Taipei 101 observatory

Belum ke Taiwan kalo belum ke Taipei 101.

Begitu kata si Tante yang juga diaminkan oleh banyak orang bahwa gedung Taipei 101 adalah ikon dari Taiwan. Sebagai gedung tertinggi ke-5 di dunia, Taipei 101 memang wajib dikunjungi. Kami mengunjungi gedung tinggi ini setelah singgah ke Chiang Kai-Shek Memorial Hall.

Sama seperti destinasi lain di Taipei yang rutenya mudah ditempuh dengan transportasi publik, Taipei 101 pun bisa dijangkau dengan MRT yang nyaman.

p_20160503_165817_ll.jpg

img-20160505-wa0011.jpg

Setibanya di gedung World Trade Center, kami naik ke lantai 5 untuk membeli tiket seharga 500 NT per orang atau sekitar Rp 200.000 kemudian mengantri untuk bisa masuk lift menuju lantai 89. Antrian cukup panjang dan mengular bahkan ketika saat itu bukan akhir pekan.
img_20160507_213208201.jpg

Sambil mengantri, kami melewati photobooth terlebih dulu. Fotonya bisa milih mau background gedung Taipei 101 saat suasana siang atau malam. Foto ini nantinya bisa dicetak dan diambil saat di lantai atas tapi bayar lagi yah. Karena waktu itu kami pikir gratis jadinya kami bertiga mah manut wae poto-poto ajah haha.

Oh iya, di beberapa tempat wisata di Taiwan rupanya tersedia kotak surat dan meja kecil untuk menulis kartu pos. Jadi pengunjung bisa membeli kartu pos di tempat lalu langsung cemplungin ke kotak surat. Tapi sayangnya kartu pos yang dijual adalah yang versi 3D which is harganya jauuuh lebih mahal.  Sementara saya belum menemukan toko sovenir kartu pos jadinya saya foto saja sama kotak pos sambil nyuapin Dede pake ubi rebus yang dibeli di Sevel.

wp-1469589588150.jpeg

Setelah tiket sudah dibeli kami pun lantas mengantri untuk masuk lift. Sambil mengantri sama seperti kemarin Dede pun sekali lagi jadi pusat perhatian hehe. Kali ini dari keluarga wisatawan Jepang yang mengantri di belakang kami. Mereka menggoda Dede dengan bahasa Jepang, ngomong sama kami pun nggak nyambung aja tapi sama-sama ketawa-ketawa hihi. Saya jadi ingat Paimo yang berkeliling Pegunungan Andes dengan sepedanya dan berbicara dengan bahasa Jawa sementara si pemilik rumah yang memberinya telur rebus berbicara dengan bahasanya sendiri juga. Salah satu wisatawan Jepang itu bertanya dengan bahasa Inggris dari mana asal kami. Ia lalu mengajari Dede sebuah lagu dalam bahasa Jepang. Dedenya mah senyam senyum malu doank!

Akhirnya nyampe di lift juga.
Akhirnya nyampe di lift juga.

Setelah mengantri kurang lebih setengah jam kami pun akhirnya sampe juga di lift. Dari lantai 5 kami kemudian bisa merasakan naik menuju lantai 89 dalam waktu singkat, yaitu kurang lebih 37 detik sajah, sodara-sodara! Di dalam lift kita akan merasakan telinga berdenging saat lift bergerak semakin tinggi. Dan seperti biasa, si dede nangis di dalam lift hihi. Tapi tidak lama setelah masuk ke dalam lift, lampu akan mati dan langit-langit di bagian atas lift akan menyala berkilauan dengan motif bintang-bintang seperti saat malam hari. Nah, ini lumayan bisa mengalihkan perhatian dan menghentikan tangisan si bocah.

Akhirnya setelah tiba di lantai 89 kami bisa melihat keindahan Kota Taipei dari atas secara menyeluruh. Waktu terbaik adalah saat menjelang sore hari saat tidak ada kabut atau malam hari saat cahaya lampu dari segenap penjuru kota di bawah sana menghiasi pandangan. Saat itu kami datang sekitar pukul setengah 5 sore.

wp-1469001616682.jpeg

Dari lantai 89 kita juga bisa naik lagi ke lantai 91 dengan menggunakan tangga dan menyaksikan panorama dari luar ruangan atau outdoor. Namun akses menuju area outdoor tersebut tidak dibuka setiap saat karena bergantung pada cuaca dan kondisi angin. Jika kondisi cuaca tidak memungkinkan, pengunjung hanya boleh sampai di lantai 89 saja.

Alhamdulillah bisa nyampe sini.
Alhamdulillah bisa nyampe sini.

Kegiatan di atas ya palingan muter-muterin aulanya saja sambil foto-foto sama ikon wind dumper atau penahan angin dari gedung tinggi ini. Di lantai 89 ini juga terdapat berbagai macam toko souvenir, juga tempat ambil foto yang tadi dijepret di bawah.

Wind dumper mini
Wind dumper mini
Menjelang malam hari
Menjelang malam hari

wp-1469588034488.jpeg

Ketika sudah puas berada di lantai 89, kami lantas turun lagi. Tapi harus turun tangga dulu ke lantai 88, melihat wind dumper beneran yang guede itu. Lantas baru mengantri lagi untuk masuk lift. Ada 2 pilihan liftnya, mau lanjut ke lantai 5 atau ke lantai sekian (saya lupa) kalau mau belanja dan lihat-lihat mall yang ada di  gedung tersebut. Karena anak-anak sudah lelah dan sudah malam juga jadi kami langsung turun dengan melewati toko-toko sovenir batu-batu khas Taiwan. Hati-hati ya kalau anak-anak lewati ke sini soalnya takut pecah, harganya mihiiiiil.

Foto oleh Abang
Foto wind dumper oleh Abang

Begitu keluar dari gedung kira-kira sudah jam 7 malam dan saat itu angin bertiup kencaaaaang banget. Cuaca di Taipei memang sulit ditebak sehingga wajib untuk siap sedia membawa payung bahkan meski sudah masuk musim panas seperti saat itu. Sebelum ngibrit karena mulai gerimis, anak-anak foto dulu di huruf L-O-V_E yang jadi rebutan orang-orang.

img-20160510-wa0017.jpg

 

2 thoughts on “Taipei 101 observatory

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *