Transportasi publik saat hamil: sebuah terima kasih

“Kamu lagi hamil gini naik apa ke kantor?” Tanya salah satu kawan waktu kami bertemu.

“Kopaja.” Jawab saya singkat.

“Haah?! Metal banget!” Sahutnya lagi.

Metal? Metal apa mental? Masa sih? (Btw, ucapkan “metal” seperti saat mengucapkan “melon”, dan “mental” seperti saat mengucapkan “permen”).

Saya pikir lebih metal para pekerja yang naik kereta. Soalnya di awal hamil saya sempat naik kereta di jam arus kerja dan hasilnya dahsyat. Penampilan dan tubuh kecil yang tidak terlihat seperti sedang hamil membuat dorong mendorong di gerbong tetap terjadi. Dan saya tetap nggak berani teriak; “BRO, PERUT KEJEMPET BROOO!”

image

Sejujurnya, bukan karena berjiwa metal donks penyebab saya naik Kopaja. Ya soalnya transportasi publik di rute yang saya lewati hingga tempat kerja memang kopaja dan metromini.

Saya sudah pernah cerita tentang transportasi publik ini di tulisan sekitar 2 tahun lalu di sini, juga transportasi publik dan hamil trisemester pertama pada tulisan di sini. Lalu bagaimana dengan menaiki armada tersebut saat perut sudah mulai (atau bahkan sangat) buncit?

imageWell, saya merasakan sendiri masa-masa tak ada yang memberi duduk hingga hampir 20 menit lamanya. Tapi saya tak mau berargumen bahwa alasannya adalah: “Ini Jakarta, kota yang kejam dengan penduduknya yang individualis” atau celetukan seseorang pada saya; “Lagi sih naiknya Kopaja, kere bener ah.” Haha

Tapi bagi saya ada alasan lain yang menyebabkan saya terus menerus menikmati naik bus umum alih-alih ojek atau naik motor sendiri. Toh saya juga tidak mendapat izin mengendarai motor oleh ibu. Hal yang kemudian saya syukuri karena saya jadi tidak ikut menjadi bagian dari penyebab macet.

“You’re not in traffic, you are traffic!”

~ lupa siapa yang bilang.

Menaiki kendaraan umum dengan bertemu berbagai macam sikap manusia rupanya menjadi hal tersendiri yang ikut mewarnai setiap perjalanan.

image

Dan ketika saya hamil ada berbagai bantuan yang saya terima. Untuk itu melalui tulisan (yang telat ini) saya mau ucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu, bapak, mbak, dan mas, juga adik SMA yang siap sedia memberi tempat duduk untuk saya.

Setiap harinya memang tidak pasti, kadang dapat duduk, kadang juga tidak. Tapi saya percaya penyebab saya tidak dapat duduk bukan karena moda transportasinya tapi berkaitan dengan “akan bertemu siapa saja kah kita hari ini?”

image

Bertemu dengan orang yang bersedia memberi tempat duduk atau yang tetap memegangi tas dan tidak juga memberi tempat meski perut gendut hampir saja menyodok mukanya?

Duduk (katanya) adalah sebuah kenyamanan. Maka terima kasih juga tidak kecuali untuk mbak yang duduk tertidur di depan saya saat saya berdiri. Begitu si mbak melek dan melihat perut saya, ia langsung memegangi tangan saya dan berkata; “Maaf ya mbak. Harusnya bangunin saya aja.” Sambil lantas berdiri dan memberi duduk.

image2. Kernet Kopaja yang mencarikan tempat duduk.

Seorang bapak tua selaku kernet bus menjaga saat saya naik, memeringati supir untuk tidak langsung tancap gas, dan lantas mencarikan tempat duduk untuk saya.

Meski diakui perbandingan kernet Kopaja/Metromini yang mencarikan tempat duduk bagi ibu hamil dengan yang tidak masih sangat jauh. Mungkin ke depannya pembenahan transportasi publik ini juga wajib meliputi sosialisasi tempat duduk prioritas.

image3. Petugas bus Transjakarta yang siap sedia membantu saat naik atau turun dari bus ke shelter serta mengingatkan penumpang untuk memberi tempat duduk.

Juga terima kasih kepada mbak dan ibu yang memberi tempat duduk bahkan sebelum petugas mengingatkan dan meski bangku yang ia duduki bukan bangku prioritas.

4. Para commuter di kereta (tentunya bukan saat jam sibuk).

image

5. Tukang ojek yang bersedia melaju perlahan dan tidak melawan arus.

Tukang ojek: “Emang belum cuti neng?”
Saya: “Waduh masih 2 bulan lagi, Bang.”
Tukang ojek: “Saya ngilu liatnya. Kenapa nggak cuti dari sekarang aja?”
Saya: “Haha belum boleh, Bang.”

Juga terima kasih untuk pengendara motor lain yang sadar diri untuk tidak melawan arus, menaiki trotoar, atau menaiki jembatan penyeberangan hingga ada jalur yang dihalangi seperti ini.

image

image

Seriously! Nyusahin pejalan kaki, apalagi pejalan kaki yang lagi hamil. Lagipula jalur landai itu kan untuk difabel kursi roda, bukan pengendara motor.

6. Ibu-ibu pencegah copet.

Suatu sore saat pulang kerja saya mergoki seorang yang awalnya meminta-minta uang di bus. Sasarannya anak sekolahan yang tas ranselnya nggak dipindah ke depan. Duh!

Tangannya terus saja merogoh-rogoh kantong depan tas. Saya deg-degan. Pada saat seperti itu saya mikir kalau tidak saya bantu apakah saya juga dosa? (Maksudnya bantu si anak ya, bukan bantu copetnya).

Akhirnya karena nggak tahan saya bilang Bismillahirrahmanirrahim sambil bisik ke dede di perut untuk ikut bantu. Saya colek si anak sehingga kemudian ia berbalik reflek memutar badan menoleh ke belakang, copet pun menarik tangannya. Habis itu karena takut saya pura-pura ngeliatin jendela bus yang kotor. Si anak pun celingukan bertanya-tanya siapa tadi yang nyolek dia.

Ibu-ibu di seberang saya juga rupanya ngeh sama si copet dan bilang; “Heeeh itu tangannya ngapain?! Mau nyopet ya?”

Lalu ramai lah semua mata memandang ke depan. Eeeh, emang dasar si copet lagi mabuk kayanya. Bukannya pergi dari bus dia malah marahin ibu-ibu; “Bawel banget sih ibu-ibu! Pake bilang-bilang lagi!” Begitu terus berulang-ulang.

Tapi yang penting dia nggak jadi nyopet hehe. Syukur hari-hari selanjutnya ada beberapa petugas yang berjaga-jaga di terminal sehingga orang yang meminta-minta uang sambil maksa ataupun nyopet bisa berkurang.

^^^^^

Terima kasih juga untuk Cicha yang kalo dijemput sang suami bersedia untuk ngajak-ngajak nebeng. Setidaknya itu ngurangin saya ngejar-ngejar bus saat perut sudah gendut.

Dan terima kasih untuk semua sesama pengguna transportasi publik yang bersedia membantu siapa saja yang kesulitan. Terima kasih sudah sedia membantu saya dan dede yang saat itu setia jungkir balik di dalam perut. Semoga berkah dan semoga kalian selalu tiba di tujuan dan pulang kembali ke rumah dengan selamat. Aamiin. Mari sama-sama berdoa semoga transportasi publik yang masih morat-marit itu semakin baik dari hari ke hari. Aamiin.

Transportation is the center of the world! It is the glue of our daily lives. When it goes well, we don’t see it. When it goes wrong, it negatively colors our day, makes us feel angry and impotent, curtails our possibilities.” ~ Robin Chase. (From brainy quote)

0 thoughts on “Transportasi publik saat hamil: sebuah terima kasih

  • June 5, 2015 at 11:23 am
    Permalink

    barusan juga ngobrol sama sepupu, enak udah dikasi tempat duduk sama penumpang KRL dan kopaja, hehehe.. udah keliatan perutnya

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *