baru akan dibuka pukul 1/2 8 nantinya. Oh ya, di puskesmas ini wajib lepas alas kaki sebelum masuk supaya lantainya tetap bersih.

wpid-p_20141119_091011_hdr_1.jpg

Kami celingukan karena belum mengerti alur pendaftarannya. Diberi tahu seorang ibu, kami pun mengambil kartu nomor antrian (seperti yang ada di bank) berkode KIA. Saya tebak sih KIA ini singkatan dari Klinik Ibu dan Anak. Karena yang hamil saya aja, sementara warga lain rata-rata mengambil nomor antrian untuk poli umum atau gigi maka saya mendapat jatah no.1. Kartu tersebut di-klip bersama dengan fotocopy kartu BPJS saya lalu ditumpuk di kotak keranjang kecil di loket untuk nantinya dipanggil.

Satu per satu petugas berseragam cokelat mulai berdatangan dan hilir mudik bersiap bekerja.

Sekitar pukul 07.30 petugas mulai memanggil pasien. Saat giliran saya dipanggil, petugas menjelaskan bahwa seharusnya jika ingin menggunakan kartu BPJS ini saya pergi ke puskesmas kecamatan dan bukannya kelurahan. Alasannya? Karena fasilitas kesehatan yang tertera di kartu BPJS saya adalah kecamatan. Waduuh! Saya pikir sama saja, toh yang terpenting puskesmas ini masuk dalam wilayah alamat rumah saya. Ternyata semua harus sesuai dengan data di kartu. Namun saat itu petugas berkata bahwa untuk sekali ini (dan pertama) saya tetap akan dilayani tapi selanjutnya saya harus menuju puskesmas kecamatan atau jika ingin tetap di puskesmas kelurahan yang notabene dekat dari rumah ini maka kami harus mengganti data lagi dan otomatis mencetak kartu lagi dengan fasilitas kesehatan tingkat kelurahan.

Yo wis, syukur masih bisa dilayani ya jadi kami nggak harus langsung cabut pindah ke puskesmas kecamatan di dekat Ragunan sana. Saya pun lantas disuruh menunggu di depan ruangan ibu dan anak.

wpid-p_20141119_074044_hdr.jpg

 

Ibu yang berpraktek sebagai bidan rupanya masih hilir mudik sehingga kami harus menunggu terlebih dulu. Sambil menunggu kami ikut mendengarkan dokter puskesmas yang sedang aktif memberikan info dan mengingatkan pasien di ruang tunggu terkait waspada demam berdarah. Ia mengingatkan untuk membaca banner tentang DBD yang ada di depan loket tersebut.

Sekitar 20 menit kemudian barulah kami masuk ke ruangan periksa. Nah, saat pemeriksaan itulah ibu bidan agak gimanaaa gitu melihat saya yang ujug-ujug datang saat perut sudah besar hehe. Jadi menurutnya seharusnya dari kemarin-kemarin saya periksa aja di situ supaya datanya tercatat. Oalah.. saya pikir harus menunggu kartu BPJS jadi dulu.

Di situ saya diperiksa LILA alias lingkar lengan yang katanya ibu bidan kurang bangeeets alias terlalu kurus. Ah, itu mah dari dulu hehe. Lalu diperiksa berat badan, ditanya riwayat penyakit, dan diminta perlihatkan buku kehamilan dari RS sebelumnya. Saya juga memerlihatkan hasil echo alias USG terbaru bulan lalu dan bercerita tentang riwayat MVP saya dan meminta surat rujukan.

Ibu bidan memeriksa kandungan saya, perutnya digoyang-goyang gitu trus diukur pakai semacam meteran jahit. Ia lalu mengeluarkan USG portable dan terdengarlah suara detak jantung si dede. Waah pantas tadi intip-intip ruangan nggak ada alat USG, ternyata alatnya portable. Emang sih nggak ada layarnya jadi kita nggak bisa dadah-dadah sama dede tapi lumayan lah :p.

Naah, kami memang bersyukur hasil echo MVP menunjukkan tanda normal dan tidak ada gangguan. Masalahnya adalah ya ibu bidan berpendapat mereka nggak bisa kasih rujukan karena hasilnya normal. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa kalau normal atau tidak ada kasus khusus ya tidak perlu rujukan ke RS, atau dengan kata lain ya lahiran saja di situ.

Tapi tapi tapi.. bukannya selama ini saya bolak-balik ke RS Harapan Kita kan karena dokter di RS sebelumnya bilang kalo saya nggak bisa lahiran di tempat yang tidak ada dokter jantungnya. Dan itu (menurutnya lagi) berdasarkan peraturan baru mengenai dokter kandungan, bahkan meski MVP saya sudah berstatus riwayat saja alias jantung saya saat ini sudah bersih.

Haduuh, lalieur euy…

Ibu bidan lalu berkata lagi, “Sebentar ya saya kasih lihat hasil-hasil ini ke pak dokter. Tapi saya nggak janji beliau mau kasi surat rujukan ke RS karena semua hasilnya normal dan baik.”

Baiklah. Saya pun menunggu dan tak lama dipanggil ke ruangan pak dokter. Yup, dan benar saja beliau awalnya tidak merekomendasikan rujukan ke RS. Ia bahkan berkata kalau MVP itu tidak mungkin menutup jadi justru jangan-jangan ada kesalahan diagnosa mengenai MVP saya saat tahun 2007 lalu?

Saya lalu jelaskan bahwa dari awal dokter memang berkata bahwa ini adalah MVP jantung ringan, tak sampai bocor, dan bahwa kemungkinan sejak evaluasi tahun 2013 lalu organ-organnya membaik sehingga bisa dinyatakan clear. Saya juga menguraikan alasan bahwa medical record saya ada di RS Harapan Kita sehingga akhirnya memutuskan untuk pindah ke situ.

Pak dokter menimbang-nimbang dan saya sih nggak maksa juga buat bikin surat rujukan, tapi lalu beliau menuliskan surat rujukan untuk ke RS Fatmawati.

Nah, PR selanjutnya jika kami tetap ingin kontrol kehamilan di RS Harapan Kita dengan menggunakan BPJS maka kami setelah ini harus ke RS Fatmawati dan meminta surat rujukan lagi di sana.

Masalahnya, saya jadi maju mundur (nggak cantik) karena takut ditolak haha. Mau nggak lanjutin proses BPJS ini sayang, tapi kalo dilanjutin takut ditolak surat rujukannya. Terus tambah manyun gara-gara sore tadi Abang dikasi tahu suruh ikut diklat mulai besok sampe tanggal 1 Desember. Ini berarti ia nggak bisa izin kerja dan menemani saya ke RS dan saya harus menjelaskan segala urusan rujukan dan per-BPJS ini sendirian huaaa…. T.T

^^^^^^^^^^^^^^

Catatan bagi yang ingin periksa (khususnya kehamilan) dengan BPJS:

1. Sebelum ke fasilitas kesehatan tingkat 1 atau yang selanjutnya jangan lupa fotocopy dulu kartu BPJS atau minimal KTPnya. Jaga-jaga kalo diminta dan nggak ribet cari-cari tukang fotocopy.

2. Perlu diingat kalau mau melahirkan di RS dengan BPJS maka tidak bisa pilih dokter. Dokter akan ditentukan RS dan kabarnya bersifat tim. Fasilitasnya juga bisa pindah. Misalnya jika selama ini saya di klinik anyelir RS Harapan Kita, maka jika saya menggunakan BPJS saya harus pindah kontrol ke klinik flamboyan dan tidak bisa pilih dokter.

3. Saya dengar ada RS yang secara penuh meng-cover biaya persalinan (baik normal maupun caesar), tapi di RS Harapan Kita hanya persalinan caesar dengan indikasi khusus yang ditanggung. Persalinan normal kabarnya tidak ditanggung. Jadi rajin-rajin tanya ke CSnya aja yaa supaya nggak bingung.

4. Kalau mau periksa kehamilan di fasilitas kesehatan tingkat 1 macam puskesmas lebih baik dari awal kehamilan atau jangan ujug-ujug kaya saya yang udah 8 bulan hehehehe. Supaya paling tidak ada medical record-nya.

Ibu bidan di puskesmas kelurahan tadi sih cukup aktif menjelaskan mengenai kehamilan, gizi, olahraga, dan sebagainya. Tapi secara umum ya, nggak secara khusus. Ia juga memberi buku pegangan yang bisa digunakan hingga nanti berkaitan dengan kesehatan sang anak yang sudah masuk usia sekian. Di dalam bukunya ada info seputar kehamilan dan kesehatan ibu dan anak.

wpid-p_20141119_135056.jpg

wpid-p_20141119_135232.jpg

Selain itu juga diberikan stiker ibu hamil yang katanya harus ditempelkan di depan rumah. Tujuannya agar para tetangga atau ketua RT tahu dan ikut berjaga-jaga semisal ada kondisi darurat dengan ibu hamil.

5. Perhatikan yang tertera di kartu BPJS, apakah fasilitas kelurahan atau kecamatan. Jangan sampai salah kaya kami hehe.

Segitu dulu ya infonya, kalo ada nanti saya tambahin lagi. Sekarang mau mikir dulu kapan ke RSnya dan minta surat rujukan.

8 thoughts on “Cek kehamilan lagi (edisi mencoba BPJS)

  • March 10, 2015 at 3:20 pm
    Permalink

    udah lahiran belum buw?? mau numpang nanya nih, kalo fakes tingkat 1 saya bukan puskesmas bagaimana ya? lebih tepatnya fakes tk1 saya adalah Dokter Umum. apakah tetap dilayani ya? Tp kalo dilayani masak dokter umumau periksa kandungan? makasih.

    Reply
    • March 10, 2015 at 3:43 pm
      Permalink

      Setahu saya faskes tingkat 1 sdh pasti masih dokter umum mbak. Kalau memang perlu ada kasus tertentu baru dirujuk ke RS dgn surat dr dokter umum tsb seperti pada kasus saya. Tapi kalau tidak berarti di bidan saja jika mau ttp dgn BPJS. Semoga membantu ya

      Reply
  • June 6, 2015 at 4:56 pm
    Permalink

    Faskes tingkt 1 saya dokter umum bu.. mw minta rujukan buat periksa kedokter kndungan g dikasih… periksa ke bidan bayar.. jd percuma deh punya bpjs

    Reply
    • June 6, 2015 at 5:01 pm
      Permalink

      Lho kalo sdh ketahuan hamil kan bisa langsung ke dokter kandungan, ga ke dokter umum. Kalo mau periksa ke bidan di puskesmas tingkat BPJSnya saja. Saya gratis kok waktu itu, nanti baru dikasi rujukan kalo memang ada masalah kesehatan. Tapi kalau tdk ya dgn BPJS bisa di bidan saja.

      Reply
    • June 6, 2015 at 6:59 pm
      Permalink

      Lho kalo sdh ketahuan hamil kan bisa langsung ke dokter kandungan, ga ke dokter umum. Kalo mau periksa ke bidan di puskesmas tingkat BPJSnya saja. Saya gratis kok waktu itu, nanti baru dikasi rujukan kalo memang ada masalah kesehatan. Kalau tdk ada masalah tapi ingin pakai BPJS berarti di bidan puskesmas saja. (Puskesmas kelurahan atau kecamatan tergantung BPJS mbak ya)

      Reply
  • December 23, 2015 at 12:57 pm
    Permalink

    usia kandungan brp yg boleh minta rujukan? soalnya wkt saya hamil 4 bulan, suami saya minta rujukan ke dokter keluarga ga dikasih, katanya rujukan itu baru bisa diberikan ketika usia kehamilan sudah menginjak 8 bulan.

    Reply
    • December 31, 2015 at 1:23 pm
      Permalink

      Rujukan dokter jantung atau rujukan bidan puskesmas ya? Kalau dokter jantung nggak ada batasnya. Begitu pindah dokter pas 4 bulan langsung disuruh minta rujukan ke dokter jantung. Kalo bidan puskesmas ngasi tahu harusnya saya datang sejak kehamilan usia dini, mbak.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *