Merindu ibu (bagian pertama)

28 Januari 2014

Seperti biasa, ibu sibuk mengurus ini dan itu menjelang keberangkatan kami. Ia sibuk menghitung berapa pakaian yang harus saya bawa, berapa kue yang akan ia titip untuk sanak famili kami, bahkan tas yang harus saya bawa.

Yup. Ini memang kebiasaan ibu sejak dulu bahkan berlanjut hingga sekarang saya sudah menikah. Dan saya, yang sudah melewati banyak perdebatan menjelang keberangkatan, kali ini menyerah dan menolak hingga menurut saja saat kami disarankan menggunakan koper untuk berdua dan bukannya si biru, keril kesayangan saya yang belum pernah saya pakai.

Sama seperti waktu saya dan Ibu ke Bromo hampir 6 tahun lalu, ibu pun akan berusaha agar setiap perjalanan kami tak kekurangan pakaian. Rumus Dina-Dua Ransel mengenai “satu pakai-satu cuci” akan ditolaknya mentah-mentah!

Fiuhh… saya tahu Abang mungkin mengernyit mendengar kami harus menggeret-geret koper hanya untuk pulang ke desa, tapi mau bagaimana lagi? Saat itu saya enggan mengeluarkan jurus-jurus perdebatan. Di dalam kamar saya hanya cekikikan menanggapi ibu yang repot sendiri. Saya pun kembali packing ulang, memasukkan dan menambahkan pakaian saya dan Abang ke dalam koper.

29 Januari 2014

Ibu bahkan kekeuh menjemput saya yang izin pulang lebih cepat satu jam dari kantor lalu mengantar saya pula bersama sang keponakan menuju stasiun Senen. Sementara Abang langsung dari BSD ke Stasiun Senen menggunakan buskota.

Di stasiun, ibu tak henti-hentinya mengulang catatan mengenai pesanan kue dan segala printilan yang harus diberikan untuk sanak saudara yang segambreng itu. Saya hanya mendengarkan sambil menggendong Daffa, sang keponakan, pasrah.

Kereta kami akan datang pukul 18.40, maka pada pukul 17.45 saya dan Abang harus segera berpamitan untuk masuk ke peron. Ibu gelisah menanggapi Abang yang masih sibuk mengantri membeli minuman (yang disuruh ibu). Saya hanya garuk-garuk kepala. Begitu Abang datang, kami berpamitan dan saling riweuh karena tangan kanan saya menggeret koper yang tetap harus diangkat setiap melewati undakan sambil tangan kiri memegang minuman panas yang semakin melangkah semakin tumpah-tumpah sehingga menetes membasahi kaki saya. Saya meringis kepanasan di jemari dan kaki.

Abang tak jauh berbeda. Ia menggemblok tasnya sendiri di punggung, memegang minuman panas yang juga tumpah-tumpah di tangan kiri, tangan kanan menenteng tas yang penuh berisi kue ibu.

Usai sukses melewati pemeriksaan karcis, meski dengan tangan yang sibuk terkena tetesan teh panas, saya ternganga memandang ke depan bahwa kami harus menuruni tangga dan jalur landai curam di sebelah kanan untuk dilewati koper beroda. Kami harus melewati itu untuk bisa sampai peron.

Saya dan Abang bertukar tas. Kali ini ia yang akan menggeret koper dan saya yang membawa tas kue. Baru satu langkah menuruni tangga sambil tetap menyeimbangkan jalannya koper, tas berat beroda itu sudah langsung tergelincir dan terguling. Satu tas kecil berisi kue pun terjatuh dan meluncur dengan mulusnya merosot seperti anak kecil main perosotan, melewati jalur landai lalu sukses mendarat jauh mendahului kami di lantai bawah sana. Kami mencoba menjalankan koper lagi tapi tetap tak bisa.

Akhirnya kami tahu bahwa koper beroda itu rupanya harus didorong terbalik melewati jalur landai supaya tidak terguling, dan bukannya seperti posisi saat kami menariknya di jalur rata.

“This is so ridiculous!” gerutu saya sambil memungut tas kue di lantai. Tangan dan kaki saya sudah jangan ditanya lagi rasanya terkena semakin banyak tetesan air teh panas. Inilah akibatnya kalau anak ransel disuruh bawa koper.

Sampai tiba di peron dengan kondisi jari dan kaki lengket, serta celana panjang yang terkena cipratan kopi panas dan teh panas saya menarik nafas panjang. Mencoba mengingat-ingat lagi mengenai apakah setiap perjalanan saya selalu diawali kejadian semacam ini. Tapi sudahlah.

Terdengar ponsel kami berbunyi, Ibu yang menelepon. Meski hanya berjarak beberapa meter saja, kami berbicara melalui telepon. Ya, ibu masih berada di depan stasiun dan tak akan pulang lebih dulu jika kereta saya belum berangkat nantinya. Padahal saat itu keretapun belum datang.

Kalau ada yang bertanya; “Kenapa saya tak menyuruh ibu pulang saja sih? Merepotkan ibu saja sampai harus ditunggu.” Nah, itu dia masalahnya. Ia tak akan mau! Itu sudah prinsipnya: tak akan pulang sebelum kereta atau bus atau pesawat orang yang diantarnya berangkat dan lepas dari sudut matanya.

Ah, saya menatap sisa-sisa lengket di jari tangan, kaki, dan celana, menatap Abang yang kesusahan menggeret koper yang seringkali terguling meski sudah disandarkan. Padahal keril seberat 30 kilo pernah disandangnya waktu Perjalanan Panjang menjelajah gunung dan hutan, tapi membawa koper ia kesulitan.

Lalu tiba-tiba saya rindu ibu, yang hanya berjarak beberapa meter di luar stasiun sana.

Dalam diam, saya teringat salah satu ucapan kawan beberapa tahun lalu saat kami akan menuju Jawa Barat; “Waktu gw mau kursus singkat ke Korea tiga bulan aja nggak ada satu pun yang nganterin gw sampe bandara. Sendirian! Bengong. Nah, loe? Cuma mau ke Ujung Genteng aja yang nganterin satu mobil! Gimana kalo pergi haji?? Haha.”

Saya menatap lurus ke depan, ke arah rel kereta yang beberapa menit lagi akan dilalui kereta kami. Berdoa semoga perjalanan kami dilancarkan hingga tujuan, sambil memikirkan betapa beruntungnya saya yang masih diurusi ibu.

~ Jakarta. Catatan satu tahun lalu. 17 Maret 2014.

0 thoughts on “Merindu ibu (bagian pertama)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *