[Kompetisi nulis] Impian bisnis bersama Asus Vivo AiO V230IC

Sudah cukup lama saya tertarik dengan dunia bisnis yaitu tepatnya saat lulus kuliah dan saat itu berniat ingin menjalaninya suatu hari nanti. Namun karena nol pengalaman dan kemudian diterima menjadi staf di sebuah kampus, saya pun menyimpan impian itu sejenak. Selama bekerja di perpustakaan kampus tersebut, saya mengolah banyak sekali buku-buku dan setiap hampir dua minggu sekali juga mengolah majalah yang dilanggan perpustakaan. Hal yang menarik adalah beberapa majalah yang saya olah memiliki tema bisnis dan marketing sehingga hal ini menguntungkan saya karena sambil menambah wawasan saya yang sangat minim mengenai bisnis dan marketing. Inilah enaknya menjadi pustakawan hehe kerjanya sambil baca juga sehingga dapat sekaligus menambah ilmu.

Selama bekerja sebagai staf dengan gaji tetap setiap bulannya saya kemudian berusaha menyisihkan tabungan dari gaji sedikit demi sedikit untuk memulai usaha meski saat itu saya belum tahu akan memulai usaha apa. Yang penting menabung saja.

Baru pada tahun 2013 saya pun memulai project menulis saya; yaitu membukukan beberapa tulisan-tulisan dari blog yang isinya mengenai pengalaman saya sebagai seorang skolioser. Perlu diketahui skolioser adalah seseorang yang memiliki kelainan tulang belakang yang disebut skoliosis. Tulang belakang pada skolioser biasanya tidak lurus tetapi membentuk huruf “S” atau “C”.

Saat itu saya pun memulai proses pengembangan tulisan dan pembuatan buku. Saya memutuskan untuk menerbitkannya secara indie atau mandiri atau bisa kita sebut sebagai self publishing. Saya menghubungi beberapa teman yang berkompeten dalam bidang editing tulisan, desain, dan menggambar.

Menerbitkan secara indie berarti saya harus mengerjakan dan mengurus sendiri semuanya. Mulai dari menentukan jadwal menulis, pertemuan dengan editor dan ilustrator, merencanakan budget, mencari tempat percetakan yang sesuai, hingga nantinya melakukan marketing sendiri ketika buku sudah jadi. Sangat tidak mudah tapi menjalaninya menyenangkan karena bisnis jualan buku ini atas usaha saya sendiri dan dengan tujuan agar semakin banyak yang mengetahui mengenai skoliosis.

Project pembuatan buku pun berjalan hingga kemudian saya luncurkan di awal Januari 2014. Saya mencetak buku berjudul Pantang Padam: Catatan Skolioser tersebut hanya sebanyak 150 eksemplar. Jika ingin mendapatkan harga cetak lebih murah tentunya saya seharusnya mencetak lebih banyak lagi. Namun karena keterbatasan dana dari tabungan dan sasaran penjualan buku belum terlalu luas, yaitu menyasar kawan-kawan skolioser dan lingkungan terdekat terlebih dulu, maka saya hanya mencetak 150 eksemplar.

Bimageuku-buku tersebut saya jual secara online dan tidak melalui toko buku. Pemasaran dilakukan melalui blog dan akun sosial media seperti facebook dan twitter, juga beberapa lewat mouth to mouth. Beberapa bulan kemudian buku pun habis terjual dan setelah sempat vakum dua bulan untuk menimbang dan mengumpulkan permintaan, saya pun membuat buku cetakan kedua namun kali ini hanya sebanyak 100 eksemplar dengan pertimbangan permintaan bisa saja mengalami penurunan pada cetakan kedua.

Bisnis penjualan buku tersebut tidak sepenuhnya lancar. Ada banyak hambatan yang harus dilewati termasuk ketika bentuk fisik buku cetakan kedua tidak sebagus yang diharapkan karena saya berpindah tempat percetakan. Marketing penjualan pada buku cetakan kedua pun tidak segencar buku cetakan pertama karena di akhir tahun 2014 saya melahirkan dan sesudahnya disibukkan dengan rutinitas bersama bayi.

Karena bisnis buku yang saya ciptakan ini bertujuan untuk menyebarkan mengenai “apa itu skoliosis” di masyarakat, maka saya pun mengiringi penjualan buku dengan juga menjual beberapa merchandise bertema skoliosis. Kini, saya pun mendirikan sebuah komunitas yang terdiri dari skolioser dan pendukung skolioser. Hingga bulan Juni 2016 ini buku cetakan kedua saya sudah habis namun penjualan merchandise bertema skoliosis masih berjalan. Untuk mendukung komunitas tersebut saya membuat web yang khusus berisi cerita-cerita dari skolioser dan juga memuat penjualan merchandise.

wp-1467253605936.jpeg
Web Kurva

Selain itu juga disertakan akun sosial media berupa twitter, FB page, dan Instagram supaya skoliosis lebih menjangkau masyarakat luas yang “kekinian”. Merchandise yang dijual tersebut adalah kaos dan stiker pembatas buku. Sama seperti marketing pada buku, merchandise ini pun dipasarkan melalui dunia maya.

image

Desain dari kaos tersebut ada yang saya buat sendiri namun ada juga yang dibuat oleh desainer dari buku saya sebelumnya. Sementara sebagian dari hasil penjualan merchandise ditujukan untuk kelangsungan komunitas dan kegiatan penyebaran skoliosis, misalnya untuk pengembangan web atau event pertama kami yaitu “Piknik Skolioser” bulan April lalu.

Ke depannya saya berharap bisa semakin mengembangkan bisnis ini ke arah sociopreneur. Misalnya saja menambah jenis merchandise atau membuat buku lagi dengan tema yang sama. Sehingga sambil berbisnis saya bisa sekaligus menyebarkan informasi mengenai skoliosis di masyarakat dari kacamata seorang skolioser.

Untuk mendukung operasional bisnis yang lebih banyak berjalan secara online tersebut tentunya saya membutuhkan PC yang bisa digunakan secara maksimal, baik untuk menulis, mendesain, hingga bekerja secara cepat, dan hemat energi. Sayangnya laptop saya sudah rusak dan untuk kegiatan saya hanya mengandalkan laptop yang hanya bisa saya pinjam sewaktu-waktu sambil mencuri-curi kesempatan saat anak tidur. Bagi saya, serba salah itu adalah ketika saya punya peluang bekerja karena si anak tidur lumayan lama eh sarana buat bekerja alias laptop ataupun PC-nya nggak ada hihi. Setelah saya searching hingga berandai-andai rasanya Asus Vivo AiO seri V230IC menjawab semua kebutuhan saya.

image

Processor Intel Dual-Core

Dengan processor Intel Core i7 terbaru, Asus all-in-one series ini mengkonsumsi lebih sedikit energi dan bahkan bisa dijalankan secara multitasking. Ditambah dengan adanya Intel Turbo Boost Technology 2.0 yang membuat all-in-one PC ini bekerja secara cepat, maka waktu yang dihabiskan untuk menunggu ketika melakukan pekerjaan menjadi semakin singkat.

Cocok buat saya yang bekerja di rumah sambil juga mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Maklum ye, emak-emak kadang sambil nulis sambil kabur-kaburan buat menggiling cucian heu.. Ditambah lagi peluang buat kerjanya pas si anak tidur, nah nggak kebayang kan kalau kerjaan belum selesai karena PC-nya lemot eh si anak pun keburu bangun lagi. Duh!

Hemat ruang

Rumah yang baru kami tempati selama 4 bulan ini tergolong mungil sehingga segala yang menghemat ruang itu akan sangat menyenangkan hati! Desain Vivo AiO ini rupanya sangat ramping sehingga nggak makan tempat. Misalkan pun saya mau cetak buku lagi, space-nya bisa dialokasikan untuk stok buku-buku saja dan bukannya PC yang besuar.

Dalam proses menulis atau bikin desain kaos, saya biasanya juga membutuhkan lingkungan yang mendukung agar tercipta suasana yang menyenangkan. Misalnya saja setelah bosan mengetik berjam-jam di meja harus juga sambil menyeduh teh atau memandang pepohonan hijau. Dengan desain Vivo AiO hemat ruang ini, tentunya meja yang saya gunakan bisa juga sekaligus untuk meletakkan cangkir teh atau menaruh pot tanaman kecil supaya tidak jenuh. Asus Vivo AiO ini bahkan tanpa kabel sehingga saya tidak perlu khawatir kabel-kabel berseliweran di kolong meja dan menarik perhatian si anak.
image

 Kelebihan lain

Bisnis kecil-kecilan yang saya impikan ini semoga saja bisa bermanfaat dan berjalan lancar apalagi dengan didukung teknologi terkini layar sentuh 10 jari. Dan jika ada foto dari kegiatan-kegiatan komunitas atau foto merchandise jualan yang ingin di-backup ke PC, dengan adanya teknologi NFC atau Near Field Communications transfer data tersebut menjadi lebih mudah. Keren bener deh, serba wireless! Tinggal taro hape di deket si PC eh udah bisa ditransfer. Bahkan kalau hp dijadikan wi-fi hotspot dan baterainya jadi drop bisa juga nge-charge pake PC ini. Tinggal geser dikit aja posisinya.

V230IC ini juga memiliki teknologi Asus Sonic Master premium yang menawarkan audio terbaik dan jernih. Kebayang kalau sudah bosan menulis langsung setel instrumen gitar akustiknya Jubing Kristianto. Rasanya jadi mengundang inspirasi banget dan semoga bikin kegiatan menulis makin mengalir. V230IC juga punya layar LED-backlit yang terang dengan ukuran layar 23 inchi. Resolusi yang diberikan yaitu HD 1920×1080 sehingga warnanya jadi terang dan menakjubkan.

Coba deh cek juga ringkasan kelebihan Asus Vivo series lewat video ini:

Duh, gimana nggak tambah pengin punya ya? Kegiatan menulis lancar, bisnis lancar, kegiatan sosial pun ikut lancar juga. Semoga aja tambah berkah. Aamiin.

Sumber foto dan content mengenai Asus Vivo AIO diambil dari situs ASUS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *