Mengenang Cupi (2)

“Nggak ada yang tulisannya ‘I Love Emak’, Yul?”  Tanya Cupi suatu hari waktu saya menawarkan kaos bertuliskan “I love books” sebagai penggalangan dana untuk komunitas.

“Haha nggak ada, Cup.”

“Kalo gw pesen bisa?”

“Gw nggak tau kapan bisa bikinnya, Cup. Ini aja desainnya yang udah gw bikin tahun lalu. Sekarang susah nyalain komputernya.” Jawab saya yang saat itu baru beberapa bulan melahirkan.

“Ya udah kapan-kapan aja deh.” Jawabnya lagi.

Ternyata “kapan-kapan” itu menjadi tidak terwujud karena bahkan hingga Cupi pergi saya tak kunjung bisa mengabulkan request-nya.

Cupi saat di pernikahan saya dan Abang

Kami bisa melihat dengan jelas kesedihan sangat tampak di wajah sang ibu di hari duka itu. Tentu saja. Ibu mana yang tidak bersedih melepas kepergian anaknya. Apalagi kabarnya Cupi dekat sekali dan masih suka gelendotan sama ibunya itu.

Bahkan air mata itu masih muncul ketika kami pada akhirnya sampai di rumah orangtua Cupi di Purwokerto. Meski sehari-harinya tinggal di Jakarta, tapi mereka juga memiliki rumah di kampung. Dan makam Cupi terletak persis di seberang rumah tersebut.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 6 jam di kereta malam hari, rombongan kami (dengan jumlah 10 orang plus 3 orang anak dan bawaan segambreng) akhirnya tiba di stasiun Purwokerto pukul 2 dini hari.

Setelah menaikan barang bawaan ke mobil sewaan dan menunggu terlebih dulu, barulah kami berangkat menuju tujuan pertama yaitu rumah orangtua Cupi yang kabarnya sehari-harinya ditunggui Pakde atau saudara dari orangtua Cupi.

Mobil melaju menembus dini hari yang masih gelap itu, beberapa kali supir menanyakan patokan dan sempat berputar. Hingga akhirnya kami berbelok di jalan yang dimaksud berbekal panduan dari Pakde-nya Cupi. Begitu tiba di rumah pukul 4 subuh alih-alih sang Pakde, malah ayah dan ibu Cupi yang menyambut kami di teras rumah. Ternyata mereka juga pulang ke Purwokerto. Entah menyengaja pulang karena kami mau datang atau tidak.

Karena sudah tidak memungkinkan untuk tidur kembali maka kami mengobrol saja di dalam rumah, menanti adzan subuh datang, sambil minum teh panas dan makan tempe mendoan. Lalu secara bergantian masing-masing bebersih diri dan berganti baju. Sementara para lelaki bertukar cerita dengan bapak Cupi tentang cerita-cerita semasa kuliah. Di dinding ruang tengah terpajang foto Cupi saat wisuda tahun 2009.

Tanpa kami duga orangtua Cupi menjamu kami dengan berbagai makanan untuk sarapan. Ketika hari sudah semakin terang, kami makan di teras sambil menyuapi bocah-bocah yang bermain mobil-mobilan.

Setelah semua selesai makan, kami pun bergegas menuju makam Cupi di seberang rumah. Makamnya terletak hampir di ujung. Tentu tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa kami akan beramai-ramai menempuh jarak untuk ziarah ke makam sahabat semasa kuliah seperti ini.

Semoga Allah melapangkan kuburmu, Yusuf Margono. Aamiin. Selamat hari lahir hari ini 10 September 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *