Kembali ke kampung (4): laut pertama

Sehari sesudah pernikahan sepupu, kami mewujudkan niat untuk pergi ke laut yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kampung ayah itu. Bagi dede, ini adalah laut pertama yang ia kunjungi. Sementara bagi sang Mamah, alias saya, ini adalah tempat favorit untuk melepas rindu pada semua hal yang saya cita-citakan.
image

Tujuh tahun lalu ada jejak kaki saya di pantai yang sama. Tujuh tahun lalu saat saya masih baru saja berusaha mengikhlaskan bahwa saya tidak bisa melakukan aktivitas diving alias menyelam karena MVP di jantung saya. Dan jauh berhari-hari sesudahnya bahkan saya masih perlu belajar untuk tidak serta merta memaksakan apa yang saya inginkan nantinya kepada sang anak.

“Saya nggak bisa diving, biar anak saya aja nantinya.” Pikir saya ketika melihat foto bawah air pada sebuah majalah yang sedang saya olah di perpustakaan.

Lalu sekejap saya tertegun. Apakah nantinya saya akan memaksa anak saya untuk melakukan segala yang saya inginkan atau segala yang tidak bisa saya capai hanya demi kepuasan saya?

image

Lalu saat itu, kami membiarkan saja ia berjalan sambil mengamati sekeliling. Saya tidak bisa menebak apa yang ada di kepalanya saat melihat air terbentang sejauh mata di hadapannya. Karena yang sudah pernah terjadi adalah melihat air di kolam renang saja ia jejeritan.

Tapi ia hanya diam. Mengamati laut pertamanya. Laut tempat namanya berasal.

image

Saat saya mencopot sepatunya dan mencoba mengabadikan jejak kakinya di pasir, dede langsung menolak. Rupanya ia geli pada butiran-butiran pasir di kaki. Sekejap kakinya menapak lalu langsung merengek meminta digendong.

image

Tak perlu kau risau, Nak.
Ini laut tempat namamu berasal.
Ini laut tempat Mamahmu meletakkan mimpinya.
Tidak berserakan tentu saja.
Justru kini terbagi menjadi berbagai keping.
Dan kau bebas untuk memilihnya.

image

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *