Sharing tentang skoliosis dan kopi darat

Sudah sejak berbulan-bulan lalu, Fita menghubungi saya untuk bersedia melakukan sharing terkait buku indie saya “Pantang padam: catatan skolioser” kepada komunitasnya, yaitu komunitas Backpacker Indonesia Chapter Depok.

Saya bersedia saja, sayangnya jadwal kami lah yang sulit untuk dikompromikan. Fita rupanya tidak selalu libur di akhir pekan sehingga kami harus mencari waktu lagi untuk menyamakan jadwal.

Lalu (hampir secara dadakan), kami menentukan tanggal 13 Maret 2016 untuk melakukan sharing dengan lokasi di sekitar Balairung UI, Depok. Kabarnya Fita cukup deg-degan juga dan tidak enak pada saya karena kawan-kawannya tidak banyak merespon akibat sudah terlanjur ada acara lain. Hanya ada sekitar 10 orang yang menyatakan bisa dan rencananya mereka akan jogging terlebih dulu baru kemudian dilanjutkan dengan book sharing. Supaya lebih seru saya juga mengajak beberapa kawan skolioser untuk kopdar atau kopi darat.

Daffa dan kakak saya beserta ayah Daffa rupanya kemudian memutuskan ikut ke Balairung UI. Sekalian jalan-jalan katanya. Maka jadilah kami beramai-ramai naik kereta ke UI, Depok.

Sampai di sana saya malah cari-carian sama Fita. Fita ternyata benar-benar menggelar banner komunitasnya di tepi danau yang kemudian dilarang oleh petugas keamanan UI. Rupanya sekarang tidak boleh ada kegiatan yang terlalu dekat dengan danau. Akhirnya kami berkumpul di selasar dekat rektorat. Di sana sudah ada 5 orang kawan komunitas Fita. Karena tidak ada lagi yang datang dan sudah semakin siang, Fita pun kemudian membuka acara.

Saat saya mulai menceritakan awal mula penulisan buku dan sekilas tentang skoliosis, saya menyadari betapa info tentang skoliosis masih sangat belum tersebar. Kalau di acara sharing tentang buku 2 tahun lalu di Bandung pesertanya adalah skolioser itu sendiri, kali ini tantangan bagi saya adalah peserta rata-rata belum atau tidak pernah mendengar tentang skoliosis dan menggeleng saat ditanya apa itu skoliosis.

Salah satu peserta menjawab tapi mengaitkan pengertiannya dengan osteoporosis, sementara yang lainnya lagi menggeleng tak mengerti sambil berkata; “Belum pernah baca bukunya sih.”

Saya maklum dan tak menyalahkan “tidak terkenalnya” buku saya. Namun awalnya saya sempat mengira akan menerima pertanyaan terkait seputar pembuatan buku indie, yang sayangnya tidak muncul sama sekali. Lagi-lagi saya tentu maklum karena mungkin peserta tidak datang dari tipe yang hobi menulis atau berniat membuat buku. Lucunya, di tengah pertanyaan seputar bagaimana rasanya menjadi seorang skolioser, saya malah menerima pertanyaan terkait “penyebab skoliosis yang belum diketahui alias skoliosis idiopatik.”

“Kalo bikin buku kan kaya bikin skripsi, Mbak. Harus banyak baca dan nggak bisa sembarangan.” Kata salah satu peserta.

Oooh.. rupanya ia mengira dalam penulisan buku tersebut, saya tidak memeriksa lebih jauh mengenai penyebab skoliosis sehingga membuat kesimpulan sendiri sebagai skoliosis idiopatik. And that’s totally wrong.

Saya katakan bahwa skoliosis idiopatik itu bukan pernyataan atau istilah dan kesimpulan yang saya buat sendiri. Penelitian dan buku tentang skoliosis sayangnya memang masih kurang. Saya merujuk pada karya penelitian UI yang memiliki koleksi 1 skripsi dan 1 tesis saja yang membahas skoliosis. Dua koleksi UI-ana lainnya berupa laporan penelitian dan tugas akhir spesialis. Saat proses menulis buku tahun 2013 lalu pun saya sampai harus menghubungi pustakawan perpustakaan UI karena tesis yang katanya tersedia dalam bentuk digital ternyata belum diunggah. Syukurlah pustakawan UI bergerak cepat dalam mengolah sehingga saya kemudian bisa membaca tesis tersebut dalam bentuk digital. (Yeah, hidup pustakawan!)

image

image

Di tengah sharing, ada seseorang yang tiba-tiba menghampiri dan memanggil saya. Dida, skolioser asal Bekasi! Hurray! Lalu sekitar setengah jam kemudian Mia yang berasal dari Bogor, ikut bergabung. Bagi kami bertiga, ini kopi darat pertama bagi kami setelah sekitar 2 tahun hanya berinteraksi lewat dunia maya.

Mumpung ada kawan skolioser, kami pun sekalian sharing mengenai bagaimana cara deteksi dini skoliosis dan mempraktekan deteksi dengan cara Adam’s forward bending tests.

image

Mia dan Dida pun juga saling menceritakan pengalaman masing-masing dengan skoliosisnya.

Harapan kami bertiga tentunya hari itu sharing kami (khususnya saya) dapat bermanfaat kepada kawan-kawan komunitas dan membuka jalan sebagai penyebaran #SadarSkoliosis di masyarakat.

Terima kasih untuk Fita atas undangan sharingnya dan juga kepada kawan-kawan peserta komunitas Backpacker Indonesia Chapter Depok. Alhamdulillah cuaca cerah dan sharing berjalan lancar.

image

Terima kasih juga kepada Abang dan dede yang sudah bersedia piknik sambil mendampingi saya hihi. Juga kepada kakak, kakak ipar, dan Daffa yang sudah ikut datang meski kemudian pulang duluan.

image

Salam dari trio kopdar skolioser Jakarta-Bogor-Bekasi!

image

image

Oiya, ada bonus hadiah untuk saya di hari itu. Saat sedang sharing dan dede minta menyusu, ada kupu-kupu yang nemplok dengan manisnya di apron saya.

image

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *