Menampik baby blues

Seringkali dalam berbagai kesempatan saya harus berdamai dengan diri sendiri. Tentang kesempatan yang terlewatkan, tentang waktu yang tak bisa diputar ulang, tentang beberapa hal yang belum atau tak tercapai.

image

Why people want to live in someone else’s life?

Katanya rumput tetangga selalu lebih hijau. Dikasi kondisi ini, mau itu. Dikasi itu, mau ini. Hey, what’s wrong with you me?

Selama kurang lebih 3 bulan, saya yang terbiasa bepergian ke tempat kerja dan melihat berbagai rupa manusia serta wajah-wajah kota setiap harinya, melakukan rutinitas mengolah buku, dan bertemu mahasiswa, tiba-tiba dihadapkan pada rutinitas cucian, ompol, pup, tangisan, teriakan, dan segala aktivitas di rumah.

Dini hari itu hampir saya kejengkang sambil memangku dede. Entah sudah berapa jam kami tidak tidur. Dan baru saja dede bisa sedikit lebih tenang. Saya pikir bayi langsung bisa otomatis menyusu, ternyata bukan hanya saya yang belajar. Dede pun belajar untuk bisa menyusu. Tangisannya yang cukup heboh, menjerit sampai suaranya seperti mau habis karena kesal tidak juga bisa berhasil menyusu, seringkali membuat saya juga tidak tega hingga akhirnya kami menangis bersama.

At that time, really i don’t know what should i do.

Apakah saya belum siap? Tanya saya pada diri sendiri di tengah rasa sakit jahitan pasca melahirkan dan teriakan dede yang masih belum bisa menyusu dengan benar. Tapi tidak mungkin kalau saya belum siap. DIA memberi di saat saya sudah siap. Mengirimkan anugrah yang luar biasa.

“Gimana rasanya punya bayi? Senang terus donks?” Tanya kawan saat menjenguk ke rumah.

Saya heran saat itu saya tidak serta merta menjawab ya, tapi saya juga tidak mau menjawab tidak. Masa iya saya tidak senang punya bayi? Bukankah selama 38 minggu kami menanti-nantinya. Kenapa rasanya seperti ini?

Tapi saya tahu tidak menjawab karena saat itu yang terbayang adalah teriakan dede dengan suaranya yang nyaris habis, atau ketika terbayang kejadian beberapa minggu lalu saat ada kawan Abang datang dan dede menangis tak henti selama hampir satu jam hingga saya nyaris tak keluar kamar untuk menyapa mereka.

Pada masa ini mudah sekali rupanya untuk mengingat kembali setiap perjalanan yang telah atau belum sempat dilakukan. Pada masa ini mudah sekali untuk merasa sewot pada setiap pertanyaan yang dirasa tidak pas waktunya. Pada masa ini mudah sekali untuk mengingat lagi kesempatan konferensi ke Filipina yang diberikan untuk saya namun saya lewatkan. Pada masa ini mudah sekali untuk tidak percaya diri. Pada masa ini, jangankan rumput tetangga, kerikilnya pun tampak berkilauan.

Inikah yang disebut baby blues? Saat pasca melahirkan dan semua hal terasa tidak pada tempatnya. Saat setelah sekian tahun lamanya saya kembali tidak percaya diri pada kondisi fisik tubuh saya. Saat saya tidak tahu apa yang harus dilakukan dan rasanya mau jongkok saja di pojokan untuk ikutan nangis.

Syukurlah setelah kunjungan ke klinik Laktasi, dede dan saya bisa mulai tahu teknik perlekatan saat menyusu dengan baik dan benar. Kami mulai beradaptasi dan bekerja sama. Setelah satu bulan secara berangsur, jam tidurnya mulai bergeser. Tak lagi melek atau nangis mulai 10 malam hingga setengah 5 pagi hingga mata saya nyaris bengep. Setelah satu bulan, suatu hari ia mulai menyahut saat kami berbicara. Dan menatap matanya, rasanya saya melihat milky way di sana.

Perkembangan yang menakjubkan, penggantian popok-tali yang terus menerus, menandakan bahwa pencernaannya bekerja dengan baik, dan tawanya yang mulai semakin menghiasi rumah.

Ah, bagaimana bisa saya bilang kami tidak bahagia?

image

And here it is, how to throw away the baby blues:

1. Sharing is caring.

Tidak ada yang mengerti selain ibu itu sendiri dan orang lain yang pernah merasakan. Maka berbagi cerita adalah satu dari beberapa hal yang bisa ikut meringankan beban.

Hati saya lega luar biasa waktu tahu bahwa kawan saya yang beberapa bulan sebelumnya baru melahirkan juga nangis bareng bayinya di tengah malam pada minggu-minggu pertama. Ia bahkan mengaku tidak mengalami proses menyenangkan di awal-awal menyusui. Atau berbagi cerita singkat saat bertemu ibu-baru lain di ruang menyusu RS, ia mengawali pembicaraan lalu bercerita kalau bayinya selalu menangis sampai teriak-teriak di tengah malam.

Atau kawan saya lain lagi, yang selama ini saya kenal tidak pernah mengeluh, bercerita ternyata di minggu-minggu pertama melahirkan ia selalu menangis karena tidak berdaya akibat pemulihan pasca caesar dan terpaksa hanya memerhatikan ibu serta suaminya bergantian mengurus bayi dan mencuci baju. Juga ditambah tangisan bayi yang membuatnya semakin tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Fiuh.. i’m not alone…

2. Take a break

Tarik nafas panjang. Jika ada orang lain di rumah, jangan ragu untuk minta bantuan. Tak ada salahnya meminta suami, ibu, atau kakak menggendongnya sebentar sementara kita mengisi perut dengan cemilan atau menyeduh minuman kesukaan supaya lebih tenang. Toh, ASI akan keluar dengan baik jika ibu bahagia sehingga hormon oksitosin bekerja dengan baik.

3. Pergi ke luar ruangan

Setelah 3 minggu hanya menghabiskan lebih banyak waktu dalam kamar 3×3 dan pergerakan terbatas di dalam rumah, akhirnya saya bisa mendorong dede dengan stroller ke luar rumah.

Outdoor is such a very great place! Rumput hijau, udara sejuk, bertemu tetangga, hingga mendengar kicau burung yang keluar dari sarangnya. Let’s go outside!

image

image

4. Stop always listening others

Sama seperti diri kita yang belum tentu selalu benar, orang lain pun juga belum tentu selalu benar. Jika memang mengganggu dan tak sesuai, berhentilah mendengarkan pertanyaan orang lain tentang cara mengasuh kita.

“Kenapa nggak pakai disposable popok aja sih? Kenapa harus dipompa dari sekarang sih ASInya? Kenapa nggak dibedong? Kenapa pakai minyak? Kenapa nangis terus sih, ASInya sebenernya keluar nggak sih?”

Daaaan pertanyaan-pertanyaan lain yang sebenarnya tak perlu untuk ditanyakan.

Stop! Stop listening to them! Trust our ownself..

4. Bonding

Tingkatkan ikatan antara ibu dan bayi dengan banyak mengajak bayi berbicara, dan banyak menyentuhnya (skin to skin). Bisa juga memandikannya sendiri atau mendongengkan cerita untuknya (Abang paling jago nih) dengan bantuan softbook, boneka tangan, atau bahkan tanpa alat.

5. Kenali tangisan

Semakin lama cara berkomunikasi melalui tangisan bisa lebih dipahami. Karena belum bisa berbicara, cara berkomunikasinya ya dengan menangis. Lama kelamaan tangisan karena haus, ngantuk, tidak nyaman, gerah, ataupun bosan bisa terlihat bedanya. Jadi, jangan lekas panik saat ia menangis.

Setiap salah satu sanak saudara datang dan mendapati dede sedang menangis, yang diucapkannya adalah; “Duh, masih aus tuh. ASI-nya kurang kali.”

Berpikir positif ya, kenali tanda-tanda bayi kenyang menyusu. Siapa tahu ia hanya ingin digendong. Dede bahkan pernah tidak berhenti menangis digendong saya, Abang, kakak, dan kakak ipar. Tapi begitu digendong ayah saya sambil dinyanyikan lagu “Balonku ada lima” tangisnya langsung berhenti!

6. Poin ini khusus untuk para ayah, bapak, daddy, abi atau (apapun) panggilan lain untuk suami.

Pada masa ini ada kalanya sang istri bisa jauh lebih sensitif bahkan dibandingkan masa hamil. Maka akan jauh lebih baik jika menghindari kata-kata atau candaan yang bisa membuat sang ibu baru menjadi sangat sedih atau tersinggung.

Membantu menyendawakan bayi, membantu mengganti popoknya, atau bahkan ikut bangun tengah malam untuk menenangkan bayi yang menangis menjadi bantuan-bantuan yang sangat luar biasa berarti bagi sang ibu.

7. Bersyukur

Yup, ini yang paling penting. Banyak yang terus menaruh harapan agar sampai pada titik ini. Titik di mana bisa memeluk dan menyentuhnya. It feels so full-filled, so be thankful.

image

Bukankah selama ini saya yang menginginkannya? Saya yang mendengar detak jantungnya, mengajaknya bicara, dan berharap mencium perut sendiri (seandainya bisa). Dan ketika ia hadir, tentu segalanya berubah 100%. Tapi inilah awal dari segala perjalanan.

Awal perjalanan bersamanya, berharap bisa berkeliling bersama melihat dunia.

image

*dedicated this to all mom-to-be and newbie mom.

0 thoughts on “Menampik baby blues

  • April 8, 2015 at 11:38 am
    Permalink

    Yah, walaupun termasuk penggemar warna biru, tapi ogah juga kena baby blues *apeu *maksa. Makasih ya Yul sharingnya, poin no.4 penting bgt apalagi buat daku yg mudah tergoyahkan XD

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *