Bertiga (D&A)

Ini cerita tentang kami bertiga.

Ketika dunia seolah hanya milik kami sejak pagi hingga sore.

Cerita ketika Mas D, Mamah, dan Dede A menelusuri jalan pagi hari.

Saat matahari beranjak naik dan sedang hangat-hangatnya.

wpid-20150316_071525.jpg

 

Saat cuti melahirkan dimulai dan saya menghitung minggu-minggu persalinan, saat itu juga kedekatan saya dan D, keponakan saya itu, meningkat. Bagaimana tidak? Sejak pagi hingga sore kami main bersama. Terkadang ia kabur keluar rumah dan saya lantas mengejarnya. Jujur saja, tidak mudah untuk refleks berlari dengan kondisi perut gendut.

Terkadang ia ikut mengusap perut saya sambil bilang “Dede…” lalu menyundulnya dengan kepala.

Setelah A lahir, saya yang terbiasa bermain dengan D sepanjang hari rupanya cukup merindukannya karena tentu sebagian besar waktu tercurah untuk bayi saya sendiri. Semenjak A lahir itu pula lah, D mengganti panggilan untuk dirinya sendiri dengan sebutan “Mas”.

Ketika tiba waktu berjemur di pagi hari, Mas biasanya sontak berlari dan riweuh mencari sepatu boot kesayangannya sambil bilang, “Ikuuuuut!”.

Satu hal yang menggelikan adalah ketika pasca 3 bulan melahirkan dan saya punya sedikit waktu untuk jogging kembali. Saya ngibrit dengan senangnya ke arah pintu, sudah lengkap dengan baju dan sepatu olahraga. Tidak sabar untuk kembali berolahraga karena belum tentu setiap hari A tertidur di jam 6 pagi. Ketika saya sedang girang dan hendak berlari mencapai pintu itulah terdengar suara; “Mas ikuuuuut!”

Hiyaaah…. lupa saya kalau punya 1 bocah lagi.

Mas D adalah sosok anak yang selalu riang dan super aktif. Dan tentu tambah satu lagi: tidak berhenti berbicara. Pernah suatu pagi ia mengoceh apa saja mulai jam 4 hingga jam 10 pagi. Saya rasa mungkin ia bisa menjadi penyiar radio atau MC nantinya hihi.

Karena selalu ada saja yang dibicarakan ditambah rasa ingin tahu yang besar, maka ia selalu menanyakan apa saja setiap melihat hal baru. Dan hebatnya seorang anak adalah ia menyerap dengan sangat cepat. Rasanya baru kemarin ia bertanya “Apa itu?”, eh hari ini sudah ingat.

“Mamah, itu apa?”
“Mamah, ada mobil jeep. Pelknya item.”
“Waah mobil apa itu? Knalpotnya penyok.”
“Itu.. itu.. kenapa begitu?”
“Waah rumahnya dibongkay.”
“Mamah, Mas mau liat terong lado.” (Maksudnya terong di pohon rumah bu RT yang bisa dibikin terong balado).
“Mamah, itu ada kakak yang gendut!”
(Huussh! Nggak boleh gitu. Kakak aja).
Dan kalo saya tidak merespon atau tidak menyahut, maka Mas akan bereaksi; “Mamah… mamah.. MAMAAAAAH!”

Daaaan masih banyak lagi yang dibicarakan saat kami berjalan pagi sambil mendorong stroller A.

Siang harinya, setiap hari, seluruh mainan akan berserakan di kamar tidur. Ketika kakak ipar sudah berangkat masuk siang, maka saya dan A akan boyongan ke kamar Mas dan menghabiskan waktu di sana.

“Mamah, dede pipis nggak?”
“Mamah, dede bobo.”
“Mamah, dede mau diambilin pelak?”
“Mamah.. mamaaaah.”
Zzzzzz
Dan saya pun tertidur haha.

Kehebohan kami bertiga tentu mengajarkan banyak kesabaran untuk saya. Mas memang keponakan alias bukan anak kandung saya, tapi dengan bersamanya setidaknya saya jadi sedikit tahu rasanya punya anak dua. Kesenangan kami semakin menjadi saat saya memutuskan resign. Maka sejak itu seolah dunia kami hanya bermain (dan mencuci buat saya).

wpid-img_20151019_203851412.jpg

 

Sore hari kadang kami main lagi di luar sebentar, menanti Abang pulang dan menunggu kedatangan tukang roti. Dan esok hari berulang lagi dengan rutinitas mendorong stroller saat udara masih terasa sangat ramah.

Lalu tiba-tiba keputusan untuk pindah ke rumah Ciputat seolah menghentak saya. Iyes, seolah ketenteraman kami bertiga tergoyahkan. Jreng.. jreeng..

Saya tahu kami tak mungkin selamanya bermukim di rumah ibu, pun begitu dengan kakak saya. Tapi saat itu saya merasa tidak siap. Apalagi mengingat di Ciputat nanti saya akan menghabiskan waktu hanya berdua A saja, seharian. Dan tentu jujur saja mungkin tidak ada yang menolak kalimat “tinggal di rumah sendiri terasa lebih nyaman dibandingkan dengan di rumah mertua.”

Dan jauh di atas itu semua. Saya merasa sedih meninggalkan rutinitas saya, Mas, dan A untuk berjalan di pagi hari. Hiks..

wpid-p_20150429_080529.jpg

Beberapa minggu sebelum kepindahan kami, saya selalu mengulang pertanyaan yang sama; “Mamah sama dede ke Ciputat ya?”

Mas pun menjawab, “Nggak boleh. Di sini aja.”

Lalu saya pun menggalau seiring semakin dekat waktu kami pindah.

^^^^^^^^^^^^^^^

Ketika tiba harinya, keluarga mengantar kami ke Ciputat. Sebenarnya mungkin tidak bisa dikatakan pindah seutuhnya, karena beberapa minggu sekali kami masih akan menginap di rumah ibu. Namun tetap saja ada yang hilang dari diri saya. Ketika itulah saya teringat sepupu saya, Anggi, yang menangis kencang 21 tahun lalu saat menanti detik kepindahan dari rumah nenek kami ke rumah baru yang akan ditempatinya bersama mamah dan papahnya. Saya jadi berpikir, jangan-jangan waktu itu yang sedih bukan hanya Anggi ya? Jangan-jangan Mamahnya juga sedih tapi tak nampak. Atau saya yang tidak fokus padanya?

Mas fine-fine saja sepulang mengantar dari Ciputat. Kami dadah-dadah dan saya lantas menciumnya sambil bilang, “Jadi anak baik ya.” Ia pun melambaikan tangan dari mobil. Namun yang terjadi keesokan harinya kemudian membuat saya menangis beberapa minggu setelahnya saat saya baru tahu cerita sebenarnya dari kakak.

Yaitu bahwa esok paginya Ayah saya berkata pada Mas yang baru bangun dari tidur; “Jangan nyariin Mamah sama Dede ya. Kan di Ciputat.”

Mas pun lantas berlari ke kamar saya yang saat itu pintunya tertutup. Ia mengetuk sambil berkata dengan sedikit merengek; “Tok.. tok buka pintuu… Mamah, Dede…. Mas mau masuuk…” Tentu tak ada sahutan, dan lama kelamaan rengekannya berubah jadi tangisan, “Tok..tok.. Mas mau masuuk… huaa..”

Ayah pun membukakan pintu kamar dan mendapati kamar kosong, tak ada saya atau Dede, Mas semakin menangis. “Mamaaaaah… Dedeee…huhuuuu….” dan dalam diam-diam, kakak saya pun tidak bisa menahan tangis melihatnya.. Beberapa minggu sesudah kepindahan kami ia bercerita hal tersebut dan gantian saya yang menangis sambil membaca ceritanya di layar ponsel. Hiksss…. T_T.

 

Tapi sama seperti kesenangan yang tidak abadi, kesedihan pun juga tidak bersifat abadi. Maka, segera, Mas bisa menerima bahwa Mamahnya ini beserta adik sepupunya tidak lagi bisa setiap hari berada bersamanya. Dalam beberapa minggu kami memang kembali menginap di rumah ibu, atau gantian ibu yang mengajak Mas main ke Ciputat.

Tapi saat kami ke rumah ibu tentu semua tidak lagi sama. Terutama bagian “mendorong stroller” karena stroller sudah kami boyong ke Ciputat. Dan lebih menyedihkan karena stroller tersebut seolah hanya tertutup kain dan debu saja karena dede tidak mau naik dan jalan keluar pun tidak memungkinkan mengingat banyak sekali motor yang lalu lalang di gang.

Jika tidak ada halangan, beberapa minggu ke depan mungkin kami akan kembali pindah dari rumah Ciputat. Semoga saja menempati rumah baru yang lebih berkah. Tidak bersama Mas tentu saja. Karena ia pun nantinya akan pindah ke rumahnya sendiri. Tapi cerita pagi antara Mamah, Mas, dan A beberapa bulan lalu akan selalu menjadi memori menyenangkan. Mereka akan tumbuh dengan sangat cepat. A saat ini sudah mulai titah, sebentar lagi ia akan berjalan. Dan tidak lama ia akan berlari dengan Mas.

Maka saat itu setiap menyusuri jalan di rumah ibu, setiap langkahnya akan sarat dengan memori kami bertiga. Bercerita tentang belalang yang menyerbu pohon bogenville, bercerita tentang pohon belimbing yang sedang berbuah, dan berbicara tentang mobil yang (menurut Mas) knalpotnya penyok karena tidak berbentuk lingkaran penuh.

Cerita tentang kami bertiga saat matahari sedang beranjak naik dan memberi kehangatan.

wpid-img_20150221_074853.jpg

 

~ Ditulis sejak Agustus dan selesai pada 28 Oktober 2015 di Ciputat.

Hari Sumpah Pemuda. Semoga suatu hari nantinya kalian akan tumbuh menjadi pemuda yang membanggakan. Aamiin.

0 thoughts on “Bertiga (D&A)

  • November 18, 2015 at 2:06 pm
    Permalink

    OOO jadi si Daffa ini keponakan…
    Aku sampe mata merah mbacanya mbak..
    krn aku nggak punya kenangan kayak gitu sama ponakan.
    Sejak Saffanah umur 1,5 bulan kami pindah ke rumah gresik dari rumah ibu di jogja, sejak saat itu kami tinggal bertiga.
    Ponakan juga jauh semua di surabaya, cuma kadang2 aja kami saling mengunjungi.
    Malah yg justru lbh deket ke Saffanah itu anaknya yg momong Saffanah, namanya kakak zahrah.
    Kl sabtu-minggu saffa libur, mreka saling cari, dan kl ketemu serasa udah gk ketemu semingguan, heboh berdua.
    Alhamdulillah nemu keluarga di kota orang, meski gak sedarah tapi mereka(zahrah dan ortu nya) keluarga kami juga skarang.

    Reply
    • November 19, 2015 at 10:08 pm
      Permalink

      Iya nih ponakan nempel terus hehe. Dulu juga ada sepupu yang nempeeel bener sama aku, sampe2 pas ulang tahun aku yg dia mau jadi MC. Sekarang sudah SD boro2 nempel sama aku hihi jadi berasa kehilangan juga :p

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *