Home (not) alone

What life’s like when a new mom at home only with the baby? Oh, ask me!

Ada beberapa sebab awalnya saya tidak setuju dengan kepindahan ke rumah ibu mertua di Ciputat. Selain kondisi rumah yang tidak terbiasa dengan adanya bayi, dede juga masih sulit sekali jika ditinggal sendiri. Sehingga, akan sangat hectic sekali kondisi di rumah berdua dede saja.

Jangankan berdua, di rumah saya dengan kondisi ada beberapa orang pun ia masih menangis kencang jika saya tinggal meski hanya beberapa menit. Ditambah lagi ia sensitif sekali pada suara. Sedikit saja kresek-kresek maka bangunlah ia dari tidurnya.

Dua hari pertama kepindahan, ibu saya masih menemani. Sebelumnya saya pun sempat bertanya pada beberapa kawan yang memiliki pengalaman berdua saja di rumah dengan bayi. Namun tetap saja prakteknya jauh dari sekedar teori; “Sabar ya.”

Ketika mendung datang, saya harus bergegas mengangkat jemuran supaya tidak keburu hujan. Biarkan saja dede ditaro di kasur bawah bersama mainan? Ooh, itu hanya berlaku 2 menit atau bahkan tidak sama sekali karena begitu ia menyentuh kasur ia langsung menangis.

Ketika saya ke warung depan rumah, si ibu menegur dengan bilang; “Masih sering nangis ya bayinya?”.

Ada berbagai tipe anak yang tentunya semuanya unik. Dan lontaran kata-kata; “nangis mulu” atau “cengeng” adalah yang paling saya hindari. Mungkin ia tahu Amanya ini sudah resign untuk bersamanya maka ia tak membiarkan saya hilang sejenak meski untuk mengambil termos.

Pernah juga saya shalat di sampingnya, diiringi tangisan kencang tentu saja. Lalu pengalaman pertama menggendong dede sambil ngangkatin jemuran bikin pinggang dan punggung hampir encok-encok. Sementara baskom dan bak mandi, gelas dan mangkok, blender, cucian kotor serta rendaman cucian masih bergeletakan begitu saja sudah sejak lama karena baru mau dicuci ia sudah bangun kembali karena suara air. Itu masih belum ditambah lantai yang belum sempat disapu dan dipel. Ffiiuuuh…

Saat tulisan ini dilanjutkan kembali (Oktober 2015) dan di usia dede yang hampir 10 bulan, saya mencatat beberapa hal yang wajib saya ingat. Here’s the fact for the everyday life:

1. Lakukan selagi ada kesempatan!

Yang artinya: begitu dede tertidur pulas maka segeralah jungkir balik mengerjakan semuanya!

Berdasarkan pengalaman, menunda beberapa menit saja maka hal tersebut langsung gagal dilakukan. Kegiatan menyapu jadi hal paling utama di sini. Karena terletak dekat di jalan raya, rumah di Ciputat ini cepat sekali berdebu. Secepat kilat saya harus menyambar sapu saat dede tidur dan mulai membersihkan debu. Ini juga karena dede sudah hobi sekali merayap ke sana-ke sini sehingga penting sekali kondisi lantai bebas dari debu agar tetap bersih. Setelah itu (sambil berdoa semoga ia tidak bangun dulu) lanjutkan dengan ngepel. wpid-p_20150729_090805.jpg

2. Mandi pagi-pagi

Kalau saya telat mandi sebelum Abang berangkat kerja, maka kemungkinan hari itu saya tidak mandi sampai sore. Kecuali kalau ada bonus dede tidur dan ada kemungkinan ia tidak akan terbangun hingga saya selesai mandi. Jadi usahakan mandi cepat saat masih ada penghuni lain di rumah.

3. Cuci baju cepat-cepat

Haha yang penting udah kena rendeman sabun ye, apalagi kalo nggak pake mesin cuci XD. Pernah dari siang hingga sore cucian yang sudah saya keluarkan dari keranjang cuma ngegeletak aja di lantai gara-gara pas baru ngucurin air buat direndem dedenya banguuun! Atau sudah direndam sejak pagi tapi hingga sore cucian tersebut belum juga sempat dicuci. :O.

4. Gerakan Tanpa Setrika

Huuuuu akhirnya saya menyerah dan ikut #GerakanTanpaSetrika juga. Terutama buat kaos-kaos rumahan. Jadi yang disetrika cuma pakaian dede, baju seragam, baju pergi, dan pakaian dalam. Kaos yang buat dipakai di rumah sih langsung lipet aja!

5. Telat makan

i’m back to my early kg. Hihi menyusui dan memegang bayi rupanya jadi cara langsing paling cepat. Berat saya udah balik lagi ke awal. Apalagi ditambah telat makan pagi-siang. Haha wassalam deh program menggendut. Untuk itu supaya maag nggak kambuh, di meja harus selalu ada biskuit atau roti supaya kalau tidak sempat makan bisa tetap hap-hap.

6. Slow down, mom!

Ok, i’m not really a perfect mom who always do de-cluttering. Saya tidak seperti ibu saya yang rajin sekali dan rapi sekali melipat dan menumpuk pakaian atau memasang sprei tanpa ada kerutan. Atau hobi sekali beberes selagi ada kesempatan. I’m really out of it! Karena itu saya selalu mengingatkan diri sendiri untuk tidak menjadikan semua kerapihan itu sebagai sebuah keharusan di setiap detik. Tapi juga tidak menjadikan berantakan sebagai sebuah kebiasaan “namanya juga ada bayi”.

wpid-img_20151021_082904.jpgLantai perlu bersih. Ya itu benar. Dan kadangkala saya merasa kesal karena tidak adanya bantuan di sini bahkan untuk sekedar menyapu lantai sehingga saya harus menyapu sambil menggendong. (Yup, lupakan saja larangan untuk tulang belakang saya mengenai “dilarang mengangkat sesuatu lebih dari 1 kg”). Sehingga saat itu saya benar-benar merasa jungkir balik saat dede tidur, membereskan meja, sisa makanan, piring makan, atau mengepel secepat kilat sebelum ia bangun kembali.

Tapi dalam sebuah hari saya juga merasa perlu untuk tidak mengepel lantai dan memilih mengerjakan yang lain saja. Bahkan ada kalanya saya lebih pilih blogging dan beresin catatan jualan daripada lipetin cucian. Yes, slow down a bit, mom! Don’t make it too hard and too perfect. Asal jangan setiap waktu ya, Yul. Itu mah MALES namanya! XD.

^^^^^^^^^^^^^

Sama seperti mengejar jadwal dan kondisi jalan raya yang tidak sama setiap harinya, berada di rumah dengan bayi pun sama sekali tidak bisa ditebak jadwalnya. Ini pun juga masih belum apa-apa karena bocahnya baru ada 1 hihi. Ketika nanti bertambah bisa saja semakin rempong atau justru malah semakin mahir mengatasi semuanya. Semoga saja semakin mahir yaa. Aamiin.

Dan dengan menuliskan ini semua, bukan berarti saya sedang mengeluh dengan kondisi yang ada sekarang. Tapi karena menyadari suatu hari nanti saya akan mengingat masa-masa kerempongan ini dengan penuh kerinduan :’).

Selamat 10 bulan, nak. Semoga sehat selalu dan jadi anak sholeh yang tidak menzalimi agama dan lingkungan. Aamiin.

wpid-img_20151021_093859.jpg

~ Ciputat. 23 Oktober 2015.

0 thoughts on “Home (not) alone

    • November 1, 2015 at 10:04 am
      Permalink

      Haha jangan diniatin gitu donk. Biasanya nanti malah jadi pengin punya anak cepat2 :)). Secara garis besar seru kok, apalagi kalau sudah mulai ngoceh2 dan ketawa sampai cekikikan hanya krn kita menjatuhkan bola tanpa sengaja XD.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *