Kembali ke kampung (3): rumah Mbah

Begitu melangkah menapaki lantai berwarna abu-abu yang sudah pudar dan penuh dengan bercak-bercak itu, aroma tanah lembab yang muncul di sekitar saya masih sama seperti bertahun-tahun lalu. Masuk lebih ke dalam saya lalu meletakkan tas di kursi yang juga berdebu dan tak berubah coraknya, hanya kali ini sudah lebih bocel dan busanya keluar di beberapa sisi.

Tiang kayu yang berdiri di tengah ruangan juga masih sama, lemari-lemari yang saya rasa berisi tumpukan majalah milik Mbah seolah juga masih sama susunannya, bahkan debu yang ada di sudut kamar pun juga beraroma sama. Setelah tiga tahun lamanya kami akhirnya kembali ke rumah ini untuk bermalam.

Perbedaan yang jelas tampak di rumah Mbah hanyalah bahwa rumah itu sekarang dihuni oleh sepasang suami istri beserta tiga orang anak laki-laki dan juga janinyang masih di dalam kandungan sang ibu. Setelah rumah ini kosong sekian tahun lamanya, ada juga keluarga yang mencari rumah untuk disewa di sudut kampung ini.

Sebelum akhirnya ditempati keluarga tersebut, terhitung berarti sudah hampir lima tahun rumah Mbah seolah terabaikan. Tahun 2010 Mbah datang ke Jakarta menengok cucu tapi lalu sakit hingga koma selama hampir 2 tahun lamanya. Otomatis rumah besar ini tak berpenghuni. Hanya sesekali anaknya atau adik ayah saya menengok dan membersihkan rumah seadanya. Lalu tahun 2012 Mbah berpulang dan kami kembali mudik ke rumah tersebut namun dengan duka dan mengantar Mbah pulang untuk yang terakhir kalinya.

Setelah berdiskusi dan diingatkan oleh famili lain bahwa rumah tua ini adalah seluruh kenangan yang ditinggalkan orangtua dan sebaiknya tidak dijual atau diabaikan, maka mulailah ayah dan adik-adiknya mencari info siapa tahu ada yang membutuhkan rumah untuk disewa alias ngontrak. Tapi itupun nyaris nihil. Jarang sekali yang mau tinggal di rumah besar itu. Hingga akhirnya tahun lalu keluarga tersebut lah yang “bertemu jodoh” dengan rumah Mbah.

“Enak lho, si kakak jadi bisa main sepeda di dalam rumah.” Kata sang ibu waktu ditanya tentang rumah besar ini. Syukurlah, setidaknya kami bisa tenang rumah Mbah ada yang merawat.

Keluarga tersebut pun berkata kapanpun keluarga kami datang silakan saja menginap. Maka saat mudik kemarin kami memutuskan untuk menginap di rumah Mbah kembali. Pertama kalinya sejak mudik Id Fitri tahun 2009 lalu.

image

Permasalahan rumah peninggalan yang tak berpenghuni ini pun rupanya bukan hanya masalah kami di kampung Jawa Tengah. Rumah milik kakek dan nenek abang di Aceh pun masih belum ditempati. Rumah tersebut tak lagi ditempati semenjak misyik Abang meninggal. Rumah panggung khas Aceh dengan tiang-tiang kayu kokoh yang sarat dengan kenangan. Tapi mau bagaimana lagi? Rupanya memang sulit mencari pengontrak di kampung. Sementara para pemuda rata-rata merantau ke daerah lain.

DSC_1593
Rumoh di Aceh

Di dekat daun jendela terbuka yang dihalangi filtrase gorden seadanya, saya memandang bergantian keluar halaman dan memandang dede yang tertidur di kasur setelah menempuh jarak panjang Jakarta-Cilacap-Sidareja. Saya membayangkan puluhan tahun lalu ayah dan adik-adiknya berlari-larian di halaman rumah ini lalu terjun ke sawah di depan sana untuk mencari kodok. Atau pergi ke jembatan di seberang sana untuk mencari ikan. Semua tertawa diiringi deru laju kereta yang akan tiba di stasiun ataupun baru akan berangkat. Kereta dengan suara nyaring dan asap hitam. Sementara di rumah Mbah Kakung membaca koran dan Mbah Putri sibuk menjahit baju untuk delapan anaknya.

image

0 thoughts on “Kembali ke kampung (3): rumah Mbah

  • March 2, 2016 at 10:47 pm
    Permalink

    Di keluarga besar saya, biasanya ada anak yg disiapkan unt mewarisi rumah orang tuanya (bisa anak sulung ataupun yang bungsu) konsekuensinya ya harus mw hidup dikampung. Sehingga, ada tempat berkumpul hingga beberapa generasi.

    Reply
    • March 2, 2016 at 11:03 pm
      Permalink

      Awalnya juga sempat ada diskusi seperti itu, namun memutuskan untuk membawa pindah seluruh keluarga rupanya tidak mudah ya šŸ˜

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *