Para pengamat burung dan semangat konservasi (Laporan PPBI 2015)

Sekitar 100 peserta, yang terdiri dari mahasiswa berbagai kampus dan dari berbagai daerah, memenuhi ruangan tempat acara dilaksanakan. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa dengan program studi biologi, kehutanan, atau semacam itu. Tidak hanya mahasiswa, beberapa orang dosen juga hadir di sana. Lalu turut pula masyarakat umum yang hadir, saya sekeluarga salah empatnya.

Acara yang dimaksud adalah Pertemuan Pengamat Burung Indonesia atau PPBI yang kali ini digelar di Bandung pada 28-29 November 2015.

Acara dilaksanakan 2 hari yaitu hari pertama berupa talkshow dan diskusi di BPLHD Kota Bandung di Jl. Naripan lalu malam hari lanjut diskusi di bumi perkemahan Ranca Upas dan hari ke-2 para peserta akan melakukan pengamatan langsung.

wp-1449039497770.jpeg

IMG_20151202_135857190

 

Ada beberapa ironi yang tentunya dibahas dalam pertemuan kali ini. Yaitu bahwa perdagangan satwa (terutama burung) marak sekali di Indonesia, bahkan sudah merambah bisnis online) padahal negeri ini bisa dibilang nomor 1 kekayaan hayatinya. Belum lagi ditambah dengan orang-orang yang berburu burung untuk diambil paruh, telur, atau anakan burung tersebut.

Pembicara pertama adalah mas Yok Yok Hadiprakarsa dari IDOU atau Indonesian Ornithologist Union yang membicarakan mengenai Enggang Gading atau juga disebut Rangkong (CMIIW ya kalo saya salah catat).

Perburuan enggang gading kabarnya sudah dimulai sejak abad 16-17 pada era Dinasti Ming. Burung tersebut diburu karena paruh atau balungnya. Perburuan ini sayangnya hanya ada di Indonesia. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah perburuan enggang gading antara lain:

  1. Percepatan informasi dasar rangkong melalui kolaborasi antara akademisi, pengelola, dan masyarakat. Pada lini masyarakat, di sinilah citizen scientist berperan.
  2. Aksi konservasi lintas pihak.
  3. Bersama-sama masyarakat menjadi pelindung rangkong.

Pembicara kedua yaitu Mas Giyanto dari WCS yang berbicara mengenai perdagangan burung secara ilegal. Menurutnya ia tidak sering mengamati burung di alam secara langsung tapi di pasar burung saat hewan-hewan tersebut menjadi komoditas ilegal yang marak diperjualbelikan. Ada sekitar 80% burung yang diambil dari alam dan marak sekali di Indonesia. Hal ini terutama terjadi di masa sekarang ketika kemajuan teknologi berkembang sangat pesat karena di beberapa kasus perdagangan burung justru terjadi via online bahkan melalui media sosial.

Satu ironi lagi adalah tentang betapa minimnya hasil karya dan ahli burung dari negeri sendiri jika dibandingkan dengan total keseluruhan keragaman burung. Dan untuk itulah semangat dari para pengamat burung yang kini sedang merintis berbagai karya harus dan layak diapresiasi. Salah satunya adalah proyek keroyokan Atlas Burung Indonesia (ABI).

Satu yang saya ingat betul adalah pertanyaan salah satu peserta. Yaitu ia bercerita bahwa di tempat penelitiannya di sebuah daerah, masyarakat dan termasuk juga anak-anak gemar sekali menangkap burung. Peserta tersebut bertanya bagaimana meyakinkan anak-anak itu untuk tidak lagi berburu burung tapi membiarkannya saja di alam bebas? Selain narasumber yang kemudian menjawab pertanyaan, jawaban menarik datang dari salah satu dosen yang juga menghadiri acara tersebut. Yaitu bahwa kita semua bisa memulai mengajak anak-anak mencintai burung di alam bebas dengan cara sederhana. Misalnya saja menyediakan buku-buku bacaan yang berkaitan tentang burung-burung di alam bebas. Hal sederhana yang ngena dan saya sangat setujui.

Hal sederhana seperti itu tidak bisa kita sepelekan karena bisa saja berimbas luas pada segala lapisan masyarakat meski tidak dalam waktu singkat dan di saat yang sama kita juga berlomba dengan kepunahan. Namun setidaknya setiap langkah yang bertujuan positif akan terlihat dampaknya sedikit demi sedikit. Termasuk juga gerakan Atlas Burung Indonesia itu. Semoga menghasilkan banyak manfaat untuk konservasi burung dan juga alam Indonesia secara umumnya.

Foto nyomot dari FB Fahmi Azhar
Foto nyomot dari FB Fahmi Azhar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *