Rutinitas dan yang (tak) terulang

*ditulis November 2014. Menjelang 32 minggu.

Setiap pekerjaan memiliki rutinitas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “rutin” memiliki arti salah satunya yaitu “prosedur yang tetap dan tidak berubah-ubah.” Atau menurut saya; sebuah kegiatan yang dilakukan terus menerus dan berulang-ulang dalam waktu tertentu.

Rutinitas bisa menjadi membosankan karena “itu lagi-itu lagi”, tapi tergantung bagaimana menyikapinya. Karena bahkan pekerjaan yang dianggap paling menyenangkan pun (setidaknya di mata saya) pastinya juga memiliki pola yang sama.

wpid-screenshot_2014-12-01-07-54-28.jpg
Pinjam status Mbah Jarody

Saya pustakawan
Saya pustakawan

Saat ini saya menjalani rutinitas setiap harinya. Bosan kah saya? Tidak. Alasan saya mengkaji ulang dan menuliskan semua ini bukan berasal dari kebosanan. Juga bukan karena terlalu idealis dan semacamnya. Tapi bertanya ulang pada diri sendiri tentang rutinitas (yang pernah juga saya uraikan di sini) menjelang dede datang. Yup, itulah bedanya.

As time of birth delivery get closer, as a matter of fact, i feel more panic and didn’t know what to say. And i’m trying to remember the step i choose into this day.

November tahun lalu saya sedang apa ya? November dua tahun lalu saya sedang di mana ya? Tiga tahun, empat tahun? Saat itu pastinya saya tidak menyangka November di tahun ini sedang dalam menghitung minggu-minggu persalinan, atau bahkan tidak menyangka sedang dalam kondisi perut gendut. Satu hal yang tidak pernah saya rasakan selama ini.

Rutinitas dan traveling

November 2008. Dini hari

Saya sedang berjingkat-jingkat berusaha menghangatkan diri di tengah kepungan suhu rendah Penanjakan. Saat itu baru saja dua hari lewat selepas seminar pra skripsi yang rasanya memusingkan. Namun kepusingan itu menghilang seiring kereta bergerak dari Jakarta menuju Malang kemarin. Dan begitu semburat warna-warni pembuka hari membentang di hadapan, saya tak punya lagi kata-kata rindu untuk diucapkan.

Negeri di atas awan
Negeri di atas awan

Semua seolah lenyap. Terhisap hipnotisme haru Semeru dan sekelilingnya. Juga langit di atas Bromo yang membuat saya tanpa sadar meninggalkan sekeping hati di sana. Berharap bisa kembali lagi. Atau setidaknya naik sedikit hingga Ranu Pane.

Mahameru, Batok, dan Bromo
Mahameru, Batok, dan Bromo

November 2009

Dengan cahaya matahari yang hangat bersinar di antara bukit hijau. Perjalanan elf yang melaju berkelok-kelok cukup membuat saya sedikit menahan nafas selama 2 jam tadi. Rute Pekanbaru-Payakumbuh dengan sensasi Kelok 44-nya cukup membuat saya patah-patah. Dan setengah jam kemudian, saya sukses termangap-mangap di hadapan tebing Lembah Harau.

Berlomba bersama awan
Berlomba bersama awan

Saya pikir saat itu saya sudah menemukan dunia saya. Dengan kamera di tangan, dengan pesan singkat dari Jakarta sana bahwa satu tulisan saya yang sudah dimuat di majalah masih harus menunggu lagi honornya. Saya menatap rindu pada Bukit Rangkak nun jauh di sana. Ingin mencapainya tapi belum ada kesempatan. Dan sama seperti Bromo, di sudut itu juga saya berharap bisa mengulangi lagi kedatangan yang sama. Dengan kamera dan kata-kata dalam genggaman.

“Kenapa nggak jadi travel writer aja? Cocok, kan? Sesuai passion-mu.” Usul seseorang saat itu. Juga suara hati yang terdengar semakin ramai. Yaitu bahwa saya mau jadi pustakawan yang bekerja di luar ruangan. Tapi,

“Blaah.. boro-boro travel writer jadi profesi. Dapat izin traveling aja susahnyaaaa ampun-ampun..” jawab saya sambil ngakak.

Yup. Dan memang benar. Izin dari orangtua termasuk sulit didapat. Selama ini rupanya dalam keluarga kami belum ada sejarahnya ada anak perempuan meminta izin begitu sering untuk bepergian. Untuk bisa ikut ke Ujung Genteng, saya harus mengajukan izin setidaknya sejak 1 bulan sebelumnya. Saya selalu bilang bahwa saya tak mau bohong hanya demi mendapat izin. Misalnya ada kawan yang berkata akan menginap di rumah temannya selama 3 hari padahal selama itu pula ia pergi naik gunung Rindjani. Atau yang lainnya lagi nekad pergi saat sudah dilarang. Sepanjang pendakian pun hatinya gelisah. Duh!

Satu bulan sebelum kepergian ke Lembah Harau sesudah lulus kuliah itu sebenarnya saya mendapat kesempatan ke Filipina, mewakili komunitas yang selama ini bergiat di mangrove untuk mengikuti event konferensi lingkungan tingkat usia pemuda se-Asia. Sayang seribu sayang, izin tak bisa lolos karena kekhawatiran dan kurangnya pengetahuan serta kepercayaan orangtua akan sebuah “komunitas”.

Maka meski sudah tinggal membuat paspor dan visa, atau dengan kata lain tak perlu repot memikirkan akomodasi dan tiket, saya tak bisa langsung terbang ke negara tetangga.

Saya harus rela melepas kesempatan dengan berbagai macam diplomasi yang rupanya nihil setelah dikerahkan. Sebagai orang yang pernah (dan masih) sulit beradaptasi serta mengeluarkan pendapat dan minderan, saya merasa takjub bisa diminta untuk mewakili komunitas dalam sebuah event yang cakupannya tidak kecil. Untuk itulah, batalnya saya berangkat (bahkan di saat baru meminta izin) membuat rasa percaya diri saya runtuh (lagi) hingga semalaman sukses membuat perut mulas-mulas. Saya merasa gagal meyakinkan orangtua.

Saya tak menyalahkan pola pikir atau cara mendidik yang berbeda, tapi setidaknya ini menjadi masukan bagi saya nantinya ketika menjadi orangtua. Toh ketika kesempatan sudah dilepas, ibu merasa bersalah juga. Apalagi ketika salah satu famili kami terkejut mengira kepergian saya mengikuti acara adalah dalam hitungan bulan. “Ya ampun! Acaranya 4 hari?! Kirain mah 4 bulan.. Kasian si Ade, mbak.” Katanya.

Saya tahu jika takdir berkata saya berangkat, maka saya akan berangkat. Dan toh meski dengan segala usaha kerelaan hati saya melepaskan event tersebut, hati saya mencelos juga saat tak ada lagi kesempatan sama yang datang. Tak ada lagi yang terulang. Apalagi ketika 2 tahun sesudahnya saya tersadar ada batasan usia untuk acara itu. Ah, sudahlah…

Lalu saya mendapat pekerjaan tetap, setiap bulan mendapat upah, dan tanpa sadar, empat tahun berlalu begitu saja dan terlewatkan.

Selama empat tahun terakhir hal yang saya tahu dan sadari betul untuk terulang mulai hari Senin adalah:
1. Bangun pagi
2. Mengejar kopaja
3. Bekerja
4. Mengejar kopaja lagi dan tertidur di bangkunya
5. Tiba di rumah
6. Esoknya hingga hari Jumat ulangi lagi dari no.1.

Saya tak hendak meremehkan nasib, apalagi menyesali profesi saya sebagai pustakawan (yang biar bagaimanapun memang masih ada yang menganggapnya sebelah mata). Saya justru ingin ikut mewujudkan ide bahwa profesi ini tak melulu berkutat dengan debu, hal kuno, dan tugasnya hanya melarang orang untuk berisik.

Hidup harus lebih dari sekedarnya. ~ Alm. Budi Laksmono.

Begitu kata-kata yang pernah saya baca dan saya menyetujuinya.

Karena itulah saya menolak terjebak dalam rutinitas seperti di atas dengan tetap mengerjakan ini itu. Meski harus membagi waktu dan energi yang pastinya tidak mudah, saya tetap melanjutkan kegiatan bersama kawan-kawan untuk mengirimkan buku bacaan ke pelosok, atau menulis buku yang meskipun untuk itu harus rela datang dan duduk di depan komputer lebih awal 1-1,5 jam untuk mengetik draft buku saya tanpa mengganggu jam kerja.

Jumlah jam kerja adalah 8 jam, ditambah waktu tempuh PP berarti kira-kira total adalah 10-12 jam saya keluar dari rumah. Rutinitas yang berulang dan tipe macam saya yang lebih suka wara-wiri daripada seharian duduk membuat saya terkadang menanyakan pemikiran dan pilihan bekerja ini. Tapi saya tak mau dibilang sombong atau menolak rezeki. Sehingga kemudian menghibur diri dengan mengakui bahwa rutinitas tidak hanya dimiliki pekerja kantoran macam saya. Ibu rumah tangga pun juga berkutat dengan rutinitas yang tak berkesudahan, juga pak tani, dokter, bidan, dan segala pekerja lain.

“Kamu bersyukur bisa kerja, saudaramu itu umurnya sudah lewat batas tapi nggak juga dapat kerja. Luntang-lantung.” Begitu kata seseorang. Atau kawan saya yang lain mengutip sebuah kalimat; “It’s not doing the things we like, but liking the things we do that makes life happy.”

Untuk itu saya merasa tak punya alasan untuk komplain. Tapi karena itu pula, saya malah semakin terjebak pada rutinitas. Saya jadi merasa tak enak jika harus mengajukan cuti untuk bepergian meski dalam 1 tahun mendapat hak untuk itu. Saya juga seolah jadi acuh tak acuh pada segala polusi yang mengepung di tengah kemacetan yang dianggap sebagian orang adalah sebuah kewajaran.

Maka saya asyik saja duduk di zona nyaman yang rupanya menimbulkan semacam bahaya karena terlalu lama tidak menempuh jarak traveling. Secara perlahan berkurangnya kegiatan saya dengan komunitas yang awalnya menuntut untuk selalu berpendapat dan berkreasi hingga mendorong batas, ternyata turut juga berperan membuat diam di tempat. Seolah rasanya seperti kembali ke masa lalu, di mana saya:

1. Tidak berani ambil resiko
2. Takut mewujudkan ide-ide
3. Cenderung pasrah saja

Aih, ke mana adrenalin yang berusaha dibangun beberapa tahun lalu itu?

Seperti yang juga pernah dikatakan dalam tulisan sebelumnya, lingkungan kerja memang menyenangkan namun rutinitas yang ada sulit untuk dipecahkan.

Setiap orang punya rutinitas, namun ubahlah cara menjalankan rutinitas sehingga terbiasa melakukan hal yang tidak biasa.” ~ Yoris Sebastian

Cuti panjang yang saya ambil pertama kalinya akhirnya adalah cuti menikah di tahun lalu. Mengingat frekuensi traveling Abang selama ini lebih banyak dari saya, maka diam-diam setelah menikah saya menyusun beberapa rencana. Dengan kata lain izin tak mutlak dimiliki orangtua, tapi suami toh?

Tapi inipun rupanya tak berhasil seutuhnya karena kami tak bisa terlalu sering traveling akibat terbentur budget. Sebagai keluarga baru, tentunya kami tak bisa hanya sekedar berhura-hura dan tak memikirkan ke depan. Pekerjaan Abang yang pulang setiap 5 minggu sekali pun membuat kami harus pandai-pandai mengatur waktu.

Ah, saya rindu bepergian seperti kala itu. Kenapa dulu saya lebih membela rutinitas daripada mengejar tiket Belitong atau cuti ke Baluran?

Rutinitas dan momen

“Mbak, nggak ikut jalan-jalan besok?” Tanya salah satu sepupu.

“Ihiks.. aku kerja.” Jawab saya.

Sudah beberapa kali selama masa liburan pasukan sepupu, kami mengambil salah satu hari untuk berjalan-jalan. Entah ke kebun binatang, ke Taman Mini, dan sebagainya. Dua tahun sebelumnya saya bisa ikut karena masih masa skripsi atau baru lulus kuliah. Masa selanjutnya saat ke Taman Bunga Cipanas, saya absen karena tak enak mengajukan cuti. Aih, momen bersama pasukan sepupu rupanya tak terulang. Sekarang masing-masing sudah semakin besar dan kerapkali beberapa dari mereka semakin mojok dengan gadget atau lebih suka bepergian dengan kawannya atau tak ikut karena banyak tugas.

They are growing bigger and so am i.. :’)

wpid-20131229_175930.jpg

 

 

 

 

What happen when my nephew come? I feel like i miss some moment too when i come home late. Bahkan pada beberapa kesempatan saya sengaja berangkat lebih siang hanya demi bermain-main dulu dengannya. Senangnya menyaksikan dia tumbuh. Dari yang belum bisa bicara hingga dia bisa memanggil saya dengan hebohnya; “Mamaaah… mamaaaah!” (Bukan tante ya).

wpid-img_20131208_165835.jpg

Dan ketika kondisi kekacauan jalan raya Jakarta semakin menjadi-jadi, saya kembali menghitung ulang semuanya dengan dede di perut (hingga menuliskan ini semua). Membayangkan ASI yang harus menunggu untuk diberikan, membayangkan momen yang tak bisa saya saksikan, dan membayangkan diri saya sendiri kembali terjebak dalam rutinitas. Apalagi saat beberapa kali dalam tidur saya melihat diri saya sendiri menjejak di tengah lumpur mangrove seperti empat tahun lalu atau mengerjakan kegiatan komunitas di perpustakaan yang saya buat sendiri.

Saya memang tak seperti tetangga yang tiba di rumah seringkali pukul 9 malam dan si anak sudah terlelap, lalu esoknya keluar rumah di saat sang anak juga masih terlelap. Jika tidak terburu-buru saya bahkan masih bisa sejenak bermain dengan Daffa. Tapi meninggalkan anak selama 12 jam setiap lima hari dalam seminggu apa diri saya sanggup?

Saya memejamkan mata, menarik nafas, dan merasa inilah waktunya menentukan pilihan.

wpid-img_20141102_183506_wm.jpg

 

Ah, seperti yang sudah pernah saya tuliskan di sini, semoga saya tidak sedang tidak bersyukur atas semua yang sudah diberikan di lingkungan kerja. Atau berusaha membandingkan ibu-bekerja dengan ibu-di-rumah. Atau khawatir tidak mendapat rezeki jika tidak bekerja dengan status tetap seperti sekarang.

wpid-img_20141122_154314.jpg

 

Tapi bagaimana jika pilihan saya salah? Bagaimana jika setelah dipilih ternyata saya lebih menyukai pilihan yang lainnya?

Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal itu amat baik bagimu.

Yup, Dia yang Maha Mengerti. Maha Tahu mana yang terbaik untuk saya.

Kalaupun ada yang berkata ibu-bekerja lebih baik, ya itu pilihannya. Pilihannya yang paling hebat. Kalaupun ada yang berkata ibu-di-rumah lebih baik, ya itupun pilihannya. Pilihannya yang paling hebat.

Jadi semua sama-sama hebat.

Mari mengkaji kembali dan menentukan pilihan. Pilihan yang terbaik bagi diri sendiri dan keluarga, bukan melihat dari orang lain dan menghakimi mana yang lebih baik.

wpid-img_20141105_203453_wm.jpg

*ini tulisannya muter-muter ke mana-mana. Maklum ya bumil lagi lieur :))

And now after the baby delivery, the decision becomes stronger.. i’m waiting for the moment to come.

0 thoughts on “Rutinitas dan yang (tak) terulang

  • February 21, 2016 at 8:50 am
    Permalink

    Sebenarnya saya mencari tulisan tentang rutinitas seorang pustakawan, eh.. dapat blog ini. Tapi tulisannya benar-benar membawa renungan. Saya sendiri pun sepertinya saat ini terjebak dalam rutinitas. Tapi alhamdulillah sebentar lagi insyaallah akan selesai.. Sayangnya setelah itu akan ada lagi rutinitas yang saya juga tidak tahu akan seperti apa.
    Tapi memang benar, intinya bersyukur..
    Salam..

    Reply
    • February 25, 2016 at 8:42 pm
      Permalink

      Wah nyasar donk bisa sampe sini hehe. Semoga setiap rutinitas selalu penuh keberkahan ya. Aamiin. Terima kasih sudah mampir dan membaca.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *