Tentang resign (1)

wpid-p_20150502_132432.jpgIni sudah hampir 3 minggu sejak saya memutuskan resign. Dan setiap hari masih sama seperti sebelumnya. Dede semakin ngerti dan akan merajuk kalau kelamaan ditinggal sendiri atau digendong sambil duduk, Daffa masih hobi kutak-katik mainan mobilnya (kadang mobilnya dijalanin di kepala ibu, kadang di kaki saya, pernah juga di tangan dede), pagi hari jadi jadwal rutin untuk mendorong stroller dede bersama Daffa, lalu ART harian untuk cuci-gosok-ngepel sudah ada eh tapi libur lagi karena menjenguk anaknya yang juga baru melahirkan.

Yang jelas semua masih sama, kecuali mungkin saya sendiri yang dengan seenaknya bilang; “nanti kalo resign saya bikin tulisan saja dari rumah”, tapi hingga hari ini belum ada satupun tulisan yang dihasilkan karena setiap mau buka laptop malah keburu ngantuk.

Saya jadi ingat waktu hari pernikahan 2 tahun lalu menjelang menit-menit akad, Dyas, sepupu saya mendekati ruang rias sambil menangis. Sudah sejak tanggal hari H pernikahan ditentukan, Dyas bingung sejadi-jadinya. Karena bertepatan dengan hari keberangkatan study tour SMAnya ke Bali.

Mau ikut tapi sedih nggak bisa menghadiri pernikahan saya, mau nggak ikut tapi kesempatan karyawisata bareng teman-temannya kemungkinan besar tidak akan terulang karena tahun depannya akan menghadapi ujian.

Maka, dengan berat hati, menjelang menit ijab qabul Dyas justru berangkat meninggalkan saya. Saat itu saya terharu dan ikut menangis juga. Saya pikir ia cuek saja tidak bisa menghadiri akad, ternyata malah nangis-nangisan. “Maaf ya, mbak. Bukannya Dyas nggak mau lihat pernikahan, mbak.” Katanya sambil tersedu.

Saya pun sudah kehabisan kata. Saya tahu betapa sulitnya ia menentukan pilihan ini dan saya pun tidak mau menyalahkannya dengan berpikir bahwa saya tak lebih penting daripada temannya.

Dari tangisan yang terus menetes dan kata maaf terus menerus, berat sekali rupanya bagi Dyas untuk meninggalkan saya.

Saat itu ingin rasanya saya mau bilang; “Nggak papa, Dyas. Ini baru satu pilihan saja. You always have to choose in every way of your life, later on..” tapi tak ada yang keluar dari mulut saya selain menjawab iya dan mencium pipinya yang kemudian berceplak lipstick saya.

Selalu pilihan dan selalu memilih. Saat sekolah, kuliah, kerja, hingga selanjutnya kita akan terus dihadapkan pada pilihan. Mau tak mau saya kemudian harus memilih meninggalkan perpustakaan tempat bekerja dan kawan-kawan yang selama ini saya sayangi. Dengan memilih resign dan tidak bekerja bukan berarti saya tak sayang mereka atau tak sayang dengan (katanya) gelar sarjana.

Seperti kata ibu tetangga yang sudah dekat dengan keluarga kami sejak saya masih kecil sewaktu saya bercerita tentang komentar orang-orang yang bilang; “Sayang banget resign..kerjanya udah tetap.”, ia berkomentar;

“Ya emang sayang sih. Tapi kan ada yang lebih sayang lagi.”

, katanya sambil menunjuk dede.

image

~ Jakarta. Mencuri kesempatan sebelum menyetrika.

0 thoughts on “Tentang resign (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *