15 menit di NET TV (cerita di balik layar)

Saya gelagapan waktu AC dalam lift (dan lampunya sekalian) mati tiba-tiba. Saya pun memijit tombol agar pintu lift terbuka. Tak ada pergerakan apapun. Saya melirik WhatsApp dan mengirimkan kabar kalau saya terjebak di lift. Sisa 15 menit lagi dari jam 6 sesuai perjanjian tiba di lokasi.

Gawat. Pikir saya waktu lihat sinyal juga tak nampak di hp. Saya pencet tombol lagi dan pintu tetap tak terbuka.

Alamaaak!

Selasa sore di awal September itu ada mention yang masuk ke twitter. Isinya tentang kesediaan sharing skoliosis di NET TV. Saya pun membalas dengan memberi tahu kontak via email. Setelah pembicaraan lebih lanjut ternyata acara akan dilaksanakan keesokan harinya. Wuaah!

Acara yang dimaksud rupanya sesi 15 menit dalam Indonesia Morning Show yang host-nya adalah Adrian Maulana dan Shahnaz. Mbak Chaca (pihak NET TV yang menghubungi saya), menanyakan berbagai hal dan kesanggupan saya untuk menjadi narasumber. Saya, yang saat itu sedang riweuh karena diare dede yang tak kunjung sembuh, tak langsung menjawab dan masih menimbang-nimbang. Tapi setelah izin dikeluarkan dan bilang ibu untuk menitip dede sejenak, saya akhirnya menyetujui.

Mbak Chaca pun berpesan agar saya tiba pukul 6, membawa serta rontgen x-ray tulang belakang, brace, dan juga buku Pantang padam: catatan skolioser saya.

Rabu, 2 September 2015. Pukul 5 pagi

Bang Juri, ojek langganan sepupu saya sudah tiba di depan rumah. Ibu pun mengeluhkan saya yang belum siap. Saya menyahut dengan terburu-buru bahwa jam 3 dini hari tadi saja saat terbangun untuk menyusui sesudahnya saya masih berusaha mencari hasil rontgen yang belum ketemu. Ngantuknya itu, lho. Kata saya kekeuh membela diri. Pukul 05.15 saya baru berangkat, pamit sama Abang, ibu-bapak, kakak, dan sun dede yang saya tinggal dan semoga mendoakan mamahnya keluar rumah dengan penuh berkah dan manfaat.

Di jalan saya berpikir bahwa luar biasa sekali hampir 5 tahun kemarin saya bekerja dan tak pernah berangkat subuh eh tiba-tiba ketika sudah resign kerja malah berangkat subuh.

Di kawasan Kuningan kami sedikit berputar dan menepi sejenak agar saya bisa mengecek peta. Saya menyuruh bang Juri untuk lurus sedikit lalu belok kiri dan tibalah kami di The East Building.

Saya masuk ke dalam gedung, celingukan dan sebenarnya sedikit menaikan alis waktu Mbak Chaca memberi tahu alamat dan lantai tempat acara berlangsung. Lantai 28!

Fiuh.. have i told you that i don’t like lift?

Tapi tetap saja tak mungkin saya pergi naik tangga. Maka saat melihat lift berjajar dan berhadapan, saya langsung memasukinya saat pintunya terbuka. Saya menyadari sat itu ada seorang perempuan di depan lift sebelah yang memerhatikan saya.

And yes, pintu lift kemudian menutup dengan saya di dalamnya.

“Bentar deh. Tombol nomornya mana?!” Saya melotot menatap tombol nomor yang seharusnya ada di bagian dalam lift. Alamak, jangan-jangan tombolnya yang tadi ada di luar. Saya pikir itu mesin absen. Lalu saya ingat mbak yang tadi ngeliatin saya. Mungkin dia takjub melihat saya masuk lift tanpa menekan nomor.

Karena tidak dipencet tentu saja lift saya itu tidak bergerak, sodara-sodara. Dan saya memilih untuk tidak langsung keluar lift karena menduga si mbak yang tadi masih berdiri di depan lift sebelah. Malu.. ihiks…

Setelah kira-kira 2 menit, saya keluar dan menekan tombol 2 dan 8 berurutan di tombol ujung. Salah satu lift terbuka dan saya masuk. Siap berdoa sepanjang perjalanan menuju lantai 28.

Langsung sampai? Oh, tidak dong..masih ada lagi..

Pintu lift terbuka di lantai 2, menampakkan lantai yang masih gelap dan sepi. Saya santai saja karena lantai 2 kan bukan tujuan saya. Pintu lift menutup dan sekitar 2 menit kemudian ac dan lampu mati seperti yang saya ceritakan di awal tulisan.

Glek…

Jangan-jangan saya salah naik lift. Jangan-jangan lift menganggap saya mau ke lantai 2 dan bukannya 28! Dan karena di lantai 2 saya sudah dianggap keluar maka lift pun berhenti otomatis. Lalu sampai kapaaan?

Saya memerhatikan dengan seksama bagian peringatan darurat. Lalu terbaca tulisan: jangan panik jika terjadi sesuatu dan tekan tombol darurat.

Ok. Saya tekan tombol darurat.

Tidak ada jawaban.

Tekan lagi.

Tidak ada jawaban.

Hueee… *siap-siap ngedobrak atap lift ala film yang entah pake apa dan dibatalkan karena nggak nyampe juga ke atap keleus.

Hingga akhirnya ada suara di speaker dekat tombol darurat. Santai dan elegan dan sepertinya si bapak lagi menikmati suasana pagi hari dengan kopinya.

“Ya, ada apa?” Tanyanya.

“Pak, saya nggak bisa keluar.”

“Nggak bisa keluar?” Tanyanya heran. “Coba tekan tombol pintu terbuka.”

“Udah dari tadi, Pak. Nggak bisa-bisa.”

“Coba pencet lagi.”

Sebelum saya tekan, lampu dan AC lift menyala kembali dan lift pun bergerak. Kembali ke lantai 1.

“Udah bisa, Pak. Makasi ya.”

Rupanya lift bergerak karena ada ibu yang memencet tombol dari lantai 1. Begitu si ibu masuk lift, saya pun menghadang pintu lift supaya tidak tertutup. Semoga si ibu nggak kaget dan mengira saya mau nodong atau apa.

“Bu, ini gimana ya kalo mau naik ke lantai 28?”

“Ooh.. kalo ke lantai 28 di sebelah sana, de. Ini sampe lantai 16 aja. Nanti pencet tombol 28 dulu baru masuk ya.”

“Makasi ya bu.” Dan saya pun ngibrit ke lift tengah. Kali ini semoga nggak salah dan fiuh… sampe juga ke lantai 28.

^^^^^^^^^^^^^

Rupanya saya disuruh tiba jam 6 supaya di-make up dulu. Tadinya sih saya mau minta dandanin kakak saya, tapi karena dadakan, nggak keburu, dan alat make upnya ketinggalan di kantor jadi ya udahlah, no make up like usual. Saya sih nggak masalah banget karena biasanya juga nggak pernah dandan. Tapi ternyata nggak mungkin juga ya masuk tivi nggak pake make up kecuali ditodong wawancara di trotoar hahaha.

image

Sambil saya di-make up, Mbak Chaca bertanya beberapa hal dan beberapa penata rias yang sedang tidak ada kerjaan pun bertanya apakah boleh melihat hasil rontgen saya yang tergeletak di meja. Mereka pun bertanya tentang skoliosis yang rupanya adalah hal baru bagi mereka.

Slot talkshow adalah jam 7. Setelah selesai saya punya waktu dulu untuk duduk-duduk dan (sekali lagi) sambilan menginformasikan tentang skoliosis karena beberapa kru juga bertanya tentang hal tersebut.

image

Dr. Arsanto tiba menjelang jam 7 dan kami pun bersiap ketika sudah ada info untuk masuk ke studio, bertemu dengan Mas Adrian dan Mbak Shahnaz.

Oouch.. saya kaya dipaku di kursi saking gugupnya.

image
Foto: Mbak Nisa

5.. 4.. 3.. 2.. 1.. dan yak mulai.

Sesi pembuka tentang skoliosis ditampilkan dan host pun menyapa kami. Saya ditanya tentang skoliosis saya dan tiba-tiba blank.. saya nggak tau mau jawab apa haha… rasanya mau bilang CUT tapi itu on air =_=.

Pertanyaan pun beralih ke dr. Arsanto dan selanjutnya memang lebih banyak membahas skoliosis dari sisi medis. Pertanyaan untuk saya baru muncul lagi di akhir sesi dan nggak sempat juga munculin brace ataupun hasil rontgen, apalagi buku saya hihi. Apapun itu 15 menit yang singkat banget dan semoga jadi bermanfaat supaya lebih banyak masyarakat yang tahu tentang skoliosis.

Sambil menunggu Bang Juri menjemput kembali, saya cek hp yang ternyata banyak WhatsApp nongol. Isinya heboh menanyakan perihal penampakan saya di TV. Alamaak ini pada nongton ya. Padahal saya cuma kasi tau orang rumah dan teman dekat saja. Buat minta doa dan konsultasi pake baju apa haha. Selebihnya saya nggak kasi tahu saking nervousnya, bahkan grup WhatsApp skoliosis pun lupa saya kasi tau!

Pagi saat saya baru sampai di lokasi dan cek hp, kakak saya ternyata lantas menyebarkan info ke grup sepupu. Sementara teman-teman yang lain ternyata emang mantengin NET terus kaget lihat ada saya nongol.

Lampu studio sudah dimatikan sejak tadi. Para kru pun mungkin sedang evaluasi, kecuali 1 orang anak magang yang saat itu nemenin saya. Mbak Shahnaz keluar dari studio dan mengucapkan terima kasih. Lalu tidak lama Mas Adrian yang keluar sambil tersenyum. Dengan ramah ia menanyakan usia anak saya saat itu lalu bercerita juga sedikit tentang anaknya yang lahirnya nggak jauh beda sama anak saya. Kami lantas ngobrol-ngobrol singkat tentang skoliosis dan buku yang saya buat. Buku yang saya bawa akhirnya saya berikan untuknya.

Setelah itu ia pergi dan saya memutuskan menunggu Bang Juri di lobi saja, sebelumnya foto dulu di lift yang tadi sempet bikin panik hehehe.

image

Thanks Indonesia Morning Show NET TV sudah mengangkat tema skoliosis!

image

Saat sampai di rumah saya disambut Daffa di garasi yang cengar-cengir sambil bilang; “Mamah.. mamah tadi di tivi ya. Mamah pake baju ini.” Katanya girang.

Begitu saya bertemu ibu di dalam yang sedang memandikan dede, ibu malah mengeluh; “Daffa tadi.. ya ampuun.. masa sepanjang acara di TV malah nangis! Nggak kedengeran deh di TV ngomong apa.”

Hah nangis? Barusan nyambut saya girang bener. Ibu lalu melanjutkan ceritanya dan kira-kira adegannya seperti ini:

Suasana: ayah, ibu, dede, dan Daffa sudah siap nongkrong di depan TV.

“Tuh dia. Ada mamah di tivi.” Kata ayah, yang hari itu telat kerja karena bantuin ibu mengurus Daffa dulu.

“Huaaa…!!! Mamaaaah…! Mamaaah.. nggak pulang-pulaaang.” Daffa tiba-tiba menangis berurai air mata.

“Lha kok malah nangis ni anak. Itu dengerin dulu mamah.” Kata ibu heran.

Daffa tak perduli dan tetap nangis menatap televisi. “Mamaaaah! Mamah.. nggak pulang-pulang… kopernya mana..”

“Koper apaan sih Daaaaf.” Tanya ayah heran.

Dan sepanjang 15 menit Daffa pun menangis kencang sambil menatap televisi. Rupanya saat saya tanya langsung (kemungkinan besar) Daffa mengira saya masuk ke dalam tivi sehingga nggak pulang-pulang dan membutuhkan baju yang banyak serta koper.

0 thoughts on “15 menit di NET TV (cerita di balik layar)

  • September 23, 2015 at 1:54 pm
    Permalink

    Ihiy Yulia.. keren euy. Salah pokus saya bacanya, jadi ngetawain Daffa plus ngebayangin kejadian di lift XD

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *