Belajar berinteraksi di Taipei

Kami masih punya banyak PR terkait interaksi dan pengenalan lingkungan baru pada Dede. Ia bukan hanya masih enggan bertemu orang yang baru ditemui macam teman saya atau Abang, tapi juga “wajah lama” yang seharusnya sudah ia hafal dan tidak perlu ditakuti macam uti alias nenek saya, atau bahkan ummi Abang. Ia masih menolak digendong oleh mereka-mereka ini. Padahal ketika pindah rumah, uti setia datang membantu setiap harinya. Sehingga tentu wajahnya tidak lagi bisa dikatakan asing.

Dede bahkan pernah mengalami masa di mana selalu menangis setiap bertemu kakung, kakek saya, padahal sebelumnya saat usia sekian bulan, baik-baik saja. Awalnya saya pikir ia cukup takut dengan wajah kakek-kakek atau nenek-nenek tapi waktu kami mudik ke kampung dan bertemu adik-adik kakung yang wajahnya sangat mirip, dede ketawa-ketawa dan enjoy aja sambil ngunyah kue nastar. Padahal kalau ke rumah kakung, yang jaraknya dari rumah saya kalo naik angkot langsung turun lagi, baru sampai di pintunya aja udah jejeritan. Heran. Dan akhirnya baru-baru ini saja ia tidak menangis saat bertemu kakung, mulai mau menjelajah rumah kakung tanpa digendong.

Lingkungan atau kondisi lain yang masih butuh adaptasi adalah ketika ia selalu menangis dan tak nyaman di tempat berkumpulnya banyak orang. Ia seolah tak suka dengan keramaian. Maka tak heran kalau ia selalu menangis setiap diajak kondangan! Tempat berkumpulnya banyak orang untuk makan!

“Aduh, ini dikasi makan deh, Yul. Apa susu gitu?” kata temen saya khawatir melihat Dede nangis sampai ingusan saat (bahkan) pengantin belum juga sampai di pelaminan. Saya cuma mesam-mesem dan kembali mengajak dede keluar untuk ke sekian kalinya. Di luar gedung dan juga parkiran ia akan baik-baik saja dan ketawa-ketawa! Tapi begitu masuk lagi ke dalam gedung dan melihat banyak orang, ia langsung merasa horor.

Tapi kami tetap mengajaknya kondangan alih-alih malah selalu membiarkannya berada di zona nyaman. Kecuali lokasi kondangan jauh dan harus ditempuh malam hari maka kami menitipkannya sejenak pada ibu. Kami berpikir ia justru harus lebih banyak berlatih bertemu banyak orang. Itu sebabnya kami memutuskan untuk juga mengajaknya saat ada event jalan-jalan dari kantor Abang. Bertemu banyak orang baru, yang beberapa di antaranya pantang mundur berusaha menggoda dan menggendong Dede. Beberapa di antaranya berhasil, yang lain tidak. Tapi ketika ia mau berinteraksi dengan teman Abang tersebut, sudah kemajuan besar.

Peristiwa nangis (atau tantrum?)  ia di kantor imigrasi karena campuran tidak suka melihat banyak orang mengantri, bete, dan lapar memberikan pelajaran bagi saya supaya pelan-pelan membujuknya dan jangan sampai ia lapar meski sebelumnya ia menolak disuapi. Ini nih yang bikin bingung, disuapin malah kabur, tapi pas udahannya ngamuk karena lapar. *emak garuk-garuk kepala.

Dulu ia juga sempat baik-baik saja setiap naik kereta. Sekarang setiap masuk ke dalam gerbong lalu pintu ditutup maka ia langsung menangis kencang dan semua orang menoleh pada kami. Hal yang sama ketika naik lift sehingga saya juga menduga ia tak suka tempat sempit dan tertutup.

Makanya saya sempat deg-degan juga pas mau naik pesawat atau ketika berangkat ke Taipei. Tapi bismillah aja deh. Alhamdulillah meski sempat nangis karena nggak mau dipangku pas pesawat take off dan landing tapi ia nggak sampai jejeritan banget. Selama 1 minggu di Taiwan juga mood-nya cukup bagus. Bolak-balik naik MRT dan bolak-balik naik lift menuju apartemen sepupu awalnya membuat ia selalu menangis. Lalu lama kelamaan ia sudah memilih melangkah masuk sendiri ke dalam lift sambil cengengesan.

Para sepupu di sana pun tergolong cuek alias nggak kekeuh memaksa Dede untuk main bersama. Jadi dibujuk secara perlahan lalu kabur. Begitu terus setiap harinya. Sehingga dede juga terkesan tidak dipaksa untuk akrab. Lalu voila! Pada hari ke-5 interaksi mereka, secara ajaib saat sedang di stasiun menuju Longshan Temple, Dede tidak menolak digandeng kakak-kakaknya dan malah terkesan tidak mau digendong saya atau Abang! Ia lebih senang berjalan sendiri, bergandengan bersama, dan bercanda dengan yang lain.

Memang kuncinya adalah sabar. Dan inilah yang masih harus bisa saya pelajari. Juga untuk tidak cepat merasa malu ketika ia menangis di tempat umum.

wp-1462617695158.jpeg

 

wp-1462617656576.jpeg

 

0 thoughts on “Belajar berinteraksi di Taipei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *