Gigi ke-12

“Coba lihat giginya.” Pinta saya pada A untuk membuka mulut. Sekejap ia membuka mulutnya tapi belum sempat saya lihat lebih jauh persoalan gigi geligi ini ia sudah menutup mulutnya lagi.

Dihitung-hitung ini adalah gigi ke-12 yang akan tumbuh. Jangan-jangan tumbuh gigi ini penyebab lagi-lagi ia cenderung menolak makanan dan hanya mau minum susu.

Sejujurnya saya khawatir sekali dengan kemampuan memasak saya yang luar biasa parah. Meski sudah pernah memasak beberapa menu namun setiap kepepet saya akan memasak menu itu lagi itu lagi. Sehingga saya takut A menolak makan karena sesungguhnya ia bosan.

Ini sudah 2 minggu pasca Abang pergi ke tanah suci. Dengan mengungsinya saya dan A yang ke rumah ibu, suasana rumah jadi tambah ramai. Selain karena A dan mas-nya yang serasa reunian, kini personil rumah berasa liburan tiap hari karena kakak saya kini juga sudah resign dan ayah saya pun sudah masuk masa pensiun. Jadi semua komplit di rumah.

Kemampuan bicara A sudah semakin bertambah. Selain sudah hafal seluruh anggota keluarga, mengerti instruksi yang diberikan, ia juga sudah bisa menjawab dan memilih sesuai kemauannya.

“A, mandi yuk sama mamah.”

“Ndak au. Sama tatu ajah.” Tatu alias kakung maksudnya.

Baeklah. Kalau di rumah saya bisa jumpalitan ngejar A sekaligus masak dan beberes, maka selama mengungsi ini saya bisa slow down dulu sambil tarik nafas karena mandiin atau nyuapin bisa bergantian sama yang lain.

A juga sudah hafal dan bisa menyanyikan lagu-lagu seperti tik tik bunyi hujan, cicak di dinding, balonku, burung kakaktua dan lagu lain yang tiba-tiba saja bisa ia nyanyikan karena saya mengulangnya hampir setiap hari.

Saya jadi takjub akan hafalannya. Jangan-jangan berlaku yang sama ya untuk surat-surat pendek yang selama ini saya bacakan? Memang belum saya tes hafalannya. Ia baru hafal dzikir dan takbir sambil menirukan gerakan shalat. Plus karena Abang lagi pergi ke tanah suci jadi kami mengajarkan kalimat “labbaika Allahumma labbaik”. Dan kalau ditanya “Papah ke mana?”, maka ia akan menjawab, “Ha…ji..”

Saya ingat betul ketika masih tinggal di Ciputat dan seharian hanya berdua dengan A yang saat itu berusia 6 bulan, hanya untuk mengambil wudhu saja saya harus colong-colongan ketika ia tak menengok dan saya kabur secepat kilat ke kamar mandi. Tentu saja sesudahnya akan pecah tangisan keras dan seringkali ia merangkak menyusul saya. Lalu shalat pun diiringi tangisan meski saya shalat di dekatnya.

Kini A hanya berdiri saja ketika saya shalat. Eh nggak deng, kadang mainan, angkat toples, manjat kursi, dan baca buku ketika saya shalat. Ketika ia menginginkan sesuatu, di awal shalat ia masih memanggil-manggil saya sambil menarik mukena tapi karena saya tetap shalat maka ia pun mengerti dan enjoy saja melanjutkan aktivitasnya sendiri. Terkadang ia berdiri di depan saya dan mengikuti gerakan rukuk sambil membaca takbir dengan pelafalannya sendiri.

Motorik A juga berkembang baik. Alhamdulillah. Ia sudah bisa mengambil sesuatu dengan dua jari dan ternyata bisa anteng banget kalau main lego.

Karena bermain di luar ruangan adalah kesukaannya, maka ia kini gemar sekali memungut segala hal yang ia temui. Mulai dari bunga, biji bunga, ranting pohon, batu,  buah, hingga dedaunan. Saya berusaha untuk tidak serta merta menyuruhnya membuang benda-benda yang ia pungut itu. Saya biarkan saja sambil menyebutkan nama benda dan warnanya. Meski kalau ketahuan sama ibu dan ayah saya ranting-ranting dan segalanya itu harus dibuang hehe.

A juga saya biarkan mengikuti saya mengaduk-aduk tanah di pot. Dulu ia memang terkesan tidak mau kotor, sekarang dengan sering saya ajak main langsung di luar rumah ia sudah lumayan tidak berteriak atau menangis ketika ada tanah nempel di tangannya.
Karena saya sering sekali mencari-cari kupu-kupu, maka A kerapkali juga mengikuti. Ketika di luar ia terkadang bertanya, “Pupu-pupu ana, Mamah?”

PR selanjutnya adalah rutin mengajarkan sikat gigi dan memulai toilet training. Untuk sikat gigi A masih sering menolak dan menutup mulutnya, kadang saya pun jadi kendor semangatnya namun akhir-akhir ini jadi kepikiran karena ia mulai minum dan makan yang manis-manis sehingga harus rajin sikat gigi.

Toilet training rencananya mau saya mulai bulan ini saat mengungsi di rumah ibu tapi hingga hari ini belum saya mulai juga, duh! Baru saja kemarin training pants pesanan sampai dan semoga bisa segera saya mulai toilet training-nyah! Haha ini alasan banget yah mulainya nunggu peralatan ready dulu.

Beberapa hari lagi A akan memasuki usia 21 bulan. Lalu saya tersadar banyak hal yang sudah kami lalui dan tempat yang sudah kami kunjungi. Pada masa-masa baby blues saya yang sempat iri pada beberapa kawan yang saat itu sedang traveling, kini justru ingin sekali bepergian lagi menempuh jarak bersama A dan Abang. Semoga saja selanjutnya kami bisa kemping bersama. Aamiin.

Kini, saya akui saya rindu juga dengan rutinitas mencuci clodi, menyuapi A makan sambil duduk di tray, dan hal lain yang sudah kami lewati di masa-masa ia masih bayi.

Terima kasih sudah hadir dan mengajarkan banyak hal dalam hidup Mamah, ya Nak. Semoga Mamah dan Papah bisa terus bersama-sama membimbingmu menjadi manusia cerdas yang sayang agama dan lingkungan. Aamiin.

10 thoughts on “Gigi ke-12

  • September 19, 2016 at 11:43 am
    Permalink

    foto terakhir epic euy botol minumnya 😀 😀

    Reply
    • September 19, 2016 at 1:13 pm
      Permalink

      Gusinya yg sakit, waktu awal2 mau numbuh 4 gigi di 1 th pertama biasanya malah pake demam.

      Reply
  • September 22, 2016 at 10:49 am
    Permalink

    Anak saya tanggal 17 kemarin memasuki 21 bulan Mbak…dan belum bisa bicara layaknya teman-teman seusianya. Sempat takut dan bingung….tapi kata dokter anaknya setiap perkembangan anak beda.
    Dia menyebutkan beberapa kelebihan anak saya yang melebihi anak lain dan saya amati…ah, ya…saya terlalu khawatir. Let them grow great!
    Salam kiss kiss buat anaknya yang embul 🙂

    Reply
    • September 22, 2016 at 11:25 am
      Permalink

      Iyah mbak benar. Keponakan saya baru lancar bicara pas 2 tahun. Ngomongnya langsung lancar dari jam 4 subuh ga berhenti2. Awalnya saya pikir anak saya begitu juga, ternyata malah udh ngomong. Memang beda2. Salam untuk anaknya juga ^^

      Reply
  • September 22, 2016 at 12:24 pm
    Permalink

    anakku sekarang kebalikan dengan anakmu: kami menunggu saat gigi susunya satu persatu copot…

    Reply
  • September 26, 2016 at 12:52 am
    Permalink

    Awww seru banget… pasti lagi bahagia2nya y mbak.. hmmm semoga saya disegerakan punya baby aamiin hehe

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *