Jarak rindu

Meski mengaku “we’re still looking at the same sky” tapi toh nyatanya rindu itu datang juga. Menyergap diam-diam setelah lama tak datang. Delapan hingga sembilan tahun lalu dirinya yang sering melakukan perjalanan naik turun gunung tentu berjarak ratusan kilometer dari tempat saya berada. Lalu pasca menikah kami terpisah jarak pulau dan baru bisa melepas rindu setelah 5 minggu.

Kemudian ketika baru dinyatakan mengandung, saya dan dia berjarak Jakarta-Puncak karena ia akhirnya melepas pekerjaan di seberang pulaunya itu dan dua bulan kemudian diterima menjadi PNS. Setelah itu hanya 1-2 kali ia naik gunung dan kami berjarak sekian kilometer.

Tapi hari ini, mulai pukul 7 malam tadi, jarak ribuan kilometer terbentang di antara kami selama kira-kira 40 hari ke depan.

Kalaulah bukan rindu lalu apa namanya?

Tapi tentu rindu dari sini tak seberapa dibanding rindu dirinya pada Baitullah. Dan ia sedang menempuhnya. Menuju jalur keikhlasan melepas rindu di bawah taburan bintang. Menuju tanah lapang nan syahdu yang kering namun menyejukan hati.

Di antara tanah Haram yang tak pernah tertidur. Jarak semoga saja tak berarti.

Panggil namaku dari sana, Abang. Sebut dan panggil namaku juga A dari sana. Dari jarak ribuan kilometer di mana doa akan di-ijabah.

Doakan kami di sini baik-baik saja. Dan semoga Allah selalu melindungimu dan Ummi.

~ Ciputat, sesudah hujan. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *