Saat memutuskan keluar

Entahlah kapan terakhir kali saya memutuskan keluar dari zona nyaman. Apakah itu tepat 2 tahun lalu saat memutuskan menikah, satu setengah tahun lalu saat memutuskan untuk membuat buku berdasarkan pengalaman skoliosis saya, atau bahkan saat pertama kalinya memanjat wall setinggi 15 meter di Pasar Festival sekitar hampir 5 tahun lalu.

Seminggu ini adalah minggu terakhir saya di perpustakaan tempat saya bekerja saat ini. Yap, saya memutuskan resign setelah bekerja di tempat ini hampir 5 tahun.

Saya mengenali betul setiap sudut raknya, melihat dengan seksama setiap manusia yang hilir mudik di dalamnya, berkenalan dengan berbagai sifat yang bekerja sama, dan meresapi betul setiap aroma buku yang terkuak setiap saya hendak mengolahnya. Buku bertumpuk-tumpuk yang jumlahnya bisa mencapai ratusan yang saya sendiri lah yang mengolahnya. Pernah suatu hari kegiatan belanja buku donasi untuk komunitas (yang biasanya menyenangkan) hampir membuat saya mabuk karena di minggu yang bersamaan saya juga harus mengolah tumpukan tinggi buku di tempat kerja.

image

Meski begitu saya terima-terima saja dan jadi terbiasa dengan buku batumpuak-tumpuak di meja dan kotak di belakang meja. Ya iyalah, kapan lagi bisa baca buku dan majalah gratis? Dan saya tambah anteng deh kalo udah ketemu majalah National Geographic haha.

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, suasana kerja menyenangkan meski tentu tetap ada saja hal-hal yang membuat suasana hati tidak enak. Yah, kita tak bisa 100% mendapat lingkungan yang super nyaman, kan? Kemarin saya sempat membaca ini di news feed fb:

“Love your job, but don’t love your company. Because you may not know when your company stop loving you.” ~ Dr. A.P.J Abdul Kalam.

*angkat alis.

Ketika cuti berakhir saya pun kehilangan waktu yang tak bisa digantikan saat bersama dede. Saat dede mulai ngoceh tapi saya malah sibuk pakai jilbab, bersiap berangkat, dan tak menyahutinya secara serius. Saat saya kehilangan waktu mengajaknya berkeliling area rumah dengan stroller di pagi hari. Juga saat saya tiba di rumah disambutnya dengan tangisan hendak menyusu, setelah itu ia tertidur hingga malam. Lho, kapan baca buku barengnya?

Juga saat cucian kering tapi tak ada bala bantuan untuk menyetrika. Hingga hari ini pun kami belum juga mendapatkan pengasuh. Setiap harinya ibu memanggil sepupu untuk bergantian bersama ayah menjaga Daffa (yang sedang aktif-aktifnya) dan dede.

image
Bayangan jemuran

 

Yang lebih membuat sedih adalah saat stok ASIP menipis hingga habis. Ouch! (Cerita tentang ASI sepertinya butuh postingan tersendiri).

image

Haruskah saya keluar dari zona nyaman ini? Pembicaraan mengenai resign memang sebenarnya sudah dibicarakan sejak sebelum dede lahir, dan semua hal di atas semakin menegaskan. Tapi benarkah ini yang terbaik?

Kalau full day di rumah apa saya siap? Ehem.. selama ini saja masak-memasak masih belum ada kemajuan. Telur ceplok masih menjadi ide utama! Tapi kalau saya bekerja penuh seperti sekarang apa bisa terus mengandalkan sepupu dan ayah yang bolos kerja untuk menjaga dede? Kalau mereka sedang sibuk bagaimana ya?

Mau tak mau saya harus memilih. Kalaupun bekerja rasanya lebih memilih freelance dengan rute pendek yang total waktu meninggalkan rumah hanya sekitar 3-5 jam. Atau memilih bekerja online saja. Lalu saya jadi ingat masa-masa baru lulus kuliah dan lebih suka wara-wiri aktivitas di mangrove serta sekolah-sekolah saat itu (baca ceritanya di sini).

Berada di zona nyaman menjadi karyawan berarti siap saja setiap bulan terima gaji. Menjadi freelance? Waah belum tentu! Tapi apa saya takut tak punya gaji? Bukankah setiap manusia sudah punya rezekinya masing-masing selama mau berusaha?

Atau jangan-jangan saya hanya mau menikmati bekerja tanpa tangisan dede dan rayuan Daffa yang mengajak main? Atau saya memang enggan keluar dari zona nyaman?

Semua pertimbangan dan alasan serta takut akan resiko berlarian di kepala. Juga peringatan “sayang ih kerjanya!” dari orang-orang sekitar. Tapi sekali lagi (setelah 5 tahun) yakin saya nggak mau coba hal baru?

“Ngurus perpustakaan orang terus. Ngurus perpustakaan sendiri kapan?”

Jleb!

And finally here i am now! Berada di minggu terakhir, yang semakin mendekati hari dan menanti surat balasan resign malah semakin gamang. Rasanya malah jadi sayang. Duh, godaan!

image

Tapi yang menyenangkan adalah ucapan Bubu Rika waktu tahu saya mengajukan resign, “Duh bingung mo bilang apa… Subhanallah.. Alhamdulillaah… Heheheee..semoga Allah berikan pilihan ini jadi pilihan yg barokah barokah barokaaaah… Allah berikan rezeki dr pintu lainnya.. insya Allah banyak manfaatnya mbaa.. Aamiin.

Semoga pilihan ini benar adanya dan membawa manfaat untuk semua. Aamiin.

Pada akhirnya saya mengajukan resign. Pada akhirnya saya memutuskan mencoba hal baru (semoga saja ada kemajuan dalam hal masak-memasak). Untuk sekali lagi keluar dari zona nyaman.

Welcome back to freelance world like 5 years ago, Yul.

 

 

image

 

Catatan: Tenang saja, saya tetap pustakawan kok..

0 thoughts on “Saat memutuskan keluar

  • April 18, 2015 at 4:47 pm
    Permalink

    We’re on the same shoes.
    I did resign although my boss allowed me to come back anytime.

    Family comes first, at the end.
    Cheer up! 🙂

    Reply
  • April 23, 2015 at 3:15 pm
    Permalink

    semangat wiraswasta saja kak 🙂

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *