Memungut benda dari alam

Peralihan waktu antara saat A titah hingga kemudian bisa berjalan sendiri rupanya berlangsung cepat. Padahal awalnya banyak yang selalu menanyakan, “Kapan nih bisa jalan sendiri?” Atau meledek dengan “Jari Mamahnya dipegangin terus, ih!” Karena memang A selalu berjalan sambil memegangi jari telunjuk kiri saya dengan tangan kirinya. Selalu. Tidak mau diubah ke tangan kanan. Entah kenapa. Sehingga kadang saya khawatir tulang belikatnya akan berbeda atau apa. Syukurnya tidak.

28 Februari 2016 adalah momen saat ia akhirnya bisa berjalan. Alhamdulillah.

img_20160415_211906142.jpg
Get set, go!

Lalu setelah sekitar 3 bulan titah dan akhirnya percaya diri, ia pun mulai benar-benar berjalan sendiri. Lalu dilanjutkan dengan sedang senang-senangnya memakai sandal Mas Daffa, sepatu saya, atau sepatu Abang.

img_20160415_211829581.jpg

Di rumah yang baru, kami sehari-harinya menghabiskan waktu dengan bermain dan membaca buku. Kami memang sengaja tidak menyediakan TV sehingga A tidak menonton TV di rumah. Dan karena sejak bayi ia terbiasa dengan kehadiran kakak sepupunya maka semenjak pindah ke rumah baru ia seolah kelimpungan ketika sudah bosan bermain dengan saya. Sehingga sering sekali saya mengajak A keluar rumah untuk melihat mobil di jalan raya. Biasanya kami nongkrong di pos jaga memerhatikan mobil dan motor yang lewat. Lalu, ketika A sempat sakit panas berhari-hari, Uti alias ibu saya membelikan sebuah mobil-mobilan yang bisa ia naiki. Mobil-mobilan ini dilengkapi dengan gagang panjang untuk pendorong sehingga saya tidak perlu menunduk jika ingin mendorong mobilnya. A pun tinggal duduk manis di dalam mobil.

Pagi, siang, sore kami selalu berkeliling. Seringnya saat pagi dan sore. Tapi kalau saat siang bosan ya panas-panas pun A akan minta keluar juga. Sewaktu bulan ramadhan seorang ibu sampai geleng-geleng melihat kami dan bilang “Aduh, kasian itu mamahnya puasa-puasa.” hihi.

Sering sekali A pun menangis kalau sudah saya ajak masuk rumah sementara ia belum puas melihat-lihat. Sehingga saya biarkan dulu saja berputar beberapa kali di sekitar rumah selama cuaca memadai hingga ia puas dan baru akan masuk rumah dengan riang gembira. Saking seringnya, saya menduga orang-orang yang berangkat dan pulang kerja melewati kami pasti akan hafal dengan kami berdua (iih pede banget ya haha).

Sambil mendorong mobilnya saya terkadang berhenti sejenak untuk menunjukkan pada A tentang bagian-bagian bunga, ranting pohon yang jatuh, juga lebah dan tupai yang lari di kabel listrik. Pada waktu itu A memang belum bisa berbicara dan hanya menyahut sebisanya saja setiap saya mengenalkan semua itu, tapi saya yakin diam-diam ia memerhatikan. Lalu dimulailah hobi barunya yaitu: memunguti bunga yang jatuh.

Hobi itu sebenarnya karena mengikuti saya juga. Di dekat rumah ibu, sebelum kami pindah, ada pohon bunga kamboja berwarna kuning yang bunganya memang sering gugur ke tanah. Karena sayang untuk dibuang atau terinjak mobil biasanya saya punguti dan kumpulkan di pinggir jalan. Atau terkadang saya punguti sambil menyebutkan warna bunga tersebut pada A.

A rupanya melihat ini dan menirunya ketika kami berkeliling di rumah baru. Setiap melihat bunga di jalanan ia akan langsung turun dari mobil secara mendadak sehingga seringkali saya memberitahunya untuk tidak turun mendadak karena khawatir ada motor. Bunga yang ia pungut langsung akan ia simpan di dashboard mobilnya. Tidak hanya bunga kamboja tapi juga bunga kecil-kecil berwarna putih yang sekali gugur jumlahnya buanyak itu sehingga dashboard mobil mainannya penuh.

Setiap orang yang melihat akan menegur dan meledek, “Iih, kok mainnya bunga sih. Kaya cewe aja!” Saya biasanya cuma ketawa doank atau menyahut bahwa nantinya bunga tersebut mau kami lukis di rumah. Tapi ledekan itu terus ada dan saya cuma bisa berdoa dalam hati mungkin nantinya A mau jadi ahli botani. Aamiin.

He really loves to collect anything from earth! From flower, stone, branch, into small fruit.

p_20160910_085037

 

Memunguti buah sawit
Memunguti buah sawit

Di rumah saya akan kembali mengenalkan bagian-bagian bunga pada A. Kadang bunganya juga dijejer di ruang tamu saja dan kalau sudah layu baru dibuang. Atau bahkan saya pakai untuk properti foto jualan saya hehe. Kemudian ia punya hobi baru yaitu merobek-robek kelopak bunganya yang sesungguhnya juga melatih motoriknya. Robekan kelopak ini lalu saya manfaatkan untuk membuat gambar.

img_20160616_084028

img_20160705_061931

Pernah juga saya memunguti ranting pohon yang jatuh. Ranting itu kemudian saya tempel di tembok dengan lakban dan diumpamakan sebagai ranting tempat burung-burung hinggap (nanti saya ceritakan lebih rinci tentang ini). Waktu ibu saya lihat sih kayanya rantingnya mau dibuang karena dianggap mengotori tembok haha.

Selain sekaligus membiarkan sang anak berekspresi di luar ruangan, sesungguhnya pungut-memungut ini punya beberapa manfaat menurut pandangan saya:

  1. Melatih motorik anak untuk menggenggam dan merobek benda
  2. Melatih motorik anak untuk mengambil dengan menggunakan dua jari
  3. Mengenali sifat benda itu apakah halus atau kasar
  4. Mengenal nama-nama benda sehingga menambah perbendaharaannya karena mendengar kita menyebutnya berulang-ulang
  5. Membuatnya lebih kenal dan peka pada alam dscn0867_wm
  6. Mengajarkannya supaya tidak takut kotor. Karena selama ini A lumayan riweuh kalau ada kotoran sedikit saja di tangannya, entah debu, benang seucrit, atau tanah setitik. Sehingga setiap ia memungut sesuatu seperti bunga, daun, atau ranting pohon maka saya biarkan saja dan tidak langsung menyuruhnya membuang benda tersebut karena alasan kotor.
  7. Menambah vitamin D saat pagi hari ketika matahari mulai bersinar.
  8. Menambah vitamin N alias NATURE menurut Richard Louv, penulis buku Last Child in the Wood: Saving Our Children from Nature Deficit Disorder, agar si anak lebih dekat dengan lingkungan dan alam sekitar  Hal ini bisa menambah kepercayaan diri, kreativitas, kesehatan, dan proses belajar. Karena saat ini anak-anak lebih banyak bermain di dalam ruangan misalnya menonton TV atau menghabiskan waktu di depan layar komputer dan ponsel terlalu lama, terutama buat kami yang tinggal di kota besar, sehingga mengalami apa yang Richard Louv sebut sebagai Nature Deficit Disorder.
Membuat sate daun
Membuat sate daun
Jauh2 ke Taipei mungutin daun
Jauh2 ke Taipei mungutin daun
Mengenal warna dan bentuk kelopak bunga
Mengenal warna dan bentuk kelopak bunga
Ke kantor bapaknya mungutin batu
Ke kantor bapaknya mungutin batu

Nggak terasa kami sudah 10 bulan menempati rumah tersebut. Berarti sekitar 8 bulan saya dan A memilliki rutinitas mendorong mobilan untuk berkeliling. Saya bahkan pernah mengajaknya dengan mobil tersebut menuju minimart untuk berbelanja kebutuhan rumah. Iya, karena saya nggak kuat gendong A apalagi kalau ditambah bawa barang belanjaan. Anaknya anteng aja ngeliat-liat jalanan, saya aja yang ngos-ngosan haha.

Dan ternyata anak ini memang cepat sekali tumbuh. Pasca menginap sebulan di rumah ibu karena bulan September lalu Abang pergi haji, ketika pulang kembali ke rumah A ternyata tidak mau lagi naik mobil-mobilan tersebut. Sewaktu saya tanyakan ia hanya menjawab, “Ndak. Jalan kaki ajah.” Sepertinya kali ini ia sudah masuk fase lebih suka jalan sendiri dan lari-lari. Ia pun sudah cuek dengan bunga-bunga yang jatuh. Biasanya ia hanya amati saja sejenak lalu jalan lagi. Ih, kamu cepat sekali besarnya!

wp-1474039453840.jpeg

*Jakarta, menuju 2 tahun kelahirannya.

 

2 comments Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *