Membuat paspor anak [April 2016]

“Jadi mau ikut bikin paspor nggak? Berangkat jam 6 kurang kalo jadi.” Tanya Abang pagi-pagi itu.

“Duh, nggak deh. Belom daftar online kan. Nanti kaya temenku yang ngantri panjang banget terus tiap hari harus bolak-balik ke sana. Nanti kalo A riweuh gimana?” Jawab saya.

“Ya udah.” Abang pun berangkat sekitar pukul 6 kurang 15 menit ke kantor imigrasi dengan membawa serta semua syarat pembuatan paspor.

Siangnya sekitar pukul setengah 1 siang sudah sampai lagi ke rumah. Katanya semua proses syarat sudah selesai, tinggal pembayaran aja yang belum karena ternyata pas mau ngantri pembayaran sudah jam makan siang dan banknya tutup. Ia akhirnya ke bank dekat rumah menjelang jam 3 dan itu berarti semua proses sudah selesai.

Saat itu hari Senin dan itu berarti hari Kamis paspor sudah bisa diambil. Ih, kok cepat ya padahal nggak online. Lalu ketika hari Kamis datang dan paspor Abang sudah jadi, ia menunjukkan dengan bangganya. Ih, kok jadi iri.

Mau tak mau saya menyesali juga tak menuruti ajakannya membuat paspor kemarin. Apalagi ketika kemudian ajakan ke Taiwan benar-benar datang. Akhirnya seminggu sesudahnya saya pun mengajak kakak Ica untuk menemani saya dan A ke kantor imigrasi. Kami berniat berangkat jam 6 namun kenyataannya berangkat pukul setengah 7. Sampai sana sudah pukul 7 lewat dan orang-orang sudah berbaris panjang di luar. Karena kata Abang ada antrian khusus untuk anak dan lansia maka saya pun bertanya pada petugas di pintu masuk. Dan berikut adalah beberapa point yang harus diperhatikan saat akan membuat paspor untuk anak, kondisi pembuatan adalah saat bulan April 2016 sehingga untuk info terbaru tentang membuat paspor silakan cek langsung ke kantor imigrasi yaps!

1. Dari pintu masuk sudah terlihat ketatnya penjagaan yaitu ketika saya akan melenggang ke dalam gedung maka ditanya siapa yang akan membuat paspor. Maksudnya mungkin meski saya bawa anak tapi misalnya yang mau bikin paspor saya doank ya tetap nggak bisa ikut antrian khusus, harus ikut antrian panjang di luar gedung. Saya pun menjawab bahwa saya dan A yang akan membuat paspor. Lalu kami diarahkan ke ruang tunggu. Namun karena banyak orang dan A menolak keramaian maka kami berdiri saja di lobi sambil lihat akuarium.

2. Tepat pukul 07.20 calon pembuat paspor yang berada di ruang tunggu-khusus dipersilakan naik ke lantai 2 lebih dulu. Sementara antrian biasa akan naik pukul 07.30. Kami pun bergegas naik dan begitu sampai di lantai 2 langsung disuruh membuat barisan untuk mengambil formulir.

3. Orang yang berada di dalam barisan adalah orang yang akan membuat paspor dan bukannya pengantar. Jadi meski A kekeuh nggak mau sama Kakak Ica maka saya harus membujuknya supaya mau main dulu karena saya harus antri di barisan, nggak bisa misalnya Kakak Ica yang antriin saya.

Saat berbaris dan menunggu loket dibuka, petugas akan sambil mengecek syarat-syarat seperti KK dan KTP.

3. Ambil formulir dan nomor panggil. Nah, di sini mungkin bedanya yang mendaftar online dan yang tidak. Pendaftar online tentu tidak harus mengisi manual.

4. Setelah mengambil formulir dan nomor panggil kami lalu duduk untuk mengisi formulir tersebut. Syukurlah saya mengajak Kakak Ica karena A sama sekali tidak mau duduk dan main sendiri sehingga Kakak lah yang mengisikan formulir untuk saya. Setelah itu Kakak pergi ke koperasi untuk membeli formulir surat pernyataan orangtua. Formulir ini adalah syarat jika ingin membuat paspor anak.

5. Suasana koperasi ternyata ramai dan sangat antri. Ternyata masih banyak yang belum menyiapkan fotokopi KTP atau fotokopi KK sehingga antrian koperasi sangat panjang. Diharapkan siapkan semuanya sebelum datang ya, karena sayang banget antri panjang hanya untuk fotokopi KTP satu lembar  😥.

6. Formulir pernyataan untuk anak harus ada ttd ayah dan ibu.

Ketika Kakak akhirnya balik lagi ke tempat duduk dengan membawa formulir pernyataan orangtua, saya membaca di bagian bawah terdapat kolom ttd ayah dan ibu. Waduh, ttd bapaknya gimenong inih? Kami pun bertanya ke petugas yang duduk di sebelah kanan (bagian informasi kalo nggak salah) apakah boleh hanya salah 1 saja (maksudnya saya aja yg ttd). Bapak petugas mengarahkan untuk bertanya pada petugas yang sedang berdiri saja. Kami pun bertanya pada petugas tersebut tapi lalu saya kezel huaaa. Jawabannya nggak ngenakin banget huks..ditambah nomor antrian sudah bergeser lalu si petugas jawab dengan santainya kalo saya besok balik lagi ajah. Huaaa padahal hari itu kan sudah meluangkan waktu. Akhirnya karena sudah tidak bisa kami pun pulang dengan hampa dan saya yang marah-marah 😈.

7. Besoknya saya balik lagi diantar Abang mengulangi lagi dari pertama. Tapi kali ini formulir pernyataan sudah di-ttd dan kalau boleh menggunakan formulir yang sudah diisi kemarin maka kami tinggal duduk manis saja menunggu panggilan. Ketika bertanya pada petugas katanya boleh pakai formulir kemarin tapi tentunya nomor antrian harus yang baru. Karena saya paling depan maka saya pun dapat nomor 002 dan A mendapat nomor 005. Ihiiiy.

8. Sambil menunggu saya memerhatikan petugas yang sama dengan kemarin yang menjelaskan setiap detail kolom formulir di hadapan para hadirin. Namun saya tetap waspada, melotot pada nomor panggil di layar supaya jangan sampai terlewat lagi 😠.

9. Nomor antrian A dipanggil dan kami bertiga masuk ke ruangan, menuju meja 5. Ibu petugas bertanya apakah saya bikin paspor juga? Saya menunjukkan nomor saya dan ibu petugas langsung menyuruh saya bergegas ke meja 2. Oalah saya pikir karena ibu dan anak maka kami akan diurus bersamaan disatu meja. Saya pun nyaris lari ke meja 2, takut nomor bergeser dan saya gagal lagi. Syukurlah masih keburu. Pengisian kolom, wawancara, dan sesi foto A biar diurus bapake aja.

10. Petugas di meja saya tidak terlampau jauh usianya sepertinya. Saya menduga ia baru masuk menjadi PNS mungkin sekitar 3-4 tahun. Kami malah jadi ngobrol dan ngomongin buku yang saya tulis karena ia bertanya kesibukan saya sekarang apa. Lalu sekalian saja saya promosiin tentang skoliosis hehe.

11. Saya nggak percaya waktu seluruh proses selesai pada pukul 08.30. Hanya 1 jam! Abang cerita kalau sesi foto A pun nggak riweuh dan ia nurut saja diam di depan kamera sambil dibujuk dengan kardus isi steples. Sesudah itu kami ke bank di lantai 1 untuk pembayaran dan selesai.

12. Paspor akan jadi setelah 3 hari kerja. Karena itu adalah hari Rabu, maka paspor saya dan A baru jadi hari Senin. Senin kami pun balik berdua saja namun ternyata proses pengambilan yang “cuma tinggal ngambil” itu jadi ricuh karena A ngambek dalam gendongan saya. Sepertinya karena ramai orang, saya pun melipir ke dekat toilet karena ada kursi di situ. Saya tidak membawanya ke ruang menyusu atau area bermain karena hari sebelumnya ia menolak akibat letaknya yang persis banget di depan antrian mengular orang-orang yang mau fotokopi di koperasi. Nggak disangka di dekat kursi toilet itu ia malah menolak menyusu di balik apron dan semakin menjadi ngambeknya sampai nyaris gegulingan di lantai huaa.. botol minumnya dilempar dan ia merosot ke lantai. Orang-orang mulai memerhatikan kami dan ia yang memang sudah bete karena tak suka keramaian jadi makin kesel karena diliatin orang-orang.

Satu point di sini adalah kalau ada sesuatu yang tidak bisa kamu bantu maka please jangan ngeliatin objek tersebut terus-terusan. Mind your own business! Saya akhirnya sekuat tenaga menggendongnya sambil kesal juga ke lantai 1 kembali, lagipula nomor panggil kami masih jauh. Kami pun menyingkir ke dekat kolam ikan sambil saya mengalihkan perhatiannya supaya lebih tenang. Saya akhirnya menelepon 911 Abang dan akhirnya ia melesat dari kantor.

Setelah A sudah mulai mereda ngambeknya kami menuju warung untuk sama-sama menarik nafas dan menenangkan diri. Begitu papahnya dateng, A malah ketawa-ketawa doank. Hiiiih..bete deh. Akhirnya saya kabur ke lantai 2 lagi sendirian dan pas banget nama A lagi dipanggil. Petugas pun menyodorkan buku untuk saya ttd sebagai pengambil paspor dan ia kemudian menyerahkan paspor saya dan A.

Cantik sekali hari itu rasanya, bahkan meski sempat ada tantrum tapi ketika menuruni tangga sambil memegang paspor rasanya saya berasa seperti Anna Hathaway yang baru saja sampai di Italia.

Alhamdulillah akhirnya kami punya paspor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *