Transportasi publik* yang memudar

Dua hari lalu saya melanjutkan tugas negara untuk mengurus surat pindah domisili antar kecamatan (semoga nantinya bisa saya jabarkan alurnya di sini ya).

Untuk menuju kelurahan dari rumah saya naik ojek online karena rute yang lumayan sulit dijangkau. Sebelum ada ojek online biasanya tetangga saya pada naik ojek, lanjut metromini, lanjut lagi jalan kaki kalau metromininya nggak nyampe tujuan alias muter sebelum penghabisan, kalo capek jalan kaki ya berarti naik ojek lagi sampai kelurahan. Daripada begitu, mending langsung pesen online saja, kan? Kemarin saat saya pertama ke kelurahan dan cek rute plus harganya, saya terpana.

Apah?!! Rp 6.000?!

Kalau pakai rute biasa dengan ojek dan metromini bisa habis Rp 14.000. Apakah ada perang tarif ojek online lagi? Pikir saya. Kalau sudah begini, pelanggan yang pastinya diuntungkan.

Saya ingat betul sekitar 1 tahun lalu saat saya baru saja resign untuk bekerja di rumah. Saat itu ada beberapa hal yang membuat saya datang 1 hingga 2 hari ke kantor lama. Ketika sore hari tiba dan saatnya pulang, saya takjub melihat ada sekitar 5 pengemudi ojek online dari operator yang berbeda parkir di dekat gerbang. Masing-masing menanti pelanggan yang sudah memesannya. Kalau tidak salah waktu itu sedang ada promo Rp 10.000 bahkan untuk rute yang jauh sekalipun. Ojek online yang satu kabarnya lebih sadis lagi. RP 5.000 saja!

Bayangkan itu! Sementara saya saat itu masih memilih menaiki Kopaja 2x lalu disambung dengan ojek biasa. Total biaya adalah Rp 18.000 plus kemacetan panjang di jalan hingga memakan waktu 2 jam.

Aplikasi ojek online menggelora! Memudahkan banyak sekali warga yang mau berangkat dan pulang kerja. Tidak hanya karyawan tapi juga mahasiswa hingga anak sekolah. Meski di beberapa sekolah kabarnya dilarang membawa handphone tapi tetangga saya yang masih duduk di bangku SMP beberapa kali pulang dengan menggunakan ojek online tersebut yang dipesan via ponsel. Mungkin juga yang memesan adalah ibunya.

Ketika ada isu ojek online dilarang, ramailah mereka-mereka yang disebut netizen itu. Protes di sana-sini menyeru agar ojek online tak dilarang. Syukurlah, ojek online tetap boleh beroperasi.

Ketika metromini mogok, banyak yang berkata. “Nggak ngaruh ah. Masih bisa pesan ojek online buat pulang.”  Lupa bahwa masih ada warga yang tidak memiliki ponsel untuk memesan ojek online atau punya ponsel tapi tidak mendukung aplikasi tersebut. Seperti misalnya ibu saya yang paling mentok hapenya buat main game balapan mobil.

I didn’t fight against ojek online. Karena saya sendiri pun merasakan manfaatnya. Ketika ada pembeli barang dagangan saya yang minta diantar pakai ojek. Saya tinggal pesan via ponsel dan datanglah si bapak ojek ke depan rumah lalu mengantarkan barang langsung ke pembeli. Bahkan lebih riweuh membungkus barang dagangan saat A terbangun dibanding mengirimkannya. Atau ketika ibu ulang tahun, kakak dan saya tinggal pesan kue via HP. Kami saat itu pertama kalinya memesan makanan via ojek tersebut. Dan terpana menanggapi bahwa kue akan dibeli dengan uang milik pengemudi ojek terlebih dulu. Kalau dia nggak bawa uang, gimana ya? Pikir saya dan kakak. Saat itu kami bersyukur sekali bisa membeli kue tanpa harus meninggalkan rumah. Karena saat itu masing-masing kami sibuk dengan anak yang tentunya tidak bisa ditinggal hanya untuk beli kue.

Tapi kemudahan-kemudahan itu menimbulkan pemikiran resah lain. Yaitu bagaimana dengan nasib bus dan angkot yang kabarnya menjadi sepi pasca kegembiraan dan euforia ojek online? Saya tentu tak bisa segera membuktikan kesepian tersebut karena kini sehari-harinya berada di rumah dan tak lagi berprofesi menjadi pengejar bus.

Namun hari ini, keresahan itu semakin menjadi. Sepulang dari kelurahan saya naik ojek online lagi menuju kantor pos. Iyah, emang nih kelurahannya di ujung banget! Nunggu metromini keburu gosong deh karena nggak semua metromini tersebut akan muter di dekat kelurahan. Nah sepulang dari kantor pos, mampir lagi ke salon (jieeeh akhirnya nyalon!). Dari kantor pos ke salon barulah naik angkot. Isi angkot tersebut hanya 2 orang, ketika saya mau turun tambah 1 orang lagi. Saya berpikir wajar saja karena saat itu masih jam 10 pagi. Bukan peak hour.

Pulang dari salon saya lanjut naik angkot lagi. Kali ini hanya saya sendirian di sana. Saya iseng bertanya pada bapak supir apakah ini bukan jam ramai? Ia pun menjawab dengan nada suara getir, “Sepi sekarang, Neng. Pada naik ojek online semua. Ni angkot semuanya pada tinggal nunggu abis doang.”

“Anak sekolahan nggak ada juga, Bang?”

“Kan pada naek bus sekolah gratis. Ni saya aja cuma narik 3 rit doank, abis itu pulang aja. Udah nggak kuat tenaganya.”

Saya lalu jadi ingat cerita tentang Kopaja yang dulu biasa saya naiki dengan (terkadang) gelantungan di pintu, kini sudah dilarang beroperasi hingga tujuan akhirnya. Kalau memang pelarangan ini demi kemajuan Kopaja yang dari dulu tak ada perubahan, saya sedikit setuju sih meski menyayangkan juga pelarangan tersebut.

wpid-img_20141022_190028.jpg

Saat ini memang sepertinya di beberapa wilayah ada bus-bus yang diberhentikan. Contoh lain patas 84 jurusan Depok-Pulo Gadung yang kini sudah tidak ada lagi. Tulisan mengenai patas tersebut bisa dibaca melalui tulisan Dian di sini. Pertanyaan selanjutnya: ketika sebuah bus ditiadakan, supir dan kondekturnya beralih ke mana ya?

Namun saya harap sepinya “sewa” bukan menjadi faktor utama penghentian sebuah bus. Pada kasus angkot yang saya naiki, selama ini yang saya ketahui jumlah angkot dengan trayek tersebut memang banyak sekali. Hingga saya dan teman-teman pernah berkata “Tuh angkot tiap kita kedip juga ada lagi-ada lagi.” Meski saya juga pernah merasakan nggak kebagian angkot tersebut saat jam sibuk. Kualat rupanya karena sudah meremehkannya.

Ketika sekarang tersedia ojek online dengan tarif lebih murah, mungkin saja banyak sewa yang beralih sehingga angkot trayek tersebut menjadi kosong. Saya belum tahu lebih lanjut apakah fenomena sepinya penumpang ini berlaku juga pada angkot dan bus lain. Faktornya pun bisa saja ditambah dengan semakin banyak “sewa” yang kini sudah memiliki kendaraan pribadi sehingga tidak lagi menggunakan transportasi publik. Jika ini yang semakin marak terjadi maka memang semakin nyatalah transportasi publik di kota ini belum bergerak menjadi lebih baik.

Tapi sebagai pengguna transportasi publik secara rutin di masa itu, rasanya sedih sekali ketika tidak lagi bertemu dengan wajah-wajah yang sudah biasa dikenal di dalam bus beserta keramahan mereka.

Padahal dulu saya berharap ada perubahan dalam transportasi publik yang mudah dijangkau oleh semua masyarakat. Termasuk juga oleh warga yang tidak memiliki ponsel dan ingin bepergian secara mudah, aman, dan nyaman.

Satu yang tidak berubah adalah malam harinya, saya merasakan keinginan yang kuat untuk melanjutkan tulisan. Keinginan yang terbiasa muncul sesudah memandang wajah kota dari jendela bus atau angkutan publik lain.

*Transportasi publik yang dibahas di sini adalah bus sejenis kopaja, metromini, patas, dan angkot.

5 thoughts on “Transportasi publik* yang memudar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *