Dari menit ke menit persalinan (2)

21 Desember 2014. 00.30

Saya kembali lagi ke ruang yang serupa seperti dua hari lalu, hanya saja nomor kamarnya berbeda. Awalnya kami pikir ini ruang observasi sementara, ternyata di sinilah setiap ibu yang bersalin ditangani. Fiuh..mungkin ada bagusnya juga kemarin saya sempat sudah menginap, supaya akrab dulu sama ruangan sehingga (semoga) saat bersalin nanti tak terlalu tegang.

Pukul satu dini hari dan saya sudah bukaan 5. Rasa sakit kontraksi masih terus berlangsung. Ingin rasanya duduk di gym ball lagi tapi katanya saya juga harus tidur dulu untuk menyimpan energi nanti saat bersalin. Maka saya pun berusaha untuk tidur.

Pukul lima pagi perawat kembali mengecek, namun sayangnya pembukaan masih sama seperti empat jam lalu. Tetap bukaan 5.

Pukul 05.30 perawat datang bersama dokter jaga. Kata-katanya mengejutkan kami karena ia berkata pembukaan tidak bertambah sehingga saya punya 2 pilihan: induksi atau caesar.

Wait, what?!!

Saya menjawab bahwa bukankah ketuban masih utuh? Tidak bisakah ditunggu hingga nanti?

Rupanya dokter jaga berpatokan pada prosedur, bahwa tidak bisa membiarkan saya begitu saja setelah sekian jam karena nantinya malah dianggap menelantarkan pasien. Ouch, saya tak mau kedua pilihan itu. Saya ingin berlangsung alamiah. Kami mencoba bernegosiasi dengan dokter tapi hasilnya nihil. Maka kami meminta waktu sekitar 10 menit untuk berpikir berdebat bahwa saya tak mau keduanya. Ibu dan ayah pun gusar pada saya yang keras kepala. Mereka berpendapat bahwa seharusnya saya menurut saja pada pilihan pertama, yaitu induksi. Tapi saya menolak dan memilih berpikir dulu. Saya sudah sampai sejauh ini; latihan jalan kaki setiap hari, renang bahkan sejak awal kehamilan, pre natal yoga, dan kemarin gym ball serta relaksasi. Kenapa kedua pilihan itu yang berpihak pada saya?! Kenapa bukan yang alami?

Dari cermin saya bisa melihat ayah dan ibu yang berdiskusi tentang betapa keras kepalanya saya. Dan bahwa saya mengulur waktu berharga. Saya menoleh pada Abang, ia menyerahkan pilihan sepenuhnya pada saya. Ini kehamilan saya dan sayalah yang menentukan pilihan.

Saya lalu ingat ucapan seseorang saat pelatihan prenatal yoga bersama komunitas Gentle Birth minggu lalu. Bahwa gentle birth alias persalinan ramah jiwa dan minim trauma bukan berarti sepenuhnya menghindari intervensi medis. Karena bahkan ada juga persalinan normal tapi menimbulkan trauma bagi sang ibu. Pada kondisi tertentu, intervensi medis tetap dibutuhkan.

Bismillah, baiklah induksi. Kata saya akhirnya, meskipun masih berat hati. Segala rencana persalinan memang bisa dalam sekejap berubah. Setidaknya saya sudah berusaha sebisanya. Semoga nantinya lancar sehingga masih memungkinkan normal.

Pergantian shift perawat dan dokter jaga rupanya membuat tindakan sempat tertunda. Dan saya bersyukur karenanya induksi pun tertunda.

“Sabar ya bu, dokternya lagi caesar. Diinfus dulu saja untuk energi.”

Sambil menunggu, saya kembali duduk di gym ball, berusaha melupakan kata-kata di telepon dari saudara Ummi Abang. Ummi yang awalnya juga mendukung induksi rupanya salah info. Suara di seberang telepon sana bukan mengabarkan tentang nasib yang sama karena induksi, tapi sang kakak yang awalnya juga susah pembukaan lalu menerapkan gym ball untuk melancarkan. Satu hal yang memang sudah saya lakukan. “Kalau bisa jangan induksi dulu.” Tambahnya lagj. Lalu telepon terputus dan saya tak mau lagi mendengar apa-apa karena 5 menit yang lalu kami sudah tanda tangan memilih induksi. Hhh…

Dan dimulailah menit demi menit kontraksi yang lebih dahsyat dari sebelumnya. Kali ini ditambah dorongan kuat dari dalam untuk mengejan.

“Nanti, Bu. Jangan dorong sekarang. Jangan dituruti untuk mengejan. Soalnya pembukaan belum 10, nanti mulut rahimnya malah menebal lagi.”

Alamaak, macam mana lagi ini?! Sudah mau ngejan tapi nggak boleh! Kemarin Mbak Prita juga sempat berkata tentang dorongan mengejan sebelum waktunya ini, tapi saya nggak nyangka rasanya bisa sekuat ini.

Awalnya saya bisa menurut dan meniru perawat untuk bernafas sambil membentuk gerakan seperti meniup saja alih-alih mengejan. Tapi lama kelamaan saya nggak kuat dan malah menuruti ajakan dede dalam perut untuk mengejan.

Setiap kontraksi datang saya meremas tangan Abang untuk menghindari dorongan kuat dari dalam perut. Syukur saat itu saya masih bisa ingat tentang pelajaran relaks dalam prenatal yoga meski kenyataannya memang susah dipraktikan. Setidaknya saya tak mencakar-cakar Abang yang terus menerus mengingatkan bahwa saya belum boleh mengejan. Perawat datang dan kembali mengecek. Bukaan 7.

“Dikit lagi yah. Nanti aja ngedennya.” Katanya berulang-ulang.

Semakin siang saya semakin tak bisa menahan. Ketika Abang kabur ke toilet, gantian saya meremas tangan Ummi. Ibu saya? Sudah kabur sejak tadi pagi. Ia lemas melihat saya dengan segala kontraksi. Kabarnya ibu duduk dekat ruang perawat dan tambah lemas karena pasien di sebelah ruangan saya berteriak-teriak. Ibu pun menyingkir dari lorong bersalin.

Pukul 10.30 saya tak bisa sama sekali menahan dorongan dari perut. Saya malah mengejan kuat sekali lalu ada sesuatu yang keluar! Saya pikir itu bayi! Ternyata ketuban pecah! Abang berteriak memanggil perawat. Syukur setelah dicek, pembukaan sudah lengkap. Sepuluh. Dokter pun sudah tiba. Alhamdulillah.

Satu orang dokter, dua perawat, satu perawat bayi, ditambah Abang di dalam ruangan. Semua bersiap, begitu juga saya. Surat Al Insyirah kembali saya baca dalam hati. “Bersama kesulitan ada kemudahan.” Perawat mengukur detak jantung dede. Ini tentu penting sekali dicek setiap beberapa menit karena ketuban sudah pecah.

Saya meminta Abang menegakkan tempat tidur sehingga posisi saya seperti sedang duduk. Dalam gentle birth sebenarnya ada berbagai posisi melahirkan. Berdasarkan naluri saya merasa sepertinya akan lebih lega jika saya jongkok saja tapi tak yakin dokter mengizinkan. Maka posisi seperti duduk rasanya sudah cukup, setidaknya tulang belakang saya disangga oleh sandaran tempat tidur.

“Kalau mulai mulas banget, dorong yang kuat. Konsentrasi fokus matanya ke perut.” Kata dokter.

Saat mulas datang saya mencoba mengejan tapi rupanya kurang kuat. Entah berapa kali selanjutnya saya salah mengejan. Dokter pun kemudian memutuskan mengeluarkan air seni dengan kateter terlebih dulu. Rupanya itu turut pula menghalangi kelancaran persalinan. Ketahuan deh dari tadi saya nahan pipis. Ribet euy mau ke toilet dengan segala selang infus, oksigen di hidung, dan rekam jantung di jari.

Dokter menyuruh saya merubah posisi menjadi miring. Siapa tahu lebih mudah, sayangnya dorongan masih juga belum kuat.

Abang meminta izin memutar audio afirmasi positif persalinan dari ponselnya. Saya meminum air, berkonsentrasi mendengarkan audio, lalu fokus pada perut. Ketika rasa mulas datang saya kembali mendorong sekuatnya.

“Kepalanya kelihatan sedikit!” Ucap Abang. Kalimat berikutnya ia ucapkan sambil bergetar. Tapi dorongan masih belum cukup. Menit demi menit berlalu dengan sisa tenaga yang semoga masih cukup. Beberapa kali saya salah mengejan. Hingga akhirnya rasa mulas kembali datang dan saya menarik nafas lalu mendorong dengan sekuat tenaga. Mengajak tubuh dengan segala otot, syaraf, tulang dan aliran darah untuk bekerja sama mengeluarkan sang bayi.

“Terus, Bu! Terus, bu!” Perawat sejak tadi menyemangati saya. Tangan Abang saya remas sekuat hati hingga kemudian ada yang benar-benar keluar meluncur dari mulut rahim!

Lalu suara tangis bayi terdengar. “Alhamdulillah.. kamu bisa..” Abang bergetar dalam setiap suara yang dikeluarkan, ia menangis. Sementara saya tak sanggup menjawab apa-apa. Hanya menatap dede yang masih berada di tempat tidur dekat kaki saya. Perawat bayi langsung membawanya ke tempat yang sudah disiapkan sambil Abang mengumandangkan adzan di telinga dede. Tak berapa lama dede ditelungkupkan di dada saya, untuk IMD alias Inisiasi Menyusu Dini.

Masih dengan segala lemak dan kotoran yang menempel di badan dan rambutnya, selama sekitar setengah jam ia merayap-rayap perlahan. Saya menyentuh pipinya, tangannya, kakinya. Setiap inchi dirinya yang berasal dari diri saya. Setiap keajaiban yang terpancar dari matanya bahwa tak ada yang tak mungkin dari Sang Maha Pencipta. Satu sel yang menjelma menjadi dua belas juta sel dalam 38 minggu.

I realize then, soon after this time all my life change..

Dan bahwa perjuangan melahirkan itu belum selesai. Karena perjuangan selanjutnya baru dimulai.

image

~ selesai ditulis 21 Januari 2015. 1 bulan usianya

0 thoughts on “Dari menit ke menit persalinan (2)

  • January 21, 2015 at 9:21 pm
    Permalink

    Subhanallah … Aku berkaca-kaca bacanya, bayangin aku nantinya ._. *ehh
    Sekali lagi selamat mbak :’)

    Reply
  • January 23, 2015 at 12:29 am
    Permalink

    Subhanallah… selama ini saya selalu merinding mengenai persalinan. Tapi itu takdir wanita dan harus siap.

    Baby nya lucu, sehat terus ya..

    Reply
  • March 1, 2015 at 5:30 pm
    Permalink

    Subhanalloh, terharu bacany, selamat yaaa semoga ak jg bisa dikelahiranku yang kedua nanti, skrng msh masuk trimester pertama, lahiranku yang pertama SC dan lumayan trauma,hihiii…inspiring bgt ceritanya mirip ceritanya cuma bedanya mba berakhir normal sy berakhir SC mengikuti saran dokter pdhl saat itu sudah pembukaan 5 dan sy msh yakin bisa normal…peluk cium untuk dede bayi ^^

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *