4 hal yang saya lakukan agar berdamai dengan MVP

Terdeteksi MVP di jantung (katup jantung yang membuka sedikit) pada tahun 2007 membuat saya down dan marah pada banyak hal. Lalu berbagai pengalaman dan kebaikan yang diberikan oleh orang-orang di sekitar menyadarkan saya bahwa segala yang terjadi memang selalu tidak seperti apa yang kita inginkan tapi selalu ada cara untuk mencari celah semangat di antaranya.

Alih-alih marah dan kesal, saya seharusnya bisa berdamai dengan MVP. Hingga MVP yang katanya tidak bisa hilang selamanya dari diri saya itu, dinyatakan clear alias sudah bersih pada tahun 2013 saat dilakukan pemeriksaan ulang dengan USG jantung kembali. Sebelumnya sudah pernah menuliskan tentang ini tapi mari saya jabarkan ulang supaya mungkin lebih bermanfaat baik untuk yang terkena MVP maupun yang tidak. Karena rasanya ini berlaku juga bagi semua orang supaya terhindar dari segala macam penyakit:

4 cara saya untuk berdamai dengan MVP:

  1. Hindari asap rokok! (apalagi merokok -_-). Batuk-batukilah orang-orang yang merokok hehe.
  2. Cari tahu tentang relaksasi (lakukan hal-hal yang bisa membuat diri sendiri rileks, misalnya mendengarkan musik, atur nafas dan berhitung 0-10 ketika mulai sesak dan riweuh, mengamati rerumputan hijau, atau bermain di luar ruangan).

 

It’s tea time

3. Cari tahu tentang batas kemampuan diri sendiri dan tidak melakukan semua hal dalam satu waktu.

Kecewa memang ketika pertama kali didiagnosa MVP lalu kemudian rasanya ngap-ngap-an ketika menuju kelas yang berada di lantai 3, atau ketika berkeliling lapangan bola dan bertemu dengan orang-orang yang selalu berseru; “Ayo lari! Jangan jalan!” pada saya yang saat itu berjalan kaki pagi hari.

Mengapa bisa terjadi sesak nafas sesudah berlari? Jawabannya seperti yang sudah diuraikan di atas. Ketahui batas diri. Jogging lah, dan bukannya lari lah. Jogging alias lari kecil. Jika ini memang mampu dilakukan, maka lakukanlah. Jika tidak maka jangan lakukan. Dan saat itu pula untuk pertama kalinya saya belajar untuk jogging secara konstan. Salah satu sebab sesak nafas waktu itu adalah karena melakukan lari-jalan-lari-jalan. Ritmenya BERANTAKAN dan rasanya jantung pun ikut bingung karena aktivitas yang cepat-lambat-cepat-lambat.

Dan jangan lupa pemanasan dulu. Peregangan untuk melemaskan otot-otot, tarik nafas, dan mulailah lari-lari kecil dengan kecepatan konstan. Bisa mulai dengan setengah lapangan, atau bisa juga langsung satu putaran lap, dengan syarat kecepatan KONSTAN.

Putaran pertama saya? Walaaah. Keringat dingin di tangan, nafas dag-dig dug, perut sakit. Tapi walau begitu harus tetap diselesaikan sampai satu putaran dan tak boleh berhenti begitu saja.

Saran yang tak kalah penting: jangan lakukan ini sendiri tapi bersama orang yang sudah pengalaman dengan jogging, sekalian men-support gitu jika sudah mulai ngap-ngap-an hehe.

Lakukan ini secara tetap minimal seminggu 2x. Sesudah jogging, misalnya 2 putaran, jangan langsung berhenti tapi lanjutkan dengan jalan kaki satu putaran lagi supaya jantung juga tidak kaget, apalagi jika kaki langsung ditekuk dan tidak diluruskan.

Dan jika sudah terbiasa, jogging dua putaran sekaligus pun bisa dilakukan. Meski kemudian jogging (untuk sementara) tak saya lakukan karena menjalani perawatan tulang punggung, tapi rasanya puas sudah pernah melakukannya bersama MVP. Dan ternyata setelah terbiasa, jalan kaki pun menjadi rutinitas yang sangat menyenangkan.

Berjalan dengan baik kah semuanya? Tidak ketika saya lupa dengan “melakukan semua hal dalam satu waktu”. Nanti Insya Allah saya ceritakan kejadian di Pulau Tidung.

Rasa senang bisa ikut mengikuti kegiatan bersama anak-anak Cibulao pun membuat saya mungkin terlalu bersemangat sehingga kemudian justru melupakan satu hal penting: udara dingin. Rule no.2: avoid chilly weather. Jika memang harus berada di udara dingin, ya jangan lupa dengan benteng-bentengnya alias segala jaket dan baju hangat.

Apa yang salah sewaktu ke Cibulao? I forgot to bring my legging. Yeah, baju hangat macam itu penting sekali apalagi di tempat tinggi yang dikelilingi bukit-bukit dan angin dingin. Meski yang lain tidur di luar sementara saya di dalam saung bersama Mrs. bule. Tapi ternyata angin yang masuk melalui celah-celah papan saung seolah seperti tak ada bedanya dengan dingin di luar. Akibatnya? Walaah serbuan kedinginan sepanjang malam dan sama sekali tak bisa tidur. Akibatnya lagi? Fiuuh… kurang tidur kurang energi, padahal esok harinya acara butuh banyak energi. Yaah tak perlu heran jika sesudah itu tumbang hehe.

Maka ketahui-lah batas diri. Peraturan nomor satu dalam MVP,

rule no. 1: avoid overworked.

Jika ini sudah diterapkan Insya Allah lancar seperti sewaktu kemping di Bojong dan mendaki ke Cibereum :).

“Temukan kecepatanmu sendiri. Kenali diri sendiri, lakukan tugas. Rileks. Jangan khawatir, dan nikmati perjalanan.” ~ Garry P. Scott ~

 

4. Paling utama: kembangkan pemikiran positif.

Saya adalah orang yang sering sekali dihantui dengan pikiran negatif. Apalagi sewaktu awal didiagnosa memiliki MVP. Rasanya gamang. Pernah suatu hari membaca sebuah catatan mengenai seorang ibu yang terkena penyakit kanker. Setiap akan menjalani kemoterapi yang menyakitkan, sang ibu itu membawa makanan yang memacu nafsu makannya beserta keranjang pikniknya sekaligus. Alasannya? Supaya ia berpikir bahwa pergi ke rumah sakit itu juga bagian dari piknik! Ya, alih-alih terpuruk, beliau menyetir pikirannya supaya berpikir positif. Hal yang masih terus berusaha saya pelajari. Sehingga rileks dan melakukan hal yang menyenangkan menjadi hal yang sangat penting.

“Think positive yaa.. We all in God’s hand, remember? Jadi Dia yang menguasai jantungmu. sebut Dia, Insya Allah lebih tenang, sayang. Pikirkan hal indah. About nitefurry misalnya =)” ~Ime~

Sampai di sini rasanya memang banyak petualangan yang dialami diri ini. Dan saya rasa setiap orang memiliki jalur petualangannya masing-masing, berusaha dengan caranya, dan sebenarnya pun mampu bangkit dari segala hal yang pernah membuatnya terjatuh, meski mungkin pernah sampai nyusruk.

Menemukan caranya sendiri.

Yes,

We can not direct the wind but we can adjust the sail.”

~unknown.~

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *