Pengalaman ngASI (bagian 1)

wpid-p_20150804_143351.jpg“Kamu sih ASI-nya kalo dipompa 10 ml juga nggak sampe itu!” Seru seseorang pada saya.

Saya terkesiap. Setelah pemilihan nama bayi yang tidak disetujui karena alasan yang tidak real buat kami, pernyataan mengenai ASI yang sebenarnya tak beralasan itu menjadi hal kedua yang sangat kejam bagi saya pasca melahirkan.

Ada beberapa point berdasarkan pengalaman saya menyusui hingga sekarang. Seperti biasa, ini tidak mutlak. Kalau cocok silakan ambil, kalau tidak ya semoga tetap bermanfaat. Dan sepertinya akan panjang karena sekalian curhat ala emak-emak, silakan ambil cemilan ya.

1. ASI belum keluar? Tetaplah menyusui!

Saya bersyukur proses IMD pasca melahirkan berlangsung lancar selama sekitar setengah jam. Dan sesudah pindah ke ruang perawatan saya memancing ASI keluar dengan tetap menyusui meski rasanya belum ada ASI yang keluar.

Pasca melahirkan, bidan (atau asisten dokter?) yang membantu saya menguraikan mengenai ASI. Pesannya adalah untuk tetap berusaha menyusui meski mungkin di awal jumlah ASI yang keluar tidak langsung banyak.

Ya, katanya secara ajaib ASI berpola permintaan-penawaran. Supply-demand. Maka meski tidak belum ada ASI yang keluar tetaplah menyusui. Bahkan meski ada orang yang berkata semena-mena seperti pada kalimat awal tulisan ini, tetaplah menyusui.

Sayangnya hingga batas cadangan makanan dede sudah habis, yaitu bahwa bayi baru lahir punya waktu 2×24 jam untuk tidak masalah tidak minum apa-apa karena masih ada cadangan makanan dari rahim, ASI belum juga berhasil keluar.

Sementara dede sudah menangis berteriak-teriak. Maka jadilah saya tanda tangan untuk pemberian sufor namun dalam hati terus berdoa semoga sebentar lagi bisa keluar.

Hari ke-4 pasca melahirkan dan sudah pulang ke rumah ASI saya belum juga keluar. Sewaktu kawan-kawan datang, saya sempat menangis memikirkan apa jadinya jika ASI tidak juga keluar. Terbayang Abang mencuci botol-botol untuk ASIP bahkan sebelum saya melahirkan. Saya tidak mau membayangkan botol-botol tersebut tidak saya pakai atau bahkan saya tidak pumping di kantor. Saya mau ASI keluar. Titik.

Dan pesan Shella waktu itu adalah;

“Katanya jangan sekali-sekali bilang ASI-nya sedikit. Jangan! Itu kuncinya. Harus terus berpikir positif kalo ASI akan keluar.”

Kunci paling penting dalam hadirnya ASI adalah pikiran positif. Sebelum pulang dari RS ada dokter yang bilang ke saya meski si ibu makan katuk dan bayam sekian ember tapi kalau si ibu tidak bahagia dan berpikir positif maka produksi ASI tidak akan lancar.

Mungkin karena seharian itu saya merasa senang dikunjungi kawan-kawan maka hormon oksitosin sedikit meningkat. Esoknya tanpa diduga sama sekali ASI mulai keluar sedikit demi sedikit. Alhamdulillah.

Maka tetap semangat ya. Teringat juga perjuangan salah satu kawan yang ASInya baru keluar tiga minggu pasca melahirkan. Bayangkan! Tiga minggu! Bagi saya itu luar biasa karena ia bisa saja menyerah di tiga minggu pertama itu.

Dengan tetap semangat ia tetap menyusui meski belum terasa ada ASI yang keluar, selama itu pula bayinya diberi sufor dengan batas tertentu. Ia tetap ingin memberi ASI hingga usaha maksimal. Bahkan meski lingkungan sekitarnya selalu berkata untuk memberi sufor saja seterusnya. Syukurlah setelah 3 minggu ASInya berhasil keluar karena ia tetap optimis.

2. Perlekatan atau latch on yang utama.

Saat ASI sudah keluar saya pikir drama sudah selesai, ternyata malah baru dimulai. Di detik ASI keluar saat itu juga rasa haus dede meningkat tajam. Saya lantas memangkunya untuk disusui namun ia tetap saja menangis. Begitu terus hingga ia kesal dan tangisnya berubah menjadi teriakan.

Saya serba salah memangku dede, hingga sekian menit ia tetap nangis kencang, tak juga bisa menyusu dengan baik. Sampai ibu turun tangan memegangi dede dan tetap saja proses menyusui menjadi hal yang sangat sulit. Nyaris tanpa teriakan dan tangisan.

“Bikin susu aja deh, De.” Seru ibu pada saya.

Saya yang awalnya menolak, tak tega dengan tangisan dede dan akhirnya menyetujui membuat sufor. Hal yang kemudian malah membuat semakin frustasi karena ketika susu sudah diminum, ASI saya baru berhasil keluar namun ketika ingin memberikannya untuk dede, ia sudah tertidur kembali karena kenyang. Saat itu rasanya kesal luar biasa. Akhirnya saya pumping dulu sebagai cadangan saat ia haus nanti. Tapi saya tak mau terus-terusan memberinya susu dengan dot. Saya takut ia tambah bingung puting.

Perlekatan atau latch on yang tidak baik membuat menyusui menjadi tidak asyik. Perih, lecet, hingga bayi yang juga merasa kesal karena posisi yang tidak pas. Atau bahkan ada bayi yang memiliki tongue-tie. Dan serajin-rajinnya seorang calon ibu mengunjungi seminar laktasi sebelum melahirkan, akan tetap lebih baik juga untuk kembali berkonsultasi di saat bayi sudah lahir karena bisa praktek langsung dengan si adek mungil itu.

Saat kontrol dede ke dokter pertama kalinya, saya sekalian mendaftar untuk bagian klinik laktasi. Semua penjelasan tentang ASI, termasuk juga kelebihannya dibanding sufor, cara menyimpan ASIP, dan cara menggendong dijelaskan oleh perawat bagian laktasi. Rasa percaya diri juga meningkat sesudahnya sehingga setelah di rumah saya merasa yakin bisa menyusui dengan baik.

image

3. Tegas pada orang sekitar.

Jika ingin ASI ekslusif maka tegaskan hal itu pada lingkungan sekitar, sehingga ketika banyak yang berkata; “Kasi sufor aja kenapa sih?!” Maka kita punya deretan alasan untuk tidak melakukannya atau minimal senyum atau diam saja demi menjaga perasaannya (eh tapi kalo mendesak dengan sufor mereka mikir perasaan saya nggak ya? Hehe. Biarlah).

Ini belum ditambah pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang yang datang menjenguk; “Iih.. itu masih aus banget! ASInya keluar nggak sih?!”

Blaah!

Di hari ke-7 saya malah nyaris rasanya ngelemparin ember ke atas genteng biar gedumbrangan dan orang-orang bubar. Pada kali ini lupa deh senyum demi menjaga perasaan. Gara-garanya saat ada seseorang famili yang menggendong dede. Tak berapa lama ia bilang pada saya kalau dede diberikan susu botol yang sudah tergeletak di meja.

Saya pun melotot, tapi orang tersebut tetap tertawa-tawa saja; “Sedikit doang.” Katanya.

Ada catatan besar di sini. Yaitu pertama; bahwa susu tersebut adalah milik Daffa yang notabene sudah berusia 2 tahun sementara dede saat itu berusia seminggu. Kedua; tidak jelas susu tersebut kapan dibuat. Karena sufor memiliki batas basi yaitu 2 jam (sementara ASIP di suhu ruangan adalah 4 jam). Ketiga; apa dia tak melihat saya sebagai ibunya yang sedang meringis-ringis karena ASI belum keluar maksimal dan tahap menyusui belum bisa terlaksana dengan baik?

Maka sejak saat itu, sebentar saja dede menghilang digendong siapapun selain ibu, saya akan langsung mengamati dan mengikuti dari belakang. Khawatir kalau-kalau disuapin susu lagi tanpa saya ketahui.

Maka, di sinilah suami berperan sebagai benteng utama, untuk menyemangati, mendukung, dan ikut menjelaskan pada keluarga yang lain tentang pilihan ASI ekslusif ini.

image

4. Pelajari growth-spurt

Kami sama sekali tidak tahu dengan yang namanya growth-spurt atau percepatan pertumbuhan. Masa di mana bayi merasa sangat haus dan butuh minum lebih banyak dari biasanya hingga terkesan sangat rewel atau kurang tidur.

Ini terjadi di hari ke-3 dan hari ke-5 dede. Setiap selesai menyusu dan saya letakan, dede tertidur hanya 5 menit untuk kemudian menangis kencang lagi dan ingin menyusu lagi. Begitu terus hingga pagi. Lingkaran setan tak berkesudahan terjadi ketika kita cenderung menganggap ia menangis terus karena produksi ASI kita tidak mencukupi kebutuhannya atau kurang sehingga lantas memberinya sufor.

Tenang ibu-ibu… memang dia akan cenderung menangis terus pada masa growth spurt itu. Tapi justru di situlah kesempatannya untuk menambah berat badan dan bagi para ibu kesempatan untuk menambah produksi ASI karena peningkatan permintaan.

Pada masa-masa menangis kencang itu sabar-sabar saja ya, meski rasanya remuk redam karena tak tidur. Kalau masih nangis juga sambil dibacain ayat-ayat Quran saja.

Info lebih tentang growth-spurt bisa baca di sini.

5. Semua ASI baik

Saya ulangi: SEMUA ASI BAIK.

Kalau kata mbak Prita; “Bahkan pada ibu yang kurang gizi sekalipun.”

Jadi tidak ada istilah ASInya jelek. Karena saya hampir nangis waktu pergi ke dokter dan ia berkata; “Kalau ASInya jelek, bayinya juga jelek.”

Huaaaaa…. menurut si dokter kenaikan berat dede masih kurang. Dan setelah hari itu saya nggak mau deh kontrol ke dokter itu lagi.

Please, stay positive.. semuanya baik.

6. Pumping.

Dia pumping dapat 300 ml, kok aku cuma 100 ml?

Trust me, kebutuhan tiap bayi berbeda dan yakin saja bahwa ASI kita cukup untuk sang bayi. Saya sempat minder saat pumping, lirik dua orang di depan saya yang datangnya belakangan tapi isi botolnya penuh duluan. Semakin saya memikirkan perbedaan ini semakin sedikit yang keluar saat pumping. Eh, keesokan harinya malah saya yang lebih banyak, ternyata teman saya saat itu katanya lagi suasana hatinya sedang tidak baik. Jadi kondisi ibu pun sangat berpengaruh pada produksi ASI.

Waktu pasca melahirkan dan menjenguk di rumah, teman saya yang kerja dan sudah sukses kasih ASI 2 tahun penuh bilang;

“Tetap pumping ya meskipun ASI yang keluar misalnya tidak seperti yang diharapkan.”

Ia melanjutkan lagi, “Dulu juga temen-temenku rame pada pumping pas awal-awal. Pada semangat. Eh, katanya ASI yang keluar hasilnya sedikit. Trus lama-lama pada bubar. Katanya malas pumping karena cuma sedikit. Padahal makin dipompa, makin banyak.”

Saya pun semangat pumping di awal melahirkan. Ini memang waktu terbaik untuk pumping karena kebutuhan bayi masih sedikit dan masih banyak tidur sehingga kita masih bisa pumping. Saya pun menyewa freezer ASI agar tidak bercampur di kulkas dengan makanan lain.

image

Sayangnya, beberapa minggu sesudahnya semangat saya menurun karena ada yang kekeuh tidak setuju saya pumping. Alasannya takut si bayi malah kurang.

Meski sudah saya jelaskan panjang lebar tetap saja ia menitip pesan berulang kali pada ibu saya dan Abang untuk tidak pumping. Saya kesal lalu semangat benar-benar menurun. Lalu godaan datang untuk tidak pumping sehingga beberapa hari terlewati dengan berkurangnya kesempatan menambah stok ASIP.

Efeknya pun terasa di kemudian hari. Stok ASIP saya saat bekerja kurang sehingga saya sempat pakai sufor. Jadi hasil pumping malam hari saya kasih untuk pagi harinya, kalau kurang saya kasi sufor karena sudah tidak ada stok sama sekali. Nah, tapi saya tetap harus berusaha maksimal sehingga di kantor saya pumping lagi dan ngebut menyerahkannya pada kurir ASI yaitu JNE Jesika agar anak saya bisa tetap nyedot ASI.

image

7. Ada anggapan bayi sehat = bayi gendut.

Fine. Hingga hari ini saat dede sudah berusia 7 bulan, kami masih punya PR menambah berat badannya yang masih tergolong sangat mungil. Dan seringkali ini menambah kepusingan karena (sekali lagi) orang selalu berkata; “Kok kecil banget sih bayinya? ASI kan?”.

Dari yang saya baca, bayi ASI memang tidak selamanya gemuk. Malah cenderung lebih langsing daripada yang diberi susu formula.

Daaan dengan langsingnya ini dede seolah jadi sasaran empuk banget buat dibilang; “Tambahin sufor aja!”

Maka dibandingkan pertanyaan dulu “Kapan kawin?” Saya mah lebih pusing ditanya dan dikomentari, “Kok bayinya kecil aja sih? Nggak gede-gede? Tambahin sufor kenapa sih.”

&#(#&#&#&#(#&]&]!!!

I didn’t fight against sufor. Tapi selama masih bisa saya beri ASI ya saya beri ASI. Nah, masalahnya kalau saya beri sufor terus-terusan jadinya permintaan pada ASI saya menurun sehingga produksinya nanti menurun juga, kan? Ini yang saya tidak mau.

Supaya masalah tidak berlarut, ketika kurva KMS dede dibilang tidak sesuai saya kembali berkonsultasi dengan Mbak Prita (ingat cerita prenatal yoga dengannya waktu hamil kemarin?). Ia pun bertanya seputar pemberian ASI pada saya dan berusaha menemukan titik masalahnya.

Ada dua faktor yang diduga menjadi penyebabnya:

A. Latch on atau perlekatan (sekali lagi) jadi yang utama.

Bisa jadi posisinya masih belum baik seluruhnya sehingga ASI tidak masuk dengan maksimal. Maka sebisa mungkin saya memerhatikan ini.

B. Foremilk dan hindmilk

Nah, ini saya baru tahu. Bahwa cairan yang baru keluar saat ASI dihisap berbeda dengan cairan yang keluar sesudahnya. Foremilk mengandung lebih banyak air dan keluar sesaat setelah bayi menyusui, sementara hindmilk mengandung lebih banyak lemak dan protein dan keluar lebih lama sesudah foremilk.

Jika terlalu sering bergantian payudara maka hindmilk ini tidak akan keluar sehingga yang dihisap bayi cenderung terus berupa foremilk yang istilahnya “bikin hausnya hilang aja saat menyusui”. Tapi ini bukan berarti foremilk nggak penting, lho. Tetap penting baik foremilk atau hindmilk.

Lama menyusui idealnya adalah 15 menit untuk setiap payudara, kurang dari itu khawatir hindmilk belum keluar sementara jika lebih dari itu si bayi cenderung cuma ngempeng doang.

Terima kasih sekali lagi, mbak Prita atas ilmunya. Semoga bermanfaat dan berat dede bisa segera naik menjadi ideal. Aamiin.

8. MPASI dini.

Jadi kenapa ya berat dede bisa kurang? Selain dugaan teori foremilk hindmilk tadi, bisa jadi bakat dede juga yang ngikutin emaknya: langsing!

Masalahnya tidak semua orang mau terima ini. Maka saya pun banyak dikecam karena keputusan-keputusan saya. Dari keputusan kekeuh pengin ASI hingga menolak MPASI dini.

Duh, dari setiap omongan dan tatapan orang-orang saya menduga saya dicap sebagai ibu yang nggak perduli anaknya kelaperan dan terlalu kekeuh sumekeuh!

*garuk-garuk kepala.

Saya rasa semua sudah tahu tentang kelebihan ASI dibanding sufor jadi tidak perlu berdebat lagi tentang itu ya. Toh, saya juga tidak mencap ibu yang tidak ASI atau pake sufor itu bukan ibu yang baik. Tapi ini tentang pilihan.

Tentang MPASI dini, mulai dari pisang, biskuit, beras merah, atau apapun itu saya tolak dari 4 bulan karena insting saya memang berkata belum waktunya. Duh, pernah dengar kah cerita tentang bayi yang disuapi pisang atau biskuit sebelum waktunya lalu ia masuk rumah sakit?

Maka saya memulai MPASI di usia 5.5 bulan. Dua minggu menjelang 6 bulan saya putuskan memberi makanan pendamping perdananya. Lalu hingga sekarang demi mengejar ketertinggalan berat badan, tepung beras merahnya saya campur dengan susu formula sekitar 5-10 ml karena saya sudah tidak ada lagi cadangan ASIP dan sudah tidak memungkinkan pumping. Yap, sufornya cukup segitu aja, hanya untuk dicampur di bubur beras merah.

Cerita tentang MPASI nanti jadi postingan tersendiri ya.

**************

Segitu dulu cerita tentang pengalaman ASI saya. Panjang bener ini, curhat panjang lebar. Maklum ya luapan selama 6 bulan hihi. Daripada saya pendam dan bikin sakit kepala. Semoga sih meski curhatan tapi tetep bermanfaat.

Dan peace buat kamu yang sekiranya suka nyuruh saya kasi sufor setiap kita ketemu hehe. Kamu nggak suka dipaksa, kan? Saya juga nggak, lho. Either saya dan kawan yang katanya udah nggak ngASI ke anaknya yang 10 bulan juga tidak saling memaksakan kalo ketemu. Terima kasih saran baiknya, but still i’m on my own way.

Dan buat kamu (juga yang termasuk bertatap muka hanya sekali ketemu) terima kasih banyak sudah memberi saya semangat untuk terus menyusui.

Juga terima kasih untuk freezer ASI sewaan yang setia membekukan ASI sayah. *dadah2.

image

Semoga ASI bisa terus hingga 2 tahun. Aamiin.

9 thoughts on “Pengalaman ngASI (bagian 1)

  • July 26, 2015 at 2:04 pm
    Permalink

    makasih sharingnya mba ^^ masalah ASI memang pelik, pro kontra dll.. mulai dari cari RS pro IMD dll udah pusing, dan banyak juga yang ASI baru keluar di hari ke 3 jadi terpaksa sufor. Yang penting usaha kan ๐Ÿ˜‰ orang mau ngomong apa ya silahkan

    Reply
    • July 26, 2015 at 6:23 pm
      Permalink

      Hihi yaps. Kadang yang bikin pusing kalo banyak orang sekitar yang tidak mendukung, di situlah dibutuhkan keras kepala hehe.

      Reply
  • August 12, 2015 at 2:59 pm
    Permalink

    Baru tau kalo Kak Yuli punya Blog. Bagus tulisannya..
    Pengalamannya hampir sama kaya aku. Gara2 anakku kecil, Sampai pernah ada yg bilang “ASInya keluar nggak sih?!”
    Sakit hati sih rasanya, tapi aku cuekin aja. Yang penting anakku sehat. Dari pada dikasih sufor, cepet gemuk tapi karena gula.hehe
    Anakku juga pernah dikasih makanan dan minuman yg ga sesuai dg usianya. Rasanya pengen marah, tp apa daya, udah terlanjur.. ๐Ÿ™

    Reply
    • August 12, 2015 at 10:02 pm
      Permalink

      Hi Lia, nyasar ya ke sini? huehehehe. Toss dong kita hihi. Semoga tetap semangat ngASI ya!

      Reply
  • September 4, 2015 at 1:25 pm
    Permalink

    hahaha ternyata banyak jg yg punya pengalaman sama..
    sedih bingits tu waktu mertua yg komentar soal BB anak ku, katanya “kok kecil yo Pung anakmu”, beliau bilang gtu ke suamiku.
    kesempatan nih, pikirku nanya “Lhoh, Ma, Ipung dulu kecilane kurus apa gemuk?”
    kata Mamer “ya kecil tp nggak kurus gini, susu nya mungkin”
    Hmmmm… ini susu dia merk ASI made in Alloh. mau diganti merk apaaA???
    Belakangan PaMer nemu foto ultah suami saya, umur 2taun dan kurus langsiiiiiiiiiiiiiiiing putih rambut tipis,wkwkwkwk
    Tapi aku ya nggak perlu klarifikasi ke MaMer soal foto itu.
    My kid is obviousely un-deniable the daughter of my husband.
    It’s in her blood to be langsing rambut tipis, beda warna kulit doang. anakku berwarna coklat kayak saya…hihihihihi
    Alhamdulillah smp saat ini masih ASI, ASIP, MPASI dan kadang selingan sufor kl ASIP habis.
    bukan krn ASI sudah nggak keluar, cuman tenaga saya ternyata udah gak se-prima dulu untuk pumping malam.dan kerjaan jg kadang bikin susah pumping di kantor.

    Reply
    • September 5, 2015 at 2:58 pm
      Permalink

      Siips. Apapun keputusan kita tentunya sdh dipikirkan baik2 supaya si anak mendapat yg terbaik. Sayangnyaaa yang ngeliat selintas doang yang suka komen sampe bikin kesel -.-

      Reply
  • May 19, 2018 at 4:58 pm
    Permalink

    berapa lama berthannya di dalam kemasan asi yang asli di peras…?
    jika sudah kadalwarsa atau udah basi asi itu memliki bahaya untuk bayi berapa….?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *