Menuju Jakarta dengan Sawunggalih

Sekitar 20 tahun yang lalu, rasanya saya masih ingat samar-samar perjalanan mudik kami dengan kereta menuju atau saat akan kembali ke Jakarta.

Kondisi kereta yang kami tumpangi sangat seadanya. Beberapa kaca jendela berlubang sehingga angin kencang menyerbu masuk sesuka hati dan membuat saya serta kakak kedinginan. Belum lagi ditambah penumpang sebelah yang sama ngebulnya seperti kereta api jaman dahulu itu alias merokok tak henti.

image

Angin siang masih terasa lumayan membantu karena mengusir hawa panas terik matahari. Tapi saat malam hari biasanya malah membuat kami masuk angin dan kelilipan debu. Sering pula saya khawatir ada serangga malam yang terbang dengan laju sangat cepat menyeruak lewat jendela sehingga memungkinkan menabrak wajah seperti saat kami sedang naik motor dan duduk di paling depan jok motor di depan ayah. Semua itu harus ditambah pula dengan pakaian yang bau rokoknya melekat hingga nanti baru akan dicuci saat tiba di kampung, seolah melengkapi derita saya yang saat itu sejak perjalanan dari Jakarta sudah mimisan beberapa kali.

Mungkin itu masih belum cukup menambah deretan panjang cerita tentang mudik naik kereta. Tahun 1987, karena tidak mendapat tempat duduk maka saat itu ibu berdiri sepanjang perjalanan dari Jawa Tengah menuju Jakarta. Dengan kondisi mengandung saya yang sudah lumayan besar di perut dan kaki yang terhimpit koper serta terdesak penumpang lain, ibu hanya bisa melakulan pose berdiri atau setengah duduk di tas saking penuh dan padatnya kereta. Alhasil kakinya pun bengkak besar. Ibu memilih tetap ikut berlebaran di kampung ayah karena permintaan alm. Kakek saat itu yang rindu dengan kami (minus saya yang masih di dalam perut tentunya).

Cerita Uti, nenek saya, beberapa tahun lalu lain lagi. Tasnya dijambret di perjalanan saat kereta akan meninggalkan stasiun x. Si penjambret secepat kilat turun sambil menyambar tas Uti yang duduk dekat di pintu.

Ingatan saya pun kembali ke masa 20 tahun silam. Karena tidak mau lagi memboyong keluarga dengan kereta yang padatnya luar biasa hingga sang anak harus dipoloskan lewat jendela seperti pada foto yang biasanya menghiasi halaman depan surat kabar saat masa-masa lebaran, ayah tidak pernah lagi membawa kami serta saat mudik lebaran. Ia hanya akan mudik sendiri atau membawa kami saat libur sekolah saja dengan kereta yang kondisinya seperti di awal cerita di atas.

Barulah saat saya SMA dan ayah sudah bisa meminjam mobil, kami baru berkesempatan mudik lebaran bersama lagi. Pengalaman yang didapat dengan kendaraan pribadi tentunya adalah kemacetan panjang nan melelahkan ditambah dengan kondisi saya yang duduk terhimpit koper dan barang bawaan. Lama perjalanan yang seharusnya 8 jam molor menjadi 15 hingga 20 jam. Luar biasa.

Tapi itu dulu. Kini kami bisa duduk tenang dan tidur-tidur cantik di kereta yang tiketnya dibeli secara online meski kami sempat kehabisan tiket bisnis karena telat memesan hingga akhirnya mau tidak mau mendapat kereta kelas eksekutif ini.

Kami pun juga harus rela untuk menyewa mobil selama bepergian di kampung ayah kemarin karena tidak membawa kendaraan sendiri. Tapi setidaknya kami tidak seperti rombongan sepupu saya yang untuk sampai ke Garut saja harus menempuh perjalanan 15 jam. Lain lagi cerita adik ayah yang untuk dapat sampai di kampung dengan bus harus rela menembus waktu tempuh dengan angka 24 jam.

Sekarang kalau dalam perjalanan di kereta batere hp habis karena digunakan selfie sebanyak-banyaknya dengan angle yang diambil dari kiri-kanan-atas-bawah lalu unggah ke Instagram seperti yang saya lihat dari penumpang di depan saya misalnya, tinggal colok saja ke stop kontak yang tersedia. Stop kontak ini pun juga tersedia untuk kereta ekonomi.

Kini pun tidak ada lagi pedagang yang hilir mudik melangkahi penumpang yang tiduran di lantai. Kalau penumpang lapar atau haus dan tidak membawa bekal, ada pramu kereta yang siap berkeliling.

Ibu pun senang sekali memesan teh panas dan menikmati perjalanan. Ah, nikmat melihatnya. Ibu meminta bergantian memangku dede sambil juga terkadang terkantuk-kantuk. Sementara dede asyik saja mengunyah biskuit sambil memandang keluar jendela.

image

Kereta melaju dengan cepatnya. Sesekali melewati jalan yang sedang dibangun dan berbelok hingga terlihat kepala kereta. Kereta Sawunggalih Siang yang kami naiki saat perjalanan pulang rasanya lebih baik dari versi malamnya kemarin. Sandaran kain bermotif batik pun menambah semarak perjalanan kami. Bolehlah saya bilang ini pulang mudik paling nikmat sepanjang perjalanan kami mudik bertahun-tahun lamanya.

image

image

Sekarang tidak ada lagi tiket berdiri. Semua calon penumpang harus memesan terlebih dulu sebelum keberangkatan. Cara ini memang sempat diprotes karena jika ada keperluan mendadak maka akan sulit mendapatkan tiket. Bepergian dengan kereta tentunya memiliki kelebihan bebas macet dan waktu tempuh yang lebih singkat dibanding dengan mobil atau bus sehingga menjadi pilihan utama untuk berpindah tempat.
Sehingga kemudahan dan kenyamanan selama naik kereta antar wilayah ini pun harus ditebus dengan biaya yang bisa dibilang tidak sedikit. Untuk itu menjadi PR kembali untuk PT KAI bagaimana caranya agar semua masyarakat turut menikmati nyamannya berkereta tanpa harus mengeluarkan biaya yang berkali-kali lipat seperti protes yang sempat keluar saat kenaikan tarif tiket beberapa waktu lalu.

image

image

Sepanjang perjalanan dede tenang sekali dan sama sekali tidak menangis. Lalu setelah 8 jam kereta akhirnya tiba di stasiun Senen dengan selamat. Alhamdulillah.

Terima kasih kepada Allah SWT yang sudah melancarkan perjalanan dan memberi kemudahan. Juga kepada kru KAI yang sudah bekerja sebaik-baiknya. Semoga perkeretaapian Indonesia semakin maju, aman, dan nyaman! Aamiin.

image


~ ditulis berdasarkan pengalaman pribadi pulang dari Jawa Tengah menuju Jakarta 29 Desember 2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *