Hari ke-4: Jembatan Baishihu dan Masjid Agung Taipei 

Sebagai mayoritas penganut Budha sangatlah mudah untuk menemukan kuil di Taiwan. Ada yang terletak di tengah kota, ada juga yang terdapat di bukit atau dataran tinggi seperti Bishan Temple yang kami kunjungi ini. Di dekat kuil tersebut terdapat sebuah jembatan yang bernama Baishihu suspension bridge yang sesungguhnya merupakan tujuan utama kami karena seperti yang terlihat dalam leaflet panduan wisata Taiwan, jembatan tersebut cukup menarik untuk dikunjungi.

Kami menuju kuil ini di hari ke-4 secara terburu-buru sebelum mengejar shalat jumat di masjid Agung Taipei. Meski masih berada di area Neihu district tempat kami tinggal, namun karena letaknya di perbukitan kami harus menyambung bus sebanyak 2 kali dahulu setelah turun di stasiun Neihu untuk bisa sampai di area Bishan temple ini. Karena membawa cukup banyak rombongan dan waktu yang mepet kami akhirnya memutuskan untuk naik taxi saja hingga ke area parkir jembatan.

Jalur menuju Bishan temple berkelok-kelok layaknya area Puncak di Jawa Barat. Dari sini kita bisa melihat perbukitan yang masih terjaga dan terkelola dengan baik. Kita juga akan melewati beberapa kuil sebelum sampai di jembatan.

Setelah tiba di lokasi kita akan melewati Baishihu suspension bridge terlebih dulu jika ingin menuju Bishan Temple yang letaknya lebih tinggi lagi.

Hati-hati ketika melangkah melewati jembatan dan menaiki undakan menuju kuil ya. Jembatan goyang ini memang memiliki pemandangan yang seru. Ijo royo-royo di sekitar dan bawah jembatan. Apalagi kalau tahu area ini jaman dulunya adalah bekas lahan tambang. Pada beberapa artikel yang saya baca sepulangnya ke Jakarta malah disebutkan ada area petik stroberi di daerah dekat jembatan.

 

 

dsc_2286

Sayangnya setelah melewati jembatan, anak kami sudah mengantuk dan tidak memungkinkan untuk menaiki undakan lagi menuju kuil sehingga kami pun berhenti di ujung jembatan saja.
Etapi ini saya lumayan jiper juga gara-gara ada tanda “beware poisonous snake” di semak-semak haha. Tapi kalo kata tante saya mah biasanya nggak ada, tanda itu supaya berhati-hati saja karena orang Taiwan lebih suka tindakan preventif. Wallahu alam tapi yang jelas saya nggak jadi naik ke kuil padahal pas saya searching ternyata view dari atas kuil tuh keren pisan! Hiks…

 

Habis itu kami menyeberangi jembatan sambil tetap foto-foto lagi.

Untuk kembali menuju kota, kami menggunakan bus wisata yang menjemput di halte yang sudah disediakan. Jam kedatangan bus dapat dilihat secara langsung pada layar yang ada di halte. Tidak jauh dari halte ada gerbang dengan arsitektur khas Tiongkok.

Pada layar yang terdapat di halte kita bisa tahu berapa lama lagi bus akan datang. Dan benar saja, bus menjemput tepat waktu. Selain rombongan kami hanya ada dua kakek yang sepertinya habis dari kuil di dekat lokasi Bishan temple.

Meski hanya merupakan bus pengantar di perbukitan alias bukan bus utama di kota, namun bus tetap terawat dan bersih. Juga tetap tersedia bangku prioritas dan ramah untuk difabel dengan jarak naik pada pintunya yang tidak tinggi.



Setelah sampai kota kami lanjut naik taxi lagi dan ngebuts ke Masjid Agung. Wuuzzzz.

———————————————————–

Taipei Grand Mosque

Terletak di Xinsheng South Road, Da-an district, Masjid Agung Taipei paling ramai dikunjungi saat hari Jumat. Tidak hanya kaum lelaki, di Taipei kaum perempuan juga ikut melaksanakan shalat jumat.

Dengan berkumpulnya sesama saudara-saudari Muslim pada hari itu, menjadikan hari Jumat sebagai hari yang lebih menyenangkan karena dapat bertemu dengan banyak sesama muslim lain dengan warna kulit, negara, dan bahasa yang berbeda. Juga sekaligus temu kangen sesama saudara sebangsa Indonesia yang bekerja ataupun sedang kuliah di Taiwan. Mungkin karena orang Indonesia yang beribadah di masjid tersebut terbilang banyak, salah satu papan informasi juga menuliskan kalimat dalam bahasa Indonesia.

Di bagian luar masjid ada gerobak burger yang dagingnya halal, penjualnya pun warga muslim lokal. Katanya juga kadang bawa daging halal untuk dijual tapi hari itu nggak bawa. Syukur kami masih punya stok daging halal di rumah.

Saya tidak ikut sholat karena menunggui A di halaman. Seorang Mbak berjilbab yang sedang menunggui lansia di kursi roda tersenyum pada saya. Dari penampilannya saya duga 99% ia adalah orang Indonesia. Saya lupa entah saya atau dia yang membuka percakapan lebih dulu. Kami lalu mengobrol perihal dari mana asal dan sedang apa di Taiwan.

Rupanya ia adalah TKW dan majikan si Mbak ini juga adalah muslim. Nenek tersebut hanya tinggal dengan satu anaknya dan baru beberapa hari ini hanya bisa duduk di kursi roda. Si mbak TKW ini udah 12 tahun bekerja mengabdi di rumah beliau.

Tidak lama sholat akan dimulai dan saya pamit untuk duduk di tangga masjid sambil menyuapi A dengan burger.

Ada hal yang menarik yang saya amati yaitu sepanjang jemaah mulai berdatangan, mengisi shaf, berdoa, hingga selesai ada satu laki-laki yang berdiri di dekat gerbang mengamati semua hal tersebut. Si mas-mas ini berdiri aja gitu sambil kadang-kadang senyam-senyum menanggapi setiap hal di depannya. Mungkin sedang tertarik mengamati bagaimana umat Islam shalat di masjid.

Selepas shalat biasanya setiap orang akan berkerumun dan berbincang satu dan yang lainnya sambil menikmati teh gratis yang disediakan. Kalo pas lagi lewat kedengeran pada ngomong bahasa Indonesia nah itu berarti mahasiswa atau TKI/TKW.

Di bagian sayap masjid juga tersedia aula tempat berbagai penjual makanan dari berbagai negara dan penjual daging halal menggelar dagangannya.

 

View bagian dalam masjid dari atas

Jika kangen dengan masakan Indonesia datanglah ke restoran yang letaknya tidak jauh dari Masjid Agung. Setiap hari Jumat, restoran dan warung tersebut selalu ramai dikunjungi tidak hanya warga Indonesia namun juga warga asal negara lain yang habis melaksanakan shalat Jumat di Masjid Agung. Makanan yang disajikan semisal soto ayam, nasi goreng, ayam goreng, dan makanan lain ala Indonesia. Tapi musti sabar ya nunggu makanannya, soalnya lamaaa, ngantri, dan ibunya lumayan senewen hehe.

Kalau masih ada waktu mampir juga ya ke Da-an park yang letaknya di seberang Masjid. Tadinya niat kami emang mau piknik di sana, tapi rombongan terpecah karena saya, Abang, dan A diajak naik ke Yangmingsan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *