Berkunjung ke perpustakaan umum DKI Jakarta

Sabtu, 7 November lalu kami pergi ke Perpustakaan Umum DKI Jakarta yang berlokasi di Cikini. Rencana untuk pergi ke sana akhirnya terwujud setelah beberapa kali gagal. Ya doonk, Dede bisa protes kalo nggak jadi. Masa emak bapaknya pustakawan, anaknya nggak main ke perpustakaan :p. Waktu masa kuliah dan pernah main ke Perpumda DKI di Cikini itu, nama bangunannya kalau tidak salah ingat adalah Arsip Jayakarta. Bangunannya masih tempo lama dan belum direnovasi seperti sekarang.

Rencana hari itu pun terwujud dengan diiringi hujan di stasiun. Tik..tik… baju kami pun basah kena tampyas air hujan yang makin lama makin deres plus kereta lumayan lama datangnya. Sebenernya agak khawatir juga karena Dede lumayan kena angin dingin. Saya takut ia diare lagi kaya waktu pasca ke Bogor. Ia pun mulai nggak betah di gendongan, merengek nangis, dan takut setiap ada bunyi geluduk.

Sempat juga saya mikir untuk balik kanan pulang lagi, mumpung masih di stasiun. Tapi bismillah deh, Dede juga perlu belajar untuk tidak selalu berada di zona nyamannya. Kena angin dingin dan tampyas hujan dikit semoga malah bikin dia makin sehat. Aamiin.

Kereta pun datang dan kami naik. Tidak lama dede tertidur. Bahkan hingga kami turun di Cikini, menempuh jalan kaki banjir plus emaknya kecipratan mobil, dan naik bajaj Dede belum bangun juga hihi.

imageSampai di perpustakaan kami pun langsung menuju area penitipan tas setelah sebelumnya melewati aula yang dipajang berbagai hasil karya anak-anak bertema buku dan membaca.

Seluruh tas rupanya harus dititipkan dan tidak boleh dibawa. Awalnya sempat riweuh juga karena kami bermaksud menggantikan baju Dede saat ia bangun nanti. Petugas kemudian memberikan tas transparan sebagai pengganti bawaan. Kami pun lantas naik lift menuju lantai 3 untuk menyusui terlebih dulu. Area lantai 3 adalah ruang referensi dan KCKR atau Karya Cetak Karya Rekam. Maksudnya dari setiap terbitan wajib menyerahkan karyanya tersebut ke perpustakaan ini.

image

Ruang menyusui tergolong luas. Dilengkapi sofa, rak berisi tumpukan koran, dan juga tempat tidur bayi. Tapi tempat tidurnya nggak ada kasurnya jadi langsung besi hihi.

imageSetelah bangun, Dede sekalian aja ganti baju, ganti clodi, ganti celana biar fresh mainnya! Lalu kami turun lagi menuju lantai 2 yaitu ruang anak. Yeah!

image

image

Rupanya area bermain sudah penuh dengan anak-anak plus orangtua dan pengasuhnya. Kalo kata temen saya ini karena Perpumda DKI lagi happening di medsos. Hihi ya nggak papa lah ya, bagus dong kalo perpustakaan jadi happening daripada sepi nan horor kaya anggapan tempo dulu.

Dede yang sudah bisa duduk tegak dan udah ngerti mainan, menikmati bener mainan balok kayu dan lego. Diketok-ketok, dikasi ke saya atau Abang, didorong, digenggam, dan sebagainya yang melatih motorik kasarnya. Etapi dideketin anak yang agak gede, kira-kira usia 1 tahun, dia malah mundur dan kabur ke saya. Si kakak itu rupanya lumayan gemes liat Dede jadinya malah mendekat ke mukanya haha.

wpid-img-20151111-wa0007.jpg

image

Oiya di sebelah area lesehan ini juga tersedia ruang bermain untuk anak 3 tahun ke atas. Bentuknya jadi seperti lapangan mini karena bisa main bola, sepedahan, juga perosotan. Karena Dede belum masuk kriteria umur jadi kami nggak masuk ke situ. Sekitar pukul 13.00 anak-anak juga bisa menyaksikan dongeng.

image

Setelah emak bapaknya gantian shalat kami pun berniat pulang tapi dedenya masih betah mainan hihi. Di-tititah jalan malah duduk lagi, duduk lagi XD. Saya bisikin Dede kalo dia belum makan, akhirnya pas sudah puas mainan mobil lego ia mau juga menyudahi sesi mainan.

Kami pun turun ke lantai 1, mengambil tas di loker, dan mengembalikan tas transparan. Inget ya, tasnya jangan dibawa pulaaang!

Keluar dari perpustakaan kami pun keliling untuk mencari makan dan ketemu lah gado-gado Cikini. Abang pesan gado-gado, saya pesan lontong cap gomeh yang rasanya nikmaaat. Habis itu saya suapin Dede pake bekal berupa kentang kukus yang sudah dihancurkan dan dicampur potongan tomat.

Kalo kata Abang porsi gado-gadonya nggak sebanding sama harganya, jadi mending sekalian pesen lontong cap gomeh yang plus rendang, telur, dan opor ayam.

image
Lontong cap gomeh

image

Kenyang makan kami pun naik bajaj lagi menuju stasiun Cikini yang langsung disambut kereta yang baru datang. Perjalanan kereta yang cepat rupanya nggak bikin kami cepat pula sampai di rumah. Karena begitu sampai stasiun, hujan kembali turun dengan derasnya dan kami berteduh selama hampir 2 jam. Akhirnya saya dan Dede dijemput ayah sementara Abang hujan-hujanan naik motor. Alhamdulillah sesudahnya Dede tetap sehaat. Siiiip. Besok jalan-jalan lagi yak!

0 thoughts on “Berkunjung ke perpustakaan umum DKI Jakarta

  • November 21, 2015 at 10:07 am
    Permalink

    dari awal serius baca..bagian akhir gagal fokus..liat daftar menu bikin laper..mendadak… he2

    Reply
  • November 22, 2015 at 3:22 am
    Permalink

    aduh bagus banget perpusnya di Cirebon mah perpusnya serem, gelap bukunya paad rusak…. duh siapa yang mau masuk ke sana

    Reply
    • November 22, 2015 at 6:06 am
      Permalink

      Ini juga baru saja selesai di renovasi mbak. Coba saja bikin tulisan terkait perpustakaan cirebon itu, siapa tahu nanti pemerintah terkait tergugah dan mau memperbaiki. Semoga saja

      Reply
  • November 22, 2015 at 3:23 am
    Permalink

    duh enaknya ya ada perpus yang bagus, secara di Cirebon mah perpusnya kaya rumah hantu

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *