Dari menit ke menit persalinan (1)

Semua bermula kamis tengah malam, 18 Desember 2014. Saat baru bersiap tidur saya merasa ada cairan yang keluar tapi tak yakin itu ketuban karena jumlahnya yang terlampau sedikit jika dibanding peristiwa “pecah ketuban” yang selama ini saya dengar atau baca.

Satu jam kemudian, ada cairan lagi yang keluar dan lama-lama saya nggak bisa tidur hingga akhirnya mencoba yakin kalau itu memang bukan ketuban. Pagi harinya baru kepikiran sms dokter dan dijawab singkat dengan “Periksa ke RS”. Hoaah.. langsung lah mandi dan siap-siap sementara Abang baru 10 menit lalu meninggalkan rumah menuju kantornya.

Akhirnya ke RS menembus macet pagi Jakarta sama ibu. Waktu itu nggak deg-deg-an sih, tapi sempet takut ketuban beneran keluar sementara jalanan sangat tidak bersahabat. Macet bingits, cyiin!
Abang yang baru bisa dihubungi saat sudah tiba di kantornya akhirnya malah sampai di RS lebih dulu daripada saya. (Lha, ini yang mau lahiran siapa ya sebenernya :)))

Lalu sampailah kami di IGD. Perawat langsung memeriksa tekanan darah dan suhu tubuh saya lalu kami menuju kamar bersalin di lantai 3. Hal yang ada di pikiran adalah, “Haah.. sekarang nih beneran lahirannya??”

Dokter kemudian sampai dan memeriksa denyut jantung dede. Dari layar USG ia berkata kalau ketuban masih utuh (fiuuuh…). Perawat memasang alat pengukur kontraksi dan detak jantung dede selama sekitar 30 menit. Intensitas mulas rupanya sudah meningkat sekitar setiap 5 menit sekali. Tapi ketika dicek ternyata belum ada pembukaan. Dengan berbagai pertimbangan, yaitu mules yang semakin meningkat maka saya disarankan untuk tidak pulang dulu. Sore nanti akan dicek kembali apakah ada kemajuan atau tidak.

Sambil menunggu saya berjalan bolak-balik di dalam kamar, kegel, dan berusaha berlatih nafas perut. Maunya sih jalannya lebih jauh lagi, melesat turun ke lantai bawah, beli donat. Tapi ibu bisa mencak-mencak lagipula malu juga soalnya baju bersalinnya macam sarungan gitu haha.

imageSore harinya dilakukan pengecekan pembukaan lagi dan ternyata belum ada juga, sodara-sodara! Rasanya saat itu mau pulang saja, kangen sama Daffa. Tapi mengingat kontraksi semakin sering dan dokter menyarankan untuk menginap saja di RS.

Semakin malam frekuensi kontraksi semakin menjadi-jadi. Namun Allah berbaik hati masih memberikan saya kemampuan untuk tidur di tengah kontraksi.

Ritmenya:
Kontraksi >> hilang >> tidur >> lihat jam >> kontraksi lagi >> dst begitu terus sampai pagi.
Jadi kalau ada yang tanya kecewa itu apa? Rasanya sama kaya serasa udah tidur lama lalu kebangun karena kontraksi hebat tapi begitu liat jam ternyata baru bergeser 5 menit dari sebelum tidur. Ihiks..

Jumat, 19 Desember 2014

Saya merasa perut semakin mulas. Tapi ternyata ketika diperiksa intensitasnya menurun dibanding hari sebelumnya. Semakin siang kontraksi rupanya semakin menghilang dan tetap belum ada pembukaan. Dengan begitu dokter menyarankan saya untuk pulang dulu.

Begitu turun taxi dan tiba di rumah, Daffa berseru girang melihat saya; “Mamaaaah…!!”

Hihi kangennyaaaa…

Sabtu, 20 Desember 2014

Kontraksi kembali datang. Dengan rasa mulas dan sakit yang lebih hebat dan berlipat-lipat. Saya terus memegangi tangan Abang sambil meremasnya tiap kontraksi datang. Kepala semakin pusing dan jalan pun menjadi oleng. Ummi Abang menelepon, berkata bahwa mungkin saya perlu meminta maaf secara khusus pada orangtua, baik pada Ummi maupun ibu bapak saya (meski katanya Ummi pun sudah memaafkan jika ada kesalahan) untuk semakin melancarkan persalinan. Kami lalu saling menangis di telepon, diakhiri pesan Ummi untuk shalat Dhuha dan membaca surat Maryam. Saya pun memeluk ibu sambil duduk, menangis di pinggangnya. Ibu mengusap kepala saya, berkata bahwa ini tentu bukan maksud menyulitkan saya tapi memang dedenya masih betah di dalam.

“Uti yang anaknya delapan aja, waktu hamil anak ke-5 sampai 3x bolak-balik ke RS. Ya memang dedenya belum mau keluar, karena di rahim itu nyaman. Dia harus siap dulu sebelum pindah tempat ke dunia.” Pesan ibu pada saya yang sesenggukan.

Saya lalu mengirimkan WA pada Mbak Prita dari Komunitas Gentle Birth, bertanya mengenai kontraksi. Syukur sekali, Mbak Prita yang memang sedang belajar menjadi doula (pendamping persalinan) malah menawarkan diri datang ke rumah. Aih, rezeki sekali. Apalagi ketika melihatnya datang hujan-hujan, lengkap dengan membawa gym ball. Terharu rasanya.

Mbak Prita kembali mengingatkan saya mengenai teknik nafas perut yang sudah dijelaskan pada pre natal yoga sebelumnya. Ia juga mengajarkan saya untuk duduk di gym ball dan bergerak setiap kontraksi datang. Juga mengarahkan Abang untuk membuat saya rileks. Lama kelamaan, saya bisa mengatasi diri dan menikmati di setiap kontraksi.

“Rasa sakit itu alamiah. Tandanya bagus. Berarti dedenya sedang berusaha mencari jalan keluar. Nah, kita berusaha untuk bekerja sama juga.” Katanya sambil menyodorkan cokelat dan kurma yang juga dibawanya sendiri.

Selain duduk di gym ball, Mbak Prita juga mengajarkan teknik lain yaitu Rebozo. Rebozo berasal dari bahasa Spanyol Meksiko yang berarti zelendang eh selendang atau kain. Sama dengan namanya, alat bantu pada teknik ini memang menggunakan kain. Bisa kain gendongan atau jarik. Caranya susah jelasinnya karena harus dipraktekin hihi. Pokoknya seperti di foto sebelah kanan bawah ini yaps. Semacam mengencangkan perut dengan kain (akan lebih baik kalau dibantu pasangan) setiap kontraksi datang.

image

Mbak Prita juga mengajarkan saya untuk mencatat frekuensi kontraksi serta durasinya. Oh ya, kalau istilahnya di hypnobirthing kontraksi itu disebut dengan “gelombang rahim”. Karena seperti gelombang yang datang dan pergi.

Bersyukur sekali hari itu banyak yang diperoleh dari sharing bareng. Bahwa persalinan bukan sesuatu yang menakutkan dan bukan sebuah penyakit. Rasa sakit yang datang adalah sebuah kewajaran dari efek tubuh yang sedang bekerja sama dengan dede bayi untuk mencari jalan keluar.

Malam harinya flek darah muncul lebih banyak. Abang kembali khawatir dan mengajak saya ke RS. Awalnya saya menolak, takut belum pembukaan lagi. Tapi flek yang muncul semakin banyak. Maka berdua kami membangunkan ibu dan bapak. Tengah malam kami ke RS, membawa serta persiapan bersalin termasuk juga gym ball yang dipinjamkan. Saya semakin mulas saja. Dan begitu tiba pukul 1 dini hari di RS, melewati proses IGD yang sempat membuat khawatir karena saya menggigil dan tensi darah meningkat pesat, suster mengecek pembukaan lalu berkata; “Sudah bukaan 5.”

Oh, Subhanallah

0 thoughts on “Dari menit ke menit persalinan (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *