Sekolah impian untuk Riung

Saya nggak tahu lah, mana yang lebih bikin kriyep-kriyep mata: ngerjain skripsi atau ngebungkusin barang dagangan setelah dua malam sebelumnya bangun tengah malam untuk bikin proposal dan lantas menyusui.

Eh salah. Ralat deng. Tentu saja lebih kriyep-kriyep yang kedua ya hehe. But i hope it’s really worth it.

Abang memberi tahu tentang kawannya yang sedang ada di Riung, NTT. Kawannya itu sedang menjadi relawan di salah 1 SD di sana. Yes, as i guess: another Lintang is on the way: bangunan sekolah seadanya, buku tulis di tas kresek, jarak sekolah yang melintasi hutan dan bukit, tanpa alas kaki, dan seolah masih kurang lengkap: minim buku bacaan!

Segera saja saya menyarankannya untuk mengirimkan profil singkat pada komunitas saya. Ah, bukan sok penting atau memiliki dana segudang sehingga minta dikirimkan proposal. Tapi semacam review singkat tentang kenapa mereka layak kami kirimkan buku-buku bacaan.

Lalu tidak hanya buku bacaan. Sekalian saja ya: mengumpulkan alat tulis, tas sekolah, seragam, kaos kaki, hingga sepatu kalau perlu.

Saya pun mengirimkan pesan tersebut pada grup WhatsApp sepupu, yang syukur disambut baik sehingga menyuntikkan semangat. Si tante malah mau ke pasar pagi buat beli tas sekolah kalo sempet.

Lalu di grup komunitas Kelanakelapa disarankan bikin poster, satu hal yang kemudian saya syukuri kenapa ada orang-orang yang ditakdirkan untuk pintar dalam hal membuat aplikasi. Iyes, bikin poster via hape sekitar 6 tahun lalu mana bisa saya lakukan. Dan itu jadi tak ternilai karena saya tidak ada laptop dan seharian bersama bayi. Ketika Arsa tidur saya ngebut masak nyapu, ngepel, dan lantas bikin poster via hape. Judul “Sekolah impian untuk Riung” dicetuskan oleh Tiwi.

wpid-img_20150923_105741.jpg

Jadi, siapa mau ikut donasi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *