Tentang resign (2): terima kasih

Saya berjalan hilir mudik ke ruang depan dan area meja kerja saya sendiri. Setelah berbagai pertimbangan dan berpikir ini itu, tiba saatnya saya harus berani berbicara. Mengajukan pemikiran tentang resign kepada kepala perpustakaan rupanya dag dig dug luar biasa. Saya tahu sesudahnya sama sekali tak akan mudah, tapi ini pilihannya (semoga saja) memang yang terbaik.

Ketika sudah sampai di meja kepala perpustakaan dan mengutarakan niat dengan satu tarikan nafas, sang ibu kepala menjawab; “He eh.. iya nggak papa. Saya juga kepikiran dedenya.”

Fiuuh.. saya pikir saya akan melewati masa sulit tidak bisa dan tidak boleh resign. Alhamdulillah dimudahkan.

Jika banyak dari kawan-kawan lain yang bisa dengan mudahnya keluar dan pindah dari satu tempat ke tempat kerja yang lain, namun tidak bagi saya.

Lima tahun bekerja di perpustakaan tersebut dan saya banyak sekali menerima kebaikan dari rekan-rekan di sana. Pemakluman izin satu hari tidak masuk demi kontrol ke RS, penerimaan bekerja dengan brace, dan bahkan tidak dibolehkannya saya mengangkat barang-barang berat selama bekerja. Itu belum termasuk ilmu pengetahuan dan wawasan yang turut disebar di dalamnya.

Ketika resign sudah disetujui, saya menghadapi masa-masa gamang. Saya bahkan belum berani bilang tentang keputusan tersebut pada Shima dan Mbak Pipit yang biasanya bertemu dan sama-sama pumping. Saya takut malah bercerita sambil menangis.

Bagaimana jika sebaiknya saya terus bekerja saja ya?

Tapi ini sudah dipikirkan dan lagipula saya sudah mengajukan surat. Maka suka tidak suka, saya menghitung hari menuju hari terakhir bekerja.

image

Hari senin 20 April 2015, saat makan siang bersama serupa farewell dimulailah pembicaraan oleh Ibu Erna tentang pilihan saya itu. Ketika ibu bertanya sudah berapa lama ya saya bekerja di sana, saya menjawab (tanpa bisa saya cegah) sambil terisak-isak.

Saya tak berani menoleh ke sebelah kiri, tempat Kak Nita duduk. Saya tahu pasti ia tak jauh beda nangisnya dengan saya.

Bu Erna memandang Kak Noorma, mempersilahkannya untuk berbicara. Kak Noorma pun memulai dengan kalimat bahwa kami masuk kerja bersamaan. Suaranya lalu tiba-tiba mengecil lalu berhenti, menahan tangis yang rupanya tidak bisa ditahannya.

Mas Yadi pun ikut bicara. Satu hal yang tidak saya duga sebelumnya bahwa tiba-tiba ia berkata-kata sambil matanya memerah.

Kak Nita? Menolak untuk bicara karena sibuk dengan tangisnya.

Ah, tidak ada kata yang pantas saat itu selain rasa terima kasih tak terhingga karena telah rela bekerja sama dengan saya selama 5 tahun, rela untuk memaklumi kekurangan saya, rela untuk bertukar undian stock opname ketika ternyata rak yang harus saya kerjakan berisi buku-buku tebal dan berat, rela untuk bersama-sama senang ketika senang dan ikut menghibur di saat sedih.

Hingga pulang kerja dan kembali menumpang mobil Chica, saya pamitan kembali kepada beberapa rekan yang juga ikut nebeng.

“Yulia serius nih mau resign?” Kata Kak Reni untuk kesekian kalinya sambil kemudian terdiam.

“Habis gimana donk..” jawab saya. “Jangan nangis.” Kalimat yang saya tegaskan sesungguhnya untuk diri sendiri karena tanpa saya sadari saya sudah akan mulai menangis lagi.

Saya pamitan lagi lalu turun dari mobil Chica seperti biasa, berjalan melewati pengendara motor dan pejalan kaki lain yang besok tidak saya temui. Tidak ada lagi kejar-kejaran dengan Kopaja besok.

Mungkin saya terlalu mellow, tapi untuk setiap kebaikan yang saya terima dari kawan-kawan rasanya perpisahan dengan air mata memang berat rasanya.

Terima kasih untuk semuanya.

Catatan:
Mohon maaf sangat untuk kawan-kawan di luar perpustakaan yang tidak saya temui untuk berpamitan. Saat berpikir untuk turun dari ruang pumping untuk pamitan, pesan di WA malah berbunyi bahwa kurir ASIP sudah datang dan saya juga harus segera menemui pelamar kerja calon pengganti untuk memberikan semacam tes kecil. Mohon maaf atas semua kesalahan dan semoga kalian semua sukses berkarya. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *